Camelia dan bunda berjalan keluar ruang poli, bersalaman dengan sang dokter yang memberikan senyuman hangat dan berkata
“Kalau ada apa-apa, chat aku dulu ya my” dokter itu, terlihat dekat seperti saudara mereka karena menggunakan panggilan akrab.
Sementara Camelia masih tertunduk lesu, sedih atas jawaban yang tidak didapatkan hari ini, tetapi tenang karena ternyata tidak ada hal serius yang terjadi padanya. Bahkan, dokter yang ia temui hari ini tidak percaya bahwa Camelia bisa melihat warna pula diatas kepalanya. Padahal, dokter itu adalah pamannya sendiri.
Mereka berjalan menjauh dari poli, mempersilahkan antrian pasien yang sudah menunggu lama. Bunda mengelus punggung Camelia yang sedari tadi terdiam membisu, memberi dukungan dan kasih sayang kepada anaknya yang sedang bingung. Berdua, mereka berjalan menuju meja kasir, untuk membayar sesi konsultasi dengan dokter di Rumah Sakit.
“Bun, om Yudhis nggak percaya sama Amel, bun. Bahkan waktu Amel bilang diatas kepala om Yudhis ada warna putih, om juga nggak percaya, malah ketawain Amel” Camelia melihat bunda-nya yang sibuk dengan dompet dan debit card.
“Mel, kita tunggu ayah aja yah, mungkin ayah yang lebih bisa cerita. Amel nggak usah sedih, om Yudhis kan cuma tahu dari buku, bukan pernah mengalami sendiri.” Bunda kembali mengelus anaknya yang dipenuhi rasa khawatir.
“Tapi, Amel harus gimana bun? Ini nggak mungkin selamanya kan?” Camelia berkaca-kaca
“Bunda nggak ngerti bahkan itu apa mel, bener deh, percaya sama Bunda, lebih baik kita tunggu ayah ya sayang” Bunda mengusap kepala anaknya, dan mengarahkan Camelia yang tertunduk lesu ke arah lift menuju basement.
[Camelia’s POV]
Sedih, berulang kali aku reka ulang kejadian yang terjadi kepadaku ke om Yudhis, tapi tidak ada yang didengarkan olehnya. Ia sibuk dengan map-map dan buku resep yang seolah-olah bisa menjadi jawaban atas apa yang aku alami, bukan malah mendengarkan aku yang sedang merasakannya.
Aku tahu mungkin ini tidak bisa diterima oleh nalar seorang dokter, tapi harus kemana lagi aku mencari jawaban atas apa yang mungkin menjadi penyakit di diriku. Kalau bukan dokter, mungkin aku akan ke dukun seperti orang zaman dulu
Aku mengerti arti genggaman tangan bunda yang keras di dalam kamar poli, bahwa sedetail apapun aku menjelaskan keadaannya, semua itu tidak ada gunanya. Seketika aku merasa sia-sia menghabiskan waktu untuk melakukan check mata di Rumah Sakit, aku pula merasa bersalah kepada bunda yang harus mengorbankan waktunya mengurus yayasan hanya untuk bersamaku sepanjang hari.
Aku menceritakan semuanya ke bunda sesaat setelah kami keluar dari poli mata, bunda terus menerus mengelus punggungku. Baiklah, mungkin tidak tepat untuk bicara ke om Yudhis, aku akan tunggu ayah saja.
Bahkan ketika aku memberitahu om Yudhis kalau warna di atas kepala-nya adalah putih, dia tidak percaya dan malah sibuk dengan kertas-kertas dihadapannya. Aku paham mungkin cara bicaraku tidak masuk akal, tapi aku benar-benar melihat semuanya. Om Yudhis kan dokter, masa tidak ada komen apapun?
“Jangan keseringan main hp ya mel” Pesan om Yudhis terngiang di kepalaku, apa jangan-jangan aku tergolong sering main hp? kayaknya aku lebih sering pemotretan daripada buka hp.
Bunda menggenggam tanganku, mengelus kepalaku dan mengarahkan aku menuju lantai basement.
*Sudah, kamu udah umur 23 mel, nggak boleh gampang sedih atau marah* Aku berusaha menenangkan diriku sendiri. Tapi, aku tidak sedih ataupun marah, aku hanya..bingung
Terlihat mobil Bunda yang paling mentereng di antara semuanya. Terkadang, aku ingin punya mobil biasa supaya terlihat seperti orang yang biasa-biasa saja, tidak perlu terlalu menonjol.
*Pip Pip Pip* suara mobil terbuka tidak lama sesaat bunda menekan kunci otomatis. Wangi woody bergamot, khas mobil mahal tercium seiring kami membuka pintu. Semua ini tetap tidak bisa menenangkan hatiku yang berkecamuk karena tidak mendapatkan jawaban atas apa yang terjadi.
“Bunda… apa aku akan terus mengalami ini? Gimana kalau nggak balik penglihatanku yang normal bun? Aku...Akuu…” Suaraku bergetar, tangisku pecah, aku memikirkan banyak hal yang macam-macam dan tidak ada yang positif sedikitpun. Sama sekali.
Bunda langsung memelukku yang menangis keras,
“Sayang, kita tunggu Ayah pulang aja yah, nanti kita tanya ayah… maksudnya ayah itu apa”
“Tapi Ayah nggak pulang pulang bun..” Air mataku mengalir lebih deras lagi dari yang sebelumnya, bukannya lebih tenang, tangisku semakin menjadi-jadi.
“Denger Bunda, kalau Amel nangis terus, mata Amel malah jadi nggak bisa pulih. Bunda akan terus bujuk Ayah supaya pulang lebih cepat. Sabar sayang” Bunda menepuk punggung dan mengusap aku yang menangis membasahi bajunya. Aku masih terisak dan mencoba menenangkan diri.
*Terima kasih karena Bunda sudah ada disini…* kataku dalam hati
[Bunda’s POV]
Pergi ke RS Mata Hati dan bertemu om Yudhis benar bukan sebuah keputusan yang tepat. Pantas saja, hatiku merasa tidak enak setelah mendengar anakku bersikukuh untuk memeriksakan dirinya ke dokter mata. Walaupun dokter spesialis mata itu adalah saudaraku sendiri, tetapi aku merasa kalau perihal ini bukan ranahnya dokter.
Aku tidak pernah mendengar sedikitpun penyakit yang spesifik menyebutkan penglihatan warna di atas kepala. Yang aku tahu, penglihatan rabun, berbayang, maupun tertutup kabut putih atau katarak. Mendengar suamiku yang mengatakan kalau warna itu hanya dapat dilihat di kepala laki-laki saja, membuat aku tidak habis pikir, kenapa harus laki-laki?
Logikaku tidak pernah bisa menerima kalau dalam dunia nyata, hal ini benar-benar terjadi. Tetapi melihat anakku yang selalu bertanya-tanya dan mulai khawatir dengan apa yang dia lihat membuat aku bertekad untuk mencari tahu jawabannya bagaimanapun caranya. Sampailah di saat aku melawan hatiku untuk menemui om Yudhis, mengantar anakku memeriksa apa yang dialami. Ternyata, benar perasaanku, kalau ke Rumah Sakit bukan jalan keluarnya.
Sesaat setelah kami selesai dari sesi konsultasi bersama om Yudhis, aku bersiap untuk berangkat menuju yayasan, untuk menyelesaikan dokumen-dokumen yang harus aku tanda tangani. Tapi, aku bisa melihat mata anakku berkaca-kaca lewat spion tengah. Tak lama, tangis anakku pecah dan aku berusaha untuk memeluk dan memberinya dukungan.
Anakku menangis dengan keras, ia mengkhawatirkan tentang keadaannya, apakah ini selamanya atau tidak.
*Mama nggak tahu nak…* hatiku berkecamuk, ingin aku bercerita kalau aku juga sama sepertinya, bingung dengan apa yang terjadi. Tapi aku tahu, dengan aku mengatakan seperti itu aku akan membuat anakku semakin sedih.
Yang keluar dari mulutku adalah ajakan kepadanya untuk menunggu ayah, karena pasti suamiku tahu apa yang terjadi sebenarnya.
Aku merasa sangat tidak berdaya, anakku menangis dipelukanku dan aku tidak tahu jawabannya. Hati seorang ibu tidak akan pernah bisa tidak hancur melihat anaknya meneteskan air mata.
*Aku harus telpon Mas! Mas harus pulang sekarang!* Aku membara bertekad dalam hati, tanpa kupikirkan suamiku dan pekerjaannya, pokoknya yang terpenting untukku adalah keadaan Camelia.
Aku berusaha meraih hpku, tapi aku tiba-tiba mengurungkan niatku. Aku harus lebih tenang, lebih tenang dari anakku yang sedang kalut.
“Sayang...Bunda boleh ke Yayasan sebentar?” Aku melepaskan pelukan erat itu sesaat setelah air mata anakku mulai berhenti. Mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk menyampaikan terkait pekerjaanku. Tapi sungguh, ini juga tanggung jawabku dan ini diburu waktu.
“Nggak apa-apa bun.. kita sore ke PIM juga nggak apa-apa” Camelia menyeka air matanya, dan mulai lebih tenang dibandingkan tadi.
*Something about you* Hpku berdering lagi, aku lihat itu adalah nomor kantor yayasanku. *Okay sebentar dong semuanya, aku kan hanya satu* jawabku dalam hati.
“Halo, iya iya menuju kesana” Aku mengangkat telpon, menjawab kepada karyawanku yang mencariku.
Aku menyalakan mobil dan keluar dari parkiran basement, mengarahkan mobilku menuju yayasanku. Sangat berbeda jauh dengan arah menuju Pondok Indah Mall. Paling tidak, aku sudah mendapatkan restu dari anakku.
Maafin bunda ya nak…
Bunda masih saja memikirkan pekerjaan di keadaan seperti ini..