[Bunda’s POV]
Aku mengendarai mobilku menuju kantor yayasan, kali ini aku sedikit tegang dan gugup. Kemarin, karyawan yang aku temui menelponku sambil menangis, memohon atas hal-hal yang tidak aku ketahui. Sampai sekarang, aku masih tidak sadar apa yang dilakukan olehnya sampai ia betul-betul merasa bersalah seperti itu.
Satpam kantorku sudah melakukan protokol seperti biasa, memarkirkan mobilku sambil tersenyum. Tidak ada yang aneh dari apa yang aku pantau di depan kantor yayasan, semua terlihat normal.
“Selamat pagi Bu” sapa satpam kantor yayasan sembari membukakan pintu untukku. Aku turun dari mobil dengan menggunakan sunglasses Gucci milikku dan menenteng tas ku yang ku letakkan di kursi penumpang.
“Pagi Bapak, ada siapa saja hari ini di kantor?” sapa ku kembali kepadanya
“Semua karyawan ada Ibu, tamu belum ada. Tapi tadi dapat konfirmasi dari sekretaris yayasan kalau mungkin ada perwakilan dari perusahaan Adidarma” ujarnya lugu.
*Hmm.. kira-kira apa yang akan dikatakan oleh perusahaan Adidarma?* pikirku, Kemarin aku secara sepihak membatalkan kontrak begitu saja saat ku tahu ada yang tidak beres dengan karyawanku.
“Baik, kira-kira datang jam berapa mereka Pak?” Aku bertanya kembali, memastikan kedatangan partner yayasanku
“Mungkin saya harus konfirmasi ke Bu Elsa, Bu" Pak Satpam mengarahkan aku untuk berbicara dengan resepsionis yayasanku, Elsa.
"Baik Pak, saya akan tanyakan langsung saja ke Elsa. Titip mobil ya pak" Aku melangkah masuk ke dalam kantor.
Aku sudah melihat resepsionis ku, Elsa, duduk di kursi depan reception. Dia menyambutku dengan hangat sambil memberitahukan tamu yang akan datang.
"Bu, nanti Pak Azmi dari PT Adidarma akan datang jam 2 siang. Barusan sekretaris perusahaan mereka menelpon" Elsa berdiri dari tempat duduknya sambil memberi agenda tamu hari ini.
"Iya Elsa. Baik, saya ada di ruangan ya, langsung diarahkan menuju ruangan saya ya. " Aku memberikan instruksi kepada Elsa seraya masuk menuju ruanganku.
*Hmm, tidak ada yang aneh* Aku duduk di kursiku dan tidak menemukan hal-hal yang janggal. Aku berusaha mencari dokumen yang kemarin aku tanda tangani tapi tetap tidak dapat menemukannya.
*Sebenarnya apa yang aneh dari dokumen kemarin? Kenapa karyawanku menelpon ku ketakutan sampai seperti itu?* Aku bertanya- tanya sambil membuka lemari kerjaku. Aku juga mencari-cari di atas meja kerjaku, tetap tidak ada jejak dokumen kemarin.
Tiba-tiba office boy ku masuk dan menawarkan minuman.
"Bu, saya buatkan teh untuk Ibu" Lelaki paruh baya itu mengantarkan segelas teh hangat. Aku pun mulai bertanya tentang karyawanku yang kemarin kepadanya
"Pak, apa bapak tahu karyawan kemarin yang berbicara dengan saya dan membawa dokumen?" Aku menyampaikan pertanyaanku
"Oh, yang kemarin sama Ibu? Itu mas Adit bu. Saya juga heran kenapa mas Adit hari ini nggak masuk. Kemarin juga setelah Ibu dan mas Adit bicara dalam ruangan, saya lihat mas Adit langsung uring-uringan" ujar office boy ku
"Ooh, hari ini nggak masuk pak? Bapak tahu nomor handphone Mas Adit berapa? Meja kerjanya dimana ya pak?" Aku berdiri dari tempat dudukku.
"Mas Adit di lantai 2 bu, mari saya antar ke meja kerjanya. Kalau nomor handphone nya saya tidak ada bu. Hari ini belum datang dan tidak ada kabar Bu" Sambil membuka pintu ruanganku, aku dipandu menuju lantai 2 dari gedung kantor yayasan. Aku memang sangat jarang memperhatikan karyawan di lantai 2. Aku bahkan tidak tahu nama karyawan yang berurusan denganku kemarin.
Ini benar-benar salahku, seorang pemimpin tidak tahu nama karyawan nya sendiri. Jangan heran kalau nanti terjadi kebakaran di kantor ini dan aku bahkan tidak bisa mengenali siapa karyawan yang bekerja untukku. Aku terlalu banyak meeting di luar kantor, aku terlalu berharap dengan donatur-donatur dari luar dan bahkan mengabaikan hal administratif yang terjadi di kantorku.
*Gimana sih kamu, Amy* aku mengutuk diriku sendiri, melangkahkan kaki menuju lantai dua, memeriksa apakah masih ada dokumen yang ditandatangani kemarin.
"Nah, ini bu tempatnya mas Adit" Tangan office boy ku mempersilahkan aku menduduki dan memeriksa meja kerja karyawanku.
"Oh iya, baik pak. Saya boleh ditinggal disini, terima kasih ya Pak" Aku memeriksa seluruh dokumen- dokumen yang terletak diatas meja kerja karyawanku. Satu demi satu aku pelajari dan baca lebih dalam. Semua yang ada di mejanya hanyalah dokumen- dokumen yang sudah lama.
*Hmm, dimana ya dokumen kemarin* Aku mulai mencari lebih dalam tumpukkan kertas yang ada disana. Aku tidak menemukan apapun.
Tiba-tiba handphoneku berbunyi
*Something about you.. Makes me feel good*
Aku langsung membuka handphone yang berada dari dalam blazer putih houndstooth Chanel ku.
*Pak Azmi PT. Adidarma Tbk*
*Hmm Pak Azmi telepon, harus bilang apa aku tentang kemarin?* aku sedikit berpikir panjang tentang apa yang harus aku jawab saat berbicara dengannya
"Halo Bu Amy, saya nanti siang datang ke kantor yayasan ya Bu, dengan pengacara saya dan team legal saya" Pak Azmi menelpon ku dengan nada serius
*Ada apa ini??* aku panik tidak karuan, bagaimana aku harus menghadapi kedatangan team legal dan pengacara dalam waktu yang bersamaan sekaligus?
"Baik Pak, mohon maaf kenapa ada team legal dan pengacaranya ya pak?" Suara ku bergetar, jantungku berdebar. Apalagi yang aku harus hadapi tanpa Mas Rasyid?
"Kita bicarakan nanti bersama-sama ya Bu, secara jalan damai dan sesuai prosedur yang berlaku" Pak Azmi dengan suara yang tegas sedikit menekanku. Beliau langsung menutup telepon tanpa mengucapkan salam.
Ada apa ini? Apa yang harus aku lakukan?
*Adit! Karyawanku! Apa yang kamu lakukan? Datang dan bertanggung jawab!* aku berteriak dalam hati.
[Camelia's POV]
Aku melanjutkan agendaku untuk berenang pagi ini. Setelah minum jus kale dan pancake buatan Bunda, aku mengganti baju renang dan mulai memakai kacamata renang. Berjalan keluar dari dapur dan menuju kolam renang.
*BYURRR* tanpa pemanasan aku langsung melemparkan badanku menuju kolam renang sedalam 2 meter. Rasa dingin air kolam renang itu langsung terasa di badanku secara mendadak.
Pikiranku sudah lebih jernih, dan melupakan kejadian-kejadian yang tidak ingin aku ingat.
Dengan smartwatch Fitbit ku, aku menghitung waktu dan detak jantungku selama berenang.
Detik demi detik berlalu, aku menikmati saat aku menghabiskan waktu sendiri seperti sekarang.
Aku mengintip layar smart watch ku dan melihat performa ku selama berenang. Detak jantungku tidak secepat tadi saat aku masih dalam keadaan tegang mengingat kejadian lama. Aku juga tidak terasa sudah menghabiskan waktu 30 menit berada di dalam air. Matahari juga sudah semakin terik dan rasa panas mulai terasa.
*Ah, cukup. Sudah terlalu siang* kataku dalam hati sampai akhirnya aku naik tangga untuk keluar dari kolam renang. Ku ambil bathrobe ku yang ada di kursi pantai di pinggir kolam renang dan mulai membungkus tubuhku yang basah.
Aku kembali ke kamarku dan membilas diriku di kamar mandi, sambil aku nyalakan Smart TV yang ada di dalam kamar mandiku. Bathtub ku juga sudah terisi air hangat yang disiapkan oleh Bi Iyah saat aku masih berenang.
*Kira-kira, bunda lagi apa ya? Apa Bunda tersinggung sekali dengan sikapku yang semena- mena?* rasa bersalahku kepada Bunda muncul lagi saat aku mulai relaksasi di dalam bak mandi berisi air hangat.
*Ah, sudah amel. Kamu harus minta maaf dan jangan gengsi nanti waktu Bunda sudah pulang!* aku memarahi diriku sendiri dalam hati.
Bunda, cepat pulang ya…
[Bunda's POV]
Waktu sudah menunjukkan waktu 12 siang, karyawanku masih juga belum datang. Aku tidak bisa membendung rasa takutku.
*Kenapa aku takut atas kesalahan yang bahkan bukan aku sang pelakunya?* aku mencoba menenangkan pikiranku. Namanya juga seorang pemimpin, harus siap menghadapi sepak terjang organisasi. Aku harus bisa melaluinya dengan baik.
Sambil berharap kedatangan karyawanku, aku mengambil air wudhu, memulai aktifitas shalat dzuhur. Salah satu dzat yang paling aku harapkan saat aku tidak menemukan jawaban dimanapun.
"Ya Allah, aku berlindung atas hal yang tidak aku ketahui, lindungilah aku" Aku memanjatkan doa di sela-sela beribadah.
Sesaat setelah aku menyelesaikan shalatku aku menerima sebuah pesan singkat di handphone ku
*Bi Iyah - Rumah*
"Nyonya, Non Amel baik-baik saja di rumah. Sepertinya nggak ada keinginan untuk keluar karena capek berenang."
*Alhamdulillah* ucapku dalam hati. Aku melipat mukena ku dan pergi keluar untuk makan siang. Rasanya aku tidak ingin makan sendiri hari ini.
Aku berjalan keluar dari Musholla untuk mengajak makan siang Manager Event di yayasanku, Mitha.
"Mith, makan siang yuk." Aku memang paling sering bercengkrama dengan Mitha, karena Mitha banyak mengurus event di yayasan kami.
"Yuk bu, kita makan gado-gado nggak apa-apa ya?" Mitha mengangguk.
"Yuk, pakai mobil apa jalan kaki aja?" Aku menjawab ajakannya
"Jalan kaki, nggak apa-apa bu?" Mitha sedikit ragu.
"Nggak apa-apa dong, nggak jauh kan?" Aku tersenyum, mengambil dompet yang berada di ruanganku
"Nggak kok bu. Saya tunggu di depan ya bu" Mitha mengambil tas kecilnya
"Okay Mit, bentar ya" Aku meninggalkan handphone dan tasku di ruangan, dan membawa dompet Louis Vuitton Monogram bersamaku.
"Yuk, saya udah siap" kami bertemu di depan yayasan, dan mulai berjalan menuju food court yang menjual gado- gado.
"Bu, ada masalah ya?" Mitha seperti bisa merasakan hatiku yang bimbang dan galau.
"Nanti kita ngobrol deh Mit, di foodcourt, ada yang ingin saya tanyakan. Mungkin kamu lebih familiar" ujarku ke Mitha
Mitha langsung pucat pasi, sepertinya dia takut ada yang menjadi masalah dengannya. Padahal bukan tentang dia, tapi tentang Adit.
Aku memasukki foodcourt dengan warna dominan hijau. Bau asap hasil bakaran sate sudah mulai tercium dan menggairahkan perutku. Aku bergegas mencari tempat duduk sementara Mitha memesankan dua porsi gado-gado untuk kami berdua.
"Bu, pedes atau nggak? Ada yang mau dikurangin nggak?" Mitha menawarkan aku, menanyakan selera makananku
"Sedang, jangan terlalu pedas. Pakai telor ya" Aku tersenyum, memberikan gestur tangan 'ok' kepadanya.
Sambil menunggu makanan kami berdua. Aku mulai mengajak Mitha berbicara tentang masalah yayasan yang sedang dan akan aku hadapi
"Jadi gini Mit, kamu kenal Adit yang di lantai dua nggak?" tanyaku padanya
"Oh saya kenal bu, baru lahiran seminggu yang lalu istrinya. " Mitha menjawab dengan lugu.
*DEGGG* Hatiku pilu. Mungkin ini yang menjadi motif apa yang dilakukan karyawanku kemarin. Sepertinya, dia berusaha membawa lari uang yayasan hasil dari kerjasama dengan perusahaan Adidarma. Tapi ini baru dugaanku saja.
"Oh iya? Terus kok nggak masuk sekarang? Kamu ada nomor kontaknya nggak Mit?" Aku bertanya pada Mitha
"Hmm, kurang tahu ya Bu. moonIni Bu, nomor handphone nya. Emang ada apa Bu? " Mitha memberikan aku nomor Adit.
"Nggak apa-apa Mit, saya belum kenal aja, kemarin minta tanda tangan saya iya-iyain tapi belum kenal" Aku tersenyum. Mitha langsung menghembuskan nafas panjang karena dia sudah tidak lagi merasa khawatir dengan apa yang aku bicarakan.
Kami berdua pun menyantap gado-gado yang baru saja datang di hadapan kami. Aku sesekali melempar candaan kepada dia, untuk menghilangkan kecanggungan antara atasan dan bawahan.
Tapi sebenarnya jauh di dalam hatiku. Aku tidak bisa berhenti membayangkan apa yang akan terjadi nanti denganku. Apa yang akan dilakukan Pak Azmi dan perusahaan Adidarma kepada yayasanku?
"Mit bentar ya, saya mau kirim sms ke Adit. Siapa tahu hari ini dia datang" Aku meraih handphoneku dan mulai mengetik pesan
To: Adit Yayasan
"Halo Adit, Ini Bu Amy. Apa hari ini bisa ke kantor?"
Waktu sudah menunjukkan waktu jam 1 siang, yang berarti waktu makan siang kami sudah lewat. Aku berjalan kembali ke gedung yayasan bersama Mitha, sambil berpikir sikap apa yang harus aku ambil. Bagaimana aku sendiri tahu jalan terbaik untuk yayasan ku kalau apa yang dilakukan Adit secara pasti adalah asumsiku saja?
*Drrrt drrrt* Suara handphoneku, bergetar atas pesan yang masuk
From : Adit Yayasan
"Assalamualaikum Bu Amy, maafkan saya bu. "
Jawaban yang tidak memuaskan untukku. Tinggal satu jam lagi sampai pihak Adidarma datang untuk membahas perjanjian yang kubatalkan secara sepihak kemarin. Sungguh, ini bukan pertanda baik bagi yayasanku.
Tiba-tiba handphone ku berbunyi
*Something about you.. *
Aku langsung bergegas mengangkat tanpa sempat melihat dari siapa telpon itu masuk.
"Siang bu, kami perwakilan Adidarmalsudah jalan menuju kantor Bu Amy. Keadaan jalanan sih tidak macet, jadi dapat dipastikan kami datang tepat waktu ya Bu" suara Pak Azmi terdengar dibalik telepon.
*DEGG* jantungku berdebar
"Baik Pak, silahkan. Sampai ketemu ya Pak" Aku berusaha terdengar rileks, padahal jalan pikiranku sudah buntu.
Gimana ini? Apa yang akan dilakukan Adidarma kepada yayasanku? Apa yang membuat yayasanku salah kali ini?
Aku berjalan cepat menuju kantor, meninggalkan Mitha yang masih berjalan santai di belakangku.
"Bu, tunggu Bu. Saya jangan ditinggal" Mitha memanggil.
"Mit, saya buru-buru, jalannya cepetan Ayo, Adidarma mau datang!"
"Eh Iya bu, Iya iya!" Mitha langsung berlari kecil menyusul aku yang lebih dulu.
Oh Tuhan, berikan aku kekuatan dan kemudahan.