Camelia dan Pak Prabu sudah selesai dengan makanannya siang itu, mereka pun berdiri dari kursi dan mulai kembali menuju basement.
“Non Amel tunggu di lobby saja Non. Pak Prabu nanti ke depan lobby jemput Non Amel kayak biasanya” ujar Pak Prabu, maklum tidak biasa Camelia mau menemaninya sampai basement.
“Nggak pak, kita bareng aja” ujar Camelia, ia sebenarnya tidak ingin sendirian berada di Mall ini, selalu teringat momen yang buruk sebelumnya.
Mereka pun masuk ke dalam elevator dan Pak Prabu menekan lantai basement dimana mobil tersebut parkir. Kali ini suasana lift tidak begitu ramai, karena masih banyak orang yang menghabiskan waktu di foodcourt. Tidak lama, mereka langsung masuk ke dalam mobil untuk mempersiapkan diri menuju Rumah Sakit.
*Drrrt… Drrttt…* handphone baru Camelia bergetar, tanda sebuah sms masuk.
From : Andre Teen Capture
“Halo Mel, Apa kabar? Gimana keadaan kamu? Baik-baik saja kan?”
Rupaya Andre, dari Teen Capture. Ia ingin memastikan keadaan Camelia baik-baik saja setelah diterpa isu gosip hangat yang menjadi viral. Camelia langsung membalas pesan singkat itu, ia merasa bahagia ada orang yang menanyakan kabarnya.
To : Andre Teen Capture
“Halo Mas Andre, Aku sehat mas. Soal gosip itu ya? Aku sudah lupakan mas. Sekarang aku fokus kesembuhan Ibuku.”
Menit demi menit berlalu, tidak ada jawaban dari Andre.
*Mungkin, mas Andre sibuk* Camelia menghibur dirinya yang menunggu jawaban, dan tidur di atas kursi penumpang. Kali ini jalanan menuju Rumah Sakit terlihat padat, dan keadaan siang membuat suasana menjadi gerah.
“Pak Prabu, saya mau tidur dulu, nanti kalau sudah sampai bangunin saja ya.” ujar Camelia. Ia tidur sambil memegang handphone di genggamannya, berharap mendapatkan balasan dari Andre.
*Drrrt… Drrrtt… Drrrtt…* handphone itu bergetar lebih keras daripada tadi. Sepertinya kali ini ada telepon masuk ke handphone Camelia. Camelia terbangun dan melihat telepon masuk itu, dan langsung sumringah dan tersenyum melihat layar handphone.
From : Andre Teen Capture
Calling
“Halo mas Andre” Camelia menjawab dengan tenang, berusaha menyembunyikan kebahagiaannya karena dihubungi mas Andre.
“Mel, kamu kenapa? Ibu kamu kenapa? Kok aku baru tahu sih.” ujar Andre, dengan nada khawatir.
“Bunda kecelakaan di jalan Antasari, mas. Sekarang lagi dirawat di Rumah Sakit Fatmawati. Ini aku sedang dalam perjalanan menuju kesana. Sepertinya aku akan menginap, nunggu Bunda.” Camelia menjelaskan
“Oh My God!” ujar Andre kaget dari balik telepon. Berdua akhirnya diam dalam beberapa detik dan Andre menghela nafas yang dalam.
“Mel, jujur berat banget jadi kamu. Aku masih di tengah-tengah pemotretan ini, setelah selesai, aku akan kesana ya Mel. Kamu mau dibawain apa?” Andre menunjukan kepeduliannya. Camelia tersipu malu dan jantungnya berdebar, ia merasa kesepian dan kali ini ada yang memperhatikan keberadaan dan keadaannya.
“Terima kasih atas perhatiannya mas. Nggak apa-apa kalau sibuk mas, jangan dipaksa. Terima kasih ya sudah menanyakan keadaanku” ujar Camelia
“Jangan seperti itu dong, kita kan sudah kenal lama. Tunggu aku ya Mel, nanti aku bawakan makanan untuk kamu dan Bunda ya.” ujar Andre dalam telepon itu. Mereka mengakhiri panggilan itu dan Camelia terus menerus memeluk handphone nya. Pak Prabu melihat tingkah gadis ini dan keheranan.
[Camelia’s POV]
Aku berhasil membeli handphone dengan uang tabunganku sendiri. Bangga sekali aku rasanya bisa mendapatkan apa yang aku inginkan tanpa harus menunggu Ayah ataupun Bunda. Rasa sepiku juga tidak tanggung-tanggung, terlebih saat Bunda kecelakaan di Antasari. Aku seperti tidak berdaya dan hilang dari pergaulan, tidak tahu juga bagaimana caranya mengadu atau menghubungi orang lain.
Saat aku memasukkan sim card berisi nomor lama ku ke dalam handphone baruku. Aku menerima banyak pesan singkat. Rupanya, itu dari provider telekomunikasi menjelaskan bahwa ada orang yang berusaha menghubungiku dan memberikan pesan suara. Aku abaikan pesan itu dan kembali ke dalam mobil untuk melanjutkan perjalanan ke Rumah Sakit. Menjenguk Bunda.
Tak lama, aku menerima pesan singkat dari Mas Andre, orang yang selalu memperhatikan ku saat aku pemotretan di Teen Capture. Aku tidak menyangka dia akan menanyakan keadaan ku, dan aku sedikit berdebar menerima perhatiannya.
Bukan hanya pesan singkat, ia juga langsung menghubungiku lewat telepon saat aku menjelaskan keadaan Bunda yang perlu kesembuhan. Tidak kusadari aku tersipu malu dan sumringah menerima telepon darinya. Senang sekali rasanya diperhatikan. Ia bahkan bilang kalau ia akan datang ke Rumah Sakit untuk membawakan makanan untuk aku dan Bunda.
Sebenarnya aku tidak perlu haus perhatian seperti ini, Pak Prabu bilang Ayah akan segera pulang. Tapi aku sejujurnya tidak lagi menaruh harapan bahwa Ayah akan datang segera, seperti sedia kala, Ayah selalu menjanjikan pulang cepat, namun tidak kunjung datang.
Tak terasa, kami sudah mau sampai di Rumah Sakit. Aku mengemas tasku yang berisi pakaian, dan mulai menaruhnya di sebelah kursiku.
“Non, nggak usah dibawa nanti Pak Prabu yang bawakan” ujar Pak Prabu melirik dari spion tengah.
“Oh Iya Pak. Saya coba ngobrol sama administrasi Rumah Sakit juga, dan suster jaga untuk tahu Bunda ditempatkan di kamar yang mana. Nanti habis itu Pak Prabu susulin ya bawa pakaian ini. Aku sms nanti” ujarku. Aku pun diturunkan di lobby Rumah Sakit oleh Pak Prabu, dan aku mulai mencari dimana Bunda ditempatkan.
Aku melihat seorang suster yang berlalu lalang, dan mulai menanyakan dimana Bunda berada
“Siang suster, saya mau jenguk Bunda saya. Dimana ya ruangannya?” ujarku polos
“Disini ruang perawatan ada 3 bagian mbak. Di bagian apa dan ruangan nomor berapa?” ujar suster itu kembali bertanya kepadaku.
“Maaf suster, saya tidak tahu. Bunda saya kemarin kecelakaan di jalan Antasari dan langsung dibawa ke Rumah Sakit ini, atas nama Amy Cameron.” ujarku. Suster itu langsung mengantarkanku ke ruangan suster jaga lainnya, dan aku pun dibantu untuk mencarikan ruangan Bunda.
“Di kamar nomor 32, bagian Asoka ya kak.” ujar suster lainnya. Aku pun langsung berterima kasih dan keluar dari tempat suster jaga itu, dan mengikuti papan penunjuk arah yang berada di sepanjang lorong. Sampailah aku ke bagian Asoka, dan menemukan kamar nomor 32.
Aku masuk ke ruangan itu dan melihat keadaan Bunda yang lemah tak berdaya. Banyak sekali selang pernafasan digunakan untuk membantunya bernafas. Bunda dalam keadaan bangun namun tidak bicara apapun. Saat aku datang, Bunda melirik aku sambil tersenyum tipis, sepertinya ia menahan rasa sakit.
Tangisku tidak tertahan melihat keadaan Bunda yang parah. Sangat jarang aku melihat Bunda sakit, apalagi tidak berdaya seperti ini. Suara tangisku aku tahan, namun air mataku bak air bah, sampai membasahi sisi kanan ranjang Bunda di Rumah Sakit.
“Aku minta maaf Bunda atas sikapku. Minta maaf Bunda. Tolong cepat sembuh Bunda, maafin Amel, Bunda.” Aku memohon ampunan dari sisi ranjang tempat Bunda berada. Bunda masih belum mengeluarkan sepatah kata apa pun, dan tidak memberikan tanda apa pun melalui gerakan tangan. Aku hanya melihat Bunda meneteskan air mata, dan bibir yang masih kaku untuk digerakkan.
Mungkin inilah arti dari sebuah penyesalan. Aku mendapatkan pelajaran hidup terbaik, untuk selalu menyayangi dan berkata yang terbaik pada orang yang dicintai. Karena saat hal ini terjadi, aku masih dalam keadaan perang dingin dengan Bunda. Aku tidak akan lagi, menempatkan emosi diatas logika diriku sendiri.