[Bunda’s POV]
Aku gemetar. Sebentar lagi aku akan bertemu dengan perwakilan dari Adidarma. Aku bahkan masih belum mendapatkan gambaran jelas tentang apa yang terjadi dan apa yang dilakukan oleh karyawanku. Adit memutuskan untuk tidak datang ke kantor hari ini. Rasanya kepalaku mau pecah.
“Pihak Adidarma sepertinya sudah datang Bu” Elsa menghampiriku ke dalam ruanganku.
Aku sedang menenangkan Aria, legal yayasan ku yang kuajak untuk menghadapi permasalahan ini bersama-sama. Sebenarnya aku agak sedikit konyol untuk mengajak orang yang tidak mengerjakan untuk ikut menyelesaikan masalah yang datang akibat orang lain. Tapi, mau gimana lagi. Aku tidak mungkin sendiri sementara pihak Adidarma membawa segerombolan orang yang mungkin saja menuntutku atau menuntut yayasanku.
*Amy, tetap tenang dan santun* Aku memberikan afirmasi positif pada diriku sendiri.
Aku melangkahkan kaki keluar dari ruanganku dan menyambut tamu yang datang. Tersenyum seolah aku tidak pernah berbuat salah. Kenyataannya, memang tidak. Aku sendiri tidak tahu apa yang terjadi. Tapi kalau aku bilang aku tidak paham situasi, maka disanalah sikapku sebagai seorang pemimpin diuji.
Setelah mempersilahkan mereka semua masuk ke dalam ruanganku. Salah satu perwakilan Adidarma yang menduduki sebagai legal, dan juga pengacara yang berpihak pada perusahaan itu, terus menerus menatapku tajam. Seperti aku adalah seorang tersangka yang layak dihukum mati. Aku menarik nafas panjang saat Pak Azmi bilang untuk segera masuk ke inti pembicaraan. Baik. Aku siap.
“Begini ya bu, Apa ibu ingat kalau Ibu sempat membatalkan kontrak kerjasama antara Adidarma dan yayasan, secara sepihak?” Pak Azmi membuka kata langsung kepada hal yang aku khawatirkan sedari tadi sebelum ia datang.
“Tentu saya ingat Pak, saya minta maaf atas kejadian itu.” Aku mengepal tangan ku dan menatap perwakilan Adidarma dengan penuh percaya diri
“Baik, Saya boleh tahu alasan ibu seperti apa? Lebih baik Ibu jujur karena itu menyangkut kredibilitas dan integritas Ibu sebagai pemimpin yayasan ini” Pak Azmi meninggikan nada suaranya
“Begini Pak, saya rasa ada hal yang perlu direvisi dari kontrak itu. Tim kami yang saya tugaskan untuk menghandle pekerjaan tersebut, berkata demikian” Aku bersikap seolah-olah aku tahu apa yang aku bicarakan.
“Tapi kan, seluruh isi kontrak itu sudah pernah tim Adidarma diskusikan dengan perwakilan dari yayasan Ibu!” Siska, legal dari Adidarma itu sedikit menekan aku.
“Okay, apa sekarang bapak dan ibu pegang kontrak yang kemarin? Mari kita buka sama-sama” Aku berusaha menata suaraku dan emosiku. Rasanya degup jantungku sudah berada di ujung tenggorokan. Aku melirik Aria yang menahan rasa gugupnya dengan menggerakkan kakinya dari bawah meja. Aku memberikan anggukan untuk meyakinkan dia bahwa aku tahu apa yang aku lakukan.
“Saya bawa bu. Baik kita buka sama-sama” Pak Azmi mengeluarkan dua copy kontrak yang sudah ditandatangani di atas meja.
“Supaya lebih enak, saya akan minta Aria untuk scan kontrak yang Adidarma pegang, untuk kita buka di screen projector bersama” Aku memberikan dokumen itu kepada Aria yang langsung sigap berdiri dan mengarah ke tempat scan dokumen yang berada di ruanganku.
Sambil menunggu Aria, Pak Azmi memberitahu maksud kedatangan mereka.
“Begini Bu Amy, Saya mau langsung ke pokok permasalahan” Pak Azmi memberikan tanda anggukan ke seluruh anggotanya, disusul dengan Siska dan Rico yang membalas dengan anggukan, tanda menyetujui apa yang akan dibicarakan.
“Baik Pak. Dengan senang hati saya menerima masukkan dan kritik” Aku bersikap lebih fleksibel dan terbuka.
“Izinkan saya melanjutkan perkataan Pak Azmi” Siska membuka beberapa folder yang ada di tangannya, memberikan aku selembar kertas berisi hasil print dari sebuah berita online.
“Tolong dikonfirmasi apakah Bu Amy sengaja membatalkan kontrak kita karena Bu Amy ingin mendapatkan nilai kontrak lebih tinggi dengan kompetitor kami?” Siska merujuk dari portal berita online yang diserahkannya padaku
KORAN SARI PAGI
Adidarma ‘Gimmick’ akan sumbang Yayasan Bungareja, padahal yang sebenarnya akan menyumbang adalah PT. Binukalin, Tbk
Aku membaca headline itu dan langsung tidak habis pikir. Kabar seperti ini sungguh bukan hal yang baik bagi perusahaan Adidarma. Terlebih, perusahaan Adidarma adalah perusahaan terbuka, yang menjual sahamnya kepada publik.
“Saya baru baca berita ini Bu Siska, saya akan konfirmasi ya Bu. Jadi kalau dari pihak yayasan sendiri, kami tidak pernah menutup kemungkinan untuk bekerja sama dengan perusahaan manapun di masa depan” Aku membalas dengan tenang
“Jadi maksud Ibu, itu benar?” Pak Azmi seperti mulai naik pitam.
“Saya akan melanjutkan penjelasan saya, karena sifat yayasan adalah murni untuk sosial dan tidak mengejar keuntungan apapun, maka dari itu kode etik kami adalah untuk menjaga aktifitas yayasan tetap berada pada koridor yang seharusnya.” Aku menjelaskan panjang lebar kepada mereka
Pengacara Adidarma, Rico geram dan langsung memotong omonganku
“Bu, kita sudah sama-sama tahu fungsi dan tujuan yayasan itu apa. Tolong jangan malah memberikan kami kuliah!” Rico bernada tinggi
“Yang saya maksud adalah, yayasan kami, Yayasan Bungareja, tidak dalam fase memihak PT. Adidarma maupun PT. Binukalin. Karena kami sifatnya hanya penyalur dana sosial. Perlu digaris bawahi adalah, Yayasan kami belum ada arah pembicaraan dengan PT.Binukalin. “ Aku dalam kepercayaan diriku mengarahkan pembicaraan ini
Seluruh pihak Adidarma diam, sementara Aria sudah selesai scanning kontrak yang dibawa oleh perusahaan rekananku itu.
“Ini Bu, Pak. Saya kembalikan. Sekarang kita bisa lihat dokumen itu dilayar yang saya presentasikan ya” Aria mengambil alih diskusi kami.
Bersama-sama, kami menyusuri satu demi satu tulisan dan pasal yang tertera di kontrak kerja. Halaman-halaman awal, tidak ada yang aneh. Pak Azmi mulai membisikkan ke telinga rekan-rekannya, seperti menaruh curiga kepadaku.
Sampai akhirnya kami menuju ke halaman tengah dari kontrak kerja itu dan menemukan sesuatu yang janggal.
PASAL 18.
DANA BANTUAN AKAN DISALURKAN DENGAN MEKANISME
1. 50% SEBAGAI TANDA JADI KERJASAMA SENILAI 350 JUTA, DIBERIKAN PADA TANGGAL PERJANJIAN INI DITANDATANGANI
2. 50% SEBAGAI TANDA PELUNASAN 30 HARI SEBELUM PERJANJIAN INI BERAKHIR
ADAPUN PEMBAYARAN UANG TERSEBUT AKAN DILAKUKAN MELALUI METODE TRANSFER KLIRING KE BANK DENGAN DETAIL SEBAGAI BERIKUT :
BANK JAYA a/n Adityo Kusumo Pringgodani
No rekening : 345 635 3771
KCP : Cipinang
*DEGGG!* ternyata yang dilakukan Adit adalah mengganti isi kontrak itu dari rekening Yayasan Bungareja, ke rekening dia pribadi.
“Inilah pak letak kesalahannya, transfer uang tidak pernah melalui rekening pribadi, melainkan menuju Yayasan Bungareja” Aria menjelaskan isi kejanggalan dari kontrak itu.
“Ya tapi, kami kan terima dari perwakilan anda, dan Bu Amy selaku pemimpin yayasan juga sudah tanda tangan. Kenapa baru sadar sekarang?” Bu Siska menekan Aria.
Aku merasa gagal menjadi pemimpin, karena memang benar, kemarin aku tanda tangani kontrak itu dan aku tidak membaca lagi pasal-pasal yang tertera. Aku sungguh ceroboh.
Aku diam tanpa kata, bingung harus membalas dengan kata-kata apa yang tepat. Aku ingin mengakui kalau aku salah karena tidak membaca poin-poin yang aku tandatangani. Tapi, aku yakin itu menjadi bumerang untuk yayasanku kedepannya.
“Maka dari itu, saya langsung telpon Pak Azmi bu, untuk membatalkan kontrak itu secara sepihak. Kami sedang drafting kontrak baru yang lebih tepat dan akan segera memberikan ke pihak Adidarma” Aku berkelit.
“Tolong jangan alasan bu, ya. Kami mulai curiga jangan-jangan memang Ibu sudah mulai ada pembicaraan dengan PT. Binukalin? Kalau memang benar, tolong terbuka saja bu. Kita sama- sama profesional” Pengacara mereka seperti sedang mengintrogasiku.
Aku diam seribu bahasa.
“Kami akan menyampaikan pada pers kalau yayasan ini adalah yayasan yang tidak baik untuk diajak kerjasama” Bu Siska menekan aku, mengancam keberlangsungan yayasanku.
“Begini bu, saya juga tidak ingin diantara Adidarma dan Yayasan Bungareja mengalami hal seperti ini. Tidak enak bagi saya untuk menjatuhkan instansi lain yang bahkan bukan kompetitor kami.” Pak Azmi menenangkan tim nya, memberi kesempatan bagiku untuk berbicara.
“Iya Pak. Apa yang ada dalam pikiran saya hanyalah bagaimana kita bisa bekerja sama dengan baik” Aku berujar, Aria masih diam dan memasukkan tangannya di saku celana. Berusaha mengalihkan diri dari tegangnya situasi ini.
“Okay, apakah Ibu Amy ada cara lain? Berita kemarin telah membuat sentimen yang buruk bagi pasar saham. Pagi tadi, saham kami sudah turun 5% karena berita ini mempengaruhi image perusahaan kami.” Pak Azmi menjelaskan ke aku bagaimana berita tadi mempengaruhi pandangan konsumen terhadap perusahaan dan sahamnya.
Apa cara lainnya? Berita kan sudah tersebar ke penjuru nasional? Gimana ini? Mas Rasyid, aku butuh saran!