“Hu..hu...hu… Bunda, Amel nggak mau ngalamin hal kayak gini tolong..hu..huu…” Camelia terisak, tenggelam dalam tangisnya.
Bunda langsung memeluk anak gadisnya itu, sementara Bi Iyah dan Pak Prabu sibuk dengan pecahan cermin yang berserakan di bawah. Wajah Bunda sangat teduh sekali, tidak ada raut marah ataupun cemas berlebih, tenang sekali.
“Iya nggak apa-apa sayang, kita hadapi semua ini sama-sama. Bunda sama kayak Amel, sama-sama nggak tahu ada apa yang terjadi. Tapi, Amel harus kuat ya.” Bunda membelai rambut anak gadisnya itu, memberikan senyum yang tipis dan pelukan yang erat.
Camelia bukannya lebih tenang, malah menangis menjadi-jadi. Bi Iyah dan Pak Prabu dengan segera membersihkan serpihan-serpihan, dan mulai meninggalkan ibu dan anak itu. Bunda memberikan kode kepada Bi Iyah untuk mengambilkan minuman yang hangat untuk Camelia.
“Mel, dalam hidup itu, kita nggak selalu bisa menebak apa yang terjadi besok, kalau kita tahu semua hal, ya dukun nggak laku dong?” Bunda memberikan humor ringan, menenangkan anaknya yang khawatir
“Buuunn Ah, Amel nggak pengen bercanda” senyum tipis terpancar dari wajah gadis itu, walaupun matanya masih sembab, ia sudah mulai menata bicaranya dan menghentikan tangisnya.
“Sekarang, Amel shalat dulu gih, Bunda telfon ayah yaa..Tapi Bunda mau shalat dulu” Bunda melepaskan pelukannya, disusul dengan Bi Iyah yang masuk ke kamar Camelia dan memberikan segelas air jeruk panas.
“Non..diminum non..” Bi Iyah menaruh minuman itu di atas meja rias Camelia
“Bunda! pokoknya kalau Ayah ngomong apapun, Amel mau denger ya Bunda!” Camelia menegaskan suaranya, menatap Bunda dengan serius
“Siap neng cantik...tolong diminum dulu ya terus shalat dulu gih.” Bunda berlalu, berjalan turun ke arah lantai satu untuk melanjutkan rencananya ibadah shalat maghrib.
[BUNDA’S POV]
Aku kaget, masuk ke kamar anakku yang dari tadi bunyinya gaduh, seperti pecahan kaca. Siapa sangka anakku yang selalu tenang dan damai, seperti wanita yang anggun di mataku, malah memporak porandakan kamarnya karena emosi sesaat. Aku benar-benar orang tua yang patut dipertanyakan kemampuan mendidik anak, berarti aku memang tidak tahu tingkah laku anakku.
Keadaan yang penuh berantakan, pecah dimana-mana ini, aku yakin harus ada cara membuat Amel tidak melakukannya lagi. Tapi apa? Aku pun juga tidak tahu, marah pun bukan pilihan yang paling bijak dalam menghadapi situasi ini. Aku harus tenang.
Aku bergerak membuka lenganku, memeluk Amel yang histeris dengan emosinya. Aku berusaha menjadi ibu yang baik, menenangkan segala gundah gulana anaknya. Tidak ada yang tahu kalau akulah yang merasa paling sedih atas kejadian ini. Pertama, barang-barang yang aku sayangi dirusak begitu saja, tapi kedua yang paling menyedihkan di antara semuanya adalah, kebingungan aku tentang apa yang terjadi.
*Plis mas rasyid, pulang* kataku dalam hati. Membelai anakku yang masih terus menangis, dan bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Aku memberikan tanda kepada Bi Iyah untuk segera membuatkan minuman hangat yang dapat meredakan sedikit emosi Amel. Pak Prabu juga tanpa perlu aku usir sudah dengan sendirinya keluar dari kamar Amel, membawa pecahan-pecahan keramik dan kaca itu.
Menjauh aku dari posisiku, sesaat setelah mendengar anakku yang sudah mulai bisa menenangkan emosinya. Bi Iyah juga sudah mulai datang, memberikan segelas air jeruk panas untuk anakku yang masih menghela nafas. Ku nasehati anakku agar lebih tenang menghadapi semuanya, untuk melakukan ibadah terlebih dahulu.
“Sekarang, Amel shalat dulu gih, Bunda telfon ayah yaa..Tapi Bunda mau shalat dulu” Aku bergerak pergi, mengarah keluar kamar untuk turun ke lantai satu dan mendengar anakku yang berteriak.
“Amel mau denger pokoknya!” aku mendengar teriakan anakku, aku langsung mengabaikan dan pergi menjauh darinya. Aku butuh waktu tenang ku sendiri, memikirkan langkah berikutnya yang harus aku ambil tanpa Mas Rasyid.
Aku membentangkan sajadah, dan memulai ibadahku. Hatiku bagai gemuruh menghadapi peristiwa ini. Seumur hidupku, aku tidak pernah harus mendampingi hal yang bahkan aku tidak bisa melihat dengan mata kepalaku. Dalam hati aku berdoa dengan dalam, untuk diberikan jalan keluar untukku dan untuk anakku.
Ditengah rakaat ketiga, aku mendengar dering ringtone handphone ku berbunyi.
*Something about you… makes me feel good* berkali-kali berbunyi, membuat ibadahku tidak lagi khusyuk.
*Jangan-jangan, itu Mas Rasyid?* aku bergumam dalam hati, sambil menyelesaikan shalatku yang sudah terburu-buru.
Ah, tiba-tiba sesaat setelah aku menyelesaikan shalat, handphone ku tak lagi berdering. Aku sedikit kesal dan meracau dalam hati, bagaimana kalau itu Mas Rasyid? Aku sudah lama tidak berbicara dengannya dan ingin sekali berkeluh kesah atas semua ini!
Aku melirik notifikasi di handphone ku, dan benar saja, yang tadi barusan adalah telepon dari suamiku.
Aku langsung merebahkan tubuhku di atas kasur, berharap suamiku menelpon ulang ke handphone ku. Benar saja, tiba-tiba aku mendengar ringtone hp ku berbunyi.
*Something about you… makes me feel good*
*AAA ini mas Rasyid!* aku langsung mengangkat telepon itu, siap-siap dengan sejuta peluhku, ingin rasanya mengadu dan meminta agar ia segera pulang.
“Mas! Mas harus tau kalau tadi Amel itu nangis-nangis sambil mecahin cermin, guci dan barang-barang di dalam kamarnya berantakan lah.Gimana ini mas?” Aku bahkan tidak mengizinkan suamiku memulai percakapan. Aku langsung berbicara tanpa jeda sedikit pun.
“Fyuhh.. kok bisa gitu sayang? Namanya juga anak muda, masih remaja pasti emosinya nggak stabil, terus Bunda gimana? Baik?” Suamiku masih seperti biasa, tenang, damai dan lembut
“Ah, mas. Aku kalau sendirian harus menghadapi ini, sedih tau..” Tak terasa aku mulai berkaca-kaca, berbicara dengan suamiku rasanya seperti mengadu kepada sang pelindungku.
“Yaudah sabar...nanti kan mas pulang” Suamiku membalas
“Nanti kapan? Mas sibuk terus...Aku kangen tau.” Aku sedikit membujuk dia agar lekas pulang
“Hmm, mas pastikan secepatnya. Bunda, keadaan Amel gimana? Dia dan keahlian barunya?” Suamiku malah sedikit meledek. Aku heran, dia seperti tidak ada rasa khawatir sedikitpun terhadap apa yang terjadi kepada anak gadisnya.
“Ih, mas kok malah ngeledek. Mas, sebenarnya ada apa? Aku harus gimana menghadapi ini? Kok bisa tiba-tiba kejadian kayak gitu? Maksudnya warna hitam itu jahat, terus putih itu baik? terus warna lain apa? gimana? ini apa sih sebenarnya?” Aku tidak tahan dengan emosi ku yang meledak-ledak. Aku tumpahkan segala unek-unek dalam hatiku.
“ssst, sabar dong sayang, kayak bikin novel aja panjang banget” Suamiku malah cekikikan dibalik telepon. Dia seperti tidak peka atas aku yang dilanda kebingungan
“Mas, please serius” Aku mulai emosi, sudah tahu momen kami berdua berbicara itu sangatlah langka, kenapa malah bercanda seperti ini sih?
“Gini sayang, Mas benar-benar yakin nggak enak kalau kita bicara lewat telepon. Mas juga lagi capek sekali, karena kerjaan nya banyak banget…” Suamiku langsung sedikit lebih serius, tetapi suaranya lemas sekali.
“Mas ada masalah?” Aku mulai berubah, mengganti nada bicaraku. Sepertinya yang ada masalah lebih besar itu dia, bukan aku.
“Nggak sayang, Mas cuma mau denger suara kamu, sama mau tahu kabar kamu dan anak kita.” Suamiku membalas, tenang dan damai. Mas Rasyid memang selalu lebih dewasa dalam menghadapi setiap problema. Kalau aku? Aku terlihat baik-baik saja, padahal kalau sudah cerita ke Mas Rasyid, ampun deh. Seperti tidak ada rem-nya.
“Kita baik kok mas, sehat semua, mas jangan khawatir ya” Aku merasa tidak bijak, harusnya aku sebagai pasangan hidupnya, mampu mendamaikan suasana hatinya, menjaga anak-anak kami. Bukannya malah mengeluh dan mengeluh, saat suamiku pun jauh dan tidak bisa menjangkau ku dengan baik
“Maafin Mas ya. Pokoknya Bunda sabar ya, Ayah coba terus ajukan untuk kembali secepatnya ketemu Bunda sama Amel. Ayah titip Amel dan rumah ya Bunda.” Suamiku berkata dengan lembut sekali
Tak kusangka air mataku menetes. Aku tidak tega mendengar suamiku, kesabarannya benar-benar di luar batas orang biasa. Aku bertekad untuk lebih kuat dan tidak mudah mengeluh kepada Mas Rasyid, toh sebenarnya hidupku ini sudah sangat nyaman, Mas Rasyid yang selalu memperjuangkan.
*Kamu harus lebih kuat, kamu bisa menghadapi semuanya* Aku menyemangati diri sendiri, dan terdiam di sela-sela telepon ku dengan suamiku.
“Sayang, kamu nggak apa apa? Kok tiba-tiba diem sayang?” Suamiku menyahut
“Ah, enggak. Aku cuma bersyukur bisa menikah sama Mas Rasyid. Sehat-sehat ya mas, nanti kalau pulang Aku masakin yang lebih enak dari makanan disana” Aku menutup mulutku rapat-rapat dari apa yang aku sudah ucapkan tadi, aku tarik segala kekhawatiranku untuk diriku sendiri. Rasanya tidak bijak untuk membuat pikirannya lebih banyak dengan hal yang seharusnya bisa aku tangani sendiri.
“Iya sayang, tunggu aku ya” Suamiku dengan suara yang mendamaikan, hatiku tak lagi sekalut tadi.
Tiba-tiba ada pintu yang membuka kamarku dengan cepat dan keras.
“Bunda! Itu Ayah kan! Amel mau ngomong!” Amel lari, berteriak dan mengambil paksa handphone dari tanganku.
“Ayah! Amel kenapa ini? Ayah kasih tahu Amel pokoknya!” Amel bernada tinggi..
Bagaimana aku harus mendamaikan kecamuk hati Amel? Padahal Mas Rasyid juga sedang ada beban di pekerjaannya.
“Mel, Mel,tenang dulu.” Aku mengusap punggung Amel, yang memaksa Ayah nya untuk menjelaskan apa yang terjadi dengan nada tinggi.
“Bunda, udah, Bunda nggak pengen Amel ngobrol sama Ayah ya?” Amel menepis tanganku, seperti bukan Amel yang aku tahu.
Aku shock. Kaget dengan kelakuan anakku, aku langsung menarik handphone ku dari tangannya dan mematikan telepon dengan suamiku.
“Amel, Bunda nggak sangka ya Amel kayak gini sama Bunda. Amel keluar dari kamar Bunda, sekarang!” Aku menatap matanya lekat-lekat, mengarahkan jariku ke arah pintu keluar, mengusir anakku dari kamarku.
Amel menunduk, melangkah lunglai dari kamarku. Malam itu, kami berdua tidak saling bicara.