Mereka menunggu di lorong Rumah Sakit, malam menjelang dan nyamuk pun sudah mulai berdatangan. Bi Iyah dan Pak Prabu sudah mulai terlihat tidak nyaman dengan posisi mereka duduk, karena dikerubungi nyamuk dari sekitar Rumah Sakit. Sementara, Camelia masih tidak menyadari ketidaknyamanan yang seharusnya ia rasakan, karena ia sibuk merapalkan doa untuk Ibunya.
Hari sudah semakin larut, dan waktu sudah terlewat lebih dari 30 menit. Camelia terlihat gelisah dengan keadaan Bunda nya, menampik kenyataan bahwa sekarang sudah terlalu malam.
“Non, kita mau tunggu disini Non?” ujar Bi Iyah sambil menepuk- nepuk bahunya, karena digigit nyamuk
“Non, pindah aja yuk Non. Gelap dan gatel.” ujar Pak Prabu, mengibas-ngibaskan celananya untuk mengeluarkan nyamuk yang memasuki badannya.
“Hah? Kenapa sih Pak Prabu? Bi Iyah? Baik-baik saja kok disini. Kalau kita jauh-jauh nanti waktu dokter nyari kita untuk mengabari keadaan Bunda malah nggak bisa ketemu loh” ujar Camelia yang merasa keadaan di sekelilingnya baik-baik saja.
“Non, Bi Iyah tahu Non Amel lagi kepikiran soal keadaan Nyonya. Tapi coba dilihat tuh lengan Non Amel” ujar Bi Iyah sambil menggulung lengan Camelia, berusaha menunjukkan bekas gigitan nyamuk yang berada di tubuh Camelia
“Oh iya Bi.. Kok Amel nggak ngerasa gatal ya” Camelia masih enggan untuk berpindah dari tempat duduknya.
Detik demi detik berlalu, tidak terasa mereka sudah menunggu satu setengah jam. Seharusnya, sesuai dengan perkataan suster tadi, mereka bisa mendapatkan kabar tentang Bunda karena operasi sudah selesai. Tapi, tidak ada kabar tentang keadaan Bunda. Camelia dan yang lainnya masih setia menunggu di depan lorong Rumah Sakit dengan harapan menemukan kabar baik.
“Bi, kenapa nggak ada kabarnya ya? Ini suasana juga sepi banget, kayak nggak ada aktifitas apapun” Camelia mulai tidak sabar menunggu. Melelahkan sekali untuk duduk tanpa kejelasan bagaimana keadaan Bunda, suasana Rumah Sakit juga sudah sepi sekali.
“Iya Non, kenapa ya Non? Jadi Non Amel mau gimana non?” tanya Bi Iyah
“Non, gimana kalau kita pulang aja dulu non?” ujar Pak Prabu
“Kalau pulang terus Bunda ada apa apa, gimana Bi?” ujar Camelia
“Bukan gitu Non. Ini kayaknya orang-orangnya udah nggak ada, saya ragu kita akan dapat kabar Non. Kita kan juga nggak boleh nginep juga di lorong ini Non” ujar Bi Iyah
Camelia masih tetap pada tempat ia duduk, walau sudah mulai resah dan gelisah.
“Bi Iyah, ayo telfon Ayah.Apa Ayah sudah tahu keadaan Bunda sekarang?” tanya Camelia
“Belum Non. Maaf handphone Bi Iyah ketinggalan karena tadi buru-buru ngejar kesini Non.” ujar Bi Iyah
“Pake handphone Pak Prabu aja Non” Pak Prabu menyodorkan handphone dari sakunya.
Camelia mengambil handphone itu dan mulai mencari kontak Ayahnya. Ia mencoba untuk menghubungi Ayah-nya yang mungkin belum mengetahui berita ini, dan berharap agar Ayahnya segera pulang.
*Nomor yang anda tuju tidak terdaftar* suara operator di telepon itu, kesulitan untuk meneruskan panggilan ke Ayah.
Ayah memang sering begini, sulit dihubungi, terlebih kalau sudah pergi keluar negeri, nomor handphonenya pasti sering berganti.
Camelia tidak pernah merasa se sendiri ini di hidupnya. Selama ini, ia selalu berkutat dengan Ayah, Bunda, Bi Iyah, dan Pak Prabu, tidak ada teman sebaya yang bermain kepadanya. Rumahnya yang besar dengan fasilitas yang lengkap telah membuatnya lupa akan dunia luar. Kesibukannya sebagai model juga membuat ia berpikir semua hubungan yang berada di dalam hidupnya hanya seputaran pekerjaan saja. Tidak ada yang lebih dari itu.
“Nggak bisa, Pak” Camelia mengembalikan handphone itu ke tangan Pak Prabu dengan wajah yang murung.
“Gimana Non Amel? Apakah sudah lelah? Kita pulang dulu yuk Non. Istirahat sebentar dan besok kesini lagi bawa perlengkapan kita.” Bi Iyah membujuk Camelia pulang
“Bi, tapi aku khawatir banget sama keadaan Bunda.” Camelia bersikeras.
“Iya, Bi Iyah juga khawatir. Tapi kok keadaan Rumah Sakit ini seperti nggak memberikan tanda kalau akan ada yang mengabari kita dalam waktu secepatnya.” Bi Iyah meyakinkan Camelia.
“Non Amel, Pulang dulu aja ya. Pak Prabu yang jaga disini kalau ada kabar, saya akan begadang. Non Amel sama Bi Iyah istirahat, kita ganti-gantian besok. “ ujar Pak Prabu.
Camelia mulai resah dan bimbang. Ia lelah tapi khawatir, cuma sedikit kehilangan harapan bahwa ia akan mendapatkan kabar secepatnya tentang Bunda.
“Lalu, kami pulang sama siapa? Sudah malam, Pak Prabu” ujar Bi Iyah
“Saya akan antar Bi Iyah dan Non Amel, lalu kembali kesini. Bi Iyah, nanti di rumah juga coba hubungi Tuan Rasyid ya. Siapa tahu Tuan Rasyid bisa dihubungi” Pak Prabu berdiri dari tempat duduknya, mengajak Camelia dan Bi Iyah untuk kembali ke rumah.
“Nggak apa-apa, Pak Prabu?” ujar Camelia yang masih ragu.
“Beneran nggak apa-apa, Non. Nanti akan lebih repot lagi kalau salah satu diantara kita ada yang sakit. Kita harus jaga kesehatan dengan bergantian seperti itu, Non.” Pak Prabu meyakinkan Camelia
“Bener juga kata Pak Prabu, yuk Non. Kita pulang dulu, istirahat dan ambil perlengkapan Bunda di rumah. Bi Iyah akan coba telepon Ayah juga terus menerus agar Ayah bisa tahu keadaan Bunda disini.” Bi Iyah menggenggam tangan Camelia dan menatapnya dengan hangat.
“Okay, kalau begitu kita pulang sekarang” Camelia berdiri, dan mereka bertiga pun akhirnya kembali ke rumah. Mereka menyusuri lorong Rumah Sakit yang gelap dan sepi, tapi mereka tidak merasa takut sama sekali. Semua itu karena pemikiran mereka tertuju pada keadaan Bunda, jadi mereka tidak merasakan apapun yang dirasakan orang-orang pada umumnya.
Jalanan menuju ke rumah sudah sepi dan kosong. Pak Prabu menyetir mobil itu dengan cepat karena jalanan tidak lagi macet. Akhirnya mereka bertiga sampai di rumah, dan Pak Prabu langsung bergegas kembali ke Rumah Sakit.
“Bi Iyah, Non Amel. Saya kembali ke Rumah Sakit ya.” ujar Pak Prabu berpamitan.
Camelia dan Bi Iyah masuk ke dalam rumah, dan Camelia langsung merebahkan tubuhnya di sofa ruang tamu.
*Gimana kalau Bunda kenapa- napa?* ujar Camelia dalam hati. Ternyata Camelia masih belum bisa membendung rasa khawatirnya.
Bi Iyah mencari-cari handphone nya yang ia tinggalkan tadi. Lalu dia melihat pesan dari Tuan-nya.
From : Tuan Rasyid
“Bi Iyah, ada apa? Maaf tadi saya belum bisa angkat Bi. Saya titip anak-anak sama tolong dibantu Amy dan Amel ya bi kalau ada kesusahan. Terima kasih Bi”
*DEGGG!* degup jantung Bi Iyah saat ia tahu kalau Tuan-nya berusaha menghubunginya kembali saat handphone itu tertinggal. Ia juga kebingungan bagaimana menyampaikan kabar duka ini ke Tuan-nya.
“Non Amel! ini Ayah sms non!” Bi Iyah memberikan handphone nya ke Camelia.
“Ayah! Tolong kami Ayah!” Camelia langsung mencoba menelepon Ayahnya kembali, berharap bisa bercerita tentang apa yang terjadi dengan Bunda.