[Camelia’s POV]
Aku dan Bunda berjalan menuju tempat kami memarkirkan mobil Bunda. Aku sudah tidak berada dalam mood terbaikku untuk memilih gadget baru karena kejadian tadi. Aku ingin pulang saja, merebahkan diri di atas kasur, atau berenang di rumah.
Aku sedikit kecewa sebenarnya, karena momen berdua dengan Bunda sungguh mahal untukku. Kenapa harus ada kejadian seperti ini saat aku sedang menikmati jalan di Mall dengan Bunda? Aku merasa sedikit tidak adil, tetapi pulang ke rumah juga keputusanku.
Aku mulai masuk ke dalam mobil dengan Bunda, dan kami berdua pun keluar dari PIM hari itu. Suasananya lengang seperti biasa, dan waktu sudah mulai menunjukkan waktu maghrib akan masuk. Di tengah perjalanan kami, aku mendengar ringtone hp Bunda.
*Something about you..*
Aku melihat Bunda tetap fokus menyetir, lalu berkata kepadaku
“Mel, mel, tolong liatin Mel dari siapa.”
Aku meraih hp di dalam tas Bunda dan membaca darimana telepon itu berasal.
“Bun, nomornya Amel nggak tahu bun, nggak ada namanya” Tidak tersimpan nomor yang menelpon Bunda, aku reflek mematikan telepon tersebut.
“Kalau dia telepon lagi, kamu angkat aja mel” Bunda memberikan instruksi.
Benar saja, tidak lama berselang telepon itu masuk lagi ke hpku. Aku mengangkat telepon itu dengan segera, dan tidak aku sangka suara yang aku dengar ke telepon ini.
“Ibu..saya minta maaf bu...saya butuh bu jadi saya bohong…bu… minta maaf bu” Ada suara terisak dari telepon ini, suara tangis seorang laki-laki yang tersedu-sedu, meminta ampun kepada Bunda.
“Mas, mohon maaf, saya anaknya, Ibu lagi nyetir. Mas mau telepon lagi nanti atau bagaimana?” Aku membalas dengan tenang
“Kak, tolong bilang sama Ibu kak.. maafin saya kak...tolong kak saya minta maaf kak..jangan dipecat saya kak..” Dia masih lanjut menangis, jujur aku bingung ini siapa, dia tidak menyebutkan namanya tetapi langsung menangis dari awal telepon.
“Mas, saya bingung mau kasih tahu Bunda kayak gimana. Mas telepon lagi aja ya nanti 1 jam dari sekarang?” Aku salah tingkah, aku kasihan dengan cara bicaranya yang sambil terisak. Tapi aku tidak tahu harus berkata apa.
“Kak..kak...jangan matikan teleponnya kak…” Dia masih membujuk aku untuk mendengarkan.
*Tut* Aku matikan telepon itu. Jangan-jangan hanya orang iseng atau penipu. Nanti sajalah, aku tidak ingin ikut campur urusan kantor Bunda, takut salah bicara.
“Siapa Mel? Kok kamu sampai bingung gitu?” Bunda bertanya kepadaku
“Masa ada orang yang tiba-tiba nangis bu di telepon” Aku bersikap santai
“Siapa? Hah..kok aneh” Bunda masih fokus menyetir, kali ini tidak mempedulikan isi telepon tadi, hanya sedikit kaget dengan apa yang aku dengarkan.
“Iya, aneh kan Bunda, yaudah nanti katanya mau telepon lagi 1 jam dari sekarang” aku membalas.
Perjalanan kami sudah mendekati rumah, sekarang kami berada di daerah Duren Tiga. Sedikit macet, agaknya banyak orang yang hendak pulang ke rumah. Aku pun melihat beberapa perempuan seusiaku yang baru saja turun dari halte busway. Aku sendiri tidak pernah merasakan panas dan lelahnya naik angkutan umum, apalagi harus bekerja setiap hari dan berangkat dengan transportasi umum. Membayangkan aku berada disana saja, aku bisa menggambarkan lelahnya.
*Kuat banget ya, Mbak-mbak ini. Kira-kira hidup aku akan selalu nikmat seperti ini nggak ya?* Aku membayangkan hal yang tidak-tidak. Tiba-tiba, aku melihat seorang perempuan yang berdiri di pinggir jalan, dan di sebelahnya ada pria yang mempunyai aura warna hitam.
Aku reflek, menurunkan kaca mobilku dan berteriak.
“Mbak! Awas ada orang jahat!”
Perempuan itu langsung kaget, menggenggam erat tasnya dan berlari ke arah keramaian. Aku bisa melihat akhirnya pria itu kabur karena diperhatikan warga sekitar, menggunakan motor bersama kawannya masuk ke dalam g**g-g**g dan bukan ke jalan raya.
*Fyuh* aku langsung menarik nafas panjang atas kejadian tadi. Sepertinya, kemampuan ini bisa menjadi berkah bagi orang lain, tapi aku tidak ingin hidup mengetahui niat jahat orang lain. Aku ingin tenang dalam ketidaktahuan, dan tidak melulu bersikap skeptis.
Aku bisa melihat Bunda terkejut dengan apa yang baru saja aku lakukan. Ia langsung tancap gas, menyalip sana-sini agar bisa segera pergi dari sana. Maafkan aku Bunda, aku tidak ingin ada orang lain yang terkena kejahatan..
[Bunda’s POV]
Semenjak penglihatan itu, aku merasa hari-hari kami menjadi semakin berwarna. Walau sebenarnya aku butuh waktu untuk membiasakan diri dengan kemampuan anakku saat ini. Lelah juga berhadapan dengan drama pencurian di PIM tadi, aku mengajak anakku pulang untuk beristirahat dari apa yang baru saja terjadi. Aku sedikit sedih karena waktu berdua bersama anakku harus berhenti sampai disini, tapi tidak masalah, aku akan berusaha mencari waktu- waktu yang lain untuk bersamanya.
Aku fokus dengan setirku, mencari cara untuk bisa segera sampai ke rumah. Di depan Mall daerah Pondok Indah tidak terlalu ramai, tapi saat sudah melewati area perkantoran, semakin padat merayap. Tiba-tiba, aku mendengar suara telepon dari hpku
*Something about you*
Sudahlah, aku tidak terbiasa mengangkat telepon saat sedang menyetir di jalan. Camelia pun mematikan telepon tersebut, dan anehnya orang ini tetap menelepon lagi. Camelia bilang, tidak ada nomornya di list kontak, siapa sih yang masih saja ngotot. Apa mungkin telemarketer?
Akhirnya, aku menyuruh Camelia untuk mengangkat telepon itu. Anehnya, aku bisa mendengar suara anakku yang kebingungan mengangkat telepon dari orang ini.
“Mas, saya bingung mau kasih tahu Bunda kayak gimana. Mas telepon lagi aja ya nanti 1 jam dari sekarang?” Kan, apa yang perlu dibingungkan? Urusan kantor bukan hal yang terlalu sulit pasti. Masa dia langsung terbata-bata seperti itu.
“Ada apa mel? Siapa mel? Kok kamu sampai bingung begitu” Aku menanyakan anakku
Camelia menjawab bahwa orang ini terisak-isak, menangis dan memohon-mohon. Siapa sih orang ini, apa dia baru saja kecelakaan? atau dia penipu? Atau ini orang yang mungkin aku kenal.
Sudahlah, tidak jelas siapa orang ini.
*Ada-ada saja orang jaman sekarang* pikirku. Aku langsung mengabaikan apa yang baru saja terjadi, walaupun Camelia bilang orang itu akan menelepon lagi dalam waktu 1 jam. Abaikan saja lah, sepertinya bukan apa-apa.
Kemacetan di Duren Tiga menghentikan perjalanan kami menuju rumah. Aku bisa melihat anakku termenung menghadap kaca mobil, melihat situasi di sekitarnya. Petang ini sangat ramai, aku bisa melihat busway yang baru saja menurunkan penumpang di sebelah kananku di jalur yang berbeda. Situasi yang sangat berbeda dengan apa yang aku hadapi di dalam mobil ini.
Anakku masih saja memandang sekitarnya, kali ini dia sangat fokus dengan perempuan seusianya yang berdiri di pinggir jalan. Mungkin dia berandai-andai, atau memikirkan hal lain.
*Hmm, mungkin dia lagi merhatiin aja* Aku kembali fokus menghadap jalan raya.
Tiba-tiba, aku mendengar suara kaca mobil dibuka dan Camelia berteriak.
“Mbak! Awas ada orang jahat!”
Mendengar itu, aku langsung menyalip mobil sana-sini dan tancap gas!
Mel, apa lagi sih ini?