Minggu pagi, Anara berdiri di depan pagar rumah yang sangat ia kenal, dengan sekotak kue kering di tangan dan jantung yang berdebar tidak karuan.
Rumah Mikhaella. Rumah yang dulu seperti rumah keduanya. Rumah yang sofa ruang tamunya tahu semua rahasianya, yang dapurnya pernah ia obrak-abrik jam dua pagi, yang terasnya pernah jadi saksi curhatan-curhatan paling rahasia.
Dan rumah yang terakhir kali ia tinggalkan dengan air mata, di malam ketika semuanya hancur.
Pintu pagar terbuka sebelum Anara sempat menekan bel. Dan di sana berdirilah Astrid, ibunda Mikhaella, wanita yang dulu menjadi ibu keduanya — dengan mata yang langsung memerah begitu melihat siapa yang datang.
"Anara ..."
"Tante." Anara tersenyum, sebisa mungkin. "Boleh masuk?"
"Boleh, boleh! Ya Tuhan, Nak, ini rumah kamu juga. Dari dulu juga rumah kamu." Suara Astrid sudah bergetar sejak kalimat pertama.
Di ruang tamu yang masih sama itu — sofa yang sama, bingkai foto yang sama, bahkan bantal yang sama — mereka duduk bertiga. Mikhaella di tengah, seperti wasit yang siap meniup peluit kalau pertandingan memanas. Tapi pertandingan itu tidak pernah terjadi.
Yang terjadi adalah: Astrid langsung menangis.
"Tante minta maaf, Nak." Wanita paruh baya itu menggenggam tangan Anara dengan dua tangannya yang gemetar. "Tante minta maaf untuk malam itu. Tante ... tante cuma lihat anak tante nangis, dan tante langsung ngehakimi kamu tanpa tanya apa-apa. Padahal tante kenal kamu dari kamu masih pakai seragam. Tante tahu kamu anaknya kayak apa. Tapi malam itu tante ..."
"Nangis aja dulu, Tante," ucap Anara pelan, dan suaranya sendiri ikut bergetar.
"Tante udah kayak ibu kedua buat kamu. Tapi malam itu tante gagal jadi ibu." Astrid menyeka air matanya. "Selama ini tante enggak berani ngontak kamu, Nak. Tante takut kamu benci tante. Setiap mau nelepon, tangan tante gemeter duluan. Sampai Mikhaella cerita kamu mau ketemu dia ... tante nangis semalaman. Senang, tapi takut juga."
Anara menarik napas panjang. Lalu ia memutuskan untuk jujur, karena keluarga ini tidak pernah butuh kepura-puraan.
"Tante tahu apa yang paling sakit buat Anara malam itu?" Anara menatap mata Astrid. "Bukan tamparannya. Bukan juga Dave. Yang paling sakit itu waktu Tante bilang ... Anara yang menghancurkan segalanya. Karena selama ini Anara pikir, kalau dunia salah paham sama Anara, setidaknya Tante bakal tanya dulu. Tante bakal dengerin dulu."
Astrid menangis semakin menjadi, dan Mikhaella di tengah-tengah sudah ikut mewek dengan tisu di tangan.
"Anara ... maafin Tante, Nak. Tante enggak minta kamu lupa. Tante cuma minta kesempatan buat benerin semuanya. Pelan-pelan aja, sekecil apa pun."
Dan Anara memeluk wanita itu. Tidak ada kata-kata besar, tidak ada pidato. Hanya pelukan yang cukup lama, di ruang tamu yang akhirnya kembali punya suara tangis yang jujur, bukan tangis yang ditinggalkan sendirian.
"Anara maafin Tante," bisik Anara akhirnya. "Tapi Tante janji satu hal. Kalau nanti Anara ada masalah sama Mikhaella lagi ... Tante tanya dulu. Dengerin dulu. Baru boleh belain Mikhaella."
"Janji. Tante janji." Astrid mengangguk berkali-kali. "Eh, kenapa langsung belain Mikhaella, sih?"
"Ya kan dia anak Tante."
Mereka bertiga tertawa di sela-sela tangis, dan suasana ruang tamu itu akhirnya kembali seperti dulu. Tidak persis sama — luka perlu waktu untuk benar-benar jadi bekas — tapi pintunya sudah terbuka lagi.
***
Siangnya, Astrid memaksa Anara makan di rumah, dan meja makan itu dipenuhi masakan yang membuat Anara hampir menangis untuk kedua kalinya.
"Rendang kesukaan kamu, sayur asem yang kamu selalu minta nambah, sama sambal yang kamu dulu pernah mau bawa pulang pakai toples." Astrid menyebutkannya satu per satu seperti membacakan daftar pusaka. "Tante masih inget semua. Masa badan sekecil kamu bisa ngabisin rendang tiga potong."
"Tiga potong itu masih rekor rendah, Tante. Biasanya lima."
"DIA MASIH GITU, YA, NYOK!" seru Mikhaella.
Astrid tertawa, lalu matanya menerawang jauh. "Tante masih inget waktu kalian berdua masih pakai seragam, bikin kue ulang tahun di dapur itu. Yang ada kuenya gosong, dapurnya berasap, dan kalian berdua ketawa sampai nangis. Tante marah? Enggak. Tante cuma mikir, anak-anak ini kalau sudah berdua memang enggak ada akalnya."
"Kuenya enggak gosong, Tante. Itu namanya gosong artisan," bela Anara.
"Yang penting kita berani," tambah Mikhaella sambil nyengir.
Dan nostalgia itu mengalir terus, dari satu cerita lama ke cerita lama lainnya, sampai Anara sadar satu hal: rumah ini memang tidak pernah berhenti menjadi rumahnya.
Dan makan siang itu berjalan dengan hangat, dengan Astrid yang tidak berhenti menambah lauk ke piring Anara, dengan Mikhaella yang protes karena merasa jadi anak tiri di rumah sendiri, dengan tawa yang tidak lagi dibuat-buat.
Oh iya, satu hal lagi. Di sela makan, Astrid berkata dengan nada bersalah, "Tante juga udah telepon mamah kamu, Nak. Minta maaf sama dia juga. Kita malah baikan duluan sebelum kalian berdua, ya."
Anara membayangkan dua mamah sosialita itu menelepon sambil nangis-nangisan, dan memutuskan untuk tidak bertanya detailnya. Beberapa hal lebih baik tetap jadi misteri.
***
Sore itu Anara pulang dengan perut kenyang dan hati yang jauh lebih ringan. Satu per satu, benang yang kusut dalam hidupnya benar-benar sedang dirapikan. Dave selesai. Mikhaella kembali. Tante Astrid kembali. Tinggal ...
"Oh iya, Ra!"
Begitu Anara masuk rumah — ia memang menginap di rumah orang tuanya akhir pekan ini — Eva langsung menyambarnya dengan mata berbinar-binar. Gaya mamah-mamah yang baru dapat gosip segar.
"Jeng Ayu minggu depan mau ke sini, loh! Katanya ada kabar penting buat kita!"
Anara berhenti melepas sepatunya. "Kabar apa?"
"Enggak tahu, dia enggak mau kasih tahu di telepon. Katanya harus ngomong langsung, heboh banget, sampai dia bilang ini berita besar." Eva menirukan gaya sahabatnya dengan sangat berlebihan.
Anara menyipitkan mata. Berita besar. Dari Jeng Ayu. Wanita yang sejak dulu paling getol menjodohkannya dengan anaknya yang misterius itu.
"Ini pasti soal perjodohan lagi," ucap Anara datar.
"Belum tentu!"
"Mah. Gue kenal Jeng Ayu. Berita besar dari Jeng Ayu itu cuma ada dua: perjodohan, atau perjodohan versi yang lebih besar."
Eva membuka mulut untuk membantah, lalu menutupnya lagi, karena ... memang tidak bisa dibantah. Damares dari ruang tengah terdengar tertawa kecil.
"Ya sudah, kita lihat saja minggu depan." Eva mengangkat bahu. "Siapa tahu memang bukan. Atau siapa tahu ... memang iya, dan kali ini kamu enggak bisa kabur."
"Mamah!"
Anara menggerutu sepanjang jalan ke kamarnya, dan Eva hanya tertawa sambil melambaikan tangan. Astaga. Seminggu ke depan rasanya bakal panjang sekali.
Tapi begitu pintu kamarnya tertutup, Anara bersandar ke pintu itu dan tersenyum kecil tanpa sadar. Bukan karena berita Jeng Ayu, tentu saja bukan. Tapi karena hari ini harinya berjalan baik. Sangat baik.
Tidak apa-apa mengakui sebentar saja, bahwa hidupnya akhir-akhir ini ... lumayan.