[Camelia’s POV]
Aku tahu sikapku hari ini memang benar-benar tidak layak ditoleransi. Setelah aku meneriaki orang yang tidak aku kenal dari dalam mobil, aku juga membuat ulah di dalam rumah.
Aku merasa sangat sedih, Bunda memarahiku hanya karena aku bersikap selayaknya seorang manusia, yang mengingatkan orang lain akan datangnya bahaya. Aku pun juga tidak ingin tiba-tiba bisa mengetahui warna-warna itu, tahu. Aneh sekali. Aku berada dalam keadaan bimbang, harus ku apakan keahlian ini? Membiarkan semua orang terluka padahal aku tahu kenyataannya?
Aku langsung berlari menuju kamar dan tak kuasa menahan tangis, mendengar samar-samar suara Bunda
“Maafin Bunda ya Mel…”
Ah sudahlah, Aku butuh sendiri. Menenangkan diri dari semua hal yang terjadi hari ini. Rasanya sungguh aneh mengalami banyak kejadian dalam satu hari, seperti mimpi. Berbicara dengan siapapun juga tidak akan menemukan solusi, terlalu tidak wajar, seperti negeri dongeng.
Aku melangkah ke lantai atas menuju kamarku, berharap dapat lebih damai menghadapi apa yang baru saja terjadi.
Tapi, tak terasa air mata menetes di pipiku, deras tidak terbendung. Aku menenggelamkan wajahku di atas kasur dan menyembunyikan tangisanku di bawah bantal. Seketika, rasa sedihku sudah tidak tertahan lagi sehingga aku malah menjadi marah, atas segala yang telah terjadi.
Aku bangkit dari kasur dan berdiri, menghancurkan apa yang ada di hadapanku. Melihat kembali wajahku di cermin dan membenci kemampuan ini. Malu rasanya melihat wajah sendiri. Aku tidak bangga dengan apa yang dapat aku perbuat, memalukan.
Aku ambil parfum Lancòme di meja riasku, parfum yang terbuat dari kaca dengan wangi mawar kesukaanku. Bahkan, memegang itu pun aku tetap terbawa suasana emosi hatiku. Kulempar parfum itu tepat ke arah cermin di meja riasku.
*PRANGGG!* suara pecahan kaca cermin terdengar sangat keras.
Ternyata, aku masih belum puas, rasa emosiku masih ada. Kulempar apa yang bisa kulihat di depan mataku, bahkan guci mahal milik Bunda juga jadi korbannya. Biarlah, aku marah!
Aku menangis, meraung-raung, tersedu-sedu dalam lautan kemarahan. Bi Iyah, Bunda dan Pak Prabu langsung masuk menuju kamarku. Bunda tidak marah, Bunda langsung memelukku dengan erat. Seketika, aku merasa keterlaluan atas sikapku.
Ah, pokoknya aku emosi!
Bunda masih seperti Bunda, tidak mudah tersulut amarah. Mungkin karena tadi Bunda juga sempat membentak aku di dalam mobil. Jadi aku pun tidak luluh, walaupun sebenarnya aku lebih baik dibandingkan tadi.
"Bunda, pokoknya aku mau ngomong sama Ayah!" aku menunjukkan kemarahan ku padanya. Ia mengangguk dan tersenyum. Aku harus tahu dengan apa yang terjadi kepadaku dalam waktu secepatnya. Titik.
Bunda menyuruhku untuk shalat, sementara Bi Iyah dan Pak Prabu sibuk membersihkan pecahan kaca, juga memberikan aku minuman hangat. Bunda segera berlalu dari hadapanku, keluar turun menjauhi aku yang berada di dalam kamar. Bunda tidak merespon apa yang aku bicarakan tadi, sehingga aku meneriakkan lagi apa yang ku maksud.
"Aku mau denger Bunda ngomong apa sama Ayah!"
Sudah. Aku sudah melakukan hal yang melampaui batas hari ini. Kasihan bunda yang harus menghadapi ulah-ulahku, tanpa Ayah disini. Aku membayangkan apa yang akan Ayah katakan jika beliau tahu tentang malam ini, saat dimana aku memecahkan perabot rumah.
Ayah itu orang yang tenang dan penyayang, tapi ia adalah sosok yang tegas. Dulu, saat aku kecil, Ayah selalu memberikan aku segala jenis mainan yang aku inginkan. Tapi, suatu saat mainan itu hilang karena kecerobohanku, aku bisa tidak diberi uang jajan. Hal itu melatih aku juga untuk selalu rapi, dan menjaga barang-barangku. Walau akhirnya kecukupan materi keluarga kami tidak membuat rasa kehilangan atas barang itu berarti, tapi tetap saja Ayah tegas.
Aku mengalihkan perhatianku, meminum segelas air jeruk hangat yang dibawakan oleh Bi Iyah. Menutup pintu kamarku dengan rapat dan mempersilahkan Bi Iyah untuk segera keluar. Aku harus melakukan ibadah, barangkali itu dapat membuatku tenang. Segera aku mengambil air wudhu dan menjalankan shalat se khusyuk-khusyuknya, walau akhirnya di tengah-tengah rakaat kedua aku menangis tak karuan. Mana mungkin aku bisa percaya hal yang dalam agamaku tidak ada fenomenanya, tapi aku mengalaminya sendiri?
Sesaat setelah shalat maghrib, aku merebahkan badanku di atas kasur, menyalakan TV di dalam kamar. Aku bisa melihat teman-teman ku di Teen Capture yang berlalu lalang di berbagai macam stasiun TV. Dari mulai menjadi seorang bintang iklan, memandu acara, atau sebagai bintang tamu. Aku pindahkan stasiun TV satu ke yang berikutnya, tidak ada acara yang menarik minatku.
Sampai akhirnya aku berhenti kepada sebuah acara gosip panas, dan mendengar sebuah kabar mengejutkan.
“Camelia Angkara ngamuk di pinggir jalan Jakarta!”
“Selamat siang pemirsa, saya Sabrina dari Kasak Kusuk HOT. Ya, kabar mengejutkan datang dari model remaja kesayangan kita, Camelia Angkara” ujar pembawa acara gosip itu
*Hah??? Kenapa mereka sebut-sebut namaku?*
“Sore tadi, terpantau Camelia menurunkan kaca mobilnya dan berteriak ke arah pinggir jalan! Kira-kira ada apa ya? Apa gadis remaja itu sedang penuh tekanan? Apa mungkin pekerjaannya sangat sulit? Mari kita wawancara warga sekitar” presenter itu menunjukkan rekaman video wawancara kepada warga sekitar.
Hal kecil seperti itu saja, aku sudah jadi bulan-bulanan media. Bisa nggak sih mereka jangan memperbesar hal yang kecil? Aku kan bukan maling uang negara, aku cuma mengingatkan orang. Walaupun memang dengan suara yang keras dan lantang, tapi menggunakan kata ‘ngamuk’ itu kesannya aku yang salah!
Aku mematikan TV-ku, membanting remote yang berada di genggamanku dan akhirnya berlari menuruni tangga menuju ke kamar Bunda
“Bundaaa! Bun, Bunda harus tahu Buun!” aku berteriak tapi tidak kunjung mendengar suara Bunda merespon. Aku langsung bergegas menuju kamar Bunda, mendengar Bunda berbicara. Aku langsung membuka dan melihat Bunda sedang memegang handphone-nya, mengangkat telepon dari seseorang
“Iya Mas, Bunda sama Amel nggak apa apa.” ujar Bunda.
*Ini pasti dari Ayah!* aku langsung menebak dalam hatiku. Melangkahkan kakiku masuk tanpa permisi ke kamar Bunda.
“Amel mau ngomong sama Ayah!” Aku tarik handphone yang ada di genggaman Bunda. Bunda menatapku dengan tatapan yang sangat terkejut. Aku bahkan tidak sedikit pun mengeluarkan kata-kata yang sopan. Aku langsung menarik handphone itu dan berbicara kepada Ayah dengan nada yang tinggi.
“Ayah, ini Amel kenapa Ayah? Ayah! Beritahu Amel Ayah!” Aku sedikit ketus, berteriak ke lawan bicaraku di dalam telepon. Bunda menatapku kaget dan tetap berusaha menenangkan aku, mengusap punggungku dengan halus.
“Mel, Mel,tenang dulu.” ujar Bunda.
“Bunda, udah, Bunda nggak pengen Amel ngobrol sama Ayah ya?” Aku menepis tangan Bunda, aku merasa terganggu. Susah sekali memiliki waktu bicara dengan Ayah dan sekarang Bunda mau menghalangiku. Aku rasanya sangat geram.
Aku bisa merasakan Bunda yang tidak terima atas perlakuanku yang kasar tadi. Bunda langsung mengambil handphone itu dari tanganku, dan akhirnya mulai membentak aku.
“Amel, Bunda nggak sangka ya Amel kayak gini sama Bunda. Amel keluar dari kamar Bunda, sekarang!” Bunda mengusirku dari dalam kamarnya, menunjukkan jarinya ke arah pintu kamar sambil menatapku lekat.
Aku menundukkan pandanganku, mengarahkan kakiku keluar dari kamar Bunda, dan menyesali perbuatanku yang tidak sepantasnya. Belum sempat aku mengatakan kalau kisah tadi sudah masuk infotainment, kami berdua sudah bertengkar. Baik, kali ini aku memang yang salah, aku harus meminta maaf. Tapi nanti, setelah suasana antara aku dan Bunda sudah mereda dan membaik. Aku meninggalkan Bunda yang sedang berapi-api karena sikapku.
Aku melangkah menuju kolam renang, terdiam memandang gemercik air dan gemerlap lampu di sekitar kolam renang rumahku. Aku terdiam dan memikirkan apa yang harus aku lakukan selanjutnya, kalau aku terus menerus tidak bisa mengontrol diriku, bahaya nantinya.
Di tengah-tengah lamunanku, Bi Iyah datang dari belakangku.
“Non, makan malam sudah siap Non” Bi Iyah mengingatkan ku makan malam
“Males ah Bi. Nggak usah makan malam ini.” Aku mengalihkan pandangan
“Bibi masak spesial banget hari ini, beneran deh. Ayo makan dong non” Bibi cengar-cengir disampingku, membujuk aku dengan menyentuh lenganku berkali-kali
“Makan apa bi? Masak apa emang?” Aku masih cemberut, memalingkan pandanganku dari Bi Iyah yang berdiri di sampingku.
“Bibi masak ikan Salmon, di pan seared kesukaan non. Ada kentang-nya juga direbus non, dikasih wortel sedikit biar sehat, Yuk makan nanti ikannya pulang ke laut lho” Bi Iyah tersenyum bangga sambil cekikikan, membujukku makan.
“Tumben banget bi, tahu darimana istilah pan seared? Canggih emang” Aku tertawa meledek, aneh sekali Bi Iyah, biasanya hanya mengerti masakan Indonesia.
“Dari YouTube dong non. Yuk ah cobain” Bi Iyah tersenyum, mengajak aku untuk beranjak dari tepi kolam renang.
“Hmm, Bunda dimana bi?” Aku menanyakan kepada Bi Iyah. Aku ingin memastikan keberadaan Bunda. Rasanya sangat canggung kalau harus makan bersama Bunda di satu meja makan yang sama setelah kejadian tadi.
“Bunda makan di kamar katanya, Bibi sudah anterin makanannya tadi.” ujar Bi Iyah.
Aku bernafas lega, berdiri dari kursiku dan berjalan menuju ruang makan bersama Bi Iyah. Aku menyantap hidangan di depan meja makan dalam keadaan sendirian. Rasa ini persis seperti saat hari-hariku yang biasa, dimana aku berada sendirian di rumah dengan Bi Iyah dan Pak Prabu. Kenapa sekarang saat aku mempunyai waktu untuk bersama-sama Bunda, aku malah membuat Bunda hilang kesabarannya.
*Hmm, Amel. Kamu payah!* ujarku memarahi diriku sendiri. Sudah sedari lama aku menginginkan waktu lebih banyak dengan orang tua ku. Tapi, saat waktu itu datang, aku malah tidak menjadi anak yang baik. Aku tidak akan melakukan hal itu lagi. Aku harus bisa mengontrol emosiku.
[Bunda’s POV]
Aku tidak habis pikir, darimana Camelia bisa belajar bersikap kasar padaku? Menurutku, lancang sekali seorang anak bisa menarik dengan paksa barang yang orang tuanya sedang pakai.
Emosiku sudah meluap sampai ke ubun-ubun. Mas Rasyid juga pasti mendengar pertengkaran kami tadi, aku tidak bangga sekali dengan kejadian ini. Sesaat segera aku mengusir Camelia dari kamarku, aku langsung mematikan telepon kami. Mas Rasyid pun tidak menelpon ulang, sepertinya ia mengerti situasi yang sedang aku hadapi.
Jangan-jangan, aku ini ibu yang tidak becus mendidik anakku. Aku sampai tersinggung dalam hati melihat betapa beraninya anakku melawan aku. Padahal, aku tidak kasar kepadanya, malah aku mencoba menenangkan.
*Kenapa sih anak itu?* Aku meracau dalam hati. Aku kembali meraih handphone ku seraya memberi pesan singkat ke Bi Iyah
“Bi, saya makan malam di kamar aja ya. Tolong ingetin Amel supaya makan malam” Aku ketik pesan singkat ke Bi Iyah melalui handphone. Aku pun berakhir menyalakan TV, mendengar siaran malam itu. Tapi, ada yang aneh. Kenapa ada video mobilku dan wajah Amel yang berteriak keluar?
Mereka menjadikan kejadian tadi sebagai bahan komedi di TV malam ini! Sungguh aku tidak terima.
Aku mengerti sekarang, mungkin hal ini yang membuat Camelia sangat ingin bicara dengan Ayahnya, bahkan bersikap berlebihan kepada aku. Semua orang yang ada disana tentu saja mengenal anakku sebagai seorang model, yang tiba-tiba berteriak di pinggir jalan jakarta.
*Kenapa aku bisa tidak sepeka itu? Anakku kan model yang sedang naik daun! dan dia juga masih di masa remaja. Pasti kena bully!* Hatiku berkecamuk. Keadaan tadi dimana kami berdua ribut, membuat segala keinginanku untuk meminta maaf terlebih dahulu pada nya ciut. Aku sedikit banyak gengsi atas posisiku sebagai Ibu. Aku juga tidak mau membenarkan perlakuannya padaku.
*Sudahlah, aku mau berendam di bathtub saja* Aku membuyarkan pikiran tadi,mengambil kimono mandi dan bath bomb ku. Aku butuh ketenangan dan wangi yang segar, menyalakan lilin aromaterapi dengan aroma bergamot dan citrus, mengisi bak mandi dengan air hangat. Aku harus lebih tenang, untuk menghadapi apa yang dihadapi anakku.
Bagaimana harus aku menceritakan ke Mas Rasyid tentang anakku yang dijadikan bahan bercandaan di publik? Apa lebih baik aku rahasiakan saja dari Mas Rasyid?