“Pak Prabu! Tolong Pak Prabu!” Bi Iyah berteriak kepada telepon genggamnya yang terhubung dengan Pak Prabu.
“Ada apa Bi? Baik saya segera kesana BI!” ujar Pak Prabu berbicara lewat telpon kepada Bi Iyah.
Bi Iyah bergetar dan menangis hebat, di pangkuannya terdapat Camelia yang tidak sadarkan diri, dan suara TV yang masih menyala. Liputan hari itu sungguh menyedihkan. Ia tidak menyangka kalau majikan yang sangat baik kepadanya telah mengalami kecelakaan, dan di tangannya sekarang, terdapat gadis muda yang dulu ia rawat sedari kecil, terancam kehilangan ibu.
Bi Iyah tidak bisa berhenti meneteskan air mata, ia bingung atas hal yang harus dilakukannya. Tak pernah sedikit pun ia mengalami kejadian se mengejutkan ini dalam hidupnya. Tangannya gemetar, dan ia tidak bisa membendung kedukaannya.
Saluran berita di kanal TV itu masih meliput tempat kecelakaan dimana majikannya berada. Persis, persis sekali mobil yang dikendarai Amy, platnya pun sama. Terdapat pula parfum mobil yang keluar dari dalamnya, berwarna lilac, dengan tulisan Pleau, ciri khas Amy.
“Inalillahi Non, Nyonya. Ada apa ini Non..Nyonya...ya Allah sedih banget saya ya Allah” Bi Iyah memeluk Camelia yang masih belum sadarkan diri. Kebingungan apa yang harus dilakukan karena Pak Prabu masih belum datang, dan ia juga tidak dapat menahan rasa sedih karena berita itu.
Ia menarik badan Camelia, dan mengangkat tubuh gadis itu ke sofa dan merebahkan tubuh tersebut. Ia mengambil remote TV, berseluncur ke kanal TV lain yang mungkin meliput kecelakaan tadi lebih detail. Bi Iyah ingin tahu, apakah betul itu kendaraan majikannya. Ia berharap hanya sebuah kesalahan semata. Terus menerus ia mengganti kanal TV untuk melihat liputan kecelakaan tersebut dan berhenti pada sebuah kanal TV yang menyorot interior dari mobil majikannya tersebut.
“PEMIRSA, SEPERTI INILAH KEADAAN DI DALAM MOBIL MEWAH YANG HARI INI MENJADI KORBAN TABRAKAN DI BILANGAN ANTASARI, JAKARTA SELATAN” ujar presenter itu sambil mengarahkan kamera menyusuri sudut-sudut interior di dalam mobil.
“KAMI BELUM DAPAT MEMASTIKAN APAKAH TERDAPAT OBAT-OBATAN TERLARANG ATAUPUN MINUMAN KERAS YANG MUNGKIN MEMPENGARUHI PENGEMUDI DALAM BERKENDARA”
“INFO DARI TEAM KAMI DI RUMAH SAKIT FATMAWATI, KORBAN BELUM SADARKAN DIRI. KORBAN ADALAH SEORANG PEREMPUAN BERUMUR RENTANG 45-50 TAHUN, TERLUKA PARAH DI BAGIAN KEPALA KORBAN”
“SEMENTARA PENGEMUDI TRUK DILARIKAN KE RUMAH SAKIT YANG SAMA AKIBAT CEDERA PARAH DI BAGIAN KAKI”
“Astagfirullahaladzim” Bi Iyah menghela nafas, menahan tetesan air mata yang mengalir dari pelupuk matanya.
Tangannya meraih handphone dan mengetik beberapa nomor. Ia tiba-tiba terdiam dan berpikir
*Haruskah saya telpon Pak Rasyid untuk mengabari keadaan Nyonya Amy?* perasaannya berkecamuk dalam hati. Ia bingung menyampaikan kabar duka pada saat keadaan jarak memisahkan Pak Rasyid dengan Nyonya Amy.
*Okay, aku harus telpon Pak Rasyid agar beliau tahu tentang keadaan rumah sekarang!* Bi Iyah langsung menekan nomor handphone Pak Rasyid, sambil menenangkan diri untuk menjelaskan apa yang terjadi.
*Tuut… Tuutt…* suara telepon keluar yang tidak kunjung diangkat oleh Tuan nya. Ia berdoa dalam hati supaya dapat tersambung untuk bercerita tentang keadaan rumah saat ini. Namun, ia menyadari bahwa Tuan nya sedang berada di luar negeri, sehingga nomor yang ia coba hubungi sekarang, mungkin saja bukan yang dipakai di Indonesia.
*Tuan Rasyid...Nyonya, Tuan* Bi Iyah berulang kali menekan keypad, berharap mendapatkan jawaban dari Tuan Rasyid. Namun, ia menyadari bahwa sepertinya tidak bisa begitu saja tersambung dengan mudah kepada Tuan nya.
“Bi, ini ada apa? Ayok bi kita ke rumah sakit anter Non Amel lagi sakit ya Bi?” Pak Prabu datang dengan terburu-buru, memapah tubuh Camelia yang tergeletak diatas sofa.
“Bukan Pak Prabu, itu Nyonya Amy, Pak.” Bi Iyah menangis histeris, kata-katanya aterpatah-patah dan Pak Prabu pun tidak bisa mendengar jelas apa yang dimaksud oleh Bi Iyah.
“Kenapa Nyonya? Ayok bi jangan nangis disini ini kasihan Non Amel. Nyonya belum pulang? ya sudah dikabari lewat sms ya Bi” Pak Prabu berlari kecil menuju arah mobil dan Bi Iyah mengikuti dari belakang untuk membukakan pintu mobil.
“Pak Prabu .. Pak Prabu” Bi Iyah masih melanjutkan tangisannya sambil menempatkan Camelia di kursi penumpang di mobil Alphard itu.
“Bi, tenang dulu dong, Ayok Bi Iyah kunci rumah lalu ikut saya ke Rumah Sakit. Kasihan Non Amel bi, sakit. Sama bawa peralatan Non Amel ya” Pak Prabu mengarahkan tangannya keluar, menyuruh Bi Iyah secara halus untuk mengunci rumah dan mempersiapkan baju ataupun peralatan lain yang mungkin Camelia butuhkan di rumah sakit.
“Pak Prabu.. Pak Prabu… “Bi Iyah masih tersengal-sengal. Suara nafasnya mulai putus-putus akibat tangisannya yang terlalu keras
“Bi, tenang dulu Bi. Ya sudah cerita dulu sama saya, tapi jangan lama- lama ya, kasihan Non Amel di dalam mobil” ujar Pak Prabu berusaha menenangkan Bi Iyah
“Itu Non Amel pingsan karena Non Amy kecelakaan di Antasari Pak.. Tadi saya dan Non Amel lihat beritanya, dan mobilnya, platnya, interiornya, pasti punya Nyonya” Bi Iyah menangis semakin keras.
“Ayok Bi! Kunci pintu dan kita antar Non Amel supaya bisa lihat keadaan Nyonya Amy!” Pak Prabu menggenggam lengan Bi Iyah, dan Bi Iyah berlari untuk mengambil baju Camelia, Amy dan dirinya, seadanya. Pak Prabu langsung bergegas mengeluarkan mobil dari carport dan Bi Iyah sudah sigap mengunci seluruh pintu dan naik keatas mobil.
“Bi Iyah, katanya Nyonya Amy dilarikan ke Rumah Sakit mana?” Pak Prabu memasang sabuk pengaman, dan mulai menginjak kopling.
“di Rumah Sakit Fatmawati, Pak Prabu” Bi Iyah mengeratkan sabuk pengaman dan menengok ke arah Camelia yang masih belum sadarkan diri. Akhirnya mereka berdua berangkat menuju Rumah Sakit tempat Amy dilarikan, dan meninggalkan rumah itu kosong.
*Drrrttt…..Drrrttt* suara handphone di atas sofa, bergetar tanda pesan baru masuk
From : Tuan Rasyid
“Bi Iyah, ada apa? Maaf tadi saya belum bisa angkat Bi. Saya titip anak-anak sama tolong dibantu Amy dan Amel ya bi kalau ada kesusahan. Terima kasih Bi”
Sayangnya, Bi Iyah meninggalkan handphone itu secara tidak sengaja karena terburu-buru menuju ke Rumah Sakit. Akhirnya, tidak ada yang membaca pesan yang dituliskan Rasyid untuk Bi Iyah, dan Rasyid pun tetap tidak tahu apa yang terjadi dengan anak dan istrinya.
Sementara di jarak dan zona waktu yang berbeda...
Kali itu, Rasyid sendiri tiba-tiba merasa tidak tenang.
*Ada apa ini? Kenapa hatiku rasanya galau dan tidak tenang seperti ini?* ujarnya dalam hati
*Mungkin aku hanya merindukan mereka semua* Rasyid membuka lagi laptopnya dan mulai mengerjakan lagi tugas-tugasnya.