[Camelia’s POV]
*Tuut.. Tutt* suara telepon ku ke handphone Ayah.
Aku susah sekali menghubungi Ayah dari kemarin, dan sekarang, aku berharap bisa tersambung walaupun sebentar saja dengan Ayah. Aku ingin mengabarkan tentang Bunda, sebuah kejadian yang bahkan aku tidak pernah membayangkan akan terjadi pada keluargaku. Tidak menampik rasa sendiriku saat menunggu kabar tentang Bunda. Memang, Bi Iyah dan Pak Prabu selalu setia menemani, tapi rasa sepi itu tidak kunjung pergi. Aku butuh bercerita kepada Ayah tentang Bunda.
Tidak ada jawaban, seperti biasanya.
Aku kesal sekali karena aku tidak tahu sebenarnya harus melakukan apa. Aku tidak mengerti mengurus administrasi Rumah Sakit, juga cara pembayarannya. Aku tidak tahu Bunda punya asuransi atau tidak, tidak bisa memastikan tinggi badan Bunda, dan juga tidak tahu apakah aku perwakilan yang sah untuk mengurus segalanya. Tidak cuma terkait hal-hal kecil itu, aku juga merasa kalut dengan keadaan Bunda, takut terjadi hal-hal yang tidak dapat diatur.
*Bagaimana kalau Bunda meninggal?* Aku langsung membayangkan hal buruk itu terjadi dalam hidupku. Langsung, air mataku menetes dan mematikan teleponku ke Ayah. Aku lelah dan butuh istirahat, sudah cukup pikiran dan hatiku terkuras hari ini.
“Non Amel, sudah istirahat dulu yuk. Kita besok bangun pagi, subuhan doain Nyonya, dan berangkat lagi kesana” Bi Iyah menenangkan aku yang menangis lagi.
“Iya Bi, sudah cukup hari ini. Amel mau tidur dulu sambil berdoa buat Bunda. Semoga Bunda baik-baik saja ya bi. Tapi…” ujarku terbata-bata
“Tapi apa Non? Sudah jangan pikirin yang macem-macem Non, itu setan.” ujar Bi Iyah yang menarik tanganku, mengarahkan aku menuju kamarku.
“Kalau Bunda nggak selamat, gimana Bi?” tangisku pecah, lebih keras daripada tadi
“Huss, Non. Hidup mati itu ditangan Gusti Allah. Kita berdoa bareng-bareng ya Non. Insya Allah Nyonya akan pulih Non” Bi Iyah mengelus punggung belakangku dan naik tangga bersamaku menuju kamarku.
*Ceklek..* suara pintu kamarku dibukakan oleh Bi Iyah
“Non, sekarang Non Amel bersih-bersih badannya karena habis dari Rumah Sakit tadi. Lalu sikat gigi dan lekas tidur ya Non, supaya besok bisa bangun pagi.” Bi Iyah tersenyum, menenangkan aku yang sedang kalut.
“Iya Bi.” Jawabku sambil terisak.
Aku masuk ke dalam kamarku dan langsung pergi ke kamar mandi. Kubersihkan tubuhku sambil menangis, aliran air yang kencang membuat suara tangisanku tidak terdengar sampai luar. Ingin rasanya aku berteriak, kenapa semua ini harus terjadi? Tapi aku sudah lemah tidak berdaya, tidak ingin terlalu memikirkan hal sulit.
*Aku harus jaga kesehatan* aku berusaha menenangkan diriku dengan berhenti menangis. Kubasuh wajahku dengan air hangat dan menghentikan tangisanku.
Aku keluar dari kamar mandi, menggunakan piyamaku, dan langsung merebahkan tubuhku untuk beristirahat.
“Ya Allah, Tolong selamatkan Bunda. Amel nggak tahu mau minta tolong ke siapa lagi” aku berdoa sebelum tidur, dan langsung mematikan lampu.
[Sementara itu, di tempat lainnya]
Pak Prabu kembali ke Rumah Sakit setelah mengantarkan Camelia dan Bi Iyah pulang ke rumah. Hari sudah sangat larut, namun ia tetap tidak menunjukkan kelemahannya. Yang difikirkan oleh Pak Prabu, adalah bagaimana memastikan Amy, majikan yang baik kepadanya selama bertahun-tahun, selalu dalam keadaan baik.
*Ting.. Ting… Ting* suara handphone Pak Prabu berbunyi, ternyata Tuan Rasyid menelpon dirinya kembali.
Incoming Calls
Tuan Rasyid
“Aaah Tuan Rasyid!” Pak Prabu langsung mengangkat telepon itu.
“Assalamualaikum Pak Prabu, gimana kabarnya? Tadi sempet call saya ya?” ujar Rasyid, Ayah Camelia.
“Tuan! Saya bersyukur sekali telepon tadi masuk ke handphone Tuan. Itu tadi Non Amel yang coba telepon” ujar Pak Prabu, bersemangat untuk menjelaskan apa yang terjadi
“Ooh, Iya Iya Pak Prabu. Memang ada apa Pak? Bukannya di Indonesia ini sudah malam banget ya?” ujar Rasyid
“Tuan.. Begini, saya mau mengabari, ini penting banget Tuan” ujar Pak Prabu
“Iya Pak, kenapa pak?” tanya Rasyid
“Nyonya kecelakaan mobil pak, di Antasari. Terakhir belum sadarkan diri, ini saya mau coba kembali ke Rumah Sakit untuk cari tahu keadaannya” ujar Pak Prabu.
“Pak! Saya titip istri dan anak saya! Saya akan pulang secepatnya! Sekarang Nyonya dimana? giana keadaannya? ” Rasyid langsung bernada serius dan terburu-buru, sepertinya mengejar sesuatu.
“Baik Pak, beritahu saya kalau memang nanti ingin dijemput di bandara ya Pak. Saya pamit dulu mau cari informasi lagi di Rumah Sakit Fatmawati” Pak Prabu mengakhiri pembicaraan itu.
“Iya Pak, Saya sedang mengusahakan agar cepat kembali. Selalu kabari saya ya pak.” ujar Rasyid yang akhirnya mematikan telepon itu.
Lampu jalan raya menemani perjalanan Pak Prabu kali ini. Gelap dan sepi tidak terlalu terasa, karena Pak Prabu mengejar hal lain. Tidak terasa Pak Prabu sudah memasuki parkiran Rumah Sakit dan akhirnya dia memberhentikan mobil yang dikendarainya, untuk mencari perkembangan kabar Nyonya Amy.
Pak Prabu berkeliling kesana kemari, mencari keberadaan suster jaga yang ada di malam hari. Tapi, ia tetap tidak menemukan tanda-tanda keberadaan suster yang berjaga. Hanya UGD saja yang masih terang benderang.
Ia duduk di sekitaran pinggir UGD, agar tidak merasa terlalu sendiri. Akhirnya, dia melihat seorang suster yang terjaga dan keluar dari ruangan UGD tersebut.
“Suster, suster saya mau tahu pasien yang kecelakaan tadi malam di Antasari sus, gimana kabarnya sus?” ujar Pak Prabu
“Maaf, apakah bapak dari pihak keluarganya?” ujar suster tersebut
“Iya sus, bagaimana perkembangan Nyonya Amy sus? Apa semua berjalan baik?” tanya Pak Prabu kepada suster yang memakai baju putih itu.
“Beberapa menit yang lalu baru selesai dari kamar operasi, Pak. Semuanya lancar, sekarang pasien sedang beristirahat karena bius nya juga cukup kuat.” ujar suster tersebut
“Baik sus” angguk Pak Prabu.
“Saran saya, Bapak berkunjung saat besok jam besuk di jam 1 siang, lalu bawa perlengkapan Bapak jika ingin menginap. Namun, untuk sekarang lebih baik Bapak kembali ke rumah, kami belum memperbolehkan siapapun mengunjungi pasien pada waktu jam ini.” suster tersebut menjelaskan cara untuk menunggu Amy
“Berarti, saya sekarang belum bisa melihat keadaan Nyonya Amy, sus? Saya mau lihat sus, keadaannya” Pak Prabu sedikit memaksa
“Maaf Pak, belum bisa untuk saat ini, lebih baik Bapak kembali ke rumah, lalu besok datang lagi.” suster itu berlalu dari pandangan Pak Prabu, dan meninggalkannya
Pak Prabu akhirnya pulang dengan keadaan penasaran
*Apa benar Nyonya Amy sudah baik-baik saja?* pikir Pak Prabu, seraya memutar mobil dan kembali ke rumah Amy untuk beristirahat.