Saudara-saudara, ada dua jenis keheningan di dunia ini. Keheningan pertama adalah keheningan biasa, yang datang saat orang tidur atau saat sinyal hilang. Keheningan kedua adalah keheningan yang terjadi ketika dua orang saling menatap di ambang pintu restoran, dan keduanya sama-sama sadar bahwa hidup mereka baru saja berubah jadi bahan tertawaan semesta.
Keheningan jenis kedua itulah yang sedang terjadi di ruang privat itu.
"Loh. Kalian ... sudah kenal?" Ayu mengulangi pertanyaannya, kali ini dengan dahi berkerut, matanya berpindah-pindah antara anaknya dan Anara seperti sedang menonton pertandingan tenis.
"Kenal," jawab Anara.
"Proyek," jawab Arga, di detik yang sama.
Dua ibu itu mengerjap.
"Kenal lewat proyek," Anara buru-buru menambahkan.
"Proyek yang bikin kami kenal," Arga menambahkan di detik yang sama pula.
Kalian bisa lihat sendiri, dua orang yang biasanya paling lancar berdebat sekalipun, malam itu bicaranya seperti dua terdakwa yang belum sempat menyamakan keterangan.
"Jadi ..." Eva berbicara pelan-pelan, seperti sedang menyusun puzzle di kepalanya, "kalian berdua ... kerja bareng? Selama ini?"
"Proyek gabungan, Mah. Perusahaan aku sama perusahaan ... Pak Arga. Gedung kami persis seberang-seberangan." Anara merasa suaranya sendiri terdengar aneh. "Sudah jalan beberapa bulan."
Hening sepersekian detik.
Lalu meledaklah.
"JOOOOODOH MEMANG ENGGAK KE MANAAAA!" Ayu memekik sambil memeluk Eva, dan dua wanita paruh baya itu tertawa-tawa seperti baru memenangkan undian berhadiah rumah. "Jeng Eva! Anak-anak kita sudah kenal! Sudah kerja bareng! Kita ini bukan menjodohkan, kita ini cuma ngeresmiin!"
"Tunggu. Tunggu dulu." Eva tiba-tiba memegang lengan Ayu, matanya membelalak ke arah Arga. "Kamu ... kamu ini yang waktu itu, kan? Yang di nikahannya Arabela! Partner bisnisnya Anara yang sopan dan ganteng itu! Ya Tuhan, satu keluarga besar nanyain kamu seminggu penuh, Nak! Tantenya Anara sampai mau nawarin anak dokter segala biar bisa kenalan!"
"Mah!" Anara menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Dan di situlah Arga Satria Megantara melakukan kesalahan strategis pertamanya malam itu: ia tersenyum. Senyum sopan berwibawa yang kemarin menaklukkan seluruh pasukan tante di lorong hotel.
"Selamat malam, Tante Eva. Saya Arga. Senang akhirnya bisa bertemu resmi." Pria itu membungkuk sopan. "Gaun Tante malam ini juga cantik sekali."
Eva mencair. Langsung, seketika, tanpa perlawanan. "Jeng Ayu, anak kamu ini ... ya ampun ..."
"Jangan tertipu, Mah," potong Anara lemas. "Itu mode aktingnya. Dia punya banyak mode."
"Mode akting bagaimana? Orang sopan ya sopan saja!" Eva bahkan sudah menyuruh Arga duduk di sampingnya. Di seberang meja, Ayu menatap adegan itu dengan senyum kemenangan seorang jenderal.
Makan malam itu akhirnya berjalan, Saudara-saudara. Dan sepanjang malam, dua ibu itu menonton anak-anak mereka dengan intensitas penonton sinetron episode terakhir: tidak berkedip, tidak mau ketinggalan satu adegan pun.
Tontonan gratis, memang selalu begitu.
Puncaknya terjadi saat memesan makanan. Anara memesan steak medium-well, dan dari seberang meja terdengar suara datar yang sudah sangat ia kenal.
"Medium-well itu cara paling efisien untuk menyia-nyiakan daging bagus, Nona."
"Pak, malam ini gue lagi enggak bertugas, jadi komentar lo tentang daging bisa disimpan buat meeting Senin."
"Lihat tuh, Jeng Eva," bisik Ayu, tidak pelan-pelan sama sekali. "Sudah kayak suami istri lima tahun."
"KAMI DENGER, JENG."
Di tengah hidangan pembuka, Ayu melancarkan pertanyaan yang seharusnya sudah bisa diduga oleh dua anak itu.
"Jadi, ceritain dong, awal kenalnya gimana?"
Garpu Anara berhenti di udara. Gelas Arga berhenti di tengah jalan menuju bibirnya.
Awal kenalnya? Mana mungkin mereka bercerita jujur. Versi jujurnya terlalu panjang, terlalu berantakan, dan terlalu banyak mengandung kata-kata yang tidak pantas diucapkan di depan ibu-ibu.
"Di ... satu tender," jawab Anara akhirnya, memilih kata seperti orang memilih langkah di ladang ranjau. "Kebetulan perusahaan kami waktu itu ... bersebelahan minatnya."
"Dia menang," sambung Arga datar.
"Dia enggak terima," sambung Anara manis.
"Saya terima. Saya hanya menyampaikan evaluasi secara jujur."
"Evaluasi jujur, katanya. Lima halaman, Jeng. Lima halaman evaluasi buat perusahaan orang yang baru dia kenal."
Dua ibu itu malah tertawa senang, seolah barusan mendengar godaan paling mesra abad ini. Anara dan Arga saling pandang dengan pasrah: apa pun yang keluar dari mulut mereka malam itu akan selalu diterjemahkan salah, dan tidak ada kamus di dunia ini yang bisa menolong.
"Terus, Nak, Arga di kantor gimana orangnya?" Ayu memancing lagi, matanya berbinar penuh harapan.
Anara menelan dagingnya dengan perlahan, membeli waktu. "Rajin, Jeng. Terlalu rajin, malah. Orangnya enggak pernah pulang, kayak ngekos di kantor."
"AKURAT SEKALI!" Ayu bertepuk tangan ke arah Eva, seolah jawaban itu adalah ramalan yang terbukti. "Kamu dengar sendiri kan, Jeng! Sudah saling tahu kebiasaan!"
Di bawah meja, sebuah percakapan rahasia sedang berlangsung dalam bentuk tendangan-tendangan kecil. Ketika Ayu bertanya dengan mata berbinar, "Jadi kalian di kantor dekat, dong?", dan Arga membuka mulut hendak menjawab "Tidak, kami hanya sebatas—", sepatu Anara mendarat di sepatunya dengan presisi militer.
"Sebatas partner kerja yang akrab, Jeng," sambung Anara cepat, sambil tersenyum manis dan menginjak lebih keras.
Arga menatapnya. Anara menatap balik. Dua pasang mata itu bertukar pesan dengan kecepatan kilat: jangan kasih mereka harapan, dan jangan kasih mereka bahan.
Sayangnya, harapan dan bahan sudah diberikan gratis sejak menit pertama.
"Oh iya, papah kamu nitip salam, Nak," ucap Eva kepada Anara di sela hidangan utama. "Beliau memilih netral di rumah, seperti biasa. Katanya kalau acara begini terus, beliau mau bikin kartu anggota."
"Papah memang pengkhianat paling damai sedunia."
Dan sebelum makan penutup tiba, dua ibu itu sudah membuka kalender di ponsel masing-masing, membicarakan tanggal untuk acara yang mereka sebut "makan bareng keluarga besar". Kedua anak itu tersedak minumannya dalam waktu hampir bersamaan, yang justru membuat dua ibu itu saling pandang dan tertawa geli, karena di mata mereka, tersedak berbarengan pun adalah tanda jodoh.
Malam itu berakhir pukul sembilan. Di lobi restoran, Ayu berkata ia mau ke toilet dulu, dan Eva memutuskan menemani sahabatnya — dua perempuan itu berjalan pergi sambil terus berbisik, meninggalkan dua anak mereka berdiri berjauhan di lobi seperti dua jenderal dari negara yang sedang perang.
Begitu pintu toilet tertutup, keduanya langsung berbalik menghadap satu sama lain.
"Tiga puluh detik," desis Anara. "Besok pagi, lo bilang ke ibu lo: enggak cocok. Gue bilang hal yang sama ke mamah gue. Serentak, jam sepuluh. Jangan kasih celah sedikit pun."
"Sepakat." Arga mengangguk tegas. "Jawaban seragam: tidak cocok, tidak ada rasa, tidak usah diulang."
"Dan mulai besok di kantor, kita jaga jarak. Full profesional. Biar enggak ada bahan gosip baru."
"Itu memang seharusnya dari dulu," ucap Arga, seolah-olah ia tidak baru saja mengomentari tingkat kematangan steaknya seperti suami cerewet.
Mereka berjabat tangan di lobi restoran mewah itu, kaku dan cepat, seperti dua diplomat menandatangani perjanjian damai.
Keduanya tidak tahu bahwa di dalam toilet, dua ibu mereka sedang berpelukan sambil berlinang air mata bahagia, dan sudah menandatangani perjanjian yang jauh lebih besar — tanpa perlu tanda tangan siapa pun.