"LO DIJODOHIN SAMA ADEKNYA DAVE?!"
Suara Mikhaella di seberang video call itu sampai membuat Anara menjauhkan ponselnya dari telinga. Di layar, sahabatnya itu mematuk-matuk kamera dengan kacamata bundarnya melorot, seperti burung hantu yang baru mendengar berita paling absurd tahun ini.
"Pelan dikit, Mik. Gue masih butuh kuping buat kerja."
"ENGGAK, ENGGAK. Mundur. Mundur dulu." Mikhaella membenarkan posisi kacamatanya. "Jadi mamah lo mau jodohin lo sama anaknya Jeng Ayu. Yang kakaknya Dave. Yang berarti kalau jadi ... lo bakal jadi ipar gue— enggak, enggak jadi, maksud gue, astaga, ini rumit banget, Ra."
"Makanya gue cuma dateng satu kali. Makan malam, dua jam, beres. Udah ada deal: abis itu mereka berhenti selamanya."
Mikhaella diam sejenak, lalu menyipitkan mata dengan gaya detektifnya. "Lo pernah liat fotonya?"
"Enggak. Jeng Ayu enggak mau kasih, katanya biar surprise. Mamah gue aja enggak boleh tahu namanya."
"Aneh banget enggak sih?" Mikhaella bersandar ke kursinya. "Gue dua tahun sama Dave, Ra. Dua tahun! Dan gue enggak pernah sekalipun ketemu adeknya. Nama aja enggak pernah keluar. Setiap gue nanya soal keluarga, Dave selalu ngeles. Keluarga itu nyimpen si adek kayak rahasia negara."
"Dave pernah bilang ke gue adiknya perempuan." Anara menyeruput kopinya dengan datar. "Adik perempuan, Mik. Jadi mulai sekarang, anggap aja semua yang keluar dari mulut dia itu prakiraan cuaca: bisa benar, bisa salah, jangan dijadikan patokan."
"YA AMPUN." Mikhaella tertawa geli.
"Sebentar, sebentar." Mikhaella tiba-tiba serius, mendekat ke kameranya. "Gue bisa tanya nyokap gue, Ra. Nyokap kan hampir jadi besan Jeng Ayu. Pasti nyokap tahu si adek ini siapa, minimal namanya."
"Enggak usah."
"Enggak usah?" Mikhaella membelalak. "Lo mau makan malam sama orang yang namanya aja lo enggak tahu, dan lo bilang enggak usah cari tahu?!"
"Justru karena cuma satu kali makan malam, Mik. Buat apa repot-repot cari tahu orang yang dua jam lagi bakal jadi masa lalu?" Anara memutar gelasnya. "Lagipula ... biarlah surprise. Hidup gue udah cukup banyak kejutan belakangan ini. Satu kejutan lagi enggak bakal nambah rusak."
Mikhaella menatapnya dari layar ponsel dengan tatapan yang sulit dibaca. "Lo tahu enggak, Ra, kadang gue iri sama keberanian lo buat tetap santai."
"Bukan santai. Ini namanya pasrah tingkat dewa."
"Makin penasaran gue sama adek misterius ini. Oke, lo dengerin gue baik-baik: habis makan malam itu, lo laporin SEMUANYA ke gue. Mukanya, suaranya, makannya apa, sendoknya dipegang tangan mana. SEMUANYA."
"Iya, iya. Nanti gue kasih nilai rapornya sekalian."
"Jangan lupa nilai sikapnya."
Mereka tertawa bersama, dan untuk sesaat Anara lupa bahwa dua minggu lagi ada makan malam yang menantinya seperti ujian akhir semester.
***
Di kantor, minggu-minggu berjalan seperti biasa. Atau hampir biasa.
Tahap dua proyek berjalan sesuai jadwal, laporan tiga harian masuk tanpa telat, dan dua perusahaan yang dulu perang dingin itu sekarang berkoordinasi seperti mesin yang akhirnya menemukan ritmenya. Karyawan kedua gedung bahkan sudah berhenti bergosip setiap kali dua bos mereka terlihat satu ruangan.
Hampir berhenti, maksudnya.
Rabu malam, Anara masih berada di ruang kerjanya pukul delapan, meninjau ulang dokumen tahap dua yang harus disetor ke Pratama. Kantornya sudah sepi, tinggal lampu ruang kerjanya yang menyala di lantai sepuluh.
Lalu seorang kurir datang mengantarkan sesuatu ke mejanya: satu gelas kopi susu, masih hangat, dengan secarik catatan.
"Lembur yang benar itu pakai bahan bakar yang benar. — Seberang."
Anara menatap catatan itu lama sekali. Tidak ada nama lengkap, tidak ada tanda tangan, hanya satu kata: Seberang. Seolah-olah seluruh kota ini hanya ada satu seberang, dan penghuninya cuma satu orang.
Menyebalkan. Menyebalkan sekali.
Anara memotret gelas itu, membuka chat dengan nomor yang entah sejak kapan tersimpan di ponselnya dengan nama "Seberang (Proyek)", dan mengetik: "Kopi susunya kurang manis. Nilai tujuh dari sepuluh."
Balasan datang satu menit kemudian. "Besok saya kirim yang lebih manis. Nilai harus naik, Nona. Saya tidak terima angka tujuh."
Anara tertawa kecil sendirian di ruang kerjanya yang sepi, lalu buru-buru berhenti tertawa saat sadar ia sedang tertawa sendirian. Karena musuhnya. Astaga.
Ini semua salah kopi susu. Dari dulu memang salah kopi susu.
Anara mengetuk layar ponselnya, membuka riwayat chat mereka yang ternyata sudah lumayan panjang. Isinya sembilan puluh persen soal proyek: jadwal, dokumen, revisi. Sisanya? Entahlah. Komentar soal kopi, sindiran soal jam pulang, sekali-kali "jangan begadang, laporan Anda jadi jelek" yang sama sekali tidak ia minta.
Kapan tepatnya musuh bebuyutan berubah jadi kontak yang chatnya paling sering ia balas, Anara tidak pernah sadar. Dan ia memutuskan untuk tidak memikirkannya. Tidak malam ini.
***
Dan tanpa terasa, hari-hari bergulir, dan Sabtu itu semakin dekat seperti kereta yang tidak mau berhenti.
Di rumah keluarga, Eva sudah menyiapkan tiga kandidat gaun untuk putrinya — tiga, kalian tidak salah baca — dan mengadakan semacam fashion show dadakan di kamar Anara pada Jumat malam.
"Yang biru ini elegan. Yang krem ini kalem. Yang hitam ini ... wah, ini mematikan." Eva menimbang-nimbang ketiganya dengan serius seperti juri lomba.
"Mah. Ini cuma makan malam dua jam." Anara yang sudah lelah duduk di tepi ranjang dengan piama. "Bukan malam final."
"Justru karena cuma dua jam, dua jam itu harus maksimal! Kamu enggak tahu apa-apa soal perang, Anakku." Eva akhirnya memilih gaun krem dengan anggun. "Papah, menurut kamu?"
Damares, yang sejak tadi berdiri di ambang pintu dengan tugas resmi sebagai penonton, menatap putrinya sejenak lalu tersenyum. "Anak papah pakai apa saja juga cantik. Tapi yang krem itu bagus. Tenang, elegan, enggak lebay."
"Dengerin papah kamu. Dia jarang salah."
Fashion show dadakan itu akhirnya ditutup dengan Eva menggantung gaun krem itu di pintu lemari dengan hati-hati, seperti menggantung harapan bangsa.
"Mah, segitunya."
"Kamu enggak ngerti apa-apa." Eva menepuk gaun itu pelan, lalu menatap putrinya dengan tatapan yang tiba-tiba lembut. "Mamah bukan maksa kamu suka sama orangnya, Ra. Mamah cuma mau kamu lihat sendiri, bahwa di luar sana masih ada laki-laki baik yang layak diperjuangkan. Habis kemarin itu ... mamah cuma mau kamu berani lagi."
Anara terdiam. Kalau mamahnya sudah bicara dengan nada seperti itu, semua lelucon biasanya berhenti di tenggorokan.
"... Iya, Mah. Anara datang dengan niat baik. Janji."
"Anak mamah memang paling bisa diajak kerja sama." Eva mencium puncak kepala putrinya. "Sekarang tidur. Cantik itu butuh tidur, kata mamah kamu yang selalu cantik ini."
Malam itu, setelah kedua orang tuanya keluar kamar, Anara berbaring menatap gaun krem yang tergantung di pintu lemarinya, dan untuk kesekian kalinya ia berkata pada diri sendiri bahwa jantungnya berdebar karena proyek, bukan karena makan malam besok.
Proyek. Iya, proyek. Apa pun yang membantunya tidur.