[Camelia’s POV]
Cahaya lampu temaram di Restoran Ambient yang khas bergaya Eropa, dan alunan musik opera dengan volume kecil membuat suasananya sangat megah. Wajar saja, setiap makan disini aku bisa menghabiskan setengah dari honor pemotretanku. Mungkin hari ini spesial untuk Bunda atau ingin menghiburku saja.
“Bonjour, apa sudah reservasi?” seorang pelayan berjas rapi menghampiri kami.
“Bonjour, sudah reserved atas nama Amy” Bunda membalas
“Kami punya dua nama Amy yang memesan, untuk berapa orang?” pelayan tersebut sambil membuka tablet, memeriksa list reservasi
“dua orang, monsieur” Bunda mulai mengeluarkan kemampuan bahasanya yang apik
Kami berdua langsung diarahkan ke meja untuk berdua, meja telah disiapkan dan pelayan langsung memberi kami beberapa menu.
“Mau Wagyu Steak with Foie Gras, ya pak” Aku memesan makanan favoritku, dan melirik kearah Bunda
“Saya Creme Brulee saja” Bunda memesan dessert.
“Bunda, kok nggak makan? Bukannya kesini mau makan?” Aku mengernyitkan dahi
“Bunda nggak selera makan” Tatapan Bunda serius, dan aku mulai mengerti kalau sepertinya ada yang ingin ia bicarakan padaku.
“Pak, sudah, nanti pesan lagi.” Aku memberikan menu kembali kepada pelayan dan memberi gestur agar dia segera pergi
“Merci”
Tinggal kami berdua. Bunda seperti tidak selera makan, padahal ini kan restoran favoritnya, dan yang aku tahu Bunda kesini kalau ada momen spesial untuknya
“Bunda, kita udah di Ambient tapi Bunda nggak makan, ada apa sih Bun?” Aku menggenggam tangan bunda yang sedari tadi sibuk memainkan hpnya.
“Nggak gimana-gimana kok mel. Amel ngerasain sesuatu yang aneh nggak?” Bunda menatapku
“Aneh gimana? Bunda deh yang aneh tiba-tiba jadi hening gini” Aku bingung
“Bunda mau ngomong sesuatu tapi jangan kaget ya” tatapan Bunda berubah dari khawatir menuju serius. Agaknya, aku harus benar-benar memasang telinga atas apa yang Bunda katakan kali ini.
“Okay apa? Janji nggak kaget aku” Aku memasang wajah tenang, padahal jantungku berdebar.
Baru saja Bunda membuka mulutnya, pelayan sudah datang membawa pesanan kami. Bunda langsung mengurungkan niatnya dan kembali bermain hp. Aku marah, kenapa di quality time seperti ini malah bermain hp? Apa tidak lebih baik makan di rumah?
“Mel nggak usah ngambek, Bunda bingung gimana ngomongnya, Bunda coba googling, coba cari, Bunda nggak percaya tapi katanya akan kejadian” Tiba-tiba Bunda merespon wajahku yang cemberut.
*Apa sih, kejadian apa?* Aku bingung dan diam, tapi tetap memasang wajah tidak tertarik.
“Mel, kamu bener nggak ngerasa sesuatu yang aneh? ngeliat apa gitu? atau denger?” Kali ini Bunda menaruh hpnya, dan mulai serius.
“Emang harusnya aku ngerasa gimana?” Aku berusaha mengartikan maksud Bunda
“Ya ada sesuatu yang aneh harusnya kamu rasain, makanya Bunda nyusul kamu ke scene pemotretan.”
“Nggak ngerti aku Bun” Jujur, bertele-tele sekali, aku makin bingung apa yang dimaksud Bunda.
“Oke, sekarang kamu lihat mas yang disana, ada sesuatu yang aneh nggak?” Bunda menunjuk ke arah meja berlawanan, kepada seorang pria yang tampan, dan terlihat kaya.
“Ganteng, sepertinya kaya” Aku sibuk dengan makananku
“Bukan itu, kamu lihat warna apa?” Bunda mencondongkan wajahnya kepadaku
*DEG!* Jantungku berdegup keras, aku langsung menyadari bahwa warna-warna yang aku lihat setelah pemotretan tadi, itu bukan karena cahaya lampu.
“Warna merah bun, nanti juga Amel nggak bisa lihat lagi Bun, biasalah efek cahaya terang pemotretan tadi” Aku pura-pura lugu
“Mel, bukan, itu bukan karena cahaya pemotretan. Tapi itu ada kaitannya dengan kejadian penglihatan kamu yang hilang beberapa waktu lalu…” Bunda mulai berkaca-kaca.
“Jadi ayah telpon mel, kasih tahu bunda sesuatu yang nggak masuk diakal mel. Intinya, Amel sekarang bisa lihat warna-warna di kepala laki-laki. Itu tanda warna aura mereka” Bunda sedikit bergetar
“Bunda, please jangan ngaco ah, dan nggak usah bahas waktu Amel tiba-tiba kaya gitu, kita itu belum ke dokter!” Nadaku mulai meninggi dan menatap Bunda dalam-dalam.
“Okay, Bunda biarin nanti Ayah yang kasih tau Amel secara langsung. Pokoknya, percaya sama Bunda kalau setelah kamu bangun tidur nantinya, kamu akan tetep lihat warna-warna itu” Bunda mulai menyuapi dirinya dessert, sudah tidak lagi bersitegang diantara kami.
“Yaudah kalo nanti tetep kejadian kaya gitu, bawa Amel ke dokter dong. Seorang Amy Cameron, warga Menteng loh Jakarta Pusat, percaya hal mistis?” Aku menjulurkan lidah, meledek Bunda.
“Ckckck anak ini” Bunda terheran-heran, dan tertawa kecil.
Kami menyelesaikan makanan itu dan berjalan ke arah parkiran. Bunda mulai menelpon Pak Prabu dan aku sibuk scrolling hp dan membuka Mobile Legends. Belum sempat aku menyelesaikan pendaftaran akun, aku melihat ada sesosok laki-laki berwajah seram yang melihat kearahku. Warna diatas kepalanya, hitam.
Warna Aura hitam? Apa-apaan ini. Aku berusaha mengalihkan pandanganku dan tidak mengingat apa yang bunda katakan. Kubuka hp ku dan kembali berselancar di internet. Tapi, tiba-tiba…
*SREKKKK!* Orang yang kuperhatikan tadi, menjambret hpku!
“JAMBRET! TOLONG ITU NYURI HP SAYA!!!!!” Aku berteriak!
Seluruh satpam langsung lari mengejar. Tetapi, Orang itu sudah kabur dengan motor, rupanya dia ada kawanan yang siap membonceng agar ia tak perlu capek-capek berlari dari kejaran massa.
*Hah, apakah ini yang dimaksudkan warna aura di kepala yang bunda bilang tadi?* dalam hati aku teringat perkataan Bunda.
Bisa dibilang, kemungkinan mereka sangat kecil untuk mendapatkan hpku kembali. Sembari menunggu mereka yang mengejar, aku menangis panik menelpon bank dan providerku untuk block semua akun didalamnya.
"Mel… bunda nggak yakin mereka bisa dapetin hp itu balik" Bunda menepuk aku, yang mengarahkan aku masuk kedalam mobil. Beberapa pelayan Ambient keluar untuk memberikan permintaan maaf, aku menyeka air mataku dan masuk ke dalam mobil.
"Bunda, aku mau ngaku, aku lihat warna di kepala orang yang jambret tadi. Warnanya hitam" Aku sedikit bergetar, dan mulai meneteskan air mata lagi.
Bunda terdiam, sepertinya Bunda juga tidak punya jawabannya.
"Mel, kita ngobrol aja sama Ayah nanti yah. " Bunda memutus pembicaraan, dan mulai menekan hpnya. Aku bisa melihat kalau bunda membuka chat dengan ayah, dan mengatakan kalau ia ingin Ayah segera pulang.
*Yah, pulang kapan? Ayo bantuin Bunda..*
kuintip isi pesan Bunda ke Ayah.
"Bunda, aku sedih banget hpnya ilang." Aku mengalihkan pembicaraan
"Yaudah, nanti Bunda beliin lagi, Android atau iphone?" Bunda terkekeh
"iPhone terbaru yah bun, yang 128gb hehehe" Aku merengek
"Dasar anak bunda! Yaudah kita besok ke Pondok Indah Mall, sekalian urus nomor Amel
ya" Bunda tertawa
Kami melangkah pulang, kali ini aku tidak bisa membunuh kemacetan dengan bermain hp. Aku menghabiskan waktuku di mobil dengan melamun dan membayangkan momen bersama hpku. Aku juga memikirkan arti dari warna yang kulihat dengan apa yang terjadi di dunia nyata. Apa warna hitam itu identik dengan kejahatan? Lalu apa arti dari warna-warna lain yang kulihat sebelumnya?
Bunda sibuk dengan hpnya, aku berpikiran mungkin ayah sudah membalas pesan bunda. Ayah, tolong cepatlah pulang, jelaskan aku apa ini dan apa yang harus aku lakukan.
Kami sudah berjalan mendekat ke arah rumah. Macet, seperti biasa. Aku merasa sepi karena bunda masih saja sibuk bermain hp. Kehilangan hp di masa seperti ini bagi seumuranku bagai kehilangan jati diri.
"Bunda, jangan main hp terus dong Bun. Aku kesepian bun." Aku menghadap bunda yang sedari tadi mendiamkan aku.
"Mel, bunda lagi bujuk ayah supaya pulang cepat dan bisa jelasin Amel apa yang terjadi dan apa artinya. " Bunda menatapku serius
"Bun, sebenernya Amel kenapa? Mungkin warna-warna itu cuma kebetulan. Sambil tunggu ayah datang, boleh nggak besok kita ke dokter aja bun? Amel mau tau second opinion yang lebih masuk akal" Aku masih bersikeras bahwa ini bukan sesuatu yang tidak bisa diselesaikan oleh dokter, dan tidak ada sangkut pautnya dengan aura ataupun orang lain.
"Ok, habis beli hp dan urus semua nomor dan akun yang hilang. Kita ke dokter mata di RS Mata Hati, om Yudhis kerja disana" balas Bunda.
Om Yudhis, adalah kakak Bundaku, seorang dokter spesialis mata lulusan Amerika. Aku jarang sekali bertemu Om Yudhis karena kesibukannya. Kali ini, aku tidak ingin seseorang yang bunda kenal untuk memeriksa keadaanku. Aku mau orang lain, karena kalau dia mengenali Bunda, bisa saja dia tidak jujur atas keadaanku. Memang aku terlalu buruk dalam berpikiran, tapi baiknya kita hapus orang-orang yang dapat membuat kesimpulan yang tidak objektif.
"deket Pondok Indah Mall aja bunda, di RS Pondok Indah" Aku mencari alasan
"Enakan sama om Yudhis, kita udah kenal mel dan nggak akan dikasih obat macem-macem" Bunda memberikan alasan yang masuk akal.
"Yaudah bunda, tapi daftarnya lewat RS, dan jangan telpon om Yudhis, kasihan pasien lain kalau kita sampai didahulukan karena saudara dokter. Jadi orang normal aja yah" Aku mengalah, paling tidak mendaftarkan diri lewat RS tidak akan membuat om Yudhis tahu tentang kondisiku sekarang.
"Okay, mel. Bunda telpon RS Mata Hati dulu kalau gitu" Bunda menekan beberapa nomor dan mulai menelpon RS.
Aku berharap semoga saja om Yudhis bisa memberitahu apa yang terjadi dengan mataku.
Semoga saja aku tidak apa-apa dan warna-warna yang kulihat ini adalah sesuatu yang nantinya akan hilang begitu saja…
Semoga…