[Camelia’s POV]
“Bundaaaa” Aku berteriak dan Bunda menengok ke arahku.
Aku berlari menuju bunda yang melambaikan tangan menyambut suaraku yang memanggil bunda. Senang sekali kalau ada Bunda disini, apalagi aku sempat merasa lemas mendadak tadi. Aku lebih tenang dan santai, jika terjadi apa-apa, paling tidak ada bunda disisiku.
“Bunda, nggak apa-apa nungguin aku? Mungkin bisa lama loh bunda” Aku berbisik.
“Nggak apa-apa, habis ini kita makan di rumah atau di tempat lain, mel?” Bunda tersenyum
“Makan di Restoran Ambient yuk! Aku kesana dulu ya bun, bunda tunggu disini atau boleh ke area dekat shoot” Aku bersemangat dan berjalan menuju set pemotretan di sudut cafe, meninggalkan bunda yang duduk di meja cafe.
Sesaat aku melangkahkan kaki menuju sudut pemotretan, Aku melihat seluruh mata tertuju padaku.
*Hmm, kok jadi awkward gini sih* hatiku langsung merasa aneh
"Hai semua, selamat sore, saya Camelia, model untuk pemotretan ABC Vitamin bersama kawan-kawan kali ini" Aku tersenyum, berusaha mencairkan suasana.
"Sore, Camelia, saya Abigail, Brand Executive ABC Vitamin" Seorang perempuan menghampiriku, perwakilan dari ABC Vitamin.
Tampilannya stylish, dengan baju berwarna biru dan kacamata ala Korean Idol.
"Hai Abigail, Thanks for having me. Boleh saya di brief dulu bagaimana nanti shootnya?" Aku membalas
"Panggil Abi saja ya. Apa sudah pelajari script yang dikirim ke Manager kamu?" Abi melihatku dengan serius.
Okay. Mampus. Aku bukan supermodel terkenal yang tidak punya Manager, selama ini akulah yang mengatur jadwalku sendiri, dan memberikan standard fee sendiri.
"Boleh Saya tahu dikirim ke email siapa? Aku belum terima soalnya" Aku membalas, suaraku sedikit bergetar
Abi langsung terlihat pucat pasi.
"Hmm.. Masa belum terima?" Abi sepertinya menekan beberapa nomor di hpnya. Wajahnya panik, seperti tersambar petir.
"Abi, boleh brief saya sebentar? Saya akan pelajari semua dengan cepat" Aku menatapnya dengan hangat. Abi ini seumuranku, dugaanku ini adalah pekerjaan pertamanya.
"Okay, kita mulai ya brief nya" Abi membuka hp nya, dan mulai menjelaskan tema besar dari pemotretan hari ini.
Selama dua puluh menit kami berbincang tentang tema hari itu. Aku mulai bisa berbincang seperti teman seumuran dengan Abi.
"Siap nggak mel? Yuk kita mulai" Abi menyudahi obrolan kami.
"Yuk, siap dong" Kami berdua berjalan menuju sudut pemotretan.
Aku bersalaman dengan fotografer hari itu dan memulai sesi pemotretan.
Semua berjalan dengan lancar, dan aku tidak merasa lemas seperti tadi.
Saat berpose, aku sedikit demi sedikit mencuri pandang ke arah bunda yang ternyata memperhatikan aku. Tatapan Bunda seperti agak khawatir, aku melihat Bunda memegang botol minum yang airnya berwarna persis seperti ramuan yang sebelumnya kuminum.
*Cekrik*
Suara kamera dan flash dari lampu yang menerangi background. Mataku seperti sudah biasa menghadapi perubahan sinar flash yang menyilaukan mata. Tapi kali ini, ada sesuatu yang aneh. Kenapa aku melihat warna yang tidak biasanya aku lihat.
Aku melihat warna ungu diatas kepala sang fotografer. Di sekeliling ada Ari, make-up artist ku yang memastikan riasanku tetap on dan tidak oily. Aku juga melihat warna yang sama pada Ari, ungu. Apa sih ini? Apa mataku mulai terganggu dengan flash?
Atau ini efek dari kebutaanku yang sebelumnya?
Anehnya, aku tidak melihat warna apapun diatas kepala bunda. Aku juga tidak melihat warna apapun diatas kepala Abigail, maupun Risa yang juga memperhatikan wardrobe selama pemotretan.
*Nanti juga ilang, udah jangan dipikirin Mel* hatiku mulai berkecamuk, berusaha menenangkan diri sendiri.
*Done! Nice Job all!* suara fotografer menandakan berakhirnya sesi pemotretan pertama.
"Good job, mel. Sini lihat hasilnya" Abi menepuk pundakku seraya memberikan air putih.
"Thanks Abi, kayaknya aku harus buru-buru ke ruang rias nih, ganti ke baju berikutnya. Let me know ya" Aku bergegas bersama Risa dan Ari untuk touch-up kedua, mengganti bajuku dengan koleksi Manteux berikutnya.
"Mel, apa yang dirasain? Apa sempat pusing ataupun lemes?" Bunda mengikuti aku yang terburu-buru dari belakang.
"Bun, nanti Amel cerita ya, sekarang Amel harus cepet ganti supaya kita bisa cepet selesai" Aku terengah menuju ruang rias, aku ingin semua ini segera selesai supaya aku bisa cerita ke bunda.
Aku duduk di meja rias, dari vanity mirror aku bisa melihat pantulan Ari, dan aku masih melihat warna ungu, diatas kepala Ari.
*Kok muncul lagi?* hatiku bertanya-tanya. Aku sudah berada di ruang rias, seharusnya mataku tidak lagi terpengaruh cahaya flash.
"Bunda, tunggu disini aja yah, Amel nggak apa-apa dan sebentar lagi selesai" Aku berkata kepada Bunda yang menunggu aku bersiap di dalam ruang rias.
"Mel, kalo Amel kenapa-kenapa gimana?" Bunda melihatku dengan khawatir, yang dibalas dengan tatapan penuh tanda tanya dari Risa dan Ari. Mungkin mereka heran, karena aku terlihat baik-baik saja daritadi.
"Bun, sstt tenang aja" tanganku mengisyaratkan rahasia, kukedipkan sebelah mataku kepada Bunda dan tertawa manis.
*Okay, pemotretan terakhir terus aku mau cerita sama bunda di Restoran!* kataku dalam hati, membuat aku semangat dan lebih fokus di sesi pemotretan kedua.
*Wrap it up guys!* suara Abi menandakan selesainya sesi kedua.
"Mel, sini yuk kita lihat hasilnya di screen" Abi menggenggam pergelangan tanganku, mengarahkan aku menuju screen.
"Looking Nice, enak banget kerja sama kamu ya Camelia, semua sisi yang aku foto, cantik" puji fotografer kepadaku.
"Thank you, mas. Sorry belum kenalan loh kita, mas siapa namanya?" Aku mengulurkan tangan
"Nama saya, Charlie" dia membalas uluran tanganku dan kami bersalaman
Lanjut kami bertiga berbincang, melihat hasil pemotretan sore itu. Abi memberi beberapa instruksi untuk pengeditan tone warna yang sesuai dengan ABC Vitamin. Sesaat setelah semuanya telah setuju dengan hasil pemotretan, aku pamit pulang.
"Abi, mas Charlie, duluan yah. Thanks for today, semoga nextnya kita bisa kerjasama lagi" Aku melambaikan tangan kepada semua, dan tersenyum ke seluruh crew hari itu.
"Bunda, yuk kita pulang" Aku menghampiri bunda yang menungguku di ruang rias.
"Jadi kita ke Restoran Ambient?" ujar Bunda, sambil membawa tasku yang sudah bunda rapikan
"Jadiii dong bun! Ari, Risa, duluan yaa" Aku berpamitan kepada Ari dan Risa.
Aku dan Bunda berjalan menuju basement. Terlihat beberapa crew merapikan gulungan kabel dan lampu sorot.
"Duluan yaaa" Aku menyapa mereka sembari aku berjalan menuju basement. Aneh, aku masih bisa melihat warna-warna di kepala beberapa orang. Ada yang berwarna ungu, ada yang berwarna biru.
*Masa efek pemotretan terbawa lagi? Kan aku sudah selesai….* hatiku bertanya-tanya lagi. Hal ini bukan yang biasanya terjadi. Kan aku sering sekali pemotretan.
"Pak Prabu, tolong bawain!" Aku memanggil Pak Prabu yang duduk di kursi tunggu supir. Aneh, aku melihat warna lagi di atas kepala Pak Prabu, ungu.
Pak Prabu menghampiri kami berdua dan membawakan tas yang dipegang bunda. Aku dan bunda masuk ke mobil, dan kamipun keluar dari parkiran cafe.
"Bunda, udah reserved belum? Biasanya rame loh" Aku memastikan, aku ingin sekali berbicara dengan bunda tentang yang aku alami. Tapi, aku tak ingin Pak Prabu tahu.
"Udah kok. Pak Prabu, kita ke Ambient ya pak, di Senopati" Mama mengarahkan jalan ke Pak Prabu.
Aku melihat sekeliling selama diperjalanan, bunda juga memegang hp, sepertinya membalas urusan dengan yayasannya. Aneh, aku masih melihat warna-warna itu diatas kepala beberapa orang. Tukang parkir, penjual air minum di jalan, semua ada warnanya. Tapi, aku tidak melihat warna di kepala wanita karir, ibu-ibu penjual kue, ataupun 'mbak-mbak' diatas ojek.
Semua semakin aneh, aku mengambil kaca dan membersihkan make-up pemotretan tadi.
*Kok nggak ada warna apapun diatasku ya* kataku dalam hati, sambil menyeka dan mengganti warna lipstik ku yang awalnya dark red menjadi nude.
Aneh, kalau itu adalah efek dari cahaya kamera, kenapa aku hanya melihatnya pada beberapa orang saja?