“Bunda, pelan pelan dong!” Camelia bernada ketus.
Amy menarik anaknya dari kerumunan orang di dalam lift dan mengarahkan untuk menuju Kopi Aeropress.
“Sorry sayang, rame banget soalnya” Amy menjelaskan dengan sedikit terkekeh, dan mulai bergerak menuju kasir Kopi Aeropress untuk memesan minuman.
“Mbak, saya mau cappucino satu, Amel mau apa?” Amy terfokus pada pandangannya di menu yang ada di depan meja kasir.
“Mau es kopi s**u gula aren aja, Mbak” Amel menyahut, memberitahukan kepada kasir toko kopi itu untuk segera membuatkan minumannya.
“Bunda, Amel cari tempat duduk ya” Amel melangkah menjauh dari meja kasir, menduduki salah satu spot tempat duduk yang dekat dengan kaca besar menghadap ke pemandangan gedung-gedung di Pondok Indah.
[Camelia’s POV]
*Hmmm, gimana ya aku harus ngomongnya ke Bunda* pikiranku kalut, teringat lagi tentang karyawan Bunda yang tidak sengaja aku lihat memiliki aura berwarna hitam. Aku takut dengan memberitahu Bunda malah membuat hubungan profesionalnya menjadi tidak baik. Tapi aku akan lebih merasa bersalah lagi jika aku diam dan sesuatu yang buruk terjadi.
Aku memandang ke arah kaca besar yang tembus dengan pemandangan keramaian Pondok Indah. Sambil menimbang-nimbang dan menyusun kata untuk memberitahukan Bunda tentang apa yang terjadi. Tiba-tiba, suara Bunda mengagetkanku
“Eh Mel, tadi Bunda pesen roti bakar juga, mau ya?”
“Mau kok Bunda” Aku membalas tawarannya sambil tersenyum. Bunda mulai duduk di depanku dan memasukkan struk dan kartu setelah selesai membayar untuk kopi kami berdua. Aku masih belum bisa menemukan momen yang pas untuk tiba-tiba mengatakan hal yang serius mengenai karyawan Bunda.
Aku terjebak dalam lamunanku, memikirkan segala kemungkinan yang terjadi kepada Bunda, apa hal jahat yang akan dilakukan oleh karyawan itu? Kan ia cuma karyawan, Bunda lah bosnya, dan ini bukan perusahaan, tapi yayasan.
Lagi, lamunanku buyar setelah Bunda melambaikan tangan tepat di depan wajahku dan tatapan ku yang kosong telah kembali ke dunia nyata
“Mel, Ada apa sih? Bunda lihat bengong terus. Tiba-tiba ngajak minum kopi. Kamu nggak biasanya begini” Bunda mulai menyadari gerak-gerikku yang aneh.
“Bun, segimanapun anehnya apa yang Amel ceritain, Bunda akan percaya atau nggak?” Aku ragu menyampaikan apa yang aku lihat, tapi aku mengumpulkan keberanian karena takut terjadi apa-apa dengan Bunda.
“Emang seaneh apa sih, Mel?” Bunda menatapku serius
“Ya, dengerin nggak?” Aku memastikan kalau apa yang aku katakan tidak akan menjadi angin lalu untuk Bunda.
“Janji, Bunda dengerin” Bunda menjulurkan jari kelingkingnya, untuk menunjukkan keseriusannya.
“Okay, Bunda. Bunda inget waktu aku dijambret di depan Cafe Vianue?” Aku memulai diskusi ini
“Inget, kenapa Mel?” Fokus Bunda sudah seratus persen menuju ke arahku. Namun, nyaliku malah semakin ciut untuk mengatakan apa yang aku lihat.
“Fyuh…” Aku menarik nafas panjang untuk melanjutkan kata-kataku
“Aku lihat warna di atas kepala penjambret itu berwarna hitam, warna itu juga aku lihat tadi di atas kepala karyawan Bunda” Aku menunduk
“Hmm...Okay, jadi maksud Amel, seharusnya ada sesuatu yang salah yang akan dilakukan oleh karyawan Bunda?” Bunda menangkap maksudku
Aku diam, membiarkan Bunda memikirkan sepenuhnya tentang karyawan yayasan itu. Aku sedikit merasa bersalah karena bersikap seperti seorang pengadu. Bagaimana kalau aku yang salah kali ini? Bagaimana kalau akhirnya karyawan itu dipecat karena aku?
Bunda mulai termenung, kali ini suasana di Kopi Aeropress menjadi sedikit lebih sepi. Kami berdua berada di meja yang sama, tapi Bunda tidak mengeluarkan satu katapun.
“Tadi, Bunda itu buru-buru, Mel. Bunda dapat sms dari Ayah, dan langsung nggak mau dengar apa yang dibicarakan karyawan Bunda. Jangan-jangan karena itu ya Mel” Bunda mengaduk kopinya sambil berbicara tentang kejadian di dalam kantor yayasan tadi.
“Emang Bunda di sms apa sama Ayah? Sampe Bunda langsung nggak lanjutin apa yang Bunda kerjain?” Aku bingung, tidak biasanya Bunda begitu. Kadang, kalaupun aku yang telfon, Bunda tidak akan pulang ke rumah sampai hal itu benar-benar urgent.
“Okay, sekarang gilirannya Amel yang dengerin Bunda ya…” Bunda menatapku, menaruh sendok yang dipakainya sedari tadi mengaduk, dan mengabaikan kopi yang ia perhatikan dari tadi.
“Eh tapi, Bunda udah tahu belum jawabannya? Ada yang salah nggak dari gerak-gerik karyawan Bunda tadi?” Aku menanyakan ulang, mengkonfirmasikan barangkali apa yang aku duga benar.
“Itu kita pikirkan nanti, sekarang Bunda mau cerita tentang sms Ayah” Bunda menggenggam tanganku dan mulai bercerita…
[Bunda’s POV]
Aku kaget, tiba-tiba Amel mengatakan kalau ia melihat warna hitam di kepalanya karyawan yang tadi aku temui di kantor yayasan. Padahal aku tidak menaruh curiga apapun kepada karyawanku, hal itu membuat aku berpikir ulang apa ada yang salah dari diskusi aku dengan karyawanku tadi.
Aku sadari, bahwa Amel sepertinya tanpa perlu aku jelaskan sudah bisa menalar kalau warna hitam itu adalah warna yang berarti buruk.
Aku berulang kali mencoba menelusuri kejadian sebelumnya antara aku dengan karyawanku. Apa ada kata-kata yang salah yang aku ucapkan sehingga dia menjadi punya niat yang buruk kepadaku?
Aku bercerita kepada anakku kalau sms dari suamiku membuat konsentrasiku atas pekerjaan terasa buyar. Kali ini, untukku sms itu begitu penting karena terkait dengan kejelasan keadaan Amel. Anakku bertanya, apa isi dari sms itu, dan aku merasa sepertinya ini adalah waktu yang tepat untuk menceritakan apa yang ayahnya katakan tentang arti warna yang dilihat.
“Mel, tadi Ayah sms Bunda. Kata Ayah, intinya kalau warna yang Amel lihat itu adalah warna hitam, itu berarti artinya jahat, atau buruk”
Aku bisa melihat raut wajah anakku yang kebingungan mendengar apa yang baru saja aku sampaikan. Dia langsung menyahut
“Bun, berarti bener kata Amel. Ada sesuatu sama karyawan Bunda yang tadi!”
Aku langsung meraih hpku, mulai berusaha menelpon yayasan. Apa ini? Apa yang akan terjadi padaku atau yayasanku? Apa niat yang disembunyikan oleh karyawanku itu?
Tiba -tiba aku menerima pesan singkat melalui chat
Pak Azmi- PT Adidarma Tbk
“Siang Bu, kami sudah menerima kontrak yang Ibu Amy tandatangani dan kami akan lanjut proses pembayaran untuk donasi ke Yayasan yang Ibu pimpin, ya”
*Haruskah aku membalas jangan dulu? Aku tidak tahu apa tetapi pasti ada sesuatu yang aneh dengan kontrak yang baru saja aku tandatangani* Aku bimbang, pasti kalau aku tiba-tiba meminta kontrak itu kembali, aku akan terlihat kurang professional.
Aku langsung membalas chat itu
“Siang Pak Azmi, boleh saya mampir ke PT Adidarma terlebih dahulu sebelum saya mendapatkan donasi dari perusahaan? Supaya kita sama-sama saling menjaga ekspektasi dan hubungan baik” Aku berkilah kalau aku ingin bertemu dengan alasan yang sungguh diplomatis. Padahal, ini karena aku masih memikirkan di bagian manakah kontrak itu dapat berakibat buruk untukku dan yayasan.
Pak Azmi- PT Adidarma Tbk
“Baik bu, minggu depan jam 3 sore saya jadwalkan kunjungannya ya Bu Amy”
*Fyuuhh* aku langsung menarik nafas panjang dan dalam setelah berhasil melalui sesuatu yang dicurigai sebagai hal yang buruk.
Tapi apa sebenarnya yang dilakukan karyawanku?
Bagaimana kalau kali ini Amel yang salah sangka?
"Bun, gimana bun? kemana orang itu? Apa yang dilakukannya kepada Bunda? kepada Yayasan? Bunda baik-baik saja?" Anakku menghujaniku dengan banyak pertanyaan.
Apakah benar aku baik-baik saja?