Hari-hari terakhir sebelum Sabtu itu ternyata penuh dengan hal-hal yang hampir.
Seperti Kamis siang itu, di sela meeting koordinasi, ketika ponsel Arga bergetar dan pria itu melihat nama panggilannya dengan wajah yang langsung lelah.
"Sebentar. Ibu saya." Arga mengangkat teleponnya sambil berjalan ke sudut ruangan, tapi di ruangan seluas itu, suaranya tetap terdengar jelas. "Iya, Bu ... iya, bajunya sudah ... Bu, ini cuma makan malam, bukan pemotretan ... iya ... iya, saya datang tepat waktu ... ya ampun, Bu, saya ini bos, bukan anak mau ospek— iya. Iya. Sampai besok, Bu."
Anara di seberang meja harus menggigit bibirnya sendiri supaya tidak tertawa terbahak-bahak. Arga Satria Megantara, bos yang kata-katanya bisa membuat vendor turun harga dua puluh persen, dimarahi ibunya lewat telepon seperti anak kelas enam.
"Jangan dengarkan," ucap Arga kaku begitu kembali ke meja.
"Gue enggak denger apa-apa, Pak. Sama sekali." Anara menatap dokumennya dengan wajah suci. "Cuma kebetulan tahu sekarang kalau lo masih disuruh-suruh milih baju sama ibu lo."
"Itu bukan disuruh. Itu ... didampingi."
"Didampingi." Anara mengangguk-angguk. "Santai aja, Pak. Gue juga lagi dikomporin mamah gue buat makan malam Sabtu ini. Tiga gaun, Pak. Tiga. Buat satu makan malam."
Arga mendengus, dan ada senyum kecil yang lolos dari pertahanannya. "Makan malam Anda Sabtu ini juga?"
"Iya. Besok malah."
"Nasib anak memang sama semua, ya." Pria itu menggeleng pelan. "Semoga makan malam kita sama-sama cepat selesai."
"Amin."
Mereka tertawa kecil bersama, tidak tahu bahwa yang mereka tertawakan sebenarnya adalah satu meja yang sama.
Hampir ketahuan. Tapi ya sudah, mari kita biarkan mereka bahagia sedikit lebih lama.
***
Malam sebelumnya lagi, Rabu malam yang larut, ada satu momen yang tidak direncanakan siapa pun.
Dokumen tahap dua harus difinalkan sebelum Jumat, dan karena satu revisi dari pihak Pratama masuk jam enam sore, Anara dan Arga berakhir bekerja berdua di ruang meeting lantai sembilan sampai hampir tengah malam. Dua sekretaris sudah dipulangkan lebih dulu. Tinggal mereka berdua, dua laptop, dan kopi yang sudah diisi ulang dua kali.
Di jeda pekerjaan, ketika mata sama-sama lelah dan suasana entah kenapa terlalu sepi untuk bertengkar, Anara bertanya tanpa mengangkat wajah dari laptopnya.
"Lo deket sama ibu lo, ya."
Itu bukan pertanyaan, sebenarnya. Lebih seperti kesimpulan yang keluar begitu saja. Arga mengangkat wajah dari layarnya.
"... Susah dibilang dekat atau tidak." Pria itu diam sebentar, memilih kata-katanya. "Keluarga saya rumit, Nona. Ada hal-hal yang tidak saya bawa ke kantor, dan kantor adalah tempat saya bersembunyi dari hal-hal itu."
Anara menatapnya. Ada sesuatu di nada suara Arga yang membuatnya tidak berani bercanda. Sesuatu yang dalam, yang lama, yang disimpan di balik kata rumit.
"Gue enggak bakal nanya," ucap Anara pelan. "Tapi kalau suatu hari lo mau cerita, gue dengerin. Partner kan gitu."
Arga menatapnya lama. Lama sekali, sampai Anara salah tingkah dan pura-pura sibuk dengan laptopnya lagi.
"Terima kasih, Nona," ucap pria itu akhirnya, pelan saja. "Mungkin suatu hari."
Mereka kembali bekerja dalam keheningan, tapi keheningan kali ini terasa berbeda. Tidak canggung, tidak dingin. Seperti dua orang yang berjaga di benteng yang sama, memunggungi api unggun yang sama, tanpa perlu banyak bicara.
Hampir ada sesuatu yang berubah malam itu. Hampir. Tapi mereka berdua sepakat — tanpa pernah mengucapkannya — untuk tidak membahasnya.
***
Jumat siang, ada pemandangan langka di kantin gedung: dua tim dari dua perusahaan makan siang satu meja panjang, merayakan dokumen tahap dua yang hampir beres.
Dua bos mereka duduk di ujung meja yang sama — dipisahkan dua kursi kosong, sesuai protokol tidak resmi yang berlaku sejak gencatan senjata diumumkan.
"Dulu saya kira kalau dua bos ini akur, kiamat sudah dekat," bisik salah satu anggota tim Arga.
"Sekarang saya malah curiga kiamatnya memang dekat, cuma kita yang enggak sadar," bisik tim Anara.
Anak magang, yang ikut dibawa serta karena sudah membuktikan keberaniannya malam itu, menyimak semuanya sambil mencatat di hati: ternyata permusuhan pun bisa lelah. Ternyata bahkan dua bos paling keras kepala di kota ini bisa duduk satu kantin tanpa ada korban jiwa.
Sesekali ia melirik ke ujung meja, ke arah dua bos yang sedang berdebat soal siapa yang harus membayar makan siang hari ini.
"Perusahaan gue yang traktir. Kalian kemarin yang bayar pas markas perang."
"Tidak bisa. Perusahaan saya tidak pernah jadi beban."
"Beban katanya. Traktiran doang dibawa serius. Lo ini, ya—"
Anak magang itu tersenyum kecil sambil menyuap nasinya. Kalau ini yang namanya musuh, ia ingin punya musuh juga suatu hari nanti.
Sorenya, dokumen tahap dua akhirnya terkirim ke pihak Pratama dengan selamat, dan dua bos itu berdiri di lobi gedung dengan perasaan menang kecil-kecilan.
"Beres. Tinggal tunggu komentar mereka Senin." Anara menepuk map di tangannya seperti menepuk trofi.
"Kerja bagus minggu ini, Nona." Arga menyesuaikan jam tangannya. "Dan untuk besok ... semoga makan malam Anda cepat selesai."
"Lo juga, Pak. Semoga anak sahabat ibu lo itu orangnya enggak aneh-aneh."
"Semoga anak sahabat mamah Anda juga waras."
Mereka berpisah di lobi itu dengan tos kecil yang tidak direncanakan — benar-benar tidak direncanakan, tangan Anara terangkat lebih dulu karena kebiasaan tim, dan Arga membalasnya dengan kaku seperti orang yang tidak pernah tos seumur hidupnya.
"Wah. Kita bisa tos sekarang, Bu," goda Anara. "Buat dokumentasi."
"Jangan dibiasakan, Nona."
Dan mereka berjalan ke arah mobil masing-masing, sama-sama merasa minggu ini adalah minggu yang baik, sama-sama tidak tahu bahwa besok malam mereka akan bertemu lagi — di satu meja yang sama, dengan dua mamah yang sama komplotannya.
***
Dan kemudian Jumat malam pun tiba.
Di dua rumah yang berbeda, dua orang menyiapkan dua makan malam yang sama.
Di satu rumah, seorang ibu mengirimkan pesan ke anaknya: "Besok pakai jas yang bagus. Jangan dateng telat. Jangan banyak-banyak kerja di mobil. Dan senyum, Nak, senyum. Kamu kalau enggak senyum kayak mau demo."
Di rumah yang lain, seorang mamah melakukan gladi resik: "Nanti salaman yang manis, ya. Jangan langsung bahas kerja. Jangan bahas tender. Dan tolong, TOLONG, jangan bahas perusahaan seberang yang kamu musuhi itu. Mamah enggak mau ada kata tender di meja makan."
"Kenapa semua orang jadi lebay sih, ini cuma makan malam," rutuk Anara.
Di rumah satunya lagi, Arga Satria Megantara menatap jasnya dengan wajah datar dan bergumam kalimat yang persis sama: "Cuma makan malam."
Besok semua berakhir, pikir mereka berdua, dalam hati, di dua rumah yang berbeda.
Betapa salahnya mereka.