Sinar mentari menyinari pagi, masuk kedalam sela-sela kamar melalui jendela, menembus batas antar ruang kala itu. Terlihat seorang gadis yang sedang nyaman terlelap dalam tidurnya, padahal sinar matahari sudah tepat di atas wajahnya.
“Pipipip Pipipipip* suara alarm berbunyi dengan keras
“iiihhh ganggu banget” Amel beranjak dari ranjangnya, menggerakan selimut dari atas tubuhnya dan mematikan alarm yang berbunyi sedari tadi.
“Hah? kok udah jam segini. Aku telat” Camelia langsung membelalak, terkejut melihat jam yang menunjukkan pukul 07:00 pagi.
“Duh, masa shalat subuh jam segini!” Camelia bergegas menuju kamar mandi, dan langsung mengambil wudhu.
Membentangkan sajadah dan mengambil mukena seraya mengenakannya. Tiba-tiba, pintu berbunyi dan seorang wanita paruh baya masuk.
“Non Ayo sarapan. Eh.. Astagfirullah non, baru bangun?” Bi Iyah masuk ke dalam kamar dan mengagetkan Camelia yang sedang terburu-buru
“Iya biii… ssstt nanti dulu ya” Camelia mengarahkan jari telunjuk ke bibirnya, memberi tanda pada Bi Iyah untuk berhenti berbicara.
Camelia memulai shalat subuh di waktu pagi. Aneh memang. Tapi menurutnya, lebih baik shalat telat daripada tidak shalat sama sekali. Setelah selesai beribadah, Camelia langsung disambut oleh Bi Iyah yang menunggu sejak tadi.
“Non, Ayo sarapan non, ditungguin sama Nyonya dari tadi di bawah. Ada santapan spesial loh khusus buat Non” Bi Iyah membujuk Camelia yang malah kembali ke kasur setelah shalat.
“Ah, males ah bi. Nggak usah sarapan hari ini, paling juga kayak biasa” Camelia menghindar, memejamkan matanya lagi dan melanjutkan tidurnya.
“Non, Ayo yuk. Nyonya katanya hari ini mau ke kantor loh. Temenin di bawah, makan sebentar, kan nanti nggak ketemu lagi.” Bi Iyah mencoba membujuk Camelia.
“Bi, Aku ngantuk, ya sudah salam aja ya buat Bunda, bilang ‘bye’ dari aku” Camelia menghadap jendela, membelakangi Bi Iyah yang berbicara.
“Non… kata Bunda, Non Amel yang turun atau Bunda yang ke atas?” Bi Iyah menceritakan perintah yang ia dapatkan dari Bunda.
“Aku ngantuk Bi. Terserah Bunda lah. Aku mau tidur pokoknya nggak pengen diganggu” Camelia tetap teguh dalam pendiriannya untuk tidak berbincang sedikit pun dengan Bunda, menghindari komunikasi dengan Ibu-nya atas kejadian semalam.
Tiba-tiba langkah kaki terdengar menuju kamar Camelia, wangi floral langsung menyeruak, seperti parfum Jo Malone. Khas Bunda sekali. Dengan blazer berwarna putih dan pleated skirt berwarna hitam, Bunda sudah rapi dan menenteng tas dior
“Amel, anakku. Ayo sarapan sama-sama” Bunda memanggil Amel dari depan pintu, tidak bergerak untuk mendekati anaknya yang membelakangi dia dan Bi Iyah.
“Puasa, Bun. Besok aja ya” Camelia berkilah.
“Hah? Non puasa non? Kok baru tadi shalat subuhnya” Bi Iyah menyahut lugu.
“ssst Bi! Shalat itu rahasia, urusan aku sama Allah” Camelia menarik selimutnya, kali ini menutupi wajahnya, seperti memberi gesture tidak ingin diganggu.
“Okay, Bunda berangkat dulu ya Mel. Bi Iyah, yuk turun dulu” Bunda mengajak Bi Iyah untuk keluar dari kamar Amel, yang ternyata tetap memilih melanjutkan tidurnya daripada makan bersama.
Di dalam selimutnya, ternyata Camelia tidak benar-benar tidur. Ia hanya berpura-pura, tidak mengeluarkan suara apapun sementara menangis di balik kain tebal itu. Ingin marah kepada Bunda-nya namun merasa sebenarnya dirinya lah yang bersalah atas kejadian semalam. Yang ia tahu, ia hanya merasa sedih atas apa yang terjadi, dan bingung kepada siapa ia harus bercerita.
*Apa sikapku tadi salah? Aku hanya ingin waktu sendiri.* ujar Camelia dalam hati. Hari semakin terik dengan matahari yang bergerak menuju ke barat, kali ini sinar itu sudah berada di atas kepala.
Camelia terlelap kembali dalam tidurnya, menangis selalu membuatnya mengantuk karena beratnya mata. Tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 09:00 pagi, dan keadaan kamarnya pun sudah terang benderang, sinar alami dari matahari.
Bi Iyah melangkahkan kaki masuk ke kamar gadis itu yang masih belum berpindah posisi sedari tadi
“Non, Masa mau tidur terus? Ayo keluar Non, tadi tukang bersihin kolam renang sudah dateng dan bersihin kolam. Enak lho kalo Non Amel mau berenang” Bi Iyah membangunkan Camelia dengan pelan-pelan, memberitahu bahwa fasilitas rumahnya itu siap dipakai.
“Enak dong kolam renang sudah bersih” Camelia merespon seadanya
“Oh ya enak dong, yuk bangun berenang, Bibi siapin handuk.” Bi Iyah menarik selimut Camelia
“Haduh, iya iya, ini udah siang ya.” Camelia beranjak dari kasurnya, mengambil baju renang dari lemarinya dan bersiap untuk berenang
“Bibi turun ya non, siapin handuk buat non. Non mau minum apa? Jus buah? Es jeruk?” Bi Iyah berkata seraya merapikan tempat tidur Camelia.
“Bikinin Kale Juice, kasih himalayan sea salt sedikit, plus maple syrup” Camelia memberikan instruksi, sambil membawa kacamata renang di tangannya.
“Iya Non, Bibi ngerti kok kesukaan Non” Bi Iyah melangkah keluar kamar Amel
Tiba-tiba Bi Iyah kembali dengan wajah yang bingung
“Non, bukannya Non Amel puasa?” Bi Iyah menunjukkan wajah penuh tanda tanya
“Nggak jadi Bi, Batal udah!” Camelia tertawa dan menepuk pundak Bi Iyah sambil melangkah turun menuju kolam renang.
[Bunda’s POV]
Anakku benar-benar tidak mau menghabiskan waktu denganku. Agaknya kejadian semalam cukup membekas di pikiran dia, begitu juga denganku. Aku berharap pagi ini kita bisa makan berdua dan aku bisa berbicara lebih leluasa dengan apa yang terjadi diantara kami. Tapi tampaknya, Camelia masih belum bisa berbesar hati.
Aku mencoba menebus kesalah dengan memasak makanan pagi kesukaannya, yang tidak mungkin aku buat selama ini karena kesibukanku yang bertubi-tubi. Aku berusaha membuatkan ini agar dengan mudah pembicaraan kami mengalir tanpa rasa sungkan. Tetap saja, anakku bahkan tidak ingin tidur menghadapku, ia memunggungiku dan menutup wajahnya dengan selimut dan mengabaikan aku yang berdiri di depan pintu kamarnya.
Aku pun merasa bersalah karena baru mengetahui kalau dia menjadi subjek di pembicaraan gosip-gosip semalam. Aku juga tidak menyangka bahwa cepat sekali berita itu beredar-- bahkan aku tidak habis pikir mereka tahu kalau itu Camelia yang berteriak.
Jika memandang dari sisi positif, berarti anakku sudah mulai melesat karirnya, makin dikenal banyak orang. Tapi negatifnya, kabar ini terdengar ke seantero negara, sama seperti kenaikan karir anakku.
Bagaimanapun juga cara Camelia bersikap bukan hal yang benar, wajar jika seorang Ibu marah kalau anaknya bertindak lancang. Tidak ada satu kejadian pun yang membenarkan kelakuan melawan orang tua. Itu yang aku pahami dari perkataan Mas Rasyid saat menitipkan Camelia karena ia sibuk bekerja.
Sepertinya dia butuh waktu untuk berbicara denganku. Gosip-gosip itu memang selalu memberikan pengaruh besar bagi kesehatan mental anakku. Anak semuda itu diberitakan yang macam-macam, mau tidak mau harus sering menutup telinga dan bertindak masa bodoh. Tapi tidak dengan anakku, dia belum sampai level tidak peduli.
Mungkin ada sebagian ini salahku. Sudah lama aku lepas tangan mengurus Camelia dan sibuk sendiri dengan duniaku di yayasan yang kubangun. Aku terlalu fokus mengurus hajat hidup orang banyak tapi lupa dengan amanah Tuhan kepadaku, yaitu anakku sendiri.
Ada banyak rasa sesal di dadaku karena telah bersikap kasar kepada anakku. Tapi aku juga serba salah, memang tidak mudah menjadi orang tua yang baik. Harta pun bukan jawaban atas kebutuhan anak, kadang aku tahu aku hampir tidak pernah menghabiskan waktu bersamanya.
Aku melangkah lunglai keluar dari kamar anakku yang memilih untuk tidur lagi dibandingkan sarapan denganku. Biarkan ku beri dia waktu untuk memproses emosinya, bukan malah memaksa dia untuk berbicara. Aku habiskan roti bakar yang dibuat Bi Iyah dan minum teh hangat yang dibuatkan untukku. Lalu bergegas keluar rumah dan meminta Pak Prabu mengeluarkan mobilku dari carport.
“Pak Prabu, kalau Amel mau kemana-mana, jangan dikasih ya, bilang aja mobil rusak atau apa gitu” Aku memberi arahan kepada Pak Prabu. Aku pikir anakku lebih baik berada di rumah terlebih dahulu, untuk menenangkan dia dari gosip yang sudah beredar.
Bi Iyah yang berada di sampingku juga aku arahkan hal yang sama
“Bi, Pokoknya tetep jaga Amel di rumah. Biar dia asik sendiri sampai saya pulang, nggak usah kemana-mana, bikin sibuk aja” ujarku
“Siap Nyonya, hati-hati ya Nyonya. Apa Nyonya akan sampai malam?” Bi Iyah membalas.
“Nggak, saya usahakan pulang cepat. Semoga nggak ada apa-apa di yayasan, saya akan segera balik” Aku membuka pintu mobilku yang sudah diarahkan kepadaku oleh Pak Prabu, melambaikan tangan kepada Pak Prabu dan Bi Iyah yang menunggu anakku di rumah.
*Mel, semoga kamu baik baik saja ya sayang* Aku berdoa dalam hati, dan langsung tancap gas menuju kantor yayasan.
[Camelia’s POV]
Aku bangun dari tidurku karena ini sudah siang sekali, sangat jauh dari jam bangun tidurku seperti biasanya. Aku seperti lari dari masalah dengan tidak berbicara apa-apa kepada Bunda, tapi aku juga belum siap. Aku takut dengan berbicara kepadanya, salah satu diantara kami tersulut emosi, dan berakhir bertengkar lagi.
Bi Iyah membangunkanku dengan iming-iming berenang di kolam renang yang sudah dibersihkan. Sebenarnya aku tidak terlalu tertarik, cuma aku pikir berenang bisa membuat aku lebih tenang dan menjernihkan pikiranku akhir-akhir ini. Aku akhirnya memilih untuk bangun dari ranjang ku dan bergegas untuk memulai berenang.
*Aku check TV nggak ya?* Terlintas keinginan di hatiku untuk melihat kabar yang beredar. Aku ingin tahu sudah sejauh apa mereka membicarakan insiden aku dengan teriakan dari dalam mobil kemarin. Jangan-jangan, aku sudah dijadikan bahan bercandaan dengan foto-foto kocak.
*Sudahlah* Aku mengurungkan niatku untuk menyalakan TV dan langsung mengambil peralatan berenang. Sementara Bi Iyah merapikan ranjangku dan menyiapkan perlengkapan yang lain.
Aku ambil baju renangku dan bathrobe, untuk kupakai seusai berenang, sembari mengoleskan sunscreen La Roche Posay di tubuhku. Hari ini aku harus lebih tenang lagi menghadapi semuanya dan akan bersantai di rumah.
Aku melangkah turun menuju kolam renang di rumah, tampak sinar matahari mulai muncul dari sisi kanan atapku. Menaruh bathrobe ku di kursi pantai yang ada di pinggir kolam renang, dan duduk di kursi sebelahnya. Tiba-tiba perutku berbunyi
*Kruukk Krukk* yang menunjukkan bahwa aku kelaparan. Segera aku memanggil Bi Iyah dari kolam renang
“Bi Iyaaaah, mana jus kale nya?” Aku memanggil dengan suara yang lantang
“Non, sabar non...Bibi nggak ngerti sea salt itu yang mana?” Bi Iyah berteriak dari dalam dapur. Aku langsung bergerak dari tempat duduk menuju ke arah dapur.
“Ini lho bi, yang warnanya pink. Himalayan Sea Salt” aku menunjuk ke arah cabinet berisi bumbu-bumbu organik di rumahku. Bi Iyah langsung mengangguk dan melanjutkan aktifitas nya membuat minuman untukku. Mataku tertuju pada makanan-makanan yang ada di atas meja makan.
“Bi Iyah, ini siapa yang buat pancake? Tumben banget…” Aku bertanya heran, biasanya aku dibuatkan pancake kalau hari itu adalah hari spesial untukku. Tapi, akhir-akhir ini kan tidak ada yang spesial sama sekali.
“Oh, itu tadi Bunda yang bikin Non. Karena Bunda bilang Non Amel suka banget pancake, jadi Bunda bangun pagi lalu bikinin Non Amel. Eeeh, tiba-tiba Non bilang kalau lagi puasa”
Bi Iyah bercerita tentang makanan itu
“Hah? Ini Bunda yang bikinin buat Amel?” Aku langsung kaget, dan hatiku terasa pilu. Tega sekali aku dengan Bunda ku yang begitu perhatian denganku.
“Iya Non, mau Bibi bantuin tadinya, terus nggak boleh, akhirnya ya Bibi nontonin aja Nyonya masak” Bi Iyah memberikan jus kale itu ke tanganku dan aku bergerak menuju pancake yang ada di meja makan.
“Bunda sedih nggak Bi, kalau aku nggak makan ini tadi?” Aku bertanya kepada Bi Iyah
“Ya tadi sih wajahnya agak kecewa Non, cuma Nyonya juga buru-buru sih kelihatannya, jadi kayaknya nggak apa - apa” Bi Iyah mengelap meja makan, mengambil pancake dari hadapanku
“Eh jangan diambil Bi. Aku mau makan” Aku menahan piring yang diatasnya terdapat pancake agar tidak dibawa ke belakang.
“Eh, baik Non. Pasti kalau Nyonya tahu, akan seneng banget” Bi Iyah menjauh, mengangkat gelas-gelas kotor yang ada di atas meja makan.
*Maafin aku Bunda..* sambil makan pancake dengan saus coklat aku merasa menyesal telah memilih untuk mengabaikan Bunda pagi tadi. Aku tidak tahu kalau Bunda masak untuk aku, dan berusaha sekali agar kita berdua berbicara di atas meja makan pagi ini.
Terima kasih Bunda atas kasih sayangmu. Amel sayang Bunda. Aku meneteskan air mata sambil menyelesaikan pancake buatan Bunda. Rasa yang paling enak di dunia dibandingkan kafe manapun yang pernah aku datangi. Aku kangen Bunda.