*Drrt Drrt* bunyi getaran handphone Amy, yang terletak di atas meja
From : Bi Iyah - Rumah
“Non Amel maksa mau ke Studio ARTV habis nonton gosip tentang dia bu. Saya sama Pak Prabu nggak bisa nahan karen Non Amel nekad mau naik Taksi. Maafin saya ya Bu”
Amy yang saat itu sedang sibuk dengan urusannya sendiri, mengabaikan pesan yang masuk ke dalam handphonenya. Tidak sedikit pun ia tengok asal bunyi getaran itu. Ia sedang tenggelam dengan urusannya di dalam yayasan, yang menyangkut hajat hidup orang banyak.
“Jadi gini Aria, kita mau kedatangan tamu dari PT. Adidarma” Amy menjelaskan kepada anak buahnya
“Okay bu, lalu apa yang perlu kita siapkan?” ujar Aria masih polos, ia pikir, mereka akan menandatangani sebuah kontrak penting sehingga membutuhkan pengacara dari luar.
“Siap mental, yang paling penting. Kamu bisa kan?” Amy tertunduk lemas. Ia mulai menceritakan kronologi apa yang terjadi kepada anak buahnya dan akhirnya disusul dengan anggukan mengerti dari Aria.
“Gini bu, saya mungkin nggak tahu apa yang dilakukan sama Adit, tapi saya bisa kasih saran ke Ibu dari kacamata saya sesuai kapasitas saya sebagai legal di yayasan ini.” Aria membalas.Amy dengan yakin, seperti berani menghadapi apapun
“Okay, kamu dampingi saya selama nanti kita meeting dengan perwakilan Adidarma, ya” Amy membalas, kali ini lebih tenang karena ia berpikir bahwa keberadaan Aria akan membantunya
“Boleh saya tahu siapa saja dari pihak Adidarma yang akan datang menemui kita, bu?” Aria bertanya dengan percaya diri.
“Pak Azmi, petinggi di Adidarma, legal dan pengacara Adidarma” Amy membalas dengan suara yang lemah.
Aria dari percaya diri langsung pucat pasi. Amy bisa merasakan apa yang dikhawatirkan anak buahnya. Aria baru saja ikut di project dengan Adidarma, sudah harus mengurus hal yang sifatnya penting bagi yayasan.
“Baiklah Bu” Aria sedikit terbata-bata
“Tenang saja, Aria. Saya akan selalu back-up kamu” Amy menenangkan Aria. Waktu sudah menunjukkan jam 1:45 dan sepertinya tidak ada tanda-tanda bahwa perwakilan Adidarma akan membatalkan kunjungannya hari ini.
Elsa, resepsionis yayasan itu datang mengetuk pintu ruangan. Ia memberi tanda menggunakan tangannya bahwa sudah ada tamu yang datang.
“Bu, ada satu mobil CRV datang, sepertinya itu tamu dari Adidarma, Bu” ujarnya kepada Amy. Wajah Amy langsung terlihat pucat pasi, dengan sedikit keringat menetes dari wajahnya. Melihat itu, Aria malah menjadi semakin khawatir,
*Apa ini? Apa aku tiba-tiba jadi mewakili sebuah pelanggaran hukum?* ujar Aria dalam hati, ia mengepalkan tangannya dan menyembunyikannya di sela-sela saku celananya
Amy langsung menarik napas panjang dan memberikan senyuman tipis kepada Aria
“Aria, kamu tenang saja yah.” Amy berdiri, seperti melangkah keluar ruangan untuk menyambut kedatangan perwakilan Adidarma.
Benar saja, dua pria dan satu perempuan turun dari Mobil CRV berwarna silver metalik tersebut. Amy menyambut dari depan tepat di depan meja resepsionis, dengan senyum hangat dan jabatan tangan yang meyakinkan.
“Pak Azmi, silahkan masuk. Selamat datang di yayasan kami” sambut Amy.
Aria yang masih berada di dalam ruangan dalam keadaan terduduk langsung menoleh dan membenahi kursinya. Amy mengarahkan tamu-tamu penting itu ke dalam ruangannya sementara Aria merapikan kembali tempat duduk yang dia pakai.
“Selamat Siang Pak. Saya Aria dari tim legal di yayasan ini” Aria memberikan senyum hangat dan jabatan tangan yang penuh keyakinan, padahal dari sorot matanya terlihat jelas bahwa ia sebenarnya lebih gugup daripada Amy.
“Silahkan duduk Pak Azmi” Amy menunjuk dengan punggung tangannya menghadap ke arah kursi yang berada di dalam ruangannya.
“Baik bu” Pak Azmi dan rekan-rekannya duduk bersama-sama dalam sebuah kursi yang mengelilingi meja bundar yang kecil.
Datang office boy dari yayasan itu memberikan minuman dingin kepada tamu di yayasan itu. Sedikit cemilan juga dibawakan untuk mereka--tamu yang penting untuk yayasan ini. Amy sudah memerintahkan untuk memberikan makanan yang enak, dengan harapan membuat suasana itu menjadi tidak lebih tegang daripada yang seharusnya.
“Perkenalkan rekan-rekan saya yang datang bersama saya Bu Amy, ini Bu Siska, dari tim legal kami” Pak Azmi membuka pembicaraan
“Halo Ibu Amy, saya Siska, Head of Legal di Adidarma” Siska menjabat tangan Amy, disusul oleh rekan pria yang berada disampingnya
“Siang Bu Amy, Saya Rico, lawyer perwakilan Adidarma” Rico menjabat tangan Amy dengan serius, tatapannya tajam dan dalam, seperti ingin menerkam
Amy yang tidak nyaman langsung menarik tangannya perlahan.
“Siang semua. Terima kasih atas kedatangannya di yayasan kami” Amy menata gaya bahasanya, lebih santun dan lebih lembut. Walaupun pengacara dari PT. Adidarma tidak henti-hentinya menatap dengan lekat, bagai ingin menginterogasinya
“Bu, kita langsung ke inti pembicaraan saja ya” Pak Azmi memotong basa-basi pembukaan Amy
“B..B..Baik Pak” Amy mulai terbata-bata.
Suasana ruangan itu sangat menegangkan. Aria mengalihkan pandangannya menuju cangkir berisi vanilla latte dihadapannya.
*Apakah aku bisa melalui ini dengan sempurna?* ujar Aria dalam hati.
[Camelia’s POV]
“Taksiii...Taksiii!” Aku berusaha menghentikan taksi yang lewat di depan rumahku. Aku menggerutu dalam hati, ingin buru-buru sampai kesana.
*Kalau aku sampai disana telat, aku bisa-bisa tidak ketemu sama produser dan pembawa acaranya. Awas aja!* Aku mengutuk dalam hati.
Berhentilah sebuah taksi berwarna kuning dihadapanku, menurunkan jendela dan supir taksi itu bertanya kepadaku.
“Mau kemana, neng?” dari dalam mobil, supir itu menanyakan arah tujuanku
“Mau ke Studio ARTV di Kebon Jeruk, Pak!” Aku mengucapkan tujuanku dengan buru-buru
“Neng buru-buru ya? Macet neng” supir itu belum mempersilahkan aku masuk kedalam
“Ah udah nggak apa-apa. Buka dong pak!” Aku memaksa masuk ke dalam taksi. Pak supir langsung sedikit menggerutu atas sikapku yang terburu-buru. Aku langsung menggunakan headset memainkan iPod ku dan mulai acuh terhadap supir taksi yang setengah hati mengantarkanku.
Beberapa menit berlalu, aku tetap diam dan mendengar musik dari iPod ku. Aku melihat jalanan yang memang tidak ada kata lancarnya, betul-betul aku ‘stuck’ di tengah-tengah kerumunan mobil yang lain.
*Gila, kalau kayak gini sih aku sampai sana sudah sore. Boro-boro ketemu produser, yang ada aku malah jadi bahan gosip lagi!* Emosiku mulai reda, aku seperti mulai agak waras dibandingkan tadi.
“Pak, kita puter balik aja Pak, beli McDonalds dan ke arah rumah saya lagi ya” Aku menyuruh supir taksi untuk kembali ke rumahku
“Neng, udah setengah jalan tapi neng” Agaknya dia heran dengan perubahan mood ku.
“Nggak apa-apa, saya mau beli es krim dan pulang saja. Kalau dipaksa kayak gini, yang ada kita keburu kehausan di tengah jalan, pak” Aku meyakinkannya atas keputusanku yang cepat berubah
“Oke Neng, bentar saya cari jalan puter balik.” Supir taksi itu sedikit lega karena tidak harus menunggu lama ditengah-tengah kemacetan.
*Aku benar-benar seperti anak-anak. Kalau sikapku seperti ini terus, lama-lama Bunda dan Ayah juga malas dan tidak bersimpati kepadaku* pikiranku melayang sembari melihat pepohonan yang ada di sekelilingku. Gedung-gedung pencakar langit terlihat tinggi menjulang, dan aku hanya termenung, terheran dengan sikapku sendiri.
Kami sudah mengarah pulang, dan aku sudah menggenggam Green Tea Ice Cream yang ku beli di Drive Thru McD tadi. Aku berusaha melupakan gosip-gosip yang beredar tentangku dan menggunakan kacamata hitam Ferragamo.
*Mereka boleh ngomongin aku, tapi mereka nggak bisa lihat mataku* ujarku dalam hati. Membiarkan kacamata itu menghiasi wajahku yang sibuk memilih menu di Drive Thru tadi, sebelum akhirnya memilih es krim dan kentang goreng.
"Semoga Bunda nggak tahu deh kalau aku kayak begini..nekat" Aku memarahi diriku sendiri