Seluruh pengunjung berkerumun ke arah korban pencurian, sementara satpam mall itu berlari dan memanggil rekannya melalui handy talky, baru saja ada seorang pencopet masuk kedalam Mall, dan kali ini korbannya adalah orang yang baru saja shalat.
Sungguh tega sekali. Banyak yang menepuk bahu perempuan muda yang terkulai lemas di kursi depan musholla, bahkan ada yang menawarkan untuk mengantarkan perempuan tersebut pulang.
“Mbak, pihak manajemen Mall meminta maaf atas kejadian ini” Seorang pria dengan jas yang lengkap dan rapi duduk berada di samping perempuan itu. Kali ini, bukannya lebih tenang, perempuan itu malah menangis semakin menjadi-jadi.
“Mas, gimana ini? Tolong ditemukan mas, itu barang penting untuk saya...Tolong mas” sambil terisak perempuan itu menarik lengan pria tersebut.
“Iya mbak, tim saya sedang berusaha. Ini mbak, silahkan diminum terlebih dahulu.” pria tersebut memberikan sebotol air putih ke tangan perempuan itu.
Camelia dan Amy melanjutkan aktifitas untuk shalat di dalam mushola itu, kali ini dengan saling menjaga barang satu dan lainnya secara bergantian. Setelah selesai dengan ibadahnya masing-masing, mereka pergi menjauh dari kerumunan yang masih ramai dengan peristiwa tadi. Tidak ingin terlibat lebih jauh walaupun mereka dapat mendengar seluruh percakapan dan juga melihat kejadian tadi.
“Mbak, mohon maaf, tim saya tetap tidak bisa mengejar pencuri tadi, walaupun sudah semuanya mengepung jalan keluar dari mall ini.” pria tersebut memohon maaf dengan nada yang menunjukkan kedukaannya atas kehilangan perempuan tersebut
“Yasudah mas” Perempuan itu masih melanjutkan tangisnya, kali ini tidak sekeras sebelumnya, mungkin ia perlahan mulai mengikhlaskan kejadian tadi.
[Camelia’s POV]
Aku langsung menarik tangan bunda untuk menjauhi keramaian tadi, aku tidak menyangka kalau di tempat seperti ini masih saja ada yang mencuri. Padahal ini kan musholla, dan di dalam Mall pula. Memang kalau orang sudah berniat jahat, mungkin di masjid pun nantinya akan tetap jadi sasarannya.
Aku tidak ingin terlibat terlalu jauh, karena melihat pencuri tadi sedikit menggetarkan batinku. Aku teringat waktu saat aku dijambret di pinggir jalan Restoran Ambient. Aku agak trauma melihat tatapan mata penjambret itu, mengingatkan aku tentang kesalahanku yang tidak mawas diri menjaga barangku.
“Mel? Ada yang salah?” Bunda merasa aneh dengan aku yang agak terburu-buru menjauhi keramaian itu. Aku ingin menyampaikan kalau aku sempat melihat wajah dan warna di kepala orang yang mencuri barang milik perempuan tadi. Tapi aku yakin, kalau aku bicarakan di depan umum seperti ini, yang ada banyak orang memberikan tatapan aneh kepadaku.
“Bunda, kita cari hp buat aku yuk!” Aku menyiasati pertanyaan tadi dengan jawaban yang berbeda, bersikap seolah-olah aku tidak sabar tentang pembelian hp baru itu. Tapi sebenarnya, saat melihat-lihat hp, aku berharap bisa sedikit membisikkan kata-kata ke Bunda untuk memberitahu tentang apa yang aku lihat tadi.
“Oh...Okay mel, bunda kirain ada apa..” Bunda mengikuti langkahku dan kami pun berjalan menuju eskalator untuk ke lantai berikutnya.
Mataku tertuju kepada orang yang memakai baju biru, dia berada beberapa langkah di depanku. Orang ini, mempunyai warna aura yang hitam.
*Siapa orang ini? Apa yang ia lakukan disini?* Aku penasaran dengan apa yang aku lihat, ku tarik tangan Bunda dengan erat, berdoa semoga tidak terjadi sesuatu yang aneh lagi.
Tiba-tiba, orang itu menengok ke arahku, sekilas aku bisa melihat kalau orang ini adalah orang yang mencuri tadi di Musholla!
Kali ini, dia menggunakan baju berbeda dari yang aku lihat tadi, sepertinya ia segera mengganti bajunya setelah melakukan aksinya.
Aku segera menundukkan pandangan, memainkan sepatu, berpura-pura melihat ke arah lainnya, ia sepertinya juga tidak begitu peduli denganku. Syukurlah, dia bergerak ke arah berbeda dari kami berdua.
Aku berlari kecil menjauhi orang tadi, dan segera mendekati seorang petugas kebersihan. Bunda masih kebingungan di belakangku, berjalan santai seperti biasa.
“Pak, pak, coba dihubungi teman nya yang petugas keamanan disini. Saya melihat orang itu tadi mencuri di mushola pak” Aku sedikit berbisik kepada petugas kebersihan itu, dan ia langsung mengambil hpnya untuk menelpon rekannya yang lain.
“Neng, tadi katanya pencurinya pake baju warna merah, itu yang neng tunjuk bajunya warna biru” Petugas kebersihan itu sedikit tidak mempercayai aku
“Pak, itu tadi orangnya ganti baju, suruh segera tangkap ya, kayaknya dia udah pengalaman.” Aku berusaha meyakinkan
Dengan sigap, aku melihat petugas keamanan langsung datang, dan kali ini membawa orang tersebut ke kantor keamanan di PIM. Sementara Bunda masih diam saja, bingung dengan apa yang baru saja terjadi, apa yang aku lakukan, dan siapa orang yang aku adukan tadi. Sekali lagi aku mengucap syukur, akhirnya aku bisa lebih tenang jalan di Mall bersama Bunda karena orang itu sudah diamankan.
“Mbak, mbak ikut kita juga ke kantor ya” Hah! Aku juga harus ikut ke kantor keamanan karena aku adalah saksinya. Bagaimana ini? Bagaimana menjelaskannya kalau aku melihat orang itu dari auranya saja. Belum lagi, aku sedikit merinding mengingat apa yang ia lakukan kepada barangku di Restoran Ambient.
“Pak, harus banget? Saya nggak bohong kok..” Aku memelas memohon agar tidak usah diikutkan dalam kantor keamanan. Tapi kali ini, aku tetap wajib ikut sebagai seorang saksi…
Bagaimana ini?
[Bunda’s POV]
Saat kami ingin pergi ke dalam Mushola, ada kejadian yang sangat menyedihkan menimpa seorang perempuan, kurang lebih seusia anakku. Aku sedikit iba dengan keadaannya kehilangan barang-barang karena dicuri, tapi entah kenapa Camelia tetap melanjutkan langkahnya untuk pergi dari kerumunan itu dan menarik tanganku.
Dia langsung mengajakku untuk segera membeli hp untuknya, baiklah mungkin dia sudah mulai bosan hidup tanpa gadget, pikirku. Kami berdua mulai melangkahkan kaki menuju lantai berikutnya dengan menggunakan eskalator. Tiba-tiba, saat menaiki eskalator aku melihat anakku sedikit salah tingkah.
Saat sampai di lantai atas, ia malah berlari kecil menjauhiku untuk mendekati seorang petugas kebersihan. Aku masih berjalan santai saja kali ini, aku kira dia mencari toilet. Tapi pembicaraan mereka serius sekali, aku jadi penasaran dan bergerak segera.
Aku mendengar Camelia mengadukan perbuatan orang yang baru saja ia lihat di eskalator. Aku ingin sekali melarangnya, tetapi aku takut kalau aku sebenarnya yang salah. Bagaimana mungkin ia menduga orang yang baru saja dilihatnya adalah seorang pencuri yang sedari tadi dicari seantero mall?
Aku bersikap pasif, aku biarkan Camelia menjelaskan kepada petugas kebersihan itu apa yang dia lihat. Tidak lama, petugas kebersihan itu langsung menelpon kawannya, seorang satpam yang kemudian datang untuk mengamankan orang tersebut.
*Bagaimana kalau apa yang Camelia adukan tidak benar?* Aku sedikit meragu karena menurutku, bahaya sekali untuk langsung menduga seseorang melakukan kejahatan. Tapi saat orang itu diringkus, aku melihat anakku menghembuskan nafas panjang seperti telah melepaskan beban di pundaknya.
Tapi tunggu dulu, kami tidak bisa pergi begitu saja. Laporan Camelia membuat kami harus ikut ke kantor keamanan dan menceritakan duduk perkara mengapa kami menduga orang ini adalah pelaku pencurian di Mushola tadi. Tapi, aku kan tahu apa yang kami berdua lihat. Kami tidak melihat secara langsung gerak-gerik orang itu sedang mengambil hp perempuan tadi. Aku bingung…
bagaimana Camelia akan menjelaskan hal itu?
Apa dia akan cerita tentang warna aura yang dia lihat?