[Camelia’s POV]
Aku memegang segelas es kopi s**u gula aren buatan Bi Iyah dan juga pisang goreng hangat yang terletak dihadapanku. Aku duduk di samping kolam renang dan memutuskan untuk tidak melihat berita apapun yang dapat menguras emosiku. Rasa sendiri tidak berhenti menghantuiku, rasa yang biasanya aku peroleh saat berada di rumah sendirian.
Harusnya aku sudah familiar dengan rasa kesepian. Dilahirkan sebagai anak tunggal dan tinggal di daerah perkotaan membuat aku tidak punya banyak teman. Terkadang, aku merindukan sesi-sesi pemotretan maupun shooting iklan, karena saat tersebut membuat aku tidak merasa sepi. Tapi, melihat berita yang bersliweran, aku tidak ingin menampakan wajahku ke depan umum.
*Kenapa sih, gerak gerikku selalu dijadikan bahan berita yang tak perlu. Aku ini bukan Presiden, bukan pula pejabat* Aku mengomel dalam hati, ditemani suara gemercik air dari kolam renang.
“Non, mau berenang lagi? Kan tadi pagi udah” Bi Iyah datang menghampiri aku yang larut dalam lamunanku.
“Nggak bi. Cuma lagi diem aja.” Aku mengabaikan Bi Iyah.
“Ceritain dong non, yang tadi. Gimana non disana? Apa nggak rame?” Bi Iyah berusaha mengorek cerita dariku.
“Rame banget dong!” Aku memasang mimik wajah serius, Bi Iyah langsung mengarahkan jarinya ke bibirnya yang sudah membentuk huruf ‘o’ terkejut atas jawabanku
“Terus gimana non? Emang pada nggak liatin non? Terus mereka ngomong apa? Non Amel ketemu sama siapa?” Bi Iyah mulai masuk lebih detail ke ceritaku
“Ya iya dong rame, kan macet” Aku tertawa terbahak-bahak. Bi Iyah menggaruk-garuk kepalanya, kebingungan atas jawabanku
“Non Amel, kenapa ketawa sih non? Bibi bingung tahu” ujar Bi Iyah memperhatikan aku yang tertawa terbahak-bahak.
“Nggak bi, Aku nggak jadi kesana, macet banget tadi. Jadinya cuma pulang bawa es krim” ujarku sambil tersenyum
“Fyuuh….syukurlah non” Bi Iyah membalas dengan hembusan nafas panjang dan lega.
Aku tidak menyesal, putar balik ke arah rumah adalah sebuah pilihan yang benar. Malahan, seharusnya aku tidak berangkat sama sekali, buat apa mengurus hal-hal yang tidak perlu. Aku perlu lebih banyak bersyukur, berarti namaku kali ini sudah dikenal oleh publik. Tapi aku harus validasi lagi, apakah aku dikenal karena hal-hal yang tidak penting seperti itu? atau karena aku adalah seorang model yang berbakat? Aku pun masih bertanya-tanya.
“Bibi takut Non Amel kenapa-napa. Ini dunia entertainment pasti kejam Non, nggak cuma Non yang jadi korban mulut-mulut tidak bertanggungjawab.” ujar Bi Iyah
“Iya bi. Jadi pelajaran buatku, mereka memang cari rezekinya dengan cara seperti itu. Harus dongkrak rating TV terus-menerus. Kadang kan aib orang itu seru banget untuk didengar daripada mikirin aib sendiri bi.” ujarku ketus
“Huss...udah Non. Jangan sampai kita jadi ikut dosa karena ngomongin mereka. Biar aja, bagaimana pun juga ya Non, pesan dari Ibunya bibi sih, orang baik itu selalu dilindungin Non. Mau dijatuhin kaya apapun juga.” Bi Iyah duduk di sampingku, kami berdua sama-sama mencelup kaki ke pinggir kolam renang. Bedanya, aku sambil memegang makanan, dan Bi Iyah sambil menepuk-nepuk pundakku.
“Bi, Bunda pulang jam berapa ya Bi?” ujarku. Aku ingin minta maaf dengan Bunda soal apa yang terjadi pagi tadi. Tapi aku hampir saja bikin ulah lagi, yang mungkin akan menambah pikiran Bunda.
“Hmm..kurang tahu yah Non. Ada apa Non? Kalau mau telpon Nyonya pakai handphone Bi Iyah bisa kok Non” Bi Iyah mengeluarkan handphone dari sakunya.
“Ooh, nggak apa-apa Bi. Kirain Bi Iyah tahu kapan Bunda akan pulang. Bi, minta tolong ya Bi, yang tadi waktu Amel keluar rumah karena mau marahin host gosip sama produsernya, jangan sampai Bunda tahu.” ujarku.
Aku melihat Bi Iyah diam saja, ia malah memainkan air sampai gemericik di kakinya berbunyi lebih keras. Apa jangan-jangan, Bunda sudah tahu ya?
“Semoga, Bunda lekas pulang dan tidak marah kalau tahu aku sempat berangkat untuk mencari host dan produser acara gosip tadi” ujarku
[Bunda’s POV]
Hari yang melelahkan adalah hari ini. Energiku terkuras habis untuk menghadapi drama Adidarma lawan yayasanku. Untung saja tiba-tiba Adit muncul dan menjelaskan duduk perkaranya. Paling tidak, aku bisa tahu letak kesalahan kenapa tiba-tiba aku harus membatalkan kontrak itu secara sepihak. Tidak masuk akal bila aku bercerita bahwa aku menelpon Pak Azmi untuk tidak menggunakan kontrak yang ditandatangani sebelumnya, karena anakku bilang aura karyawanku buruk.
Walaupun Aku percaya dengan apa yang dikatakan anakku semenjak kejadian pencopet di dalam Mall itu. Aku tetap tidak bisa mengutarakan hal itu kepada orang lain, tidak masuk logika walau sudah berdasarkan kisah nyata di mata kepalaku sendiri.
Bisa dikatakan aku sedikit memikirkan Amel setelah membaca pesan singkat dari Bi Iyah. Aku ingin segera pulang ke rumah tapi aku masih terbayang kejadian tadi dengan Adidarma. Pula, aku belum menemukan solusi terbaik untuk karyawanku yang berbuat curang, Adit. Tidak sampai hati aku untuk menjebloskan orang ke penjara meskipun dia salah, dia juga punya anak baru lahir yang tidak bisa ditinggalkannya.
Praktis, Aku termenung setelah kepulangan pihak Adidarma dari yayasanku, dan juga ketika karyawanku sudah kembali ke tempatnya masing-masing. Aku berusaha bermeditasi untuk menghilangkan emosiku yang terkuras untuk menghadapi orang-orang tadi. Aku melihat langit-langit dan tidak memikirkan apapun selain melamun.
*Aku butuh restart otakku* ujarku dalam hati. Aku pergi ke kamar mandi dan melihat wajahku yang terlihat sangat lelah, kembali ke ruangan dan memulas lipstick Chanel ku.
*Sepertinya aku butuh me time* Aku raih handphoneku dan membuat booking untuk sebuah perawatan kecantikan di klinik terkenal di daerah Kemang. Hari ini, aku ingin melakukan facial dan diberikan uap pada wajahku untuk memberikan sensasi rileks. Aku ingin sejenak melupakan semua hal yang terkait denganku, yayasan, anakku, maupun suamiku. Aku butuh waktu untuk menyenangkan diriku sendiri tanpa sangkut paut siapapun.
To: Klinik Kecantikan DermaCare
“Mba, saya Amy dengan nomor member 32712 perawatan facial, setrika wajah dan uap ion jam 7 malam ya.”
*Sent* ujarku dalam hati, menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan di yayasanku dan melakukan tugas-tugas administratif seperti menandatangani kontrak dan laporan. Kali ini, aku belajar dari pengalamanku untuk membaca halaman demi halaman dari dokumen yang aku tandatangani.
Kejadian itu membuat aku belajar bahwa seorang pemimpin harus teliti atas hal-hal krusial yang terjadi di organisasinya. Juga, aku belajar bernegosiasi dengan calon perusahaan rekanan. Lelah, tapi semuanya terbayar setelah aku bisa menyelesaikan segala urusan tanpa merugikan pihak siapapun.
*Mama tinggal dulu ya Mel* Aku berkata dalam hati sambil membaca ulang sms Bi Iyah dan membiarkan sms -sms itu tidak terbalas. Takut aku terganggu dengan membalas apa yang Bi Iyah katakan.