Terlihat dua orang perempuan paruh baya sedang berjalan cepat menuju sebuah kantor. Tampaknya, ada hal yang membuat mereka berdua terburu-buru dan bergegas sampai ke tempat itu.
“Mit, makasih sudah temani saya makan, saya ke ruangan dulu ya” ujar Amy yang sedikit terengah-engah.
“Iya bu, kabari saya kalau butuh apa-apa ya bu” Mitha membalas dan berjalan ke meja kerjanya sendiri.
Sementara satpam gedung itu masih duduk beristirahat dari pos jaganya, terheran-heran dengan kelakuan kedua perempuan tersebut. Lalu akhirnya melanjutkan menonton TV di dalam pos nya.
[Bunda’s POV]
Aku sangat khawatir akan apa yang nanti terjadi. Bisa copot jantungku kalau yayasan ini melawan perusahaan terbuka yang besar seperti Adidarma. Aku belum pernah merasakan melawan perusahaan lain, aku selalu mengajak kerjasama yang menguntungkan kedua belah pihak.
“Duh, bagaimana ini” Aku berteriak di dalam ruanganku. Untung saja ruanganku ini memang sengaja ku buat sedikit kedap suara, menghindari perjanjian besar terdengar ke karyawanku.
Aku langsung berlari ke lantai 2, kembali ke meja Adit untuk memeriksa ulang apa yang tersisa. Ternyata, Adit adalah anak buah Manager Keuangan ku, Bimo, yang baru saja resign minggu lalu.
*Jadi Adit ini anak finance, pasti ada hubungannya dengan arus keuangan!* pikirku. Aku langsung membuka laci-laci meja kerja Adit, yang disusul oleh tatapan aneh dari karyawanku yang lain.
“Bu, Ada apa? Adit nggak masuk hari ini katanya sakit.” Aria, divisi Legal ku langsung menghampiriku.
“Aria, ikut saya ke ruangan, kita meeting mendadak” Nadaku tinggi, sedikit bergetar, suara khawatir ku terdengar jelas dari getaran itu.
“Saya harus bawa apa bu?” Aria kebingungan
“Bawa materai, dan cari kontak pengacara yang jago Hukum Kontrak” Aku memberikan instruksi. Aria langsung membawa dokumen yang ada di atas meja kerjanya, beserta buku kartu nama miliknya.
“Baik bu, saya sudah siap, mari kita mulai ke ruangan ibu” Aria sudah berdiri disampingku, membawa Undang-undang, khas pekerjaan dia sebagai legal.
Kami berdua bergegas menuju ruanganku, waktu sudah menunjukkan jam setengah dua. Oh Tuhan, berikan aku petunjuk!
[Camelia’s POV]
Rendaman air hangat membuat aku lebih santai, walau sedikit banyak mengingatkan aku dengan Bunda. Sangat kusesali waktu bersama Bunda yang biasanya tidak aku miliki, aku sia-siakan dengan hal-hal yang tidak enak di hati. Aku menonton film komedi yang kuputar dari Smart TV ku pun belum dapat membuat aku lupa dengan kejadian tadi.
Bi Iyah mengetuk pintu kamar mandiku dari luar.
“Non, kenapa mandinya lama sekali? Yuk makan siang, bibi masak spesial” Bi Iyah berbicara dari luar pintu kamar mandi.
“Eh iya ini sambil nonton soalnya Bi. Tunggu ya.” Aku keluar dari bathtub dan mengambil handukku yang tergantung. Mengoleskan krim wajah SK-II dan Sulwhasoo, lalu menyemprotkan sedikit body mist Victoria’s Secret ke tubuhku.
*Hmm, bau bunga lily, enak sekali* ujarku dalam hati, melihat wajahku di cermin dan keluar dari kamar mandiku.
“Non, udah siap makanannya di bawah ya. Bi Iyah kebawah dulu, Jangan lama-lama, Non. Keburu dingin” sahut Bi Iyah dari luar kamar mandi
“Iya Bi, menuju kesana. Amel pakai baju dulu ya.” Aku menyahut kembali.
Aku keluar dari kamar mandi dan masuk ke dalam walk-in closet ku. Koleksi bajuku memang sangatlah banyak, terlebih profesiku sebagai model mengharuskan aku untuk selalu tampil cantik. Ayah dan Bunda juga selalu memanjakan aku dengan barang-barang mewah, karena aku adalah anak tunggal.
Aku ambil piyama ku dari Young Hearts, aku tidak ingin keluar rumah hari ini. Makanya, aku kembali menggunakan baju tidur.
*Nah, gini aja deh. Males kemana-mana hari ini* ujarku dalam hati sambil berkaca di cermin berukuran 4 x 4 meter, menjulang ke atas dan ke samping. Walk-in closet ini adalah impianku sebagai perempuan sejak, untuk berlenggak lenggok layaknya seorang model, dan aku belajar dari cermin-cermin ini.
“Non, Ayo non makan, udah mau dingin non masakannya” Bi Iyah menyahut dari lantai bawah.
“Iya bi, sabar dulu, masih pakai baju nih. Emang masak apa sih? Kok cepet banget” Aku membalas dengan sedikit menggerutu, sungguh aku paling tidak suka diburu-buru.
“Bibi buat Mie Ayam, nanti kuah baksonya dingin loh Non” Bi Iyah berteriak lagi
“Iya, aku lagi jalan kebawah.” Aku biarkan handukku berada di walk-in closet, nanti juga Bi Iyah akan membersihkan. Aku langsung buru-buru kebawah, kapan lagi aku bisa makan Mie Ayam buatan Bi Iyah. Terakhir Bi Iyah buatkan aku, sepertinya waktu aku kecil dulu
“Bi, tumben amat bikin Mie Ayam? Terakhir kayaknya waktu Amel masih bayi” Aku meledek bercanda.
“Ah masa sih non? Bibi sudah lama sih nggak buat Non, habis Non Amel sukanya makan di luar” Bi Iyah cekikikan, sambil membungkus-bungkus sampah bekas memasak mie.
Di Meja makan, aku mengambil Mie Ayam yang sudah tersaji di depan mataku. Bosan makan sendiri di atas meja makan sebesar ini, aku langsung mengambilnya dan membawa makanan itu untuk dimakan di living room.
“Bi, Amel makan sambil nonton TV ya” Aku memberitahu Bi Iyah agar bisa membawakan minum untukku nanti.
“Oke siap non” Bi Iyah masih mengelap kompor dan mencuci piring di dapur. Tidak terlalu memperhatikan gerak-gerik aku yang sudah menjauhinya.
Aku membawa Mie Ayamku ke living room yang sungguh megah. Lampu kristal menghiasi atas ruangan itu, disusul dengan TV berukuran 35 inch yang tertempel di tengah ruangan. Terdapat sebuah meja besar yang terbuat dari kombinasi kaca dan lapisan silver di tengah-tengah ruangan. Meja itu juga dilengkapi dengan bunga segar kesukaan Bunda, Anggrek Bulan, yang selalu diganti setiap dua minggu oleh toko bunga langganan kami. Aku menaruh makanan ku di atas meja dan duduk di sofa yang terbuat dari kulit asli, dan menggenggam bantal.
*Aah, enak juga ya rasanya bermalas-malasan dirumah* Kataku dalam hati. Menikmati suapan demi suapan dari Mie Ayam ku yang sudah mulai mendingin
Sambil kunyalakan TV besar itu dengan meraih remote di dekat tanganku
*Pip* suara TV yang menyala, dan tanpa kusadari langsung terarah ke stasiun TV yang kental dengan gosip-gosip hangat.
“Selamat datang di HOT GOSIP SELEBRITI hanya di ARTV”
“Saya Siska, akan menemani anda selama 30 menit kedepan”
*Duh males banget sih nonton TV isinya gosip melulu kayak begini* Aku merutuk dalam hatiku. Tiba-tiba Bi Iyah datang membawakan segelas air dan meledek aku yang cemberut menonton kanal gosip.
“Non, ngapain nonton kayak ginian? Mirip Ibu-ibu aja Non Amel” Bi Iyah tertawa
“Ya bunda kan nggak suka nonton gosip bi. Nggak semua ibu-ibu kali” Aku membalas tertawa. Sepertinya berita tentangku sudah mulai reda, mereka sedang membahas tentang skandal artis lain yang lebih panas daripada aku.
“Sudah, nonton sama Bi Iyah aja. Kerjaan Bi Iyah sudah selesai, sini Bibi temenin nonton.” Bi Iyah duduk di sebelahku. Keluargaku memang sudah sangat dekat sekali dengan Bi Iyah, karena Bi Iyah sudah bekerja dengan Bunda dari aku masih bayi.
“Nggak ah, Bi Iyah sukanya sinetron Naga, Amel nggak suka ngeliat Naga-naga gitu, berantem lah, darah lah. Boongan!” gantian aku yang meledek Bi Iyah.
“Non, tapi buat apa nonton gosip kayak gini? Dosa tau!” Bi Iyah mulai ceramah.
“Biarin, aku mau denger berita tentang aku tau, barangkali aku udah semakin eksis” Aku menjulurkan lidahku sambil melanjutkan makan Mie Ayam.
“Berita terpanas hari ini” Pembawa acara itu membaca kartu yang ada di tangannya
“CAMELIA ANGKARA NGAMUK DI PINGGIR JALAN JAKARTA KE PEJALAN KAKI! KENAPA SIH MBAK? HABIS PATAH HATI YA?” Nyinyir pembawa acara itu.
Aku langsung panas, emosiku sampai di ubun-ubun dan aku melempar remote yang ada di hadapanku. Seketika, rasa Mie Ayam itu sudah tidak lagi seenak yang aku coba tadi. Bi Iyah menepuk pundakku, berusaha membuat aku tenang. Tapi aku semakin marah dengan pembawa acara itu yang menjadikan peristiwa kemarin sebagai berita terpanas.
“Ah! Nggak ada berita lain apa! Malesin banget sih, orang cari uang kok jatuhin orang lain sih!” Aku marah-marah di depan layar TV
“Non, ayo sabar non. Kan mereka juga nggak bisa denger kalau non marah-marah?” Bi Iyah berusaha membuat Amel berhenti dari emosinya yang berapi-api.
“Oh! Iya, betul juga Bi Iyah! Amel akan ganti baju dan datang ke Studio TV itu, sekarang! Bodo amat, pokoknya aku harus labrak produser acara gosip itu!” wajahku memerah, aku bergegas menuju walk-in closet ku dan mengganti baju tidurku dengan baju yang lebih rapi.
Dari lantai satu Bi Iyah berteriak
“Non Amel, sudah diemin aja non. Orang kalau mau jahat, mah jahat aja non.”
Aku tidak menggubris perkataan Bi Iyah, Aku tetap bulat dalam pendirianku untuk menghampiri tim produksi acara gosip itu. Ini namanya pencemaran nama baik!
“Non, Non. Jawab bibi Non. Non, ayo makannya dilanjutin dan nonton yang lain sama Bibi” Bi Iyah membujuk.
“Nggak! Amel mau kesana. Titik” Aku tetap teguh dan keras kepala
“Pak Prabu lagi servis mobil Non” Bi Iyah berkilah, berusaha membuat Camelia tetap berada di rumah, sambil tangannya memberi tanda ke Pak Prabu untuk segera pergi dari rumah, membawa mobil ke bengkel sebagai alibi.
“Yaudah naik taksi! Nggak usah repot!” Amel berteriak dan turun dengan tas Chanel nya, dihiasi dengan wajah merahnya karena emosinya yang memuncak
“Non! di rumah aja Non..Non Amel” Bi Iyah tetap membujuk.
Aku tidak peduli. Aku akan tetap berangkat kesana dan mempertahankan nama baik aku sebagai seorang model. Ini tidak adil!