Sabtu yang ditakutkan itu akhirnya datang juga, dengan langit cerah yang sama sekali tidak peka terhadap penderitaan orang.
Pagi itu Anara bangun dengan perasaan yang aneh, dan ia butuh waktu sepuluh menit menatap langit-langit untuk menamainya.
Bukan takut. Bukan juga malas. Tapi sesuatu di antaranya, dicampur sedikit rasa penasaran yang tidak akan ia akui sampai kiamat. Adik dari Dave. Anak Jeng Ayu. Pria pendiam yang katanya lurus sampai ibunya khawatir ia akan menikah dengan kantornya.
Menikah dengan kantor. Anara hampir tertawa di depan sarapannya. Kalau begitu mereka berdua punya satu kesamaan. Setidaknya nanti malam ada satu topik aman untuk dibicarakan: betapa melelahkannya menjadi orang yang terlalu mencintai pekerjaannya.
Sejak sore, kamar Anara sudah seperti markas operasi militer. Eva masuk-keluar membawa sepatu, anting, dan parfum, sementara Anara duduk di depan meja rias dengan wajah orang yang mau berangkat ke medan perang.
"Rambutnya digerai aja, cantik. Make-up-nya jangan tebal, kamu sudah cantik dari lahir, Mamah yang bikin soalnya." Eva sibuk mengatur ini-itu. "Nanti di sana, makan yang anggun. Jangan langsung pesen rendang dua porsi kayak di rumah Tante Astrid."
"Mamah tahu dari mana soal rendang dua porsi?!"
"Tante Astrid cerita waktu kita telepon." Eva nyengir tanpa dosa. "Ibu-ibu itu saling lapor, Sayang. Tidak ada rahasia di dunia ibu-ibu."
Anara memijit pelipisnya. Ia baru saja memaafkan Tante Astrid, dan sekarang Tante Astrid sudah membocorkan rekor rendangnya. Pengkhianatan memang datang dari mana-mana.
Di ambang pintu, Damares muncul dengan senyumnya yang kalem, menatap putrinya yang sudah rapi dengan gaun krem itu.
"Cantik. Papah enggak bohong." Damares mengacungkan jempol. "Ingat satu hal, Nak: kamu di sana cuma buat makan malam, bukan buat menyenangkan siapa-siapa. Kalau orangnya aneh, kamu pulang, papah yang jemput. Kalau orangnya baik, ya syukur. Sesimpel itu."
"Sesimpel itu," ulang Anara, menghirup napas dalam-dalam. "Oke. Sesimpel itu."
Ia tidak tahu bahwa malam ini akan jauh, jauh lebih rumit dari simpel.
***
Di sisi kota yang lain, mobil Ayu melaju ke arah yang sama, dengan satu penumpang yang wajahnya seperti mau menghadiri pemakamannya sendiri.
"Senyum, Nak. Kamu kalau cemberut gitu gantengnya hilang," omel Ayu dari kursi kemudi. Sejak sore wanita itu sudah repot bukan main, bahkan menolak supir supaya bisa mengawal anaknya sendiri.
"Saya datang, Bu. Itu sudah lebih dari cukup." Arga menatap lurus ke jalan. "Satu makan malam. Sesuai janji. Setelah itu Ibu berhenti."
"Iya, iya. Ibu ingat." Ayu melirik anak bungsunya dengan senyum yang sulit dibaca. "Tapi kamu tahu enggak, Ibu punya firasat bagus soal malam ini."
"Ibu selalu punya firasat bagus. Terakhir kali firasat Ibu bagus, kita semua ingat apa yang terjadi dengan kakak."
Ayu terdiam sepersekian detik, lalu menepuk pelan lengan anaknya. "Kali ini beda. Percaya sama Ibu."
"Oh iya, satu hal lagi," ucap Ayu sambil menyetir. "Anaknya Jeng Eva ini beda dari perempuan yang biasa Ibu kenalkan. Dia bukan tipe yang kagum-kagum sama kamu. Dia mandiri, punya perusahaan sendiri yang dia bangun dari nol, dan mulutnya ... bagaimana ya, kalau kata Jeng Eva, anaknya itu tidak bisa disuruh diam."
"Kedengarannya menyebalkan," komentar Arga datar.
"Justru itu yang bagus, Nak. Kamu butuh orang yang bisa ngelawan kamu. Kamu ini kalau dilayanin terus malah jadi raja dzalim."
Arga menatap ibunya sekilas. "Ibu ini ibu saya atau ibu dia?"
"Dua-duanya, kalau malam ini lancar."
Arga tidak menjawab. Ia menatap keluar jendela, memikirkan betapa anehnya hidup: kemarin ia bertengkar soal jadwal dengan seorang bos perusahaan seberang, dan malam ini ia harus makan malam dengan orang asing atas nama kebahagiaan ibunya.
Dua jam. Ia hanya perlu bertahan dua jam. Ia bahkan sudah menyiapkan topik-topik pembicaraan paling mematikan di kepalanya — cuaca, ekonomi makro, dan kemacetan — supaya makan malam itu cepat berlalu dan tidak ke mana-mana.
Rencana yang rapi. Sayang sekali, semesta sudah lama tidak menghargai rencananya.
***
Restorannya adalah restoran mewah di pusat kota, dengan taman kecil di dalamnya dan ruang-ruang privat yang terpisah oleh pintu kayu berukir. Anara dan Eva tiba lima menit lebih awal — prinsip Eva: yang datang duluan memegang kendali meja.
Di dalam ruang privat itu, Ayu sudah menunggu, langsung berdiri dan memeluk mereka berdua dengan riuh.
"Jeng Eva! Cantik banget kamu malam ini! Dan Anara ... ya ampun, Nak, kamu ini cantiknya keterlaluan. Anak Tante nanti bisa enggak kedip semalaman."
"Makasih, Jeng." Anara tersenyum kaku. "Anak Jeng Ayu sendiri ... mana?"
"Lagi parkir mobil. Tadi Tante mau pakai supir, dia maunya nyetir sendiri, anaknya memang enggak bisa disetirin orang." Ayu melambaikan tangannya. "Bentar lagi juga dateng. Duduk dulu, duduk dulu, pesen minum dulu."
Maka mereka duduk. Eva dan Ayu langsung bergosip dengan kecepatan tinggi, dan Anara menatap pintu kayu berukir itu sambil menyeruput air putihnya, mencoba membayangkan wajah orang asing yang akan masuk lewat pintu itu.
Pendiam, kata Jeng Ayu. Kerja keras. Anti difoto. Agak dingin tapi perhatian. Anak baik-baik yang tidak pernah membuat ibunya khawatir soal perempuan.
Yah, paling tidak tidak akan ada drama, pikir Anara. Pria pendiam yang lurus. Dua jam membahas cuaca dan ekonomi makro, lalu pulang, lalu bebas. Semua akan baik-baik saja.
Pintu kayu itu akhirnya terbuka.
"Ini dia anaknya!" Ayu berdiri dengan wajah berseri-seri.
Anara mendongak dari gelasnya, bersiap memasang senyum paling sopan yang sudah ia latih sepanjang perjalanan—
Dan senyum itu berhenti di tengah jalan.
Di ambang pintu, dengan jas rapi dan rambut yang disisir ke belakang, berdiri seorang pria yang wajahnya sangat, sangat tidak asing. Pria yang kemarin bertengkar dengannya soal jadwal. Pria yang membelikannya sandal jepit karet di tengah tanah liat. Pria yang menyampirkan jaketnya di rest area dan mengiriminya kopi susu jam delapan malam dengan catatan bertuliskan "Seberang".
Pria yang sama juga sedang menatapnya dengan mata yang membesar perlahan, langkahnya terhenti di ambang pintu seperti baru melihat hantu.
Waktu berhenti total.
Di meja, dua mamah itu masih tersenyum bahagia, belum menyadari apa pun, belum tahu bahwa kedua anak mereka sedang saling menatap seperti dua orang yang sama-sama baru mengetahui bahwa bumi itu rupanya memang bulat.
Anaknya Jeng Ayu.
Anak sahabat mamahnya.
Adik dari Dave.
Anara Clarys Graceva menatap Arga Satria Megantara, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, gadis yang selalu punya jawaban untuk segalanya itu kehabisan kata-kata.
"Nona ...?" Suara Arga terdengar pelan, nyaris tidak percaya.
"Pak ... Arga?" Suara Anara balas nyaris berbisik.
Dua mamah itu menoleh ke mereka berdua, lalu saling pandang dengan bingung.
"Loh. Kalian ... sudah kenal?"
Dunia ternyata memang sekejam itu.