Mobil berwarna putih itu masuk ke parkiran basement Mall, dengan warna yang mengkilap mampu menyihir pengunjung PIM kala itu. Walaupun berada di daerah Pondok Indah, tetap saja lapisan sosial yang berbeda-beda memuat banyak mata tertuju pada Mercedes CLS Class yang disetir oleh wanita cantik itu, Amy. Sementara di sebelahnya, terdapat gadis muda yang tidak kalah cantiknya, hanya tidak terlihat sedewasa itu.
Wajah wanita tersebut sangat bersih, tidak terlalu muda, namun juga tidak terlalu tua. Pas, dewasa dan anggun, dengan dandanan yang minimalis tetapi terlihat bahwa bahan dari apa yang ia kenakan tidak sembarangan kainnya.
“Pak, parkir basement masih ada nggak?” Ujar wanita itu menurunkan kaca mobil untuk memanggil seorang tukang parkir di dekat pengambilan karcis parkir.
“Ada bu, apa tidak tertarik valet?” Tukang parkir tersebut menawarkan jasa valet untuk membantu Amy memarkirkan mobilnya.
“Oh iya, tolong valet saja ya mas” Amy dan gadis muda di sebelahnya, Camelia, turun dari mobil yang dari tadi menjadi bintang di pintu masuk Mall tersebut. Amy segera memberikan kunci mobil disusul dengan tiket valet yang diberikan oleh tukang parkir tersebut. Sementara , Camelia sibuk memperhatikan apa yang ada di atas kepala tukang parkir tersebut. Sampai- sampai, tukang parkir tersebut canggung dan menundukkan kepalanya.
Amy menyadari hal tersebut dan langsung membuyarkan konsentrasi Camelia dengan bertanya
“Mel, kenapa? ada yang ketinggalan?” membuyarkan lamunan Camelia atas penglihatannya ke Tukang Parkir yang membantu mereka
“Eh nggak apa-apa bun, santai aja. Mas, titip ya “ Senyum manis keluar dari bibir Camelia dan mulai menggenggam lengan Amy, Bunda-nya.
Mereka berdua berjalan menuju pintu lift untuk masuk ke dalam Mall. Karena hari itu adalah hari yang bertepatan dengan waktu orang-orang gajian, maka tidak heran bahwa keadaan Mall itu sangat ramai dan sesak.
“Bun, hmmmm, lumayan ya “ Camelia memberikan sinyal-sinyal tidak sabar menunggu kedatangan lift kepada Amy, yang dari tadi masih tersenyum simpul dan berusaha bersikap ramah dengan pengunjung lainnya.
“Sabar anakkuuu. Kan ini bukan Mall milik kita.” Amy menepuk bahu anaknya, Camelia.
[Camelia’s POV]
Sepanjang perjalanan menuju Mall, pikiranku tidak berhenti membayangkan tentang warna yang aku lihat di atas kepala karyawan Bunda. Apakah yang akan terjadi sekarang?
Aku mengingat momen dimana aku melihat warna hitam tersebut diatas kepala orang yang ternyata berakhir merampas hpku, tapi apa benar ada sesuatu dibalik warna yang aku lihat?
Sudah berkali-kali aku berusaha menghubungi Ayah, namun tidak ada jawaban apapun dari Ayah. Aku sedikit merasa bersalah karena telah menduga yang tidak-tidak kepada karyawan Bunda --yang kebetulan kulihat warna hitam di atas kepalanya.
Saking aku dilanda penasaran yang tinggi, aku sampai di titik dimana aku memperhatikan dengan seksama warna yang aku lihat dari tukang parkir yang hendak membantu memarkirkan mobil kami melalui valet service. Aku melihat warna putih, tidak hitam seperti karyawan Bunda sebelumnya. Bahkan, aku sangat serius dan membuat tukang parkir tersebut tidak enak hati, membuatku juga merasa bersalah.
*Putih, hitam, Ah makin membingungkan saja semua ini* ujarku dalam hati.
Kami langsung melenggang masuk kedalam Mall melalui lift, dan hari itu sangat ramai sekali. Keramaian itu membawa banyak warna yang sangat membingungkan untukku, bercampur semuanya, dari mulai bapak-bapak dengan jas hitam yang di atas kepalanya berwarna ungu, mas-mas dengan baju flanel yang di atas kepalanya berwarna putih, anak kecil laki-laki dengan jaket jeans yang di atas kepalanya berwarna putih. Ah, sungguh membingungkan dan berbagai macam warna aku lihat dalam satu waktu dan di satu tempat.
Aku semakin menerka-nerka apa maksud dari warna-warna itu, sebelum akhirnya aku dibuat pusing sendiri dengan banyaknya warna yang aku lihat. Aku memberikan sinyal bahwa aku tidak sabar kepada bunda, yang ditanggapi berbeda. Rasanya tidak mungkin aku bilang kalau aku tidak nyaman karena banyaknya warna yang aku lihat.
Tapi yang membuatku merasa aneh. Mengapa tidak ada yang berwarna hitam seperti apa yang aku lihat tadi di atas kepala karyawan Bunda? Padahal aku sudah bisa melihat warna putih tiga kali -- satu di atas kepala tukang parkir, dan dua lagi pengunjung mall yang mengantri lift denganku.
*Sepertinya aku harus cari tempat yang nyaman untuk bicara tentang ini bersama Bunda* pikiranku dan hatiku bergejolak, sepertinya ada yang tidak beres dengan karyawan itu.
“Bunda, gimana kalau kita sebelum beli hp, ngopi dulu? Aku belum tahu mau beli apa, nanti browsing dulu di hp Bunda ya mau lihat video review nya” Aku berkilah bimbang atas pilihan hpku
“Loh, katanya mau iphone?” Bunda terheran-heran dengan aku yang tiba-tiba bersikap berbeda
“Ya siapa tau ada yang lebih keren, Namanya juga anak muda bun” Aku terkekeh dan aku bisa melihat bunda menahan tawa
“Oke siap, kita minum di Kopi Aeropress ya” Bunda yang sudah fasih dengan tata letak PIM mengajak aku untuk masuk lift dan menekan lantai 3A.
Ramai sekali di dalam lift ini…
Aku berusaha menundukkan pandanganku karena tidak ingin melihat warna-warna diatas kepala orang-orang lain. Cukup!
Aku tidak ingin makin bingung.
[Bunda’s POV]
Ada yang aneh dengan anakku. Tadi, saat aku memutuskan untuk mengambil valet service agar tidak perlu repot memarkirkan mobilku, aku menangkap kejanggalan dari dirinya. Tiba-tiba, anak itu melamun menatap bagian atas kepala Tukang parkir, yang membuatku tidak enak hati karena membuat Tukang parkir itu canggung.
Sampai kami sudah berada di depan lift untuk menunggu giliran kami masuk dan naik ke dalam mall, Anakku tetap mengeluarkan gelagat yang aneh. Dia bersikap seperti anakku yang biasanya -- manja, tapi suka melamun dan seperti berpikiran kemana-mana.
*Apa ini ada kaitannya dengan yang suamiku w******p tadi?* Aku menaruh curiga, jangan-jangan ada yang salah.
Benar, sepertinya anakku ingin membicarakan sesuatu. Dia tidak langsung meminta untuk segera diberikan hp, melainkan dia minta kami berdua minum kopi terlebih dahulu. Alasannya, ia masih belum tahu apa yang ingin dibeli, padahal kemarin dia dengan lantang mengucapkan bahwa dia ingin iphone.
*Ah, mungkin aku saja yang banyak negatif thinking* Aku menepis segala dugaanku terhadap kondisi anakku. Tetapi ketika aku mulai menengok ke arah anakku di tengah keramaian lift, anakku tidak memandang kedepan, melainkan menunduk, melihat lantai-lantai.
*Aku harus segera memberitahukan anakku tentang pesan dari Ayahnya!*
Aku menunggu lift sampai ke lantai yang kami tuju, dan mulai menggenggam tangan anakku. Sekelilingku benar banyak sekali orang, dan tidak biasanya anakku diam saja di dalam lift yang ramai sekalipun. Kali ini, dia masih saja menunduk, memainkan kakinya, ada apa sebenarnya nak?
*Ting,* Suara lift menandakan kalau kami telah sampai di lantai yang kami tuju. Aku menggengam tangan anakku, menariknya keluar dari kerumunan orang di dalam dam di luar lift, menuntunnya untuk menuju Kopi Aeropress.