[Bunda's POV]
Aku mengambil tasku, keluar dari ruanganku untuk menuju tempat aku merawat diri. Waktu sudah menunjukkan waktu jam 5 sore, tanda selesainya jam kerja, dan beberapa karyawanku mulai pulang satu per satu.
Office boy ku juga sudah lalu lalang membersihkan area-area pekerjaan, dan Elsa, resepsionisku juga sudah mulai berkemas. Baiklah, sepertinya hari ini sudah cukup berat dan aku tidak perlu lagi menyelesaikan beberapa pekerjaan lanjutan.
Aku menyapa seluruh karyawanku yang berada di hadapanku, maupun yang sudah berada di tempat parkir. Kuberikan senyuman dan mengeluarkan mobilku seraya menuju Kemang dari kantorku.
"Bu, saya pulang dulu" Aria menyapaku dari atas motornya.
"Oh iya Aria, hati-hati ya." Aku melenggang pergi menuju tempat berikutnya.
*Drrrtt....Drrrrttt* handphoneku berbunyi
Aku tidak ingin membuka apapun rasanya hari ini, beberapa hari terakhir telah menjadi momen-monen yang sangat berat untukku. Aku sampai sedikit trauma untuk membuka pesan singkat di handphoneku karena menurutku aku selalu saja menemukan hal-hal yang ada-ada saja tiap kali aku membaca pesan.
*Duh Macet* ujarku dalam hati. Pada pukul ini pasti semua orang menginginkan pulang, sama seperti aku. Aku melihat banyak orang-orang yang juga terburu-buru, dengan banyak bunyi klakson dari orang-orang yang terjebak macet.
*Aku tidak boleh mengeluh karena macet, Aku harus cari hiburan lain* ujarku dalam hati, menyalakan radioku dengan volume penuh, dan mendengar penyiar radio yang sedang memberitakan cerita lucu.
"Hahahha, Nanti tiba-tiba lo dari dalem mobil teriak ke orang di pinggir jalan loh"
"Heran ya, cantik-cantik temperamen" ujar penyiar radio itu
*DEGGG* ini kan Amel, dan ternyata masih saja hangat dibicarakan. Pikiranku langsung berkelana ke keadaan anakku yang kata Bi Iyah, baru saja memberanikan diri untuk melabrak orang-orang yang bekerja untuk infotainment.
Menurutku, sikap Camelia sungguh berlebihan. Kalau dia ingin menjadi model papan atas, dia harus terima kalau gerak-geriknya itu diperhatikan, dan bahkan akan menjadi bahan berita yang menarik bagi banyak orang. Aku ada perasaan sedikit bangga, kalau hal receh seperti itu dikabarkan di media. Berarti, orang-orang sudah mulai mengenalnya, dan mengetahui pekerjaannya.
Mobilku sudah memasukki daerah Antasari, padat lalu lalang mobil yang baru saja keluar dari gedung-gedung perkantoran. Aku mengarahkan setirku menuju daerah Kemang, untuk melanjutkan appointment ku untuk perawatan. Kedua penyiar radio ini masih saja sedikit menyinggung tentang anakku. Tidak secara gamblang, memang, tapi aku paham betul kalau ini ditujukan untuk Camelia.
"Coba ya, di foto kok kayaknya alus banget, cantik dan kalem, di dunia nyata ampun deh, gampang marah!" ujar penyiar radio dengan suara perempuan
"Gue sih males banget ya kalau punya cewek gampang marah, pasti ribet gue bikin dia seneng. Ya dia cantik sih, tapi daripada gue ribet ya, fisik kan bukan jaminan happy" ujar penyiar radio dengan suara pria menimpali.
"Heh! Emang anak saya, Camelia, mau sama kamu? Apa -apaan kamu menjelek-jelekkan anak saya di depan umum?" Aku mengomel dari dalam mobil. Sekarang aku makin tahu rasa geramnya menjadi anakku mendengarkan omongan-omongan pedas dari orang yang bahkan tidak aku kenal namanya. Aku ingin rasanya datang ke kantor radio itu untuk memarahi orang-orang yang mengangkat berita anakku. Aku naik pitam, kepalaku langsung terasa sakit karena aku menahan amarah.
Axelia Skin Beauty
"Selamat sore Nyonya Amy, apakah jadi perawatan dengan appointment yang sudah dibuat sebelumnya?*
Di dalam handphoneku sudah tertera pesan singkat dari tempat aku akan melakukan perawatan. Waktu sudah menunjukkan pukul 6:00 sore dan aku memang sudah terlambat dari perjanjian awalku untuk datang jam 5 sore disana. Aku juga sudah mendengar suara adzan maghrib yang menggema di masjid yang aku lewati di perjalanan. Akhirnya, aku memilih untuk menepi, shalat untuk menenangkan diri dan melanjutkan agendaku tadi.
Aku berhenti di sebuah masjid berwarna putih dengan hiasan berwarna hitam, bersama dengan seorang perempuan muda, seumuran Camelia yang turun dari motor. Sepertinya, dia adalah seorang gadis yang baru saja masuk dalam dunia pekerjaan, kulihat dari setelan atasan berwarna putih dan rok berwarna hitam, dengan sepatu pantofel dan ikatan rambut yang rapi. Dia berpapasan denganku dan menyapaku
"Shalat, bu" Gadis itu tersenyum dan pergi menuju tempat wudhu, membuatku teringat dengan anakku.
"Iya, dek" Aku membalasnya, mengambil handphoneku dan langsung mengetik pesan singkat untuk Bi Iyah, yang berisi pertanyaan tentang anakku.
To: Bi Iyah Rumah
"Bi, gimana keadaan Amel? Apa sudah makan? Apa dia baik-baik saja? Mungkin dia merasa sedih? Tunggu ya Bi, saya coba pulang secepatnya"
Hatiku merasa bersalah karena memilih untuk pergi perawatan, sementara anakku sedang berjuang melawan rasa sedihnya. Mendengar berita itu di telinga ku sendiri, rasanya sudah membuat aku cukup muak, dan tidak mood untuk melakukan apapun. Pasti efeknya kepada anakku akan jauh lebih besar lagi, karena itu tentang dirinya sendiri. Akupun langsung membalas message dari tempat perawatan kecantikanku
To: Axelia Skin Beauty
"Halo Mbak, terima kasih atas remindernya. Sepertinya sesi perawatan hari ini saya mau reschedule, apa bisa dilakukan dalam dua hari kedepan? Terima kasih "
Aku membatalkan sesi me time ku dan mengambil air wudhu. Aku tidak penting lagi tentang kebahagiaanku sendiri, dan tidak peduli berapa banyak waktu yang kuhabiskan hanya untuk membuat Camelia senang. Yang terpenting, anakku harus tahu kalau aku sebagai Ibunya akan mendukungnya dan mendoakannya sepenuh hati.
Selesai dengan shalatku, ku ambil mukena dari mobilku dan ikut berjamaah dengan pengunjung masjid lainnya. Setelah shalat, aku langsung berdoa, kali ini aku berdoa lebih khusyuk untuk ketenangan hati anakku. Saat berdoa, aku bisa merasakan handphoneku bergetar
*Drrt Drrrt* dua buah pesan masuk, satu dari tempat perawatan kecantikanku, satu lagi dari Bi Iyah. Aku langsung bergegas membuka pesan dari Bi Iyah
From : Bi Iyah
"Nggak apa-apa Nyonya. Non Camelia sepertinya baik-baik saja, tidak ada yang aneh. Nyonya pulang jam berapa? Apa ingin dimasakkan sesuatu?"
Aku pun membalas
To : Bi Iyah
"Coba tanyain Amel bi, mau dibawain makanan sesuatu nggak? Mungkin jajanan gitu. Kalau makan malam, masak apa aja Bi. Saya pasti makan."
*Drrt.. Drrt* Bi Iyah membalas pesan singkatku
From : Bi Iyah
"Non bilang, apa saja asalkan manis, Nyonya. Kalau memang lewat tempat jual Boba Tea, tolong dibawakan. Tapi kalau nggak lewat, nggak usah. Yang penting cepat pulang"
ujar Bi Iyah di pesan singkat itu.
*Baik sayang. Mama akan usahakan bawa semua jajanan yang Amel suka* ujarku dalam hati. Aku berusaha menembus jalanan-jalanan kecil untuk menghindari kemacetan. Sampai akhirnya aku bertemu dengan jalan tikus yang lengang dan tidak dilewati. Karena sangat sepi, aku tancap gas di jalanan yang memiliki banyak persimpangan itu. Tiba-tiba aku mendengar suara yang amat keras dari sisi kiriku
"TIIIN... TINNN" Klakson sebuah truk yang besar datang dari arah sisi kiriku.
"AAAAA!" aku berteriak dan merasakan hantaman yang sangat besar, menggerakan mobilku tak tentu arah.
"BRUKKK!" dentuman antar mobilku dan truk itu tidak terelakkan, aku merasa sakit sekali di dadaku dan pusing, lalu pandanganku gelap.
*Mel..* di keadaan tidak berdaya, aku meneteskan air mata, dan mendengar ringtone handphoneku berbunyi
*Something about you...makes me feel good...* lalu aku pun tak sadarkan diri.