“Pak Prabu, hari ini saya nyetir sendiri saja yah. Kita mau nyalon” bunda Camelia memberi instruksi pada Pak Prabu yang sudah siap membuka pintu depan.
“Hah..Bun?” Camelia bertanya-tanya, sepertinya ini bukanlah rencana awalnya yang ingin pergi ke rumah sakit mata dan membeli handphone baru.
Bunda mengedipkan mata, dan Camelia paham mungkin ini keinginan bunda untuk berdua saja.
"Pakai mobil saya aja pak Prabu, tolong keluarin ya" bunda memberikan kunci Mercedes CLS Class miliknya. Berbeda dengan Camelia yang menggunakan Alphard dan selalu disupiri oleh Pak Prabu. Bunda memilih sedan berwarna putih mutiara yang kemewahannya sudah terlihat dari jauh. Walaupun begitu, bunda bukan seseorang yang terbiasa disopiri, semua selalu sendiri.
"Oke siap grak!" Pak Prabu terkekeh, membuat bunda dan Camelia tertawa.
Terlihat Mercedes Benz CLS Class berwarna putih melenggang dari garasi. Tak lama, Pak Prabu turun dan mengembalikan kunci kepada bunda. Camelia dan bunda tersenyum hangat dan langsung pergi keluar rumah, meninggalkan Pak Prabu dengan pagar terbuka.
Dari dalam mobil, Camelia memulai pembicaraan.
"Bun, tumben banget kita berduaan gini nggak sama Pak Prabu. Ada apa sih bun?" Camelia melihat ke arah bunda yang sedang fokus memperhatikan jalan.
"Mel, bunda pengennya hari ini khusus kita berdua aja, nggak perlu ada orang lain" Suara yang lembut dan tenang dari bibir bunda membuat Camelia lebih tenang, walau akhirnya Camelia hanya membalas tertawa.
"Tapi bun, Pak Prabu bukan orang lain tau!" Camelia terkekeh
Bunda menggelengkan kepalanya sambil tertawa keheranan dengan tingkah anak gadisnya itu. Tidak terasa, mereka sudah berada di tengah perjalanan menuju RS Mata Hati.
"Bun, bunda udah telpon RS nya kan?" Camelia mulai menekan hp bunda, bersiap jika bunda menjawab tidak
"Udah mel, tapi bunda nggak bilang sama om Yudhis kalau kita mau dateng" Bunda masih fokus dengan jalanan di sekitaran Pasar Minggu.
"Ah, okay, nggak apa-apa justru itu yang Amel mau" Camelia menaruh kembali hp milik bunda yang sedari tadi dimainkannya.
[Camelia's POV]
Saat ini tiba.
Waktu dimana aku akan mungkin saja mendapatkan jawaban mengapa dan apa yang terjadi dengan penglihatanku. Aku sebenarnya memikirkannya terus menerus tentang macam-macam kemungkinan. Sepanjang perjalanan aku hanya bisa berdoa dan berharap kalau aku baik-baik saja.
Pertanyaan di kepalaku mulai muncul,
*Bagaimana jika benar yang dikatakan bunda?*
*Apakah aku akan mengalaminya lagi?*
*Sakit apa aku ini?*
*Apa arti dari penglihatanku yang tiba-tiba hilang?*
*Kalau nanti terjadi lagi, aku harus gimana?*
Semakin banyak melamun aku semakin banyak berpikir hal-hal yang tidak-tidak, aku langsung menepis dengan kembali melihat jalanan Jakarta.
Saat tiba waktunya berangkat, bunda bilang kalau hari ini adalah hari kami berdua dan tidak ingin ada orang lain. Jadilah Pak Prabu praktis tidak menyetiri kami hari ini. Aku rasa dengan bunda yang menyetir sendiri membuat obrolan kami tidak efektif, karena bunda pasti fokus melihat jalanan.
Ya Sudahlah, mungkin ada sesuatu yang rahasia yang ingin bunda bicarakan. Kita jadi lebih leluasa membicarakan hal-hal yang sepatutnya hanya diketahui berdua.
Aku memulai obrolan ringan dengan bunda untuk basa-basi. Kami berada di mobil berdua tapi hanya diam saja. Sebenarnya apa yang ingin diutarakan sampai kami harus berdua saja seperti ini?
Ah, aku akan menikmati diam ini. Mungkin setelah waktu yang pas di Mall aku akan mulai berbicara. Sekarang aku harus fokus, bersikap tenang dan mengingat apa yang terjadi. Pasti om Yudhis akan menanyakan beberapa pertanyaan untuk menuliskan indikasi. Tidak mungkin aku bilang kalau aku lupa.
[Bunda's POV]
Hari ini aku memutuskan untuk berangkat menyetir sendiri tanpa bantuan Pak Prabu. Pertama, aku merasa hal-hal yang terjadi akhir-akhir ini cukup personal dan aku harap ini hanya diketahui oleh aku dan anakku saja.
Kedua, bukankah lebih enak memiliki kebebasan untuk pulang dan pergi sepuasnya tanpa menunggu atau ditunggu orang lain? Aku juga ingin momen ini lebih berkualitas untuk aku dan anakku.
Amel sudah bersikap seolah bingung atas keputusanku. Dia berpikir mungkin aku akan mengajaknya pergi ke tempat yang aneh atau berbicara hal-hal yang mengagetkan. Apakah menginginkan waktu berdua dengan anak adalah sebuah hal yang aneh? Tidak kan. Jadi aku rasa aku akan melakukannya walau terlihat tidak wajar dan aku gengsi mengatakannya.
Tidak terasa kami berdua sudah sampai di RS Mata Hati, aku langsung ke bagian administrasi untuk mengambil nomor urut, walaupun sudah aku telpon RS ini, nomor urut tetap diambil saat datang. Amel pergi untuk membeli minum untuk kami berdua dan aku menunggu di ruang tunggu sambil menunggu giliran kami dipanggil.
Bau rumah sakit, seperti bau desinfektan pada ruangan, dan juga bau obat. Semoga anakku tidak perlu sampai di opname atau melalui operasi apapun.
Sambil menunggu aku berdoa dalam hati,
*Ya Allah, ampuni dosa-dosaku dan dosa anakku, permudah segalanya untuk mengetahui kebenaran*
*SRKKK* tiba-tiba ada suara kursi yang diduduki dengan tergesa-gesa disebelahku. Saat aku menghadap ke sisi kananku, ternyata itu Camelia, kembali membawa dua buah minuman.
“Hey Bun, serius banget. Ini aku bawain minuman yaa. Buat aku Brown Sugar bubble tea dong, buat bunda caffe latte aja” Camelia memberikan segelas kopi favoritku.
“Lupa nggak susunya diganti jadi soy milk?” Aku bertanya
“Nggak lupa Nyonyah” Camelia menjulurkan lidahnya, meledek aku. Hubunganku dengan Camelia memang sedekat itu sehingga kadang banyak mata tertuju pada kami berdua karena dianggap keterlaluan dalam bercanda. Tidak masalah, hal ini membuat aku dekat dengan anakku walau kita jarang menghabiskan waktu bersama.
*Something about you* *Ringtone* hpku berdering tiba-tiba. Ah, ternyata dari yayasan yang menelpon aku, baiknya aku angkat karena sudah lama aku mengabaikan pekerjaan yayasan.
"Selamat Pagi Bu Amy" suara itu keluar sesaat aku angkat telponnya.
Okay, inti dari telpon ini adalah urusan yayasan dan kerjasamanya dengan perusahaan baru. Sebagai ketua yayasan, aku harus menandatangani dokumen-dokumen pengesahan kerjasamanya.
"Kapan terakhir saya harus tanda tangan?" Aku bertanya kepada lawan bicaraku
"Siang ini bu, jam 2" Karyawanku menyahut.
Waduh, kalau seperti ini bisa kelewatan. Tapi kan aku sedang menunggu di Rumah Sakit bersama Amel. Kalau aku tiba-tiba pergi mengurus yayasan, pasti aku menyakiti hati Amel. Walaupun sebenarnya anakku ini sudah biasa jika aku tiba-tiba pergi, tapi aku merasa tidak pantas untuk meninggalkannya disaat seperti ini.
"Baik, dokumennya berada dimana sekarang?" Aku berusaha tenang
"Dokumennya di kantor bu" Karyawanku dengan suara bergetar
Aku menarik nafas panjang, berpikir bagaimana aku bisa ke kantor secepat mungkin sesaat setelah check-up selesai. Aku berusaha mengkalkulasikan waktu di pikiranku dan mengabaikan Amel yang sedari tadi mondar mandir karena gugup. Baik, kira-kira 45 menit dari sekarang kalau keadaannya tidak macet, aku bisa sampai ke Cipinang, area kantorku. Sekarang padahal aku berada di Pondok Indah, bisa dibilang 22.5 km jaraknya. Aku menggenggam tangan dan berdoa semoga saja sesi dengan dokter ini cepat selesai. Aku merasa bersalah disaat seperti ini malah memikirkan pekerjaan dibanding anakku. Maaf ya mel…
"Nomor 3, Camelia silahkan masuk" Suster keluar dari poli pengecekan memanggil anakku. Akhirnya kami dipanggil juga, kira-kira om Yudhis responnya seperti apa ya? Aku terkekeh membayangkan responnya.
Kami berdua masuk ke poli mata dan langsung disambut dengan senyum dari suster. Om Yudhis sibuk dengan buku resep dan profil anakku, dia membuka isian map berisi berat badan, dan tinggi badan anakku.
Lalu dia menghadap ke kami dan tertawa
"Eh my! Kok nggak bilang kesini, pantes kok aku kayak kenal sama namanya, ternyata keponakanku toh!" om Yudhis terkekeh dan memelukku.
"Iya nih si Amel, tolongin ya om, kebanyakan jadi foto model takut ngefek ke matanya" Aku sedikit menutupi kejadian sebenarnya, membiarkan nantinya Amel yang memutuskan untuk bercerita atau tidak.
"Om Yudhis, gimana nih mata aku tolongin dong" Amel tersenyum dengan giginya, ia langsung mengadu ke om Yudhis.
"Kenapa sih emangnya? Sini di check dulu minus sama silindernya ya" om Yudhis mengarahkan Amel untuk duduk di alat test mata.
Selama berada di dalam dan berkonsultasi, aku sedikit demi sedikit melirik ke arah jarum jam.
*Aman aman, duh bukannya dengerin Amel sama om Yudhis malah mikirin kerjaan* aku merasa bersalah dan langsung kembali memutar fokusku ke Amel dan om Yudhis.
"Amel aman kok mel, nggak ada silinder ataupun minus mel, emang apa yang dirasain selain pantulan warna?" om Yudhis mulai bertanya kepada anakku, berdiri dari alat pengukur minus mata dan mulai duduk di kursi konsultasi.
"Gini loh om, aku cerita ya. Tiba-tiba aku sempet ngerasa nggak bisa lihat apa-apa. Terus aku minum jamu, terus tidur. Pas bangun bisa lihat lagi." Amel mulai serius dengan ceritanya
"Wow jamu macam apa tuh yang bisa buat orang buta jadi lihat lagi?" om Yudhis tertawa nyinyir.
"Neng, masa jaman sekarang percaya kalau karena minum jamu kamu sembuh. Duh, ponakan om ini udah jadi model dimana-mana kok pemikirannya kuno" Om Yudhis membalas cerita anakku dengan ketus.
Aku bisa melihat wajah Amel mulai tertunduk malu, dia pasti merasa tidak didengarkan padahal sudah serius berbicara.
*Drrrrt Drrrt* tiba-tiba hpku bergetar dari dalam tasku. Aku membaca pesan tersebut dengan seksama
Hubby
"Sayang, menurut aku jangan kasih tahu ke siapapun tentang hal itu ya. Halangin Amel untuk tidak cerita ke siapapun. Tunggu aku pulang akan aku jelaskan semuanya. Beberapa hari lagi aku segera pulang, janji"
*DEG!* hatiku berdebar setelah membaca pesan dari suamiku.
Aku melihat om Yudhis yang sudah terlihat tidak tertarik dan mencoret-coret resep dengan obat yang tidak kuketahui.
Aku menggenggam tangan Amel yang sedari tadi berusaha meyakinkan om-nya kalau ini benar-benar nyata.
Semakin aku kuatkan genggaman tangan ke anakku agar dia mengerti dan berhenti.
"Awww! Bun!" Amel berhenti berbicara dan menatapku sinis.
Aku goyangkan kaki Amel dengan kakiku dibawah meja dan menggelengkan kepala agar ia berhenti berbicara apapun.
"Okay, gini yah ponakan om yang cantik. Menurut om, kamu harus banyak istirahat dan jangan keseringan main hp ya" Om Yudhis menyerahkan resep ke tangan anakku yang kebingungan dengan sarannya. Menurutku aneh, karena Amel ini juga bukan anak yang 'gaul' maupun narsis. i********: saja hanya diposting untuk mempromosikan produk atau jasa teman-temannya, kok ini dikatakan karena main gadget.
"Tapi om.. " Amel tidak puas dengan jawabannya
"Pokoknya, kalau nggak sembuh, Amel langsung gedor aja poli ini nggak perlu pake daftar di depan lagi, bunda Amy kan juga punya nomor om” om Yudhis bersikukuh, yakin dengan jawabannya.
Aku malah semakin bingung, logika ku tidak berhenti berpikir betapa anehnya kejadian ini. Masa tidak ada indikasi medis satupun yang bisa menjelaskan tentang keadaan anakku?
Apa sih yang suamiku tunggu untuk sampaikan?
Cepat pulang, mas. Kasihan anakmu…