Pak Prabu sudah memasuki halaman parkiran Pondok Indah Mall, di lobby utama untuk menurunkan Camelia. Camelia sedikit bergidik mengingat momen bertemu dengan pencuri handphonenya yang sedang beraksi di dalam Mall. Ia langsung mengurungkan niat untuk turun dari dalam mobil, dan menunggu Pak Prabu memarkirkan kendaraan di basement.
“Pak, turunnya nanti bareng Pak Prabu aja. pak Prabu temenin Amel beli handphone ya” ujar Camelia
“Oh Tumben Non. Oke deh Non.” Pak Prabu langsung tancap gas menuju ke arah basement
Mobil Alphard putih itu sudah memasuki lorong-lorong basement yang gelap, mobil itu melesat dengan cepat menuju area parkir di lorong yang sempit. Pak Prabu mengarahkan mobil itu tanpa usaha yang besar, ia sudah terbiasa mengantar keluarga ini keluar masuk pusat perbelanjaan.
Pak Prabu memecahkan keheningan itu dengan mengajak bicara Camelia.
“Non, Tumben nggak pemotretan atau ada acara lain? Biasanya Non Amel sibuk dengan kerjaan” tanya Pak Prabu.
“Oh iya Pak, mungkin karena efek gosip jadi pada nggak ngundang Amel. Lagian Amel ini kan lagi nggak punya handphone, dan juga nggak pernah punya manager dari luar, jadi nggak pernah tahu deh siapa yang ngundang” ujar Camelia
“Oh gitu Non” ujar Pak Prabu sambil mulai memasuki lantai demi lantai parkiran yang sebagian mulai terisi. Mobil itu sudah memasuki satu area untuk parkir, tepat disebelah tempat tunggu supir.
“Non, Pak Prabu tunggu disana ya.” ujar Pak Prabu sambil menunjuk lokasi tempat tunggu supir.
“Nggak Pak! Pak Prabu ikut Amel ya, temenin Amel ke dalam.” ujar Amel, ia masih trauma mengingat apa yang pernah terjadi di dalam Pondok Indah Mall, dan ia tidak ingin sendiri.
“Lho, tumben Non.” ujar Pak Prabu keherenanan, tidak biasanya kalau ia disuruh mengantarkan, ia ikut masuk ke dalam tempat yang diantar, apalagi Mall.
“Iya ayo pak, daripada disini kan. Lagian Amel juga sebentar kok.” ujar Camelia
“Pak Prabu lagi pakai baju gini, Non. Non Amel nggak malu kan?” Pak Prabu menunjuk seragam supirnya yang hari ini dia kenakan.
“Nggak masalah, kita makan di dalam juga daripada nanti makan di RS, disini kan pasti lebih enak daripada makanan disana” Camelia mengemas barangnya, mengambil tas Hermes Kelly miliknya, berwarna putih, yang terbuat dari kulit buaya.
Pak Prabu dan Camelia turun dari dalam mobil, dan mulai memasuki lift menuju Mall bersama. Lift terbuka dan mereka pun masuk ke lobby Mall Pondok Indah.
Bersama-sama, Camelia dan Pak Prabu pergi menuju toko handphone ternama tempat penjualan resmi iPhone. Camelia langsung membeli tanpa banyak bertanya, dengan keadaan tunai dan langsung dilayani oleh petugas disana. Pak Prabu sampai tertegun melihat harga asli dari handphone itu. Lalu mereka langsung pergi ke customer service center sebuah provider, untuk mengembalikan nomor lama Camelia yang hilang karena dicuri.
Selesai dengan segala urusan disana, Camelia langsung mengajak Pak Prabu untuk makan di food court.
“Non, sudah Pak Prabu nggak makan disini deh Non. Pak Prabu makan di Rumah Sakit aja.” ujar Pak Prabu, ia sudah membayangkan uang yang harus dikeluarkan hanya untuk membuatnya kenyang hari itu, terlalu mahal menurutnya.
“Sudah jam 12 siang Pak. Nanti kita nggak sempat untuk ketemu Bunda loh. Kalau makan dulu di Rumah Sakit, pasti sudah nggak nafsu juga karena suasananya nggak seenak disini.” Camelia tetap berjalan ke arah food court. Mereka berdua pun duduk di sepasang kursi hijau dengan meja putih yang terletak berhadapan. Camelia langsung berdiri memesan udon dengan irisan daging di atasnya, sementara Pak Prabu bingung dengan semua makanan yang menurutnya asing.
“Non, masa nggak ada bebek goreng atau gado-gado gitu non?” tanya Pak Prabu polos. Wajar saja, Pak Prabu jarang sekali masuk ke Mall, ia selalu menunggu di tempat tunggu supir di basement.
“Oh ada pak, disana. Pakai kartu ini bayarnya ya.” Camelia menunjuk sebuah restoran Indonesia, dan memberikan kartu khusus untuk membayar disana.
Pak Prabu melangkah menuju kedai kecil masakan Indonesia itu untuk memesan makanan dan mulai berbicara dengan kasir di kedai. Ia membayar dan menunggu di depan kedai hingga makanannya yang dipesan selesai. Tiba-tiba handphonenya berdering
*Kring… Kring… Kring…* ternyata bukan telepon, kali ini adalah sebuah sms
From : Tuan Rasyid
“Pak Prabu gimana kabarnya? Gimana Amy dan Amel? Saya akan segera pulang ya Pak.”
Pak Prabu langsung membalas
To : Tuan Rasyid
“Saya baik dan Non Amel juga baik, ini saya diajak makan di Pondok Indah Mall sama Non Amel. Habis ini kita mau ke RS lihat keadaan Nyonya. Hati-hati ya Tuan.”
Makanan itu sudah jadi dan Pak Prabu mulai membawa makanan yang dipesannya ke tempat duduk dengan Camelia. Camelia seperti sudah menghabiskan setengah dari semangkuk udon itu. Ia juga langsung menyampaikan ke Camelia perihal sms dari Ayahnya
“Non, tadi Tuan Rasyid sms ke saya, nanyain keadaan Bunda sama Non Amel. Katanya Tuan Rasyid akan segera pulang. Non Amel tunggu saja ya, nanti ada temennya.” hibur Pak Prabu
“Sudah lah Pak Prabu, Amel itu ngerti banget sama Ayah. Sudah sering sekali dibilang mau kembali ke rumah secepatnya, tapi nyatanya masih lama. Yang penting Pak Prabu harus sehat selalu biar temenin saya, anterin saya ke tempat Bunda.” ujar Camelia sambil menyeruput kuah udon itu.
Setelah selesai dengan makanannya, Camelia langsung membuka iPhone yang baru saja dibelinya, dan memasangkan nomor handphonenya yang sudah dipulihkan. Ia menunggu Pak Prabu yang masih belum selesai dengan makanannya, dengan mengatur ulang iPhone itu.
“Non bentar ya, Pak Prabu sebentar lagi selesai makan.” ujar Pak Prabu yang menyadari Camelia sedang menunggu.
Camelia memasangkan nomor handphone dan mulai mengatur-atur setting yang sesuai dengannya. Ia merasa sangat senang atas pencapaiannya membeli sebuah handphone baru sendiri. Ia juga mengembalikan datanya yang hilang, dengan me-restore semua backup yang ada di cloud services. Ia menarik nafas dalam-dalam, senang karena semua datanya kembali seperti sedia kala.
“Alhamdulillah, seneng!” Camelia tertawa lepas, dan memegang handphone itu erat.
Tiba-tiba ada banyak sekali sms yang masuk. Camelia langsung terkejut karena dia baru saja memasangkan nomor ini. Camelia menunjukkan ekspresi bingung di wajahnya
“Hah? dari siapa ini?”