Cerita ini sebenarnya punya sisi lain, yang terjadi beberapa hari sebelum Jeng Ayu datang ke rumah Eva dengan wajah pemenang. Mari kita intip sebentar ke pihak seberang.
***
Malam itu, di rumah keluarga yang jarang ia datangi, Arga Satria Megantara pulang karena satu panggilan telepon dari ibunya yang isinya cuma satu kalimat: "Kamu pulang sekarang, atau Ibu yang ke kantor kamu dan cerita ke semua karyawanmu kalau kamu dulu takut kucing."
Arga pulang. Tentu saja Arga pulang.
Rumah keluarga itu besar dan rapi, tetapi selalu terasa lebih sepi dari yang seharusnya. Foto-foto keluarga masih berdiri di bufet, dibingkai bagus dan jarang ditatap. Arga menyapanya dengan satu anggukan, seperti menyapa kenalan lama.
Dan seperti biasa, sebelum sampai ke topik utama, ibunya melakukan inspeksi tahunan.
"Kamu makan apa di apartemen? Kulkas kamu isi apa? Jangan-jangan cuma air putih sama sisa kopi." Ayu bahkan benar-benar membuka kulkasnya begitu tiba di rumah itu — kebiasaan lama yang tidak pernah hilang — lalu menatap isinya dengan penuh penilaian. "Ibu tambah masuk angin lihat kulkas kamu."
"Saya makan di kantor, Bu. Kantor saya ada kantinnya."
"Kantin, kantin, kantin. Hidupmu itu kantor semua, Arga." Ayu menutup kulkas dan menatap anak bungsunya dengan tatapan yang hanya dimiliki ibu-ibu: campuran bangga, kesal, dan khawatir dalam satu paket. "Ibu enggak minta banyak. Ibu cuma minta kamu punya kehidupan di luar gedung itu."
"Lalu kita sampai ke topik utama malam ini," ucap Arga, membaca arah angin seperti biasa.
"Langsung ke inti. Kamu memang anak Ibu."
Dan begitu ia duduk di ruang keluarga, ibunya langsung menyodorkan berita itu dengan senyum kemenangan.
"Ibu sudah atur semuanya. Sabtu dua minggu lagi, kamu makan malam sama anaknya Jeng Eva. Bajumu Ibu siapkan kalau kamu tidak punya yang bagus."
"Saya tidak setuju," jawab Arga datar, bahkan tidak mengambil teh yang disodorkan. "Dari dulu saya bilang tidak, Bu. Jawabannya masih tidak."
"Kamu ini! Ibu sudah susah payah meyakinkan Jeng Eva—"
"Itu urusan Ibu dengan Jeng Eva. Bukan urusan saya." Arga berdiri, hendak pergi. "Saya ada proyek besar, Bu. Saya tidak punya waktu untuk—"
"Duduk."
Satu kata itu keluar dengan nada yang membuat Arga, bos perusahaan yang disegani satu kota, kembali duduk seperti anak kelas tiga SD. Kalian boleh tertawa, tapi coba dulu hadapi mamah-mamah yang sedang serius, baru bicara lagi.
"Dengar, Arga." Ayu menatap anak bungsunya itu lama. "Ibu tidak akan hidup selamanya."
"Bu—"
"Ibu belum selesai bicara." Ayu menarik napas, dan matanya berkaca-kaca. Senjata pamungkas itu akhirnya dikeluarkan juga. "Ibu sudah gagal sekali, Nak. Kakakmu ... ibu kecewa, kamu tahu itu. Dua tahun dia main-main sama perasaan dua perempuan baik-baik. Ibu malu, Arga. Ibu malu sekali."
Arga diam. Ia memang tidak pernah dekat dengan kakaknya, tapi berita itu tetap membuat rahangnya mengeras setiap mendengarnya.
"Ibu cuma punya kamu sekarang. Ibu cuma mau lihat kamu dengan orang yang baik, dengan cara yang benar, sebelum ibu tua." Ayu menyeka sudut matanya. "Anaknya Jeng Eva itu perempuan baik-baik, mandiri, cantik, pinter, dari keluarga baik-baik. Ibu kenal keluarganya puluhan tahun. Satu kali makan malam saja kamu tidak mau kasih ke ibu? Satu kali?"
Dan di situlah Arga kalah. Bukan kalah berdebat — Arga tidak pernah kalah berdebat — tapi kalah melihat ibunya menyeka sudut mata.
"... Satu kali, Bu." Arga menghela napas panjang. "Satu kali makan malam. Setelah itu berhenti. Tidak ada kelanjutan paksa."
"YA AMPUN, ANAKKU SAYANG!" Ayu langsung cerah seketika, air mata menguap entah ke mana seperti sulap, dan Arga hanya bisa memandang langit-langit menanyakan keadilan. "Ibu kabari Jeng Eva sekarang juga!"
***
Kembali ke masa kini. Senin pagi, meeting koordinasi proyek di gedung Anara, dan ada yang aneh dari dua bos itu.
Keduanya sama-sama tidak fokus.
Anara mengetuk-ngetukkan bolpoinnya ke dokumen tanpa membaca. Arga tiga kali mengucapkan "bisa diulang?" dalam satu jam. Kedua tim saling pandang kebingungan: bos mereka yang biasanya bertengkar tajam setiap sepuluh menit, hari ini damai sekali. Damai yang justru menyeramkan.
Damai itu bahkan jadi bahan gosip di area merokok dan meja makan.
"Demi apa, tim lo sama tim gue sepakat semua hari ini," bisik anak buah Anara kepada anak buah Arga. "Gue merinding. Gue lebih takut kalau mereka damai daripada kalau mereka ribut."
"Sama. Bos gue tadi senyum sendiri waktu baca proposal. Senyum. Gue kerja tiga tahun baru lihat senyumnya dua kali."
"Kalian berdua, balik kerja." Dua suara dari arah berbeda membuat keduanya terpencar seperti ayam dikejar. Damai boleh, gosip jangan.
Istirahat makan siang, ketika ruangan sudah kosong dan tinggal mereka berdua membereskan berkas, akhirnya pertahanan itu jebol.
"Nona."
"Apa?"
"Anda tidak fokus dari tadi. Ada masalah?" Arga menatapnya sekilas. "Kalau masalahnya bisa mengganggu proyek, saya berhak tahu. Kalau tidak, lupakan saya bertanya."
Anara menatap pria itu. Harusnya ia menjawab "bukan urusan lo" seperti biasa. Tapi hari ini kepalanya terlalu penuh untuk basa-basi.
"Gue dijodohin." Keluar begitu saja. "Sama mamah gue. Sama anak sahabatnya yang sampai sekarang enggak dikasih tahu namanya. Dua minggu lagi ada makan malam perkenalan, dan gue udah kadung janji dateng."
Arga berhenti membereskan berkasnya. Sepersekian detik, sesuatu melintas di wajahnya — sesuatu yang tidak sempat Anara baca.
"Lucu," ucap pria itu pelan. "Saya juga."
Kali ini Anara yang berhenti. "... Hah?"
"Ibu saya. Anak sahabatnya. Dua minggu lagi, makan malam." Arga mengangkat bahu dengan wajah datar seperti sedang membaca laporan cuaca. "Kita ternyata sedang ada di kapal yang sama, Nona."
Mereka berdua saling menatap.
Dan untuk beberapa detik yang absurd, dua musuh bebuyutan itu justru menemukan titik temu paling dalam sepanjang sejarah permusuhan mereka: sama-sama korban mamah-mamah yang hobi menjodohkan anak.
"Kita kabur aja, gimana," ucap Anara lemas.
"Kabur ke mana? Proyek kita belum selesai." Arga memasukkan berkas terakhir ke mapnya. "Bertahan saja, Nona. Dua jam makan malam, lalu kita bebas."
"Dua jam," Anara mengangguk. "Dua jam, lalu bebas."
"Dan satu aturan penting." Arga menunjuknya dengan bolpoin, sebentar saja. "Jangan sampai ibu masing-masing tahu kita kenal. Dua perempuan itu kalau tahu anak-anaknya saling kenal, satu makan malam bisa berubah jadi acara tahunan."
"Setuju. Gue bahkan enggak mau tahu lo dijodohin sama siapa. Semakin sedikit gue tahu, semakin aman hidup gue."
"Bagus. Karena saya juga tidak berminat tahu calon Anda siapa."
Mereka berjabat tangan sebentar — jabat tangan kaum tertindas — tanpa menyadari satu hal kecil yang aneh.
Anak sahabat mamah. Dua minggu lagi. Makan malam. Dua-duanya sama persis.
Tapi ya sudahlah. Mana mungkin, kan? Dunia tidak sekejam itu.
Oh, Anara. Oh, Arga. Dunia jauh lebih kejam dari itu.