Rencana itu sebenarnya sempurna. Jam sepuluh pagi, dua orang, dua pengumuman, satu kata kunci: tidak cocok. Sederhana, elegan, dan seharusnya mematikan.
Seharusnya.
Minggu pagi itu, Anara duduk di meja makan rumah orang tuanya dengan secangkir kopi dan seluruh keberaniannya. "Mah. Aku mau ngomong soal semalam."
"Ya, Sayang?" Eva menoleh dengan senyum yang masih mengambang sejak kemarin malam.
"Aku sama Arga enggak cocok. Kami sudah sepakat berdua. Jadi ... deal-nya selesai, ya. Satu makan malam sudah dijalanin, dan hasilnya enggak cocok. Udahan."
Eva menatap putrinya. Lalu mamahnya itu ... tertawa.
"Enggak cocok dari mana? Tante Sari bilang kalian mesra banget semalam."
Anara hampir menyemburkan kopinya. "TANTE SARI TAHU DARI MANA?!"
"Ada kenalan Tante Sari yang makan di restoran yang sama. Katanya lihat kamu sama cowok ganteng berjas, di lobi, pegangan tangan." Eva menyeruput tehnya dengan tenang sekali, seperti sedang membaca ramalan cuaca. "Satu komplek sudah heboh dari semalam, Nak."
"Itu bukan pegangan tangan, Mah! Itu jabat tangan! Jabat tangan perang!"
"Yang namanya perang sama damai itu kadang bedanya cuma di niat, Nak," ucap Eva bijak, mengutip entah dari mana.
"Mah, dengerin. Enggak. Cocok." Anara menekankan setiap kata. "Deal-nya sudah selesai. Mamah janji."
"Oh, deal satu makan malam memang sudah selesai, Sayang. Mamah orang yang pegang janji." Eva menepuk tangan putrinya dengan lembut. "Tapi sekarang ini sudah bukan perjodohan lagi. Ini kalian jalan sendiri, kenal sendiri, mesra-mesraan di lobi sendiri. Mamah enggak perlu ngatur apa-apa lagi. Justru itu namanya berhasil."
Anara membuka mulut. Menutupnya. Membukanya lagi.
Ia kalah. Bukan karena argumen mamahnya bagus, tapi karena argumen mamahnya sama sekali tidak bisa diserang dengan logika. Melawan Eva itu seperti melawan air: semakin keras kamu memukul, semakin tenang dia mengalir ke mana dia mau.
Di apartemen di sisi kota yang lain, pertempuran serupa sedang berlangsung, dengan hasil yang sama tragisnya.
"Ibu. Tidak ada kecocokan. Kami sudah sepakat berdua." Arga menyampaikannya dengan nada final, nada yang biasanya membuat direksi terdiam.
"Sepakat berdua." Ayu mengangguk-angguk sambil mengupas buah untuk anak bungsunya — pria dua puluh tujuh tahun yang masih dikupaskan buah oleh ibunya, dan diam saja. "Kalian semalam saling pandang terus, Nak. Ibu hitung, loh."
"Itu pandangan ingin membunuh, Bu."
"Nak." Ayu menatap anaknya dengan tatapan seorang ibu yang sudah melihat terlalu banyak. "Cinta sama benci itu bertetangga. Rumahnya berdempetan, pagarnya tipis. Kamu ini anak Ibu, Ibu tahu kamu. Kamu enggak pernah repot-repot membenci orang yang enggak kamu pedulikan."
Arga diam sejenak, lalu memilih jalur pamungkasnya. "Satu makan malam, Bu. Itu janji Ibu. Setelah itu Ibu berhenti."
"Dan Ibu berhenti!" Ayu mengangkat kedua tangannya, wajahnya polos luar biasa. "Ibu enggak ngatur apa-apa lagi, kan? Sekarang kalian yang jalan sendiri. Kalian yang pegangan tangan di lobi—"
"Jabat tangan, Bu. Jabat tangan."
"—yang jabat tangan di lobi," koreksi Ayu dengan mulus, "tanpa Ibu suruh. Ibu sekarang cuma penonton, Nak. Penonton boleh berharap, dong. Itu hak konstitusional penonton."
Dan dengan itu, Arga Satria Megantara — yang tidak pernah kalah negosiasi seumur hidupnya — menelan kekalahan keduanya dalam dua puluh empat jam, dari orang yang sama.
***
Senin di kantor, strategi "full profesional" diluncurkan.
Masalahnya, Saudara-saudara, dua orang yang biasanya bertengkar sengit setiap sepuluh menit tiba-tiba menjadi sangat, sangat sopan. Dan tidak ada yang lebih mencurigakan di dunia ini selain musuh bebuyutan yang tiba-tiba sopan.
"Silakan, Bu. Dokumennya."
"Setelah Anda, Pak. Liftnya."
"Oh tidak, Anda duluan saja. Saya tidak buru-buru."
Di ruang meeting lantai sembilan, dua tim menatap pemandangan itu dengan ngeri.
"Mereka kenapa?" bisik anak buah Anara.
"Enggak tahu. Tapi gue kangen waktu mereka ribut," bisik anak buah Arga. "Dulu bos gue bilang desain kalian perlu evaluasi total. Sekarang bos gue bilang masukan tim Anda sangat berharga. Gue merinding, sumpah."
Bahkan satpam di lobi ikut-ikutan. Bapak itu berdiri di depan monitor CCTV dengan wajah sangat serius, padahal semua orang tahu matanya tidak sedang menatap layar — kupingnya sedang bekerja penuh waktu mendengarkan dua bos yang saling mempersilakan dengan hormat di depan lift.
Yang lebih parah, menjaga jarak ternyata butuh koordinasi. Dan koordinasi butuh ... berkomunikasi. Maka terjadilah pemandangan paling absurd minggu itu: dua bos berdiri berdampingan di depan lift, sama-sama diam, sama-sama menatap pintu lift, sementara jempol keduanya sibuk mengetik.
"Jangan ke kanan nanti. Tim saya berkumpul di kanan."
"Ini lift, Nona, bukan papan catur."
"Terus kenapa lo ikut masuk lift yang sama?"
"Karena ini satu-satunya lift yang tidak antre, dan kantor saya kebetulan di seberang gedung Anda. Anda kira saya menikmati ini?"
Dua orang di dalam lift yang sama, saling chat tanpa saling menatap, seperti dua orang asing yang kebetulan punya masalah yang sama. Kalau semesta sedang butuh tontonan gratis, minggu itu semesta pasti puas sekali.
Dan puncaknya, saat istirahat makan siang, seorang anak magang — selalu anak magang, kaum paling berani sekaligus paling tidak tahu diri di seluruh perusahaan — menghampiri meja gabungan itu dengan wajah polos.
"Bu Anara, Pak Arga ... bener nih kata orang-orang, Bu Anara sama Pak Arga sebenernya—"
"TIDAK."
Dua suara, satu kata, serempak seperti paduan suara yang sudah latihan bertahun-tahun.
Anak magang itu kembali ke mejanya dengan kecepatan cahaya dan tidak pernah bertanya apa pun lagi sampai masa magangnya habis.
***
Rabu sore, bencana berikutnya tiba lewat notifikasi kalender.
Dua undangan, dikirim ke dua ponsel, oleh dua pengirim yang berbeda namun satu komplotan: Makan Siang Dua Keluarga — Sabtu, Pukul 12.00 — Restoran Padang Sederhana Mewah. Keterangan acara: perkenalan resmi keluarga.
Anara menatap layar ponselnya selama tiga puluh detik penuh, lalu membuka chat dengan "Seberang (Proyek)".
"Lo dapat undangan juga?"
Balasan datang kurang dari semenit. "Sayangnya, ya. Lengkap dengan titik GPS dan catatan dress code."
"Dress code. Untuk makan siang. Ya Tuhan."
"Kita harus ketemu membicarakan ini. Bukan di kantor. Terlalu banyak kuping."
"Setuju. Besok, habis meeting?"
Namun besoknya, meeting tahap dua berjalan sampai malam karena revisi dari Pratama. Lusanya, Anara harus ke luar kota untuk urusan vendor, dan Arga terjebak tiga rapat direksi yang berturut-turut. Pesan "kita harus ketemu" itu menggantung di chat, dibalas berkali-kali dengan "maaf, besok saja", sampai akhirnya tidak dibalas sama sekali.
Dan sementara dua jenderal itu sibuk dengan perang masing-masing, dua komplotan ibu itu terus bergerilya tanpa perlawanan.
Perang besar memang sudah dimulai. Cuma kali ini, musuhnya bukan satu sama lain — dan justru itu yang membuat mereka berdua sangat tidak terbiasa.