[Bunda’s POV]
Aku mengarahkan mobilku keluar dari basement, sebelum akhirnya tancap gas ke arah Cipinang. Mau bagaimana lagi, tanggung jawab tetaplah tanggung jawab, aku harus melakukannya.
Awal mula aku berkecimpung di yayasan ini adalah sebuah hal yang tidak sengaja. Aku dan teman-temanku senang berbagi, dari awalnya kami tiap bulan mengadakan arisan mewah yang jelas tidak membuat kami semakin kaya lalu aku arahkan berbagi ke sesama. Arisan dulu bermacam-macam bentuknya, pernah dollar, pernah emas batangan, pernah berlian, tapi namanya juga arisan, pada akhirnya tempat arisan kami di cafe yang elit-elit tersebut kadang juga tidak ada untungnya, menjadi ajang pamer sosialita saja.
Aku mengarahkan geng sosialita itu juga pelan-pelan. Pertama dimulai dari giliran arisanku, sebelum mulai acara aku datangkan dulu ustadz dan anak yatim, lalu makan bersama di kediamanku. Sudah, ku panggil semua katering yang enak dan juga merek kopi kekinian. Betah dan senang semuanya.
Begitulah, akhirnya semua satu per satu mulai tergerak hatinya dan berhenti menyombongkan harta melalui arisan. Semakin lama dan semakin banyak uang yang kami kelola dan tempat yang kami sambangi, Mas Rasyid, suamiku, membantu dan memberi saran untuk membentuk yayasan. Akhirnya, kumpul-kumpul bulanan kami sekarang berada di kantor yayasan atau melakukan bakti sosial, sederhana tapi bermakna.
Aku melirik anakku yang sedari tadi diam tanpa suara, mungkin Amel masih ingin berusaha menerima apa yang telah terjadi. Diamnya Amel membuat rasa bersalahku luntur, tergantikan dengan fokusku akan perjalanan yang cukup panjang.
Tiba-tiba aku mendengar anakku berbicara
“Bun, kalau warna hitam dan putih artinya apa?”
Aku terdiam, pura-pura tidak mendengar anakku yang bertanya. Jujur, aku tidak punya jawabannya, tetapi kalau aku bisa menjawab bukannya anakku akan semakin khawatir.
*Bukannya tadi anakku habis menangisi hal itu? Berhubung aku tidak punya jawabannya lebih baik aku diam saja deh* aku berkata dalam hati.
Sepertinya, anakku bisa membaca gerak-gerik pura-pura diamku yang aneh, dia langsung berkata lagi
“Bunda, nggak tahu ya?”
Aku tersenyum canggung
“Bunda rasa, lebih baik kita tunggu ayah mel, Bunda juga cuma dijelaskan sedikit banget sama ayah...bukannya Bunda nggak mau jawab mel”
“Iya, nggak apa-apa bun. Aku pinjem hp ya bun” Amel meraih hpku
“Iya, bunda fokus nyetir dulu, amel kalau mau pakai boleh-boleh aja” Aku kembali memindahkan pandanganku ke arah jalan.
Fokus dengan perjalanan itu, aku tidak sadar kalau ternyata anakku sedang menelpon menggunakan hpku
“Eh mel, telpon siapa?” Aku kaget, hanya beberapa saat aku tidak ajak bicara, hpku sudah berada di telinganya.
"Telpon ayah bun" Amel menjawab
"Okay semoga ayah jawab" Aku biarkan anakku mendapat penjelasan dari ayahnya sendiri. Walaupun sebenarnya aku tahu kalau pasti ujungnya suamiku pasti tetap tidak akan pulang secepat itu.
[Camelia's POV]
Aku masih sendu dalam pikiranku sendiri, sebenarnya apa yang terjadi?
Berkali-kali aku berusaha menanyakan apa yang aku ingin ketahui tentang penglihatanku ini ke Bunda. Tapi, aku rasa selama ini Bunda juga sama seperti aku, bimbang, bingung, dan tidak tahu apa ini.
*Kayaknya aku nggak akan dapat jawaban apapun deh dengan nanyain Bunda, aku sudah berkali-kali berusaha tanya tapi Bunda juga nggak bisa jawab* kataku dalam hati
*Mungkin benar kata Bunda kalau aku seharusnya bertanya ke Ayah*
Aku langsung meraih hp Bunda, meminta izin meminjam hpnya.
Aku tekan beberapa nomor, berusaha menelpon Ayah lagi dan lagi-- dari nomor hp, nomor kantor, maupun w******p, semuanya coba aku telpon
*Kok nggak nyambung sih* aku mulai kesal dalam hati
“Mel, telpon siapa?” Suara bunda mengagetkanku
“Ini telpon Ayah, bun” Aku menjelaskan bahwa aku berusaha menelpon Ayah.
Bunda kembali fokus melihat jalan, dan aku tetap fokus kembali menelpon Ayah. Aku tidak tahu sekarang jam berapa disana atau Ayah sedang apa disana, pokoknya aku mau kontak Ayah!
*Telepon yang ada tuju sedang sibuk* Nada operator ini kudengar berkali-kali, tidak kunjung bisa aku mendengar suara Ayahku untuk mendapatkan penjelasan. Akhirnya, aku mematikan tombol call dan kembali ke lamunanku.
“Udah deh..ini bun hpnya, makasih ya bun” Aku kembalikan hp itu ke tas bunda
“Gimana mel, bisa?” Bunda kembali memperhatikan aku yang dari tadi bersikukuh menelepon Ayah
“Nggak bisa bun, pasrah aku” Nadaku menunjukkan kekecewaanku. Aku langsung merasakan tangan Bunda mendarat di kepalaku, diiringi dengan elusan lembut khas tangan Bunda.
“Sabar mel, nanti juga Ayah pulang” Bunda coba menenangkan aku
*Tapi kapan?* Aku berteriak dalam hati, kok bisa dalam keadaan seperti ini Ayah tidak pulang untukku.
Tidak lama, kami sudah memasuki daerah Jakarta Timur, Bunda memang sedari tadi sudah ngebut. Sepertinya memang Bunda mengejar sesuatu di kantor Yayasan. Aku harus maklum, menemani urusanku itu memang memakan waktu, padahal umurku ini sudah bukan anak kecil yang perlu ditemani. Tapi, perhatian Bunda yang seperti ini cukup membuatku senang.
“Mel, nanti Bunda kalau sudah sampai Yayasan, Amel mau tunggu di mobil atau mau ikut turun aja?” Bunda mulai jalan lebih pelan karena kami sudah mendekati tempat tujuan
“Bunda lama?” Aku merapikan tas Bunda, dan mengambil laptop Bunda yang berada di kursi belakang
“Nggak, Bunda sebentar aja mungkin 15 menit” kali ini kami sudah sampai di depan kantor Yayasan, dan bunda mulai memarkirkan mobil.
“Amel di dalam mobil aja bun.” Aku mendekati tas dan laptop Bunda kesamping tempat aku duduk, agar Bunda mudah untuk meraihnya.
“Okay, Bunda nggak matiin ya mobilnya” Bunda meraih tasnya dan keluar dari mobil, lalu menyapa karyawan dan satpam Yayasan yang berada di depan kantor.
Aku mulai menyandarkan kursi sampai dudukku berubah posisi menjadi setengah terlentang. Aku memandang langit-langit mobil yang dilengkapi sunroof, membuat aku dapat melihat pepohonan yang rindang dari dalam mobil. Melihat buah-buah, dan burung-burung hinggap di pohon itu membuat aku melamun dan lebih banyak mengkaji perihal peristiwa yang sedang aku alami.
Rasa kantuk mulai hinggap di diriku dan aku mulai sedikit-sedikit memejamkan mata, sehabis menangis, rasanya berat bagi mataku untuk tetap terjaga. Dan Aku tertidur saat menunggu Bunda.
[Bunda’s POV]
Aku langsung turun buru-buru sesaat setelah aku sampai di kantor Yayasan. Semoga saja aku tidak telat untuk menandatangani dokumen tersebut karena banyak sekali pihak yang terlibat di dalamnya. Aku biarkan Amel menunggu di dalam mobil sementara aku sibuk menyelesaikan urusan dan tanggungjawabku sebagai seorang ketua Yayasan.
“Eh bu Amy, bu ditunggu dari tadi” Budi, Satpam kantor kami menyapaku. Aku langsung melambaikan tangan dan disambut dengan karyawanku yang lain dengan wajah ketar-ketir dari timku. Aku sedikit berlari dan berlalu melupakan apa yang terjadi tentang anakku tadi.
“Bu Amy, selamat siang Bu, maaf saya ganggu jadi Ibu harus buru-buru kesini. Bu ini dokumennya harus di tanda tangani oleh Bu Amy ya bu” Map Biru diletakkan dihadapanku.
Aku membaca cepat segala draf perjanjian itu, dan mulai meminta karyawanku merevisi beberapa dokumen sebelum akhirnya ku tandatangani. Hanya beberapa hari tidak datang ke kantor dan kembali ke kantor, melakukan aktifitas seperti biasa terasa aneh untukku. Kursi kantor padahal tidak banyak berubah, dan mejaku juga rapi seperti biasanya, tapi ada sedikit rasa aneh menjalar di tubuhku.
*Sudahlah, mungkin ini sekedar perasaanku saja* Aku berhenti dan mengabaikan perasaanku yang aneh, dan langsung menandatangani semuanya tanpa menunggu karyawanku selesai dengan revisinya.
“Ada yang perlu ditandatangani lagi kah?” Aku memanggil karyawanku yang sibuk dengan kertas-kertas di hadapannya
“sebentar bu, ada satu lagi”
“Baik, sini saya tanda tangani” Aku meraih kertas di tangannya dan menandatangani dokumen-dokumen itu, dan aku langsung menepuk bahu karyawanku yang bekerja sangat giat untuk yayasan ini
“Mas, terima kasih ya atas keikhlasannya membantu urusan yayasan ini” Aku memberikan pujian dan rasa terima kasih kepada karyawanku yang bekerja keras hari itu. Tiba-tiba, aku langsung melihat matanya berkaca-kaca
“Bu, saya ingin bicara sesuatu” Tiba-tiba, suaranya bergetar.
Aku langsung serius menatap karyawanku itu, tetapi tiba-tiba ada sesuatu bergetar dari dalam tasku
*Drrttt Drrrtt*
Hubby
“Sayang, ada apa telepon? Mas lagi meeting tadi. Mungkin mas pulang lebih lama, bisa 3 minggu lagi baru pulang. Tolong bilang aja ke Amel, hitam itu artinya jahat”
Aku langsung buru-buru pergi dari karyawanku yang sedang berusaha berkata-kata, aku ingin bicara kepada Amel sekarang. Akhirnya, sudah mulai ada petunjuknya mel!
“Maaf, saya ada urusan mendadak mas.. saya pamit dulu ya” Aku berlalu dan keluar dari kantor yayasan itu, pergi menuju lahan parkir dan masuk kedalam mobilku. Aku bisa mendengar karyawanku yang terus menerus memanggilku dan mengejar langkahku. Tapi, rasa bahagiaku atas jawaban yang kuterima membuatku abai dengan masalah lain selain tentang Amel.
Aku langsung masuk ke mobil yang menyala dan tidak dikunci, dan melihat anakku tertidur dengan pulas selama menungguku. Ingin rasanya aku membangunkan, namun aku tidak sampai hati untuk membangunkannya.
Aku mulai memundurkan mobil, keluar dari lahan parkir. Amel terbangun dan mulai menegakkan sandaran kursinya dan melihat ke arah karyawanku yang melambaikan tangan.
“Bunda udah selesai? Aman bun?” Tanya anakku
“Aman, yuk ke PIM” Aku mulai tancap gas sementara Amel masih memandangi karyawanku yang melambaikan tangan kearahku.
[Camelia's POV]
Aku terbangun mendengar suara mobil yang terbuka tapi aku masih enggan membuka mataku. Setelah aku merasakan mobil ini bergerak, barulah aku membuka mata dan menegakkan sandaran kursiku.
Saat aku bangun, dari luar aku melihat karyawan Bunda melambaikan tangan dengan tatapan yang aneh. Aku juga bisa melihat warna di atas kepalanya itu, hitam.
Aku tiba-tiba terpikir momen dimana aku melihat seseorang dengan warna ‘aura’ yang sama dengan karyawan Bunda. Waktu itu, aku melihat warna hitam di kepala orang yang ternyata akhirnya menjambret hpku di pinggir jalan depan cafe Ambient.
Aku refleks bertanya kepada bunda
“Bunda udah selesai? Aman bun?” Aku memastikan
“Aman, yuk ke PIM” Bunda langsung tancap gas keluar dari parkiran yayasan, sementara karyawan Bunda masih berada di depan kantor dan melambaikan tangan.
Okay, mungkin ini perasaanku saja dan kebetulan saja warnanya sama-sama hitam. Selama Bunda bilang tidak apa-apa, pasti benar tidak apa-apa. Aku tidak boleh terlalu banyak berpikiran negatif terlebih kepada orang yang aku tidak kenal.
*Eh… tapi gimana kalau terjadi apa-apa nanti?* aku galau dan bimbang.