Pagi mulai menjelang, sinar matahari sudah mulai masuk ke kamar Camelia. Tidur kali ini terasa tidak nyaman, tidak tenang karena terpikirkan keadaan Bunda. Walaupun Pak Prabu menyatakan akan mengunjungi Rumah Sakit untuk memastikan keadaan Bunda. Camelia tetap tidak bisa menghilangkan rasa khawatir di hatinya.
Camelia membuka mata dan melihat langit-langit yang mulai terang. Ia mengambil air wudhu untuk melakukan shalat subuh, seraya berdoa dalam hati, berharap keadaan kembali baik-baik saja seperti semula. Rasa kesepian menusuk relung jiwanya dan mematikan harapannya.
*Bagaimana kalau Bunda sudah nggak ada? Aku pasti akan sangat kesepian.* ujarnya dalam hati.
Ia dirikan shalat dengan tetesan air mata yang tidak sengaja ia tumpahkan karena kegundahan di hatinya. Mengadu kepada sang Khalik tentang hidupnya yang menurutnya paling menderita.
Terdengar langkah kaki dan ketukan pintu dari luar kamar. Rupanya Bi Iyah berniat membangunkan Camelia untuk shalat subuh. Tapi saat Bi Iyah pelan-pelan membuka kamar Camelia, ia dapat melihat Camelia yang sedang khusyuk.
*Bahkan semua harta yang kumiliki ini belum tentu bisa memastikan keselamatan ibuku* Camelia mengutuk apapun yang ada di sekelilingnya, bahkan berkah harta yang diberikan Tuhan kepadanya seperti belum mampu mendamaikannya.
Selesai mendirikan shalat, ia ingin tidur lagi. Lelah rasanya, menarik selimutnya dan mencoba memejamkan mata. Tapi hati dan pikirannya menolak untuk beristirahat. Ia ingin tahu keadaan Bunda nya, secepat mungkin.
*Apa aku berangkat ke Rumah Sakit sekarang?* ujarnya dalam hati. Ia langsung bangkit dari tidurnya, mengeluarkan kakinya dari dalam selimut, dan mengemas barang-barangnya.
Di lain tempat, Bi Iyah sedang mempersiapkan sarapan, kali ini roti bakar meises, makanan kesukaan Camelia. Bi iyah sengaja membuatkan makanan ini agar Camelia bisa sedikit lebih bahagia, padahal Bi Iyah sendiri juga dalam kondisi yang tidak baik. Dalam pikiran Bi Iyah, sedih sekali melihat majikannya, tempat ia mengabdikan dirinya selama bertahun-tahun, terkapar tidak berdaya.
Camelia turun dari kamarnya di lantai dua, membawa tas berisi baju-baju dan perlengkapan mandinya ke lantai satu.
“Non, mau kemana? Ini masih pagi banget. Ayo sarapan dulu biar sehat, Bi Iyah bikin roti bakar untuk Non Amel” ujar Bi Iyah, menyadari Camelia membawa banyak bawaan dari kamarnya.
“Bi, Ayo kita sarapannya cepat, ya. Langsung kita berangkat ke Rumah Sakit. Amel mau tahu keadaan Bunda.” ujar Camelia dengan serius.
“Non, coba kita tanya Pak Prabu ya, gimana kabar terbarunya. Ini masih pagi lho Non. Bi Iyah nggak yakin kita sudah boleh berkunjung jam segini” ujar Bi Iyah menjelaskan keadaan Rumah Sakit kepada Camelia
“Kalau nggak bisa, sembunyi sembunyi aja. Mumpung pasti nggak ada yang jaga.” ujar Camelia nekat.
“Non, ya ampun” Bi Iyah menyadari ia sedang berhadapan dengan orang yang putus asa. Jadi ia menarik diri dan langsung melanjutkan aktifitasnya di dapur.
Tiba-tiba, Pak Prabu datang ke ruang makan di dalam rumah, sudah siap dengan seragam driver-nya.
“Pak Prabu, Pak Prabu pulang ke rumah ya? Kok ganti baju? Katanya Pak Prabu mau lihatin Bunda semalam di Rumah Sakit. Kok nggak tepat janji” Camelia mengutarakan kekecewaannya
“Bukan begitu, Non. Pak Prabu tetap ke Rumah Sakit semalam. Jangan sedih dulu dong.” ujar Pak Prabu.
“Oh iya? Lalu gimana keadaan Bunda? Apa sudah ada kabar terbaru Pak? Bunda baik-baik aja kan?” Camelia menjejal Pak Prabu dengan banyak pertanyaan.
“Iya Non, Nyonya semalam operasinya lancar. Pak Prabu pulang ke rumah karena disuruh sama suster Rumah Sakit. Katanya kalau Pak Prabu masuk malah takut ganggu Nyonya yang lagi istirahat.” ujar Pak Prabu menjelaskan keadaan Amy, yang ia dengar semalam.
“Lah terus kita kapan boleh jenguk? Masa kita nggak bisa lihat Bunda sama sekali? Konyol tahu.” Camelia mulai ngambek
“Sabar Non, Pak Prabu juga pengen banget jenguk Nyonya. Kemarin kata susternya baru bisa hari ini jam 1 siang. Nanti dari situ Non Amel tungguin Nyonya ada di Rumah Sakit, menginap kalau mau Non.” ujar Pak Prabu
“Nih, aku sudah siapin. Jam satu masih lama sekali dari sekarang. Aku nggak bisa berhenti mikirin keadaan Bunda.” Camelia menunjuk tasnya yang berisi baju dan perlengkapan mandinya, menunjukkan niatnya untuk menginap di Rumah Sakit bersama Bunda.
Camelia melanjutkan sarapannya, lalu Pak Prabu berjalan keluar ke arah garasi untuk membersihkan mobil-mobil milik majikannya. Tiba-tiba Pak Prabu kembali ke ruang makan dengan nafas tersengal-sengal, terburu-buru seperti terlupa akan sesuatu.
“Oh Iya Non, ada satu hal yang Pak Prabu lupa sampaikan” ujar Pak Prabu, sambil menarik nafas panjang.
“Apa tuh Pak?” Camelia menggenggam roti bakar meses di tangannya sambil memandang Pak Prabu keheranan
“Kemarin, Ayah telpon ke handphone Pak Prabu, Non.” ucap pak Prabu
“Gimana kata Ayah Pak? Apa perasaan Ayah? Tadi malem banget? Kok Amel nggak bisa nyambung ke handphone Ayah kemarin.” tutur Camelia
“Nah, Pak Prabu juga nggak tahu tuh Non. Mungkin waktu Non Amel telpon Ayah, Ayah lagi telpon Pak Prabu, jadi nggak nyambung.” ucap Pak Prabu
“Ya sudahlah, terus gimana Pak Prabu?” tanya Camelia.
“Ya Pak Prabu kabari Ayah kalau Nyonya kecelakaan di Antasari, dan semalam Pak Prabu kabari kalau Pak Prabu mau ke Rumah Sakit untuk cek keadaan Nyonya.” ujar Pak Prabu
“Terus terus? Masa Ayah nggak ada respon lain?” Amel menginterogasi Pak Prabu.
“Kata Ayah, Ayah titip Non Amel sama Nyonya ke Pak Prabu dulu. Ayah akan segera pulang” Pak Prabu menjelaskan.
Camelia langsung mengalihkan pandangannya dan menghela nafasnya. Ia seperti sudah tidak lagi berharap akan kehadiran Ayahnya. Sudah sering Ayah menjanjikan untuk pulang segera, nyatanya Ayah tidak benar-benar kembali. Selalu sibuk terus- menerus seperti pekerjaan tiada henti.
“Sudah lah Pak Prabu, Ayah memang gitu, ujung-ujungnya juga balik ke rumah sebulan lagi. Lihat saja” Camelia mengutarakan kekecewaannya, mengambil sepiring roti bakar di hadapannya dan membawanya ke living room.
Camelia mengambil remote TV, dan menyalakan TV di depannya. Ia ingin menonton kartun saja hari ini, lelah mendengar berita tentang dirinya dan tidak ingin sedih mendengar berita tentang Bunda nya.
Waktu sudah semakin siang, dan Camelia masih terduduk di depan TV. Tidak ada yang mengganggu karena membiarkan Camelia berdamai dengan perasaannya sendiri.
*Sepertinya, aku butuh beli handphone secepatnya. Tak mungkin aku mengandalkan Bi Iyah dan Pak Prabu terus, aku juga butuh hiburan* ujar Camelia dalam hati, melangkah ke arah kamarnya untuk mengintip buku tabungan yang ada di lemari kecilnya.
Ia menaiki tangga secara terburu-buru, membuat Bi Iyah keheranan dari lantai satu.
*Ada apa lagi ini Non Amel?* ujar Bi Iyah dalam hati, sambil membersihkan sisa makanan Camelia.
“Bi Iyah, Ayo temenin Amel beli handphone!” Camelie berteriak dari lantai atas, di kamarnya, sambil tertawa memegang buku tabungan di tangannya.
“Non?” ujar Bi Iyah keheranan
“Iya, ayo Bi Iyah siap-siap segera, kita ke mall sebentar sama Pak Prabu!” Camelia membuat Bi Iyah terburu-buru, menyiapkan dirinya yang masih memakai daster rumahan.
*Aku akan beli handphone dengan uangku sendiri!* Camelia tersenyum, dan berteriak ke arah Pak Prabu di garasi.
“Pak Prabu! Ayo kita ke Mall hari ini!” teriak Camelia
Pak Prabu bingung dengan apa yang didengarnya
*Bukannya tadi Non Amel ingin segera menjenguk Nyonya? Kenapa sekarang malah ke Mall?* Pak Prabu berpikir dalam hati sambil mengelap mobil dengan kanebo.
Begitulah, Camelia.