[Camelia's POV]
Aku dan Bunda berjalan menuju kantor keamanan di PIM. Aku merasa seperti seorang yang memfitnah orang lain tanpa bukti yang konkrit. Tapi, mau bagaimana lagi? Aku tidak mungkin membiarkan pencuri berkeliaran di dalam Mall itu. Terlebih tidak hanya aku korban yang pernah merasakannya.
Berjalan bersama pihak keamanan Mall telah membuat kami menjadi pusat perhatian orang yang berlalu lalang di dalam Mall. Praktis dengan ini aku dan Bunda telah gagal dalam merencanakan pembelian hp terbaru untukku. Aku sedikit menyesal karena mencari masalah, aku seharusnya cuek saja dan berlalu jika aku tahu ini akan berbuntut panjang.
“Bunda, maafin Amel kita jadi drama kayak gini” Aku menyesal, menggenggam tangan Bunda yang masih terlihat santai dan rileks walau kami ditonton banyak orang.
“Mel, santai aja, anggap aja kita pahlawan, udah nolong orang lain” Jawaban dari Bunda sedikit menenangkan aku yang merasa bersalah atas kejadian ini. Aku bisa melihat pencuri tadi menengok ke arah kami berdua dengan tatapan geram. Anehnya, Bunda malah balas tersenyum kepada pencuri ini, memang Bunda tidak ada takut-takutnya.
Ternyata, pos keamanan terletak di lantai bawah dekat basement, aku bisa mencium bau rokok yang kuat dan rasa panas karena basement ini juga berbarengan dengan keluarnya angin panas AC Mall. Mungkin ini dibuat untuk menciptakan kesan pencekam bagi penjahat yang berada di Mall ini. Aku benar-benar tidak nyaman dan langsung menggenggam tangan Bunda, disusul dengan halusnya tangan Bunda yang mencoba menenangkan aku.
[Bunda’s POV]
Aku bangga dengan Camelia, karena sudah bisa berani seperti ini. Berulang Kali ia menyampaikan rasa sesal karena membuat hari ini menjadi berantakan, tapi tidak untukku. Aku tidak menyangka gadis manja yang dilahirkan dan dibesarkan dengan kenikmatan ini berani maju untuk membantu orang lain. Walau mungkin nantinya dianggap aneh dan bodoh, aku percaya bahwa itu adalah sikap ksatria.
Aku sedikit khawatir sebenarnya, apa yang ia akan sampaikan kepada khalayak umum. Bagaimana mungkin orang lain percaya akan hal itu, aku sendiri dan bahkan Camelia saja butuh waktu untuk mempercayai apa yang dia lihat.
Aku merasakan banyaknya mata yang tertuju kepada kami berdua, karena berjalan dengan segerombolan petugas keamanan dan orang yang diborgol. Aku tetap santai dan rileks, merasa menjadi pahlawan hari itu, walau sebenarnya aku memikirkan apa yang akan terjadi nantinya.
Anakku mulai menggenggam tanganku lebih erat kali ini, sepertinya ia gugup dan tidak nyaman berhadapan dengan situasi kantor keamanan yang bau rokok dan sedikit pengap. Aku melihat pencuri itu juga tidak segan-segan menengok ke arah kami berdua. Setiap ia mulai menatap aku atau anakku, aku tersenyum lembut, bukan tersenyum merendahkan.
Aku sadar tidak ada manusia yang ingin menjadi orang jahat untuk orang lain, mungkin pria ini pas ‘kepepet’ saja dengan keadaan. Aku bukan seseorang yang senang menghakimi orang lain, tapi aku iba dengan pilihan yang diambil untuk berbuat jahat.
Aku berdoa dalam hati, semoga saja mereka mempercayai apa yang Camelia katakan, apapun jawaban dan cara Camelia menjelaskan nantinya. Aku sedikit berharap ada keajaiban yang bisa membuktikan perkataan Camelia tanpa perlu Camelia sendiri yang mengatakan tentang penglihatan auranya.
Aku melihat perempuan yang menangis di Mushola tadi karena barangnya dicuri, datang ke kantor keamanan dengan tatapan marah.
“Kamu ya! yang ambil hp saya! Malu sama Allah ngambil di tempat ibadah!”
*Plakkk* Perempuan itu langsung menampar pencuri yang sedari tadi tangannya diborgol oleh petugas keamanan. Aku langsung reflek menarik perempuan itu, menghalanginya untuk bersikap lebih jauh.
“Mbak, ayo kita duduk sama-sama nanti. Mbak yang tenang ya, sama saya” Aku menggenggam dan tersenyum lembut, memberikan tatapan simpatik kepada perempuan itu. Bersama-sama, aku, Camelia, dan perempuan tadi melangkahkan kaki menuju ke dalam kantor keamanan, dan kami dipersilahkan duduk terpisah dengan terduga pencuri itu.
“Ibu, dan Adik, bisa dijelaskan kenapa tiba-tiba menduga Mas yang tadi adalah seorang pencuri?” Seorang petugas keamanan, bertubuh tinggi dan berkulit hitam langsung menanyakan kepada kami bertiga.
“Mas! udah lah! coba cek aja ke tas orang itu! atau kantong!” Perempuan korban pencurian ini langsung emosi, berapi-api dan menunjuk kantong celana dari pencuri yang duduk terletak jauh dari kami
“Oke baik, saya akan tanyakan tim yang sedang menginterogasi disana. Selain itu, apa tidak ada bukti lainnya?” Petugas keamanan itu mencoba bersikap tenang, menanyakan aku dan Camelia
“Coba pak, cek CCTVnya, apa tidak ada?” Camelia pintar sekali, sebelum ia mulai berbicara tentang penglihatannya, ia memulai dengan berbicara tentang fakta.
“Ok, ada, mari kita cek sama-sama” Petugas itu mulai mengarahkan sebuah TV yang merupakan isi rekaman cctv dari Mall itu.
“Mbak, sayangnya kita nggak ada CCTV di Mushola” Petugas keamanan itu menjelaskan,
“Yaampun gimana sih mas?! atau di toko depan musholla aja, jalan keluar musholla, masa nggak ada?” Perempuan itu emosi
“oh iya, baik mbak” Petugas keamanan itu sedikit ciut
Kami bersama-sama melihat gerakan-gerakan dari pengunjung yang masuk ke dalam mushola, kira-kira pada jam shalat ashar di waktu sore. Aku bisa melihat figur tubuh seperti pencuri tadi masuk dan keluar ke dalam mushola, tapi memakai baju berwarna lain dari yang ia pakai sekarang.
“Nah mas! itu pencuri tadi, coba mas lihat, bentuk tubuhnya sama kan!” Camelia mulai mencoba meyakinkan petugas keamanan itu, di CCTV ini, wajah terlihat buram dan tidak terlihat, hanya bentuk badan saja
“Tapi warna bajunya beda lho mbak…” Petugas keamanan itu masih ragu dengan apa yang dikatakan oleh anakku.
“Ok, sekarang coba lihat CCTV di depan pintu keluar masuk toilet” Perempuan itu menyahut
“Toilet lantai berapa kak? PIM ini kan luas banget…” Petugas keamanan itu bingung
“Semuanya” Perempuan itu tegas kali ini, memandang wajah petugas keamanan itu yang langsung canggung dan mengarahkan TV itu lebih dekat ke arah kami.
Bersama-sama kami susuri satu per satu peristiwa yang terekam di CCTV, dari arah yang berbeda aku bisa mendengar kalau pencuri itu sedang memohon ampun kepada petugas keamanan disana yang mengancam akan melaporkannya ke polisi.
“Ampun Pak..saya ini pengangguran pak butuh makan pak..ampun pak..” terdengar pencuri itu memohon
“Oh jadi kamu beneran maling?” Petugas keamanan itu menekan pencuri tadi.
Tiba-tiba saat aku menguping pembicaraan di bagian lain, aku mendengar perempuan itu yang berteriak girang
“Nah kan! itu pak! dia ganti baju pak!”
“Hmm, oh iya mbak, dan bajunya sama dengan mas yang duduk disana” Petugas keamanan itu menunjuk pencuri yang duduk dengan petugas lainnya.
Aku bisa melihat raut wajah Camelia yang berubah, dari tegang menjadi lebih rileks. Mungkin dia senang karena tidak perlu menjelaskan penglihatannya karena sudah ada bukti lainnya yang mendukung. Aku juga menghela nafas panjang, syukurlah bisa membantu orang lain.
Dengan dibuktikannya perlakuan pencuri itu, Aku pamit pergi dari kantor keamanan itu, mengajak Camelia untuk segera berlalu dari situasi itu.
“Pak, kalau begitu kami berdua mohon pamit. Kami ada agenda lain” Aku pergi, disusul dengan ucapan terima kasih berkali-kali oleh perempuan tadi.
“Terima kasih ya Ibu dan Adik, saya senang sekali barang saya bisa kembali”
“Sama-sama ya Mbak. Lain kali hati-hati ya. Mel, kita pulang aja yuk?” Aku mengajak anakku untuk pulang. Kejadian hari ini sungguh beban bagi batinku, aku pun yakin anakku akan merasakan hal yang sama.
“Iya Bunda, pulang aja ya kita.” Camelia menjawab tanpa beban.
Kami berdua pun pulang, membatalkan rencana kami untuk membeli hp baru untuk Camelia hari itu.