[Bunda’s POV]
“Mel, Bunda kaget tau tadi. Apa lagi sih mel? Kamu lihat orang tadi berbuat jahat?” Aku sedikit marah dengan sikap anakku yang tahu-tahu mengagetkan aku di tengah jalan. Gila, meneriaki orang tanpa bukti itu menurutku suatu hal yang salah.
“Bunda, maafin Amel bunda. Amel bukan maksudnya mau ngagetin Bunda. Tapi, tadi orang itu auranya berwarna hitam.” suara anakku mulai sedikit bergetar, aku bisa merasakan ia menahan tangis.
“Bunda bukan menghalangi Amel untuk berbuat baik dengan mengingatkan orang lain. Tapi nggak semua orang akan ngerti, Mel” Aku merendahkan nada suaraku yang tinggi. Aku sejujurnya sangat khawatir bila dengan berbicara tanpa bukti seperti ini akan memberikan dampak buruk bagi anakku di kehidupan kedepannya.
“Amel butuh banget ngobrol sama Ayah, ini nggak bisa begini terus” Anakku membuang pandangannya dariku. Aku pura-pura acuh dengan meneruskan pandanganku ke arah perjalanan menuju Menteng, rumah kami.
Aku bukannya tidak ingin berada di pihak anakku, aku hanya ingin anakku bisa menempatkan kemampuan yang baru saja ia punya ini di waktu yang tepat. Kadang, ada beberapa hal yang kita ketahui namun bukan urusan kita, jadi biarkan saja itu terjadi.
Pada akhirnya, aku pusing sendiri. Bagaimana kalau aku menjadi anakku? Coba aku memikirkan, aku tahu akan ada yang berbuat jahat, tapi aku tidak bersikap untuk membantu orang yang akan menjadi korban. Apakah aku tega diam saja mengetahui hal itu? Tentu tidak.
Aku langsung menyesal dengan apa yang sudah aku katakan kepada anakku tadi. Aku hanya takut saja, bagaimana kalau ternyata orang yang jahat tadi akhirnya mengincar kami? Mengejar kami dari belakang? Aku pasti akan gemetaran sekujur tubuh, aku akan takut dengan hal itu.
Kami pun sudah sampai di pekarangan rumah, aku mulai memarkirkan mobilku. Suasana di antara kami berdua menjadi canggung, mungkin karena aku sempat sedikit bernada tinggi kepada anakku. Dia juga sudah diam saja dari tadi, aku bisa merasakan dia sangat marah dengan sikapku.
*Pip pip* sensor berbunyi, tanda aku harus berhenti mundur. Aku sudah mematikan mobilku dan membuka kuncinya agar anakku bisa turun. Camelia langsung turun tanpa bicara apa-apa, dan berlalu pergi ke kamarnya.
“Maaf ya nak…” suaraku kecil menghadap ke anakku yang lebih dulu berlalu. Dia tidak akan mendengar apa yang aku sampaikan. Sudahlah, aku akan membiarkan dia beristirahat sejenak atas apa yang terjadi hari ini.
Aku berjalan masuk ke dalam rumahku, megah dan asri sekali keadaannya. Aku sedikit menimbun perasaan sepi karena suamiku tidak kunjung pulang. Rasanya, kekayaan tidak ada artinya tanpa kehadiran orang yang dicintai secara utuh.
Saat aku mulai masuk ke dalam rumah, aku merebahkan badanku di sofa ruang keluarga kami. Menghadapkan wajahku melihat lampu kristal yang menggantung di atasku, gemerlap dan indah. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah 7 dan aku menaruh tasku dan mengambil wudhu untuk shalat maghrib.
Saat aku sedang shalat, aku mendengar ringtone hpku berbunyi
*Something about you…* berulang-ulang aku mendengar, sepertinya orang ini memang berkali-kali mencoba menghubungi aku.
Aku melepas mukena sesaat aku selesai dengan shalat dan berdoa. Aku angkat telepon yang dari tadi berbunyi dan membuyarkan konsentrasiku saat beribadah.
“Halo, Ini siapa ya? Sudah malam ada perlu apa ya?” Aku langsung menodong pertanyaan kepada si penelepon.
“Buu...Ini saya buu...karyawan ibu yang tadi buu...yang minta tanda tangan” terdengar suara pria menangis dari telepon itu, aku mengenali suara ini
“Mas..mas..yang tenang mas...ada apa mas..” Aku langsung menenangkannya
“Bu..maaf bu, bukan saya mau jahat bu..” dia masih terus menangis
“Eh gimana? Kamu tenang dulu dong, saya nggak ngerti apa yang kamu omongin..” Aku tidak bisa dengan jelas mendengar suara telepon itu.
“Bu, saya bingung menjelaskannya, Ibu besok ke kantor atau tidak bu..” Laki-laki itu masih terus menangis di dalam telepon, aku menjadi serba salah. Ada apa gerangan, kenapa tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang janggal.
“Iya, besok saya ke kantor, kamu harus jelaskan ke saya sebenarnya ada apa ya.” Aku tetap bersikap positif, disusul dengan tangis laki-laki itu yang makin besar dalam tangisannya.
Aku langsung mematikan telepon itu,
*aneh-aneh saja drama pekerjaan ini* pikirku
Aku memanggil Bi Iyah yang masih sibuk dengan masakannya di dapur, untuk segera membuatkan aku “Earl Grey tea”
“Bi, bikinin teh buat saya dong, yang earl grey ya bi, saya mau shalat dulu nanti di taruh di meja makan saja” Aku melangkah menuju kamarku, melepas lelah atas kejadian hari ini dengan segera merebahkan diri di bed king size milikku.
Aku mengambil air wudhu, dan mulai mendirikan shalat maghrib. Kali ini, sepi semakin terasa karena mas Rasyid--suamiku, tidak kunjung pulang. Di tengah-tengah rakaat kedua aku mendengar suara yang amat besar
*Pranggg* besar sekali suara itu sampai aku sedikit terhenyak di tengah kekhusyukan ku.
Shalatku menjadi tidak fokus, aku bisa mendengar suara Bi Iyah yang berteriak dan berlari ke lantai atas.
“Ya Ampun Non Amel kenapa non? Ya Ampun Noooon, Non Ameeell” suara Bi Iyah
Aku langsung segera menyelesaikan ibadahku. Berlari ke lantai atas di tempat kamar anakku, dan mulai membuka pintu dengan terburu-buru. Tapi, aku kesulitan membukanya. Ternyata Bi Iyah pun sedari tadi tidak berhasil masuk ke dalam kamar Amel.
Aku mengetuk pintu kamarnya dengan keras
“Mel, mel kamu kenapa mel? Mel?” Aku gedor-gedor berulang agar ia tahu betapa paniknya aku di luar
“Mel bukain Mel ada apa mel?” Aku masih terus memohon, Bi Iyah beranjak pergi dari hadapanku, untuk memanggil Pak Prabu. Aku bisa mendengar suara isak tangis dan disusul dengan suara pecahan kaca.
*Pranggg* lagi, suara yang sama seperti tadi, jangan-jangan ada pencuri masuk ke kamar anakku, aku meracau dan membentak dari luar pintu.
“Hei! Buka pintunya! Jangan macam-macam sama anak saya ya!” Aku mulai menggedor lebih keras lagi, sampai aku bisa melihat bahwa tanganku sudah mulai kemerahan karena memaksa agar pintu tersebut dibuka.
Pak Prabu dan Bi Iyah datang lagi, kali ini, Pak Prabu sudah membawa kayu besar untuk membantunya jika benar ada orang jahat di dalam. Aku mendengar anakku berteriak
“Aaaaaa!” suara Amel berteriak dan dilanjutkan sambil menangis
Pak Prabu langsung memasang kuda-kuda, mendobrak pintu dan mengarahkan tongkat kayu itu ke arah depan. Ia masuk perlahan-lahan ke dalam kamar Amel, sementara aku dan Bi Iyah masih gemetar dari pintu luar.
“Pak Prabu!! Hati-hati Pak!” Aku reflek berteriak mengingatkan Pak Prabu
“Bu..bu ini kenapa? Non Amel?” Pak Prabu seperti terbata-bata.
Aku langsung melangkahkan kakiku untuk masuk ke dalam ruangan Amel, padahal aku masih berbalut mukena.
Sebuah pandangan yang tidak aku duga, aku lihat kali ini. Aku tidak bisa berkata-kata, dan malah berakhir menganga.
Cermin rias sudah pecah dimana-mana..
Juga guci-guci mahal yang aku koleksi telah pecah belah
Kamar ini sudah berantakan, pakaian tergeletak sembarangan.
Tapi bukan masalah itu, aku hanya kaget melihat segala situasi ini..
dan juga melihat anakku..
Mel.. Bunda minta maaf sama Amel