Anara datang ke rumah orang tuanya hari Sabtu itu dengan hati tenang, karena undangannya bertuliskan: makan siang keluarga, biasa saja.
Namun begitu ia masuk ke ruang tamu dan melihat siapa yang duduk di samping mamahnya — dua wanita paruh baya itu tertawa-tawa dengan gelas teh seperti dua komplotan yang baru berhasil mencuri sesuatu — Anara langsung paham.
Ini bukan makan siang keluarga. Ini jebakan.
"Anara! Sayang! Sini, Nak, sini!" Jeng Ayu berdiri dan menyambutnya dengan pelukan hangat, lengkap dengan cipika-cipiki yang wangi parfumnya tercium dari dua meter. Wanita itu memang selalu fashionable, selalu wangi, dan selalu berbahaya kalau sudah datang membawa agenda.
"Jeng Ayu ... sehat, kan?" sapa Anara sopan, sambil melirik mamahnya dengan tatapan kamu-bohong-sama-anak-sendiri. Eva membalas dengan tatapan malaikat paling tidak bersalah sedunia.
"Sehat, sehat. Kamu makin cantik aja, Nak. Pangling, loh." Ayu menggandeng tangan Anara ke sofa, dan untuk sesaat, wajah wanita itu melembut sungguhan. "Tante ... terima kasih banyak, ya, kamu sudah mau ketemu Tante lagi. Tante tahu semuanya kemarin berantakan. Tante utang banyak sama kamu, Nak."
Anara menggeleng pelan. Urusan dengan Dave memang sudah selesai, dan ia tidak punya tenaga untuk membencinya kembali. "Udah, Jeng. Yang lalu biar berlalu."
"Anak yang baik." Ayu menepuk tangannya, lalu — tanpa jeda yang sopan — wajahnya berubah cerah seperti lampu yang baru dinyalakan. "Nah! Makanya Tante datang hari ini. Ada berita besar!"
Mamaku, tolong, batin Anara pada mamahnya. Eva hanya tersenyum lebar. Tidak ada pertolongan dari sana, Saudara-saudara.
"Berita apa, Jeng?"
"Anakku!" Ayu mengumumkan dengan nada seperti membuka kado. "Anakku akhirnya MAU! Setelah berbulan-bulan Tante perjuangkan, kemarin dia akhirnya nyerah dan setuju buat ketemu kamu! Jadi perjodohan kita itu bisa jalan beneran, Nak!"
Hening.
Anara memproses kalimat itu pelan-pelan, seperti orang memproses berita duka. "Jeng ... dengan segala hormat ... anak Jeng Ayu yang itu ... kan adeknya Dave."
"Iya, dan itu justru kenapa Tante makin yakin!" Ayu malah semakin bersemangat. "Kamu sudah kenal keluarganya, kamu sudah kenal Tante, enggak perlu adaptasi lagi—"
"Jeng, logikanya terbalik semua." Anara memijit pelipisnya. "Gue— aku baru aja beres dari masalah sama kakaknya. Terus sekarang aku mau dikenalin sama adiknya? Ini bukan perjodohan, Jeng. Ini sekuel."
Eva terkekeh, langsung diberi tatapan tajam oleh putrinya, lalu pura-pura sibuk menyeruput teh.
Anara memutuskan memakai senjata terakhirnya. "Jeng, aku mau S2. Rencana ini udah dari lama, Jeng Ayu juga tahu. Tahun depan aku mau mulai kuliah lagi. Mana mungkin aku—"
"Justru itu!" Ayu malah bertepuk tangan. "Anakku itu juga kerja keras, dia pasti menghargai perempuan yang mau sekolah tinggi. Kalian bisa sama-sama sibuk, sama-sama saling dukung. S2 jalan terus, Nak, siapa yang larang? Ini cuma kenalan, bukan akad."
"Kenalan yang ujung-ujungnya ke mana-mana, Jeng. Aku tahu pola ibu-ibu."
"Pola bagaimana, maksudmu?" Eva akhirnya ikut bicara, memasang wajah tersinggung yang tidak meyakinkan sama sekali.
"Pola: kenalan, terus cocok katanya, terus tiba-tiba ada pembicaraan tanggal baik." Anara menirukan nada mamahnya dengan akurat. "Aku tahu polanya, Mah. Aku ini anakmu. Aku lahir dari orang yang paling jago pola-polaan."
Damares mengangguk pelan dari sofa, sangat setuju, dan langsung pura-pura membaca koran ketika istrinya melirik tajam.
"Nak, dengerin Tante dulu." Ayu meraih tangan Anara lagi, dan kali ini nadanya serius. "Adiknya itu beda seratus delapan puluh derajat sama kakaknya. Dia itu pendiam, kerja keras, enggak pernah macam-macam sama perempuan. Dari kecil enggak pernah Tante khawatirin soal perempuan, saking lurusnya. Malah Tante khawatir dia nikah sama kantornya."
"Tetap aja, Jeng—"
"Satu kali." Ayu mengangkat satu jarinya dengan wajah memohon yang sangat terlatih. "Satu kali makan malam, Nak. Bukan nikah, bukan tunangan, cuma makan malam. Kenalan aja. Kalau habis itu kamu enggak mau, Tante berhenti selamanya. Tante janji. Tante enggak akan bawa-bawa ini lagi seumur hidup."
Satu kali makan malam, sebagai harga dari kedamaian selamanya. Anara menatap mamahnya, yang memberinya tatapan anak anjing paling memelas di muka bumi. Lalu menatap papahnya, yang baru masuk ruangan dan langsung mengangkat kedua tangannya.
"Papah netral. Semau kamu, Nak."
"Papah netral itu artinya papah membiarkan aku dikeroyok."
"Itu juga," akui Damares sambil duduk santai dengan korannya. Pengkhianat nomor dua hari ini.
Anara menarik napas panjang sekali, sampai dadanya penuh, lalu menghembuskannya lebih lama lagi. Satu makan malam. Dua jam, paling lama. Dengan pria asing yang kebetulan adik dari mantannya, di meja makan, diawasi dua mamah komplotan. Sesudah itu, bebas. Tidak ada lagi perjodohan, tidak ada lagi "kapan nikah" versi Jeng Ayu.
Harga yang masuk akal untuk perdamaian abadi. Anara sudah menghitungnya matang-matang. Sayangnya, hitungannya salah total — tapi itu nanti.
"... Satu kali," ucap Anara akhirnya. "Satu kali makan malam. Terus udahan. Deal?"
"DEEEAL!" Ayu dan Eva memekik berbarengan, bertepuk tangan seperti dua remaja yang biasanya mereka tuduhkan kepada anak-anaknya. "Sabtu, dua minggu lagi! Restorannya Tante yang booking! Kamu tinggal dateng cantik-cantik aja, Nak!"
"Dua minggu lagi." Anara mengangguk lemas. "Terus ... setidaknya aku boleh tahu namanya, kan? Masa makan malam sama orang tanpa nama."
"Tidak boleh!" Ayu menjawab dengan riang dan kejam. "Biar surprise, Nak!"
"Jeng, ini perjodohan atau kuis berhadiah?" Anara menatap dua ibu itu bergantian. "Masa nama orangnya dirahasiain kayak nomor undian."
"Justru biar kamu enggak kepo duluan dan stalking dia di internet," jawab Eva santai, seolah itu logika paling masuk akal di dunia. "Tahu sendiri kamu anaknya, lima menit juga kamu sudah tahu riwayat hidupnya dari SD."
Anara membuka mulut untuk membantah, lalu menutupnya lagi. Karena, baiklah, itu memang akurat seratus persen.
***
Usai makan siang dan serangkaian pelukan perpisahan yang panjang, Anara menyempatkan diri menelepon sekretarisnya dalam perjalanan pulang.
"Bu? Ada yang bisa saya bantu?"
"Sabtu dua minggu lagi, kosongkan jadwal saya malam hari. Apa pun acaranya, tolak baik-baik."
"Baik, Bu. Boleh tahu ada acara apa? Supaya saya bisa kasih alasan yang pas kalau ada yang nanya."
Anara menatap jalan di depannya. "Bilang saja ... ada urusan keluarga."
Urusan keluarga. Kedengarannya jauh lebih baik daripada kenyataannya: makan malam perjodohan dengan adik mantan pacar yang namanya saja tidak boleh tahu. Kalau sekretarisnya tahu, bisa-bisa satu gedung ikut tahu, lalu satu kota, lalu satu negara.
Malam itu, Anara berbaring di kamarnya sambil menatap langit-langit, meyakinkan dirinya sendiri bahwa semuanya baik-baik saja. Ini cuma satu makan malam. Dengan orang asing. Orang asing yang sama sekali tidak ia kenal, tidak ada urusannya dengan hidupnya, tidak akan mengubah apa pun.
Betapa tenangnya Anara.
Padahal kalau ia tahu siapa yang akan duduk di seberang mejanya dua minggu lagi, mungkin malam itu juga ia sudah mengemas koper dan kabur ke luar negeri.