Akhirnya, datang juga secangkir cappucino dan es kopi gula aren, pesanan dua perempuan yang duduk di samping kaca besar berisi pemandangan jalan. Keduanya terlihat sedang membicarakan sesuatu yang serius, dan tampak mendebarkan.
Seorang barista menghampiri, membawa pesanan roti bakar meses yang dipesan. Aroma roti bakar itu membuat kedua wanita yang dari tadi terlihat kaku dan tegang, menjadi lebih rileks dan santai.
"Selamat menikmati" barista tersebut memberikan pesanan dan tersenyum, disambut oleh Camelia dengan ucapan terima kasih. Santai sekali suasana di antara mereka berdua sekarang, seiring dengan menikmati tiap gigitan roti bakar yang masih hangat.
“Menurut Bunda, apa hal terburuk yang mungkin dilakukan oleh karyawan Bunda tadi?”
Camelia membuka pembicaraan bersama dengan melahap roti bakar di hadapannya.
“Bunda nggak tahu sih, yang jelas Bunda mau tahu dulu sebelum perusahaan yang bekerjasama dengan yang yayasan ini akan melakukan pembayaran donasi” Amy menjawab dengan lebih santai, sambil ikut memasukkan roti bakar kedalam mulutnya.
“Kalau misalnya hitam itu adalah hal yang buruk, maka putih itu berarti hal yang baik kali ya Bun?” Camelia melanjutkan pembicaraan, menerka-nerka tentang apa yang terjadi dari penjelasan yang diberitahukan oleh Ayahnya sebelumnya.
“Mungkin ya Mel, betul juga kamu, nggak kepikiran sama Bunda.” Amy tersenyum dan menikmati secangkir kopi dihadapannya.
“Syukurlah kalau sudah selesai semuanya Bun, paling nggak Bunda sudah bisa menghindari bahaya yang mungkin akan datang untuk Bunda atau yayasan Bunda.” Camelia meminum es kopi gula aren di tangannya dan bersandar di sofa coffee shop.
Mereka berdua terlihat menikmati hidangan sore itu, diiringi dengan tertawa khas wanita paruh baya dan gadis belia tersebut, membuat suasana coffee shop itu menjadi hangat. Adakalanya, sedikit candaan yang hanya lucu untuk mereka berdua terdengar dari balik meja kasir, membuat suasana menjadi lebih hidup.
“Bunda, habis ini shalat ashar dulu ya, baru kita cari hp buat aku” Camelia mengedipkan sebelah matanya ke arah Amy, disusul dengan senyum manis dan sambutan hangat Amy
“Siap tuan Putri..” mereka berdua tertawa lagi.
[Bunda’s POV]
Aku sedikit bersyukur anakku diberikan penglihatan aura seperti itu sebenarnya, karena aku bisa menghindari masalah atau kerugian yang mungkin datang -- untukku, keluargaku, atau yayasan. Tapi apakah itu akan bertahan lama? dan Apakah itu akan selalu menjadi keuntungan? Rasanya tidak. Bayangkan saja misalnya, ada seseorang yang dapat membaca masa depan, atau mengetahui takdir seseorang, bukannya itu sedikit menyeramkan dan mengganggu mental yang dapat melihat?
Aku memperhatikan anakku yang sibuk memastikan bahwa aku sudah berhasil mencegah hal-hal buruk akan terjadi. Dia sepertinya sudah mulai menerima kalau dia diberikan ‘anugerah’ untuk dapat melihat niat terselubung orang lain kepadaku.
Sebenarnya dalam lubuk hatiku aku yakin, cepat atau lambat, anakku akan mulai merasa sedikit depresi. Kadang di dunia dan kehidupan, banyak mengetahui berarti banyak kehilangan, termasuk kebahagiaan. Maka itu, Tuhan membiarkan kita tidak mengetahui isi kepala orang lain agar kita tetap dapat ikhlas menjalankan perintahNya berbuat baik, tanpa mengharap balasan.
Tak apa-apa, aku temani dia sampai merasa lebih baik dari dia sebelumnya yang sangat galau dan gamang. Kami menertawakan banyak kejadian terutama yang ia alami selama bekerja sebagai foto model. Ah, hangat sekali untukku momen seperti ini, aku ingin terus merasakannya.
Ada hal yang membuatku terharu, aku tiba-tiba diajak anakku untuk shalat bersama. Jarang sekali aku merasakan hal ini karena aku yang kebanyakan sibuk di kantor dan Amel yang sibuk di lokasi pemotretan. Aku yakin, cara terbaik untuk meredam stres atas penglihatan aura itu adalah dengan mendekatkan diri kepada Tuhan.
Amel juga sudah terlihat lebih baik dan lebih ceria, seperti yang biasanya. Bisa-bisanya dia sekarang sedikit membujukku dan mengedipkan matanya, hanya untuk merengek minta dibelikan hp baru. Apa saja yang dia inginkan, akan aku penuhi. Asal dia bahagia dan tertawa terus seperti ini.
Kami berdua bersama-sama mencari musholla di mall Pondok Indah itu, sebelum akhirnya memulai proses pencarian hp baru untuk anakku. Di titik ini aku hanya ingin berdoa yang sangat khusyuk dan dalam untuk kehidupan keluargaku.
Tuhan, tolong buat keluargaku selalu bahagia dan sehat!
[Camelia’s POV]
Tiba-tiba dari suasana yang tegang antara aku dan Bunda berubah karena dihadapkan oleh makanan yang kami sukai, roti bakar. Tadi, kami sempat sedikit kaku karena aku memberitahukan Bunda kalau mungkin saja karyawan yang bersamanya tadi akan berbuat jahat. Walau aku sempat ragu dengan apa yang aku lihat, aku menjadi lebih yakin setelah Bunda memberitahukan pesan Ayah kepadaku. Benar kan ternyata, hitam itu artinya buruk, dan mungkin saja putih itu artinya baik.
Akhirnya, Bunda mulai menghubungi partner bisnisnya untuk mencegah apa yang diduga akan menjadi penipuan. Setelah urusan yayasan selesai, kami langsung kembali menikmati momen berdua sebagai Ibu dan Anak. Aku sungguh senang sekali.
Sambil berbincang dengan bunda tentang hal-hal yang lucu, maupun berbagi kisah pengalamanku sebagai seorang model majalah. Aku memikirkan apa yang akan aku beli
*Hmm...iphone sepertinya menarik, tapi terlalu banyak penggunanya* Aku meragu dengan apa yang sedang dianggap sebagai trend, menggunakan iphone. Apa aku selama ini menggunakan fitur hp mahal itu secara maksimal? Sepertinya tidak. Aku hanya numpang trennya dan pkai itu buat foto-foto. Untuk main game? Aku tidak suka. Aku ingin punya android seperti kru di tempat pemotretan yang selalu asik main game dengan rekan sebayanya.
“Bunda, habis ini shalat ashar terus beli hp untuk aku ya” Aku sedikit membujuk, memberi sinyal akan tujuan ke PIM awalnya ini adalah untuk membelikan aku gadget baru.
Syukurlah, Bunda juga merespon baik tentang keinginanku membeli hp sesaat setelah ‘ngopi cantik’ kami ini selesai. Aku menimbang-nimbang hp apa yang akan aku cari nantinya, dan menarik Bunda untuk menuju mushola terdekat.
“Bunda, yuk ke Musholla” Aku berdiri dan mengambil tasku, menarik Bunda yang sedang sibuk memakan roti bakar.
“Mel, bentar mulut bunda masih ada meses nih. Amel tanya ke mbak kasirnya ya musholla nya dimana” Bunda menutup mulutnya yang penuh dengan makanan. Membuat ak
“Okee sip” Aku berjalan mencari pelayan di coffee shop itu, menanyakan letak mushola sebelum akhirnya aku kembali ke arah Bunda, untuk bersama-sama pergi ke Musholla. Aku senang, bisa mengajak orang tua ku untuk beribadah bersamaku. Semoga Bunda bisa selalu berada disampingku untuk melihat aku sukses dan bahagia!
Saat kami berdua memasuki mushola, akupun mulai melepaskan sepatuku aku melihat ada seseorang yang tidak asing untukku. Masalahnya, orang ini adalah orang yang aku lihat berwarna aura hitam, dan ia sedang berjalan keluar musholla. Dia adalah orang yang menjambret hpku di depan Restoran Ambient!
*Aku pernah melihat orang ini! Aku harus memberitahukan Bunda!*
Tapi, masalahnya aku tidak punya bukti apapun. Orang itu sudah melenggang pergi dan seperti memasukkan sesuatu ke tas yang ia bawa, sebelum akhirnya berlalu dengan rekannya, orang yang sama yang membonceng motor untuk menjemputnya waktu itu!
Tiba-tiba ada suara perempuan berteriak dan berlari keluar
“Tolong! Ada maling!!!”