Camelia menangis histeris di depan UGD, dan para wartawan sekitar itu berusaha membawa Camelia menjauh dari UGD. Mereka tidak tahu mengapa gadis ini menangis, yang mereka pahami adalah, ini Rumah Sakit, dan kita tidak boleh berisik.
“BUNDA! BUNDA! BUNDA!” ujar Camelia yang tetap saja berteriak memanggil-manggil Ibunya.
“Mbak, sabar Mbak. Ini di rumah sakit, ayo kita doakan ibunya” ujar seorang wartawati yang menarik tangan Camelia untuk menjauh dari area UGD
“Bunda” Camelia menangis sampai nafasnya tersengal-sengal. Wartawati itu memberikan tepukan halus pada punggung Camelia, dan merangkulnya untuk menenangkan. Dia memberikan sebotol air putih kepada Camelia dan membawanya ke tempat tunggu yang sepi dari kerumunan wartawan.
“Mbak, ini diminum dulu mbak” Perempuan itu memberikan air tadi ke tangan Camelia, dan Camelia pun meminumnya.
“Mbak, ada apa? kenapa Ibunya?” ujar wartawan perempuan itu
“Itu, Bunda saya mbak..” Camelia masih termehek-mehek
“Kenapa Bunda-nya Mbak?” Perempuan itu menanyakan lagi
“Bunda saya kecelakaan Mbak. Saya tonton di TV tadi lalu langsung kesini dan saya tadi melihat Bunda saya berceceran darah di dalam UGD itu mbak..” ujar Camelia sambil menangis lagi.
“Oh jadi Mbak ini anaknya Ibu itu yang kecelakaan di Jalan Antasari?” perempuan itu mulai mengeluarkan tisu yang ada di saku celananya dan memberikan ke tangan Camelia yang masih lanjut menangis.
“Iya Mbak.” Camelia mengelap air mata nya dengan tisu dari perempuan itu.
“Mbak, saya ini wartawan. Saya dan rekan-rekan ini menunggu kabar tentang Bunda-nya mbak.” ujar wartawati itu
“Mbak, saya lagi tidak mau diajak bicara yang sifatnya ditanya-tanyakan. Saya hanya butuh teman sambil menunggu kabar lanjutan tentang Ibu saya.” ujar Camelia.
“Iya Mbak, saya paham. Mbak disini saja sama saya, saya akan jaga rahasianya. Takutnya kalau Mbak kemana-mana, yang lain mengejar Mbak untuk diwawancarai.” ujar perempuan itu
Tiba-tiba Bi Iyah dan Pak Prabu menghampiri Camelia dan wartawati itu yang duduk di pinggir lorong Rumah Sakit.
“Non Amel, Non baik-baik aja Non? Non? Kenapa keluar sendiri dari UGD Non?” Bi Iyah menghujani Camelia dengan banyak pertanyaan, Pak Prabu juga terlihat kaget dengan keberadaan Camelia yang tiba-tiba sudah berada di luar ruangan UGD.
“Bi… Bunda Bi.. Bunda tadi di dalam UGD itu sama Amel. Aku lihat Bunda darahnya netes-netes Bi… gimana bi” Camelia terisak lagi. Wartawati yang duduk di sebelahnya izin untuk kembali menunggu di depan UGD.
“Kak, saya kembali ke tempat tadi. Kakak dan yang lain tetap disini saja dulu sampai beberapa wartawan sudah lelah menunggu dan memilih untuk pulang. Supaya lebih nyaman dan tidak perlu ditanya-tanyai” ujar perempuan itu, menjauhkan diri dari mereka bertiga.
“Terima kasih ya Mbak, atas bantuannya” ujar Bi Iyah.
“Iya sama-sama Bu. Saya akan beritahu ke kalian bagaimana keadaan Bunda-mu yang berada di dalam ruangan UGD itu. Kami kan wartawan, jadi pasti selalu tahu berita terupdate” ujar perempuan itu yang akhirnya melangkah menjauhi mereka.
Bi Iyah, Pak Prabu dan Camelia mencari keberadaan polisi serta berbicara dengan administratif Rumah Sakit, untuk menjelaskan bahwa mereka adalah pihak keluarga dari Amy yang sedang mengalami bedah di ruang operasi akibat kecelakaan mobil. Pihak Rumah Sakit langsung menjelaskan kondisi Amy yang sudah tidak sadarkan diri, serta pengobatan apa yang sudah dan akan dilakukan untuk menyelamatkan Amy.
Pak Prabu fokus mendengarkan penjelasan dari kepolisian mengenai perkembangan kasus ini.
“Jadi begini Pak, yang nabrak juga baru saja selesai di operasi karena patah tulang. Kami ingin menanyakan sebenarnya, cuma pengaruh obat bius masih sangat besar, sehingga kesaksiannya tidak bisa kami jadikan acuan” ujar seorang polisi yang menjelaskan kepada Pak Prabu
“Lalu, apa yang harus kami lakukan pak?” ujar Pak Prabu
“Kami dari kepolisian menyarankan Bapak dan Ibu untuk menunggu informasi lanjutan dari kami. Kami akan terus pantau dan kawal ketat kasus ini sampai menemukan jalan keluar. Tapi untuk malam ini, lebih baik anda istirahat” ujar polisi itu, bergegas untuk kembali menaiki mobil patrolinya dan kembali ke pos nya.
“Baik Pak polisi, terima kasih” ujar Pak Prabu, menjabat tangan para polisi itu yang sudah ingin mengakhiri hari itu.
Sementara dari arah yang lainnya, Bi Iyah dan Camelia sedang berbincang dengan seorang suster yang memberikan informasi tentang keadaan Amy.
“Suster, gimana sus keadaan Bunda saya? saya dengar tadi dilarikan ke kamar operasi, langsung” ujar Camelia
“Keadaan Ibu cukup parah, kak. Sekarang masih berada di ruang operasi, kurang lebih satu setengah jam lagi akan selesai. Kakak dan Ibu berdoa saja yah, semoga operasinya lancar di dalam” ujar suster itu
“Memang kenapa harus sampai operasi, suster?” ujar Camelia
“Sebenarnya bukan dalam kapasitas saya untuk berbicara diagnosis seperti dokter. Cuma yang saya tahu ada dislokasi di tulang d**a pasien, sehingga perlu dilakukan operasi, kak.” suster itu menjelaskan secara medis dengan menggunakan bahasa yang awam
“Kalau begitu, apa kami boleh menunggu disini?” ujar Bi Iyah, Sementara Camelia menangis lagi mendengar kabar keadaan Bunda nya yang cukup parah
“Boleh, Bu. Tapi tidak boleh tidur dan menginap disini. Saya sarankan jika dokter sudah menyatakan operasi berhasil, Ibu dan kakak pulang saja. Pengaruh anestesi nya kepada pasien akan sangat besar, sehingga kemungkinan untuk tertidur sampai esok pagi sangat besar” ujar suster itu, dan pergi menjauh dari mereka berdua.
“Terima kasih ya suster” ujar Bi Iyah, yang disambut dengan lambaian tangan dari suster tadi.
“Non Amel, jangan nangis terus non. Kita tunggu sampai operasi Bunda selesai ya Non? Supaya kita tenang habis itu pulang ke rumah.” Bi Iyah menepuk bahu Camelia
“Loh, kok pulang sih bi? Kasihan Bunda! Masa lagi kritis dan sakit begini malah ditinggal. Bibi gimana sih” Camelia langsung ketus dan melotot kepada Bi Iyah
“Non, kita mau tidur dimana? Kita belum tahu Bunda tidur di kamar mana, dan juga, Bunda akan nggak sadar dalam waktu yang lama, sampai esok pagi. Kita nggak mungkin tidur di lorong Rumah Sakit ini, Non.” ujar Bi Iyah
“Kenapa nggak mungkin?” tantang Camelia
Pak Prabu dan Bi Iyah langsung saling berpandangan satu dengan yang lain dengan tatapan heran.
“Bi, Pak. Amel itu nggak tega kalau Bunda saat-saat kayak gini ditinggal sendirian.” Camelia memaparkan kekhawatirannya
“Gini saja deh Non. Kita tunggu sampai operasi Bunda selesai dulu. Baru nginep atau nggaknya lihat keadaan nanti aja. Kalau juga diizinkan di Rumah Sakit ini. Gimana Non?” tanya Bi Iyah, yang sambil mengangkat alis ke arah Pak Prabu, memberi sinyal yang hanya mereka berdua ketahui.
“Yaudah bi. Amel sekarang mau fokus doain Bunda deh. Kita mikirin soal hal itu nanti aja. Pokoknya jangan sampe Bunda ngerasa sendirian selama melalui fase berat kayak gini” ujar Camelia
*Bunda, semoga Bunda baik-baik saja...Bunda Amel akan selalu doain Bunda. Ya Allah tolong Bunda ku ya Allah* ujar Camelia dalam hati, sambil duduk menunggu di kursi pinggir lorong Rumah Sakit itu.
Satu setengah jam berlalu, dokter pun keluar dari kamar operasi dan langsung menghampiri Amel. Dokter itu hendak memberikan kabar tentang Amy, dan operasi yang dijalaninya.
*Apakah operasi ini akan berhasil? * ujar Amel dalam hati, dirundung rasa penyesalan karena sebelumnya berkonflik dengan Bunda, dan belum menyampaikan maaf, malah sekarang Bunda kecelakaan.
Camelia takut hari itu menjadi hari dimana ia menjadi seorang piatu, yang belum menyampaikan kata maaf dan salam perpisahan yang diakhiri dengan sebuah perang dingin selama di rumah.