Camelia menyelesaikan sarapannya, dan membawa tas yang berisi perlengkapan untuk menginap di Rumah Sakit, serta membawa dompetnya dan bergegas menuju garasi.
“Bi Iyah, ikut nggak ke Mall?” ujar Camelia
“Non Amel itu mau ke Mall atau mau ke Rumah Sakit? kok bawa baju segala” ujar Bi Iyah, sambil mengelap dapur.
“Ke Mall habis itu ke RS, kan Bunda baru bisa dijenguk jam 1 siang. Kita beli handphone dulu untuk aku.” kata Camelia
“Oh gitu, nggak usah non, Bi Iyah di rumah saja. Nanti kalau Non Amel ke Mall, Non makan di Mall saja ya, lalu waktu sudah kenyang baru ke Rumah Sakit. Malamnya nanti Bi Iyah datang dengan makanan ya Non.” ujar Bi Iyah.
“Oke Bi, catat nomor Bibi di kertas nanti aku langsung telepon Bi Iyah.” ujar Camelia.
Bi Iyah mengambil secarik kertas dan menuliskan nomor handphonenya disana. Lalu memberikan ke tangan Amel yang penuh dengan barang bawaan.
“Ini Non, sudah taruh aja tasnya. Sini Bi Iyah bawakan.” ujar Bi Iyah, memegang tangan Amel yang sedang membawa barang bawaan dan gantian membawa tas itu.
Camelia keluar dari pintu jati nya, pintu yang megah dengan gagang marbel dan ketinggian sekitar 2 meter. Wajar saja pintu di rumah itu tinggi-tinggi, atap rumah sengaja dibuat meninggi ke atas untuk menciptakan suasana mewah dan luas. Di depan rumahnya terdapat taman berisi tanaman hias monstera, dan juga bunga- bunga yang tumbuh terawat. Keberadaan tukang kebun yang datang setiap minggu sekali, membuat keadaan tanaman yang ada di rumah nya tumbuh subur dan rapi.
“Pak Prabu, ayo berangkat! Kita cepat ya, nggak usah lama-lama di Mall. Oke?" panggil Camelia kepada Pak Prabu yang sibuk mengelap kaca mobil dengan lap kanebo. Pak Prabu langsung menengok ke arah Camelia dan berkata
“Siap Non!” Pak Prabu menaruh lapnya itu dan membukakan pintu untuk Camelia, serta pintu bagasi untuk memasukkan barang Camelia yang dibawa oleh Bi Iyah. Pak Prabu langsung masuk ke kursi pengemudi, menyalakan mobil, dan keluar dari garasi rumah itu.
“Non, kita mau ke Mall mana?” tanya Pak Prabu
“Ke Pondok Indah Mall saja pak, sebentar kok nggak lama.” jawab Camelia.
Pak Prabu langsung meluncur ke arah Jakarta Selatan menggunakan Alphard itu. Dengan kondisi jalanan yang lengang, ia berkendara dengan santai namun cepat. Tiba-tiba ada telepon yang berbunyi dari handphone di kantongnya.
*Kriing… Kriiing… Kriing…* Pak Prabu merasakan dering getaran handphone yang berada di sakunya.
“Pak? Itu ada telepon. Nggak mau diangkat dulu?” ujar Camelia.
“Nanti saja deh Non, nggak ada tempat berhenti. Biar Pak Prabu saja yang telepon balik ke orang ini nanti.” ujar Pak Prabu.
“Oh Okay.” ujar Camelia, kembali mengalihkan fokusnya ke langit-langit di sepanjang perjalanannya.
[Ayah’s POV]
Aku bagai tersambar petir saat mengetahui Amy, belahan jiwaku sedang kritis karena mengalami kecelakaan. Pekerjaanku seperti tidak ada habisnya, dan pikiranku sudah terpecah untuk segera pulang ke rumah. Malah, aku tidak lagi ingin menyentuh pekerjaan yang menguras tenagaku kali ini. Aku mengingat keadaan keluargaku di Indonesia.
Terduduk di gedung pencakar langit yang memberikan pemandangan indah perkotaan di sentral Dubai, tidak membuat aku jatuh cinta dengan kota ini lagi. Aku biarkan e-mail pekerjaanku menumpuk karena untuk mengetik kata-kata terkait pekerjaan saja, aku kalut.
Padahal belum lama ini kami berbicara lewat telepon dan aku curhat tentang masalahku di kantor.
*Bagaimana kalau aku benar-benar kehilangannya?* tanyaku dalam hati, sambil melihat lalu lalang mobil di pandanganku dari atas gedung.
Amy adalah cinta sejatiku. Kami bertemu saat aku menjadi seorang mahasiswa di Universitas Swiss, dan aku sedang berlibur ke suatu daerah disana bersama kawan-kawanku. Aku bertemu dengan Amy saat ia menjadi seorang tour guide, dan aku keheranan dengan kemampuannya berbahasa prancis. Parasnya yang cantik dan putih, membuat aku berpikir, mungkin dia bukan orang Indonesia sepertiku. Tapi saat ia melihat paspor peserta tour guide dan ada pasporku di dalamnya, ia langsung mengajakku berbicara bahasa indonesia.
Kepintarannya sontak membuat aku jatuh cinta, ia dapat dengan mudah menjelaskan daerah-daerah yang kami kunjungi dan selalu tersenyum dengan sabar. Tak hanya itu, ia juga sangat mudah bergaul dengan kawan-kawanku, atau pun supir bus yang menjadi bagian dari tur kami. Aku pun tertarik dan langsung bertukar nomor kontak. Sebelum akhirnya aku kembali ke kampusku di daerah Zurich, dan ia tetap menjadi tour guide di Lauterbrunnen. Singkat cerita, saat weekend aku selalu mengunjunginya dengan ‘bahn’ (kereta) disana, ataupun ia yang memasukkan daerah kampus ku kedalam bagian dari tournya. Pada saat itu aku berjanji pada diriku sendiri untuk menyelesaikan studiku dengan segera dan meminangnya. Aku sangat-sangat ingin bersamanya untuk selamanya.
Tapi memang cinta datang dengan konsekuensinya sendiri. Aku kembali ke Indonesia tanpa bercerita ke Amy sedikitpun tentang kepulanganku. Kubiarkan ia dua minggu tanpa kabarku, dengan alasan aku sedang sibuk mempersiapkan kelulusanku di universitas. Padahal, aku sudah lulus karena proses di Universitas Swiss tidak begitu sulit. Aku kembali untuk meminta restu Ayah dan Ibuku yang berada di Yogyakarta, untuk meminang Amy.
Aku ingat pada saat itu, Ayahku yang merupakan seorang keturunan ningrat yang menjaga nilai-nilai luhur budaya, marah bukan main. Menurut pandangan adat, seorang perempuan yang layak dinikahi adalah perempuan yang dekat dengan keluarga, bukan yang supel kepada banyak orang yang tidak sekasta dengannya. Amy adalah pribadi yang ramah dengan siapapun, dan menurut Ayahku, saat kuceritakan tentang Amy, ia langsung mengernyitkan dahi.
Terlebih saat aku menyatakan kepada Ayah dan Ibuku keinginanku untuk meminangnya. Mereka kaget bukan kepalang. Mereka merasa aku telah terjerumus pergaulan yang tidak baik karena Amy bukan dari keluarga keturunan- keturunan ningrat lainnya yang ia kenal di Yogyakarta. Amy dianggap asing, meski begitu aku tetap bersikukuh menikahinya.
Sesaat setelah aku meminta izin kepada Ayah dan Ibuku, dan mereka masih mendiamkan aku tanpa jawaban. Aku kembali ke Swiss dan mengatakan bulatnya tekadku untuk bersatu dengan Amy. Amy yang pada saat itu tidak tahu apa yang terjadi kepada aku, dengan polosnya percaya akan kesibukanku di kampus. Ia memelukku dengan erat saat akhirnya bertemu denganku setelah terpisah cukup lama.
Tak lama berselang, aku memutuskan untuk menikahi Amy di Swiss. Aku ingin segera memilikinya tanpa harus menunggu kami berdua bisa pulang ke Indonesia. Amy menerimaku dengan senang hati dan tangis haru, aku pun menjadi pria paling bahagia kala itu.
Aku mengirimkan surat kepada Ayah dan Ibuku di Yogyakarta, menyampaikan bahwa aku telah menikahi Amy di Swiss. Kabar berikutnya aku menerima surat balasan dari kediaman Ayahku di keningratan Yogyakarta, bahwa Ibuku sakit dan sudah dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Semua yang terjadi antara masa lalu, karena perbuatanku ini, memiliki dampak buruk pada keluargaku sekarang. Kesalahanku di masa lalu menjadi sebab kenapa anakku tiba-tiba bisa melihat aura itu, sebelum akhirnya menikah dengan orang lain. Aku merasa seperti berada di jurang yang menjatuhkan keluargaku di dalamnya. Ayah macam apa aku ini?