Pagi datang ditandai dengan munculnya sinar matahari dari balik jendela. Terlihat seorang gadis muda masih tertidur dengan piyama-nya. Sudah menunjukkan waktu jam setengah 6 pagi dan gadis itu masih terlelap, padahal waktu subuh sudah terlewat dan fajar sudah menyingsing.
Itulah Camelia, cantik tapi selalu dimanja. Semua kebutuhan dipenuhi oleh ayah dan bundanya, apa-apa tinggal panggil Bi Iyah. Tidak pernah ke dapur, tidak pernah menyentuh cucian, tangannya lembut dan pikirannya terfokus pada karir dan karir, bangun pagi pun jarang.
“Mel, bangun mel. Masa nggak shalat subuh?” Bunda membangunkan Camelia
“Udah Bun, ini aku tidur lagi tadi abis shalat subuh” Camelia menarik selimutnya kembali. Bunda bingung, anaknya ini sudah bukan remaja lagi, melainkan wanita dewasa. Tapi, sikapnya masih perlu terus dibimbing dan diperhatikan.
“Mel bangun dong! katanya hari ini mau ke RS Mata Hati dan daftar sendiri, kalau kesiangan, kita antriannya di belakang loh” Bunda menyingkirkan selimut dari tubuh Camelia, membuka jendela yang belum sepenuhnya terbuka dan membiarkan sinar matahari jatuh tepat di wajah anaknya.
“Buunnn...sabar doongg” Camelia mulai membuka matanya, melakukan stretching sambil mengusap matanya.
“Amel mandi ya, bunda tunggu dibawah kita sarapan sama-sama.” Bunda memberikan handuk kepada Camelia yang masih belum beranjak dari tempat tidurnya.
“Iya Nyonya, siap hamba akan ikut titah Nyonya” Camelia meledek, mengukir senyuman manis di wajah bunda nya.
Camelia bangun dan langsung mematikan AC, melihat sekeliling dan keluar menuju arah balkon. Ia melihat pemandangan kolam renang dan kemewahan yang ia miliki, lalu tersenyum dan mencari hpnya.
Sepertinya, ia lupa dengan kejadian kemarin bahwa hpnya baru saja di jambret.
“Buuunn liat hp Amel nggak?” Camelia berteriak dari kamarnya di lantai atas
“Mel, nanti siang kita beli di Pondok Indah Mall!” Bunda menyahut dari lantai bawah.
Akhirnya, Camelia ingat bahwa hpnya sudah tidak lagi bersamanya, ia menepuk kepalanya sendiri.
“Duh, dasar aku” Camelia mengambil handuk dan masuk ke kamar mandinya.
Harum bunga mawar, itu kata yang paling pas untuk menggambarkan kamar mandi seluas 3 x 2 meter itu. Sangat luas, dilengkapi dengan bathtub dan shower, seperti apa yang biasa dimiliki hotel bintang lima. Maklum, anak satu-satunya dan pula perempuan, pasti kamar mandi menjadi hal yang penting untuk mendandani diri.
Camelia menatap wajahnya di cermin, dengan pencahayaan berwarna kuning yang terang ia bisa melihat wajahnya dengan jelas. Ia mulai mengambil kapas dan menggunakan skincare lalu akhirnya mandi di sebuah bathtub yang telah diisi air hangat. Ia menyalakan lilin aromaterapi dan mandi dengan rileks.
[Camelia’s POV]
Bunda membangunkan aku, padahal masih jam setengah 6 pagi tidurku sudah diganggu. Aku mulai mencari hpku, ingin tahu apakah ada tawaran job berikutnya, atau mungkin ucapan manis dari team ABC Vitamin atas selesainya pemotretan kemarin.
*Duuhh dimana sih* aku mulai ngedumel dalam hati, rasa-rasanya jarang sekali aku tidak bisa menemukan hp itu.
Aku berteriak dan menanyakan bunda dimanakah hp ku, dan aku baru teringat kalau kemarin ada yang menjambret hp ku saat aku baru selesai makan di Ambient. Hah, merepotkan sekali kehilangan hp, bukan hanya harga hpnya yang hilang, tapi mengembalikan kontak-kontak itu, sungguh bikin aku pusing.
Ah sudahlah, yang berlalu biarkan saja berlalu. Aku mengambil handuk dan bergerak menuju kamar mandi, salah satu spot ternyaman di kamarku. Aku mulai ritual mandiku dengan bercermin dan menggunakan skincare sembari aku mengisi bathtub dengan air hangat dan menyalakan lilin aromaterapi.
Selesai aku dengan skincare, Aku mulai merendam tubuhku ke dalam bathtub. Aromaterapi dan air hangat adalah kombinasi sempurna untuk menenangkan diri. Pikiranku menjelajah, berandai-andai tentang segala kemungkinan nanti saat menjelang pergi ke Rumah Sakit. Akan sangat menyeramkan untuk tahu kalau aku memiliki penyakit terkait penglihatanku, tetapi aku memaksakan diri untuk tetap memeriksa ini agar aku tahu sebabnya. Tidak mungkin bunda benar, pada zaman sekarang tidak boleh percaya dengan takhayul. Warna aura? mengulangnya di pikiranku saja aku merasa konyol, tak mungkin nyata.
Aku bermain dengan busa yang ada di bathtub, menggosok tubuhku dengan air hangat yang sudah dilarutkan beberapa tetes essential oil berbau lavender. Suasana yang nyaman ini sedikit terasa hambar tanpa aku bisa scrolling hpku. Ah, andai saja hal itu tidak terjadi. Andai saja aku tidak main hp di pinggir jalan raya.
20 menit berlalu di dalam kamar mandi, aku mulai merasakan beberapa kulitku mengkerut karena terlalu lama berendam. Aku naik dari bathtub dan mengeringkan tubuhku dengan handuk. Lalu bersiap dan mengenakan pakaian untuk kami pergi ke RS dan ke Mall hari ini.
“Mel! Jangan lama-lama mel keburu dingin ini sarapannya” Bunda berteriak dari lantai bawah, menunggu aku yang menghabiskan waktu cukup lama di kamar mandi karena melamun.
“Iya Bun, namanya tuan puteri pasti mandinya lama dong. Sabar Nyonya!” Aku terburu-buru memakai baju dan aksesori.
*Ah, nanti deh make-up nya* Aku berkaca dan mengurungkan niatku memulas wajahku, menunda aktifitas itu di mobil nanti.
“Mel udah yang penting pakai baju dulu sini” nada Bunda mulai naik, kesal menungguku. Anak perempuan yang masih dimanja, untuk bangun saja masih dibangunkan. Memang kadang aku keterlaluan.
“Iyaaa otw bun!” Aku terengah-engah turun tangga ke arah meja makan, kulihat menu hari ini adalah Beef Salad Bowl dan Soy Milk. Padahal tadi Bunda bilang kalau aku kelamaan, makananku akan dingin, tapi ini adalah cold breakfast.
“Bun, katanya tadi aku disuruh buru-buru biar makanannya nggak dingin, tapi ini dingin semua loh!” Aku menagih Bunda yang mengiming-imingi aku dengan makanan hangat.
“Iya, Amel mau omelette nggak? Tadi punya Amel bunda makan karena udah dingin” Bunda merapikan beberapa piring yang kosong diatas meja makan, memberikan piring-piring tersebut kepada Bi Iyah yang berdiri dekat meja makan.
“Bi, mau sunny side up ya, alias telur mata sapi” Aku terkekeh, Bi Iyah mengangguk dan memberikan jempolnya tanda mengerti.
Aku ingin sekali bicara dengan Bunda tentang warna aura yang aku lihat di orang yang menjambret kemarin. Tapi, rasanya lidahku kelu dan tertahan untuk mengungkapkan apa yang aku lihat. Aku bimbang, karena hari ini aku mungkin menemukan jawabannya setelah kontrol ke om Yudhis. Pikiranku dan hatiku benar-benar tidak sejalan. Bagaimana kalau ini bukan penyakit medis, tetapi hasil guna-guna atau main dukun? Aku termenung.
"Mel, kok bengong sih?" Bunda mengagetkan aku yang termenung di meja makan, menyodorkan aku salad yang sedari tadi aku diamkan.
"Hmm, nggak apa-apa kok bun" Aku memutus pembicaraan dan mengambil koran untuk dibaca.
[bunda Camelia's POV]
Anakku Camelia memang beda, aku harus extra sabar menghadapi dia yang terus menerus harus diperhatikan. Aku tidak tahu apakah sikapku ini berlebihan atau tidak, tapi semenjak menyaksikan ia terbaring tidak berdaya saat penglihatannya hilang, aku bertekad untuk selalu menemaninya.
Aku melihat anakku jadi sering termenung. Mungkin dia kaget dan tidak tahu kenapa tiba-tiba penglihatannya sempat hilang. Aneh memang, aku pun bertanya-tanya saat hal itu terjadi. Tetapi, saat aku telpon suamiku, aku hanya mendapatkan arahan, bukan penjelasan.
Misalnya, ketika aku dengan panik menghubungi suamiku untuk mencari jalan keluar atas hilangnya penglihatan anakku yang tiba-tiba. Suamiku langsung menyuruhku membuat ramuan dari brotowali, jahe merah, kencur dan jeruk kunci. Bi Iyah sampai aku suruh untuk mencari rempah-rempah itu bersama Pak Prabu di pasar-pasar. Tidak cuma ramuan, suamiku pun tahu bacaan 'mantra' macam apa yang harus dirapalkan oleh anakku, Camelia.
Aku tidak kaget suamiku tahu tentang hal itu, karena aku memang menaruh curiga padanya. Suamiku memiliki nama seperti keluarga kesultanan, Rasyid Angkaramurti. Yang aku tahu dari berita, di Yogyakarta ada seorang sultan yang memimpin bernama Sultan Ambarawa Angkaramurti. Entahlah ini suatu kebetulan atau tidak, yang jelas aku tidak pernah bertemu dengan keluarga suamiku.
Kami berdua bertemu di Swiss, saat suamiku masih berstatus mahasiswa di Lausanne. Sementara aku berlibur dengan keluargaku di Swiss, ia sedang makan malam bersama teman-temannya dan kami bertemu di restoran dan berbincang sesama warga Indonesia.
Menjelaskan tentang suamiku akan sangat panjang, yang jelas ia sangat sibuk dan aku harus mengerti keadaannya. Ia masih berhutang cerita kepadaku. Belum selesai tentang hal darimana ia tahu penawar dari hilangnya penglihatan anakku, ia menelpon lagi dengan kabar yang tidak masuk akal.
Suamiku bilang, mata batin anakku terbuka dan akan mulai melihat warna aura di semua laki-laki. Hah?!
"Pokoknya bilang dulu ke Amel kalau dia akan mulai melihat warna aura tiap laki-laki" pesan suamiku saat itu.
Dugaanku benar, Amel mana mungkin percaya. Aku sendiri bahkan juga sulit untuk mempercayainya, hal-hal tahayul seperti ini masih ada di zaman sekarang rasanya tidak mungkin. Malah, Amel memintaku untuk mengantarkannya ke dokter mata. Sebenarnya aku tidak masalah, hanya saja aku berharap suamiku pulang dulu dan menjelaskan semuanya.
"Mas, pulang dong.. " Aku menulis pesan kepada suamiku
"Iya, nanti mas pulang, secepatnya, janji. " Suamiku membalas. Yah, Aku tahu suamiku bukan orang yang ingkar janji. Tapi kesibukannya memang sudah dalam level extreme. Sekarang, ia sedang ada di Dubai, mengurus cabang luar negeri yang sedang ada masalah. Sayang, pulang dong…
Aku duduk dengan anakku di meja makan untuk sarapan. Kami berdua hari ini punya agenda untuk pergi ke om Yudhis dan membeli hp baru untuk anakku. Kemarin, tiba-tiba hpnya diambil paksa, dan anakku langsung menangis.
Ada hal aneh yang seolah mengkonfirmasi kata-kata suamiku tentang warna aura. Amel bilang, ia sempat melihat warna dari penjambret tersebut.
"Warnanya hitam. Ah masa sih ini benar" Anakku tersedu-sedu. Aku juga bukan orang yang bisa menjawab hal itu. Jadi aku memilih untuk diam dan membiarkan suamiku menjelaskan detailnya nanti.
Sekarang, aku sering memperhatikan bahwa anakku menjadi pelamun yang handal. Mobil, Restoran, bahkan meja makan menjadi tempat ia melamun, aku penasaran apa yang dipikirkan anak itu. Mungkin apa yang sebelumnya terjadi menghantui dirinya dan berpengaruh pada mentalnya. Aku mulai terpikir untuk membawa anakku ke psikiater. Ah, apa aku ini yang sudah gila, anak seusia Amel pasti banyak pikiran. Itulah yang dibilang quarter life crisis. Tapi apa kira-kira yang dipikirkan? Semua kebutuhan Amel telah disiapkan dengan sempurna, Amel pun cantik dan terkenal, hidup berkecukupan.
“Mel, kok bengong sih?” Aku memanggil Amel yang sedang melamun.
Amel menjawab tidak sambil menggeleng-gelengkan kepala. Semoga saja kunjungan kami ke om Yudhis membuahkan hasil yang lebih bisa diterima akal sehat. Setidaknya, kami punya opini kedua atas apa yang sempat terjadi. Walaupun aku sebenarnya ragu, tidak enak kalau tidak ditemani suamiku. Aku juga sedikit takut kalau malah menimbulkan pemahaman yang aneh-aneh ke om Yudhis. Kalau nanti sampai tersebar ke keluarga gimana?
Kami melanjutkan sarapan dan berbincang kecil tentang berita-berita dunia. Aku ingin menghilangkan perasaan khawatir dari anakku dengan membahas hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan apa yang terjadi sekarang. Kalau boleh jujur, akulah yang paling khawatir tentang semua yang telah terjadi. Tapi, yang aku ketahui seorang Ibu haruslah bisa bersikap tenang walau badai menghadang. Demi keluargaku aku akan bersikap seolah-olah aku tenang, padahal aku lah yang paling kalut.
"Bun, berangkat yuk" Amel mulai menyisihkan sendok dan garpunya, meminum jus jeruk yang ada di hadapannya dan menarik tas yang digantung dari kursinya.
"Mel, bawa bekal kalau nunggunya lama nggak?" Aku mulai repot
"Makan di Mall aja bun" Amel berdiri disamping aku yang sedang duduk bersiap-siap.
"Yuk" Aku beranjak dari kursi dan berjalan bersama anakku, mengambil tas Hermes Kelly yang terbuat dari kulit buaya.
*Oke, apapun nanti yang om Yudhis bilang tentang mata Amel, aku harus bersikap tenang, tidak boleh mencurigakan pokoknya!* Aku bertekad dalam hati untuk tetap tenang apapun yang akan terjadi nanti. Padahal, anakku yang mengalami semuanya, mungkin beginilah rasanya menjadi seorang ibu, selalu mengkhawatirkan anaknya melebihi dirinya sendiri.