Pak Prabu mengendarai mobil itu dengan cepat, seperti orang yang sedang terlambat. Sementara, Bi Iyah menengok ke arah Camelia terus menerus, memastikan gadis itu sadar dan siuman.
“Pak, kenapa Non Amel nggak bangun-bangun ya Pak?” ujar Bi Iyah
“Udah bi, itu biar dokter nanti saja yang jawab. Insya Allah nggak kenapa-kenapa” jawab Bi Iyah
“Tapi kalau Non Amel juga kenapa - kenapa, gimana Pak Prabu?” Bi Iyah mulai menangis lagi, menunjukkan kekhawatirannya atas keadaan Camelia yang tak sadarkan diri.
“Bi, Sabar dan tenang Bi. Jangan sampai Bi Iyah terlalu sedih, tunggu dulu kabar lanjutannya. Saya lagi coba secepat mungkin untuk sampai RS Fatmawati” ujar Pak Prabu berusaha menenangkan Bi Iyah, sambil tetap mempertahankan tangannya tetap kepada kemudi.
“Eh ya Allah, Pak Prabu, handphone saya ketinggalan, Pak!” ujar Bi Iyah
“Ya sudah nanti saja, bu. Saya akan ambilkan nanti, kita coba ketemu Nyonya Amy sampai tahu keadaannya dulu ya Bi. Juga bawa Non Amel ke UGD” ujar Pak Prabu, dengan pandangan fokus ke arah jalan raya.
Pak Prabu sudah berhasil sampai ke area parkiran di Rumah Sakit tersebut, tapi ia tidak kunjung berhenti karena tidak bisa menemukan pintu UGD.
“Pak, Ayok berhenti. Kenapa nggak stop sih? Ini kan biar kita bisa lekas kasihkan Non Amel ke dokter dan juga cari Nyonya!” Bi Iyah menekan Pak Prabu yang sedang kebingungan.
“Ini lho Bi, dimana UGD nya? Mobil juga ramai sekali bi.” ujar Pak Prabu
Terlihat banyak mobil terparkir di depan RS Fatmawati, dari mulai mobil pengunjung, mobil kepolisian, dan bahkan terdapat mobil liputan stasiun TV. Dari kejauhan juga sudah dapat terlihat beberapa wartawan yang duduk duduk di pinggiran sekitar RS Fatmawati, membawa kamera lengkap dengan microphone yang dipegang oleh presenter yang berada disana.
“Oh iya Pak. Ramenya Pak.” ujar Bi Iyah.
Pak Prabu menurunkan kaca mobilnya, dan bertanya kepada wartawan yang lewat di samping mobil yang sedang dikendarainya.
“Mas, UGD dimana ya?” wartawan itu langsung menunjuk kerumunan orang-orang yang menunggu di depan akses UGD.
“Mas, bisa minta tolong mas? saya ada kondisi urgent, ada yang pingsan di kursi penumpang, teman-temannya minta tolong beri jalan ya” ujar Pak Prabu
“Iya pak.. Iya, maaf itu teman teman saya sedang menunggu konten berita.” ujar wartawan itu yang langsung mengusir teman-temannya yang menutup akses UGD.
Pak Prabu dan Bi Iyah langsung bergegas mencari suster yang berjaga, agar Camelia dapat segera dimasukkan ke ruang UGD. Camelia langsung digotong dengan menggunakan tandu dan dibawa masuk ke dalam ruangan UGD.
“Mas, sebenarnya disini nungguin berita apa? Kok ada di depan UGD Rumah Sakit, sih” ujar Pak Prabu kepada wartawan yang tadi sempat ditanyainya.
“Itu Pak, mau tahu tentang keadaan korban tabrakan di daerah Antasari, katanya di dalam Rumah Sakit juga kepolisian lagi berusaha menanyakan yang menabrak mobil tadi” ujar wartawan itu
“Pak? Berarti Nyonya Amy ada disini?” teriak Bi Iyah histeris, ia meneteskan air mata lagi dan merasa sedih. Amy dan Camelia berada di satu ruangan yang sama dalam keadaan tidak sadarkan diri.
“Maksud Ibu? Ibu kenal dengan korban tabrakan itu? Memang perempuan yang jadi korbannya tadi.” ujar wartawan itu, disusul dengan wartawan-wartawan lainnya yang mulai menggulung kabel microphone dan berdiri dari posisi duduk, melihat ke arah Bi Iyah. Kameramen pun juga sudah mulai memperhatikan apakah Bi Iyah adalah orang yang tepat untuk dimintai keterangan lebih lanjut.
Tiba-tiba, salah satu wartawati menghampiri dan menyodorkan microphone ke arah Bi Iyah sambil bertanya,
“Jadi apakah benar korban kecelakaan di Jalan Antasari yang sekarang berada di UGD RS Fatmawati bernama Amy?” tanya wartawati itu, ditemani dengan rekan kameramennya yang meliput wajah Bi Iyah dari jarak dekat.
“Apa profesi Bu Amy dan kenapa Bu Amy melewati jalan Antasari?” ujar wartawan lainnya mulai berdatangan mewawancarai Bi Iyah dan Pak Prabu
“Bisa tolong diberitahu adakah pesan-pesan terakhir dari Amy sebelum akhirnya mengalami kejadian ini?” seorang wartawati lainnya, menggunakan baju berwarna biru dengan lambang garuda khas ARTV, menanyakan hal lainnya.
Bi Iyah dan Pak Prabu dikerumuni oleh segerombolan wartawan yang berebut menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang semakin lama semakin aneh dan menjurus ke hal yang sama sekali tidak seperti Bu Amy.
“Apa Bu Amy orangnya keras? sehingga mungkinkah kecelakaan ini disebabkan oleh dendam dari orang yang tidak menyukainya?”
“Ada kebiasaan yang aneh kah? Mungkin suka minum-minuman keras? Atau jangan-jangan tidak punya SIM ya?”
Pertanyaan demi pertanyaan aneh keluar dari wartawan-wartawan yang berusaha mengorek kebiasaan Amy yang mungkin dapat dijadikan bahan berita. Wajar saja, pihak kepolisian belum keluar dari dalam Rumah Sakit untuk menjelaskan hasil interogasi dengan sopir truk penabrak mobil Amy.
Bi Iyah tidak menjawab apapun, pertanyaan-pertanyaan yang aneh terlontar dari mulut para wartawan itu membuat Bi Iyah sedih tidak terkira. Pada saat duka seperti ini, masih saja ada orang yang ingin menggunakan hal-hal yang tidak perlu demi menemukan konten yang mungkin laku di pasaran. Bahkan, tidak sedikit pun menyampaikan bela sungkawa atau rasa duka cita yang mendalam pada Bi Iyah dan Pak Prabu.
*Seperti robot yang kehilangan simpati dan empati* ujar Bi Iyah dalam hati.
Pak Prabu memberikan jalan untuk Bi Iyah agar bisa keluar dari kerumunan, dan mereka berdua pun bergerak menuju meja administrasi Rumah Sakit. Mereka mengurus kedatangan Camelia ke UGD dan juga memastikan apakah Amy benar-benar berada di kamar UGD tersebut seperti yang dikatakan wartawan tadi.
[Camelia’s POV]
Aku merasa ada sinar di atas mataku, terang sekali hingga aku terbangun dari tidur panjangku. Aku bisa mencium wangi minyak kayu putih di sekitar hidung dan aku teringat bahwa ketidaksadaranku ini adalah akibat aku baru saja mendengar kabar Bunda kecelakaan.
Aku merasa asing di tempat ini, tidak mengenali sekitar ku. Yang aku lihat banyak suster dan dokter berlalu lalang kesana kemari, dan aku bisa melihat bayangan orang lain di bilik yang tertutup di sebelahku. Bau obat tercium dari mulutku, aku di Rumah Sakit.
“Kak, sudah bangun kak? Saya panggilkan dokter ya” ujar suster yang berada di hadapanku, yang baru saja mengecek kondisiku.
“Ah nggak sus, saya mau pulang aja. Makasih ya sus, saya mau cari Bunda saya” ujarku, dengan kepala yang berat karena pusing, aku memaksa tubuhku untuk bangun dari tidurku.
“Kak, sebentar dulu kak, kita tunggu dokter dulu memeriksa” ujar suster itu.
Aku kembali ke tempat tidurku dalam keadaan tidak tenang.
*Bagaimana keadaan Bunda?”*aku membayangkan yang tidak tidak.
Sampai akhirnya aku mendengar suara yang keras dari luar bilikku, pada ruangan yang sama.
“PASIEN PEREMPUAN, 47TH, KAMAR OPERASI SEKARANG”
Aku tidak bisa menahan rasa ingin tahuku dengan keadaan sekitar tempatku berada, dan aku mengintip dari balik kain yang membatasi aku dan pasien lainnya. Terkejut aku dengan apa yang aku lihat dan aku reflek berteriak
“BUNDA!” Aku menangis tidak karuan, dan akhirnya dibawa keluar oleh suster yang tadi menemaniku, karena aku sudah membuat keributan yang dapat mengganggu pasien lainnya.
“BUNDA! BUNDA! BUNDA!” Aku masih tetap berteriak, berharap Bunda menjawab panggilanku.
Tapi tidak, Bunda memang sudah dalam keadaan kritis dan tidak sadarkan diri, dengan darah bercucuran dimana-mana. Aku bisa melihat tadi ada darah yang menetes dari atas menuju telapak tangannya, dan aku tidak tega melihatnya seperti itu
*Bunda.. maafin Amel Bunda* ujarku dalam hati, dengan air mata tidak terbendung