Aroma lavender dan vanilla menyeruak di ruangan, mewah dan elegan, bau wangi kamar Camelia. Sedari tadi, bunda tidak berpindah posisi, ia terus melihat wajah anaknya dengan penuh tatapan khawatir. Apa yang terjadi itu bukan masalah kecil, ini soal kehidupan seseorang, ini soal anaknya.
Camelia yang tertidur pulas diiringi bunda Camelia yang selalu merapalkan doa setiap detik. Jarum jam terasa sangat lama, menunggu jam 4 sore.
"sayang, bangun sayang, Camelia jadi pemotretan kan?" dengan lembut bunda mengusap wajah Camelia.
Tidak kunjung bangun..
"Nak, sayang, Camelia jadi berangkat ke scene pemotretan atau nggak?" Bunda mulai menggetarkan kaki Camelia, membuat Camelia terbangun dari tidurnya
"Iya bunda.. jadi kok" suara parau keluar dari bibir Camelia. Sembari mengusap mata, ia berjalan dan mengambil seluruh peralatan dan baju yang akan digunakan. Make-up, Dress, Catokan, tertata rapi dan dimasukkan ke dalam kopernya.
Bunda terlihat bingung, padahal tadi anaknya baru saja kehilangan penglihatannya, sekarang bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
"Amel, bisa lihat bunda, sayang?" dari belakang, bunda menepuk bahu anaknya
"bunda! Aku bisa lihat bunda!!! Alhamdulillah! Aku berusaha tidur dan nggak mikirin apa-apa. Malah aku lupa kalo aku sempat nggak bisa lihat, aku seneng" tawa Camelia tergelak ke seisi kamar.
Bunda terheran-heran dengan tingkah laku anaknya yang berubah sangat cepat, dari sedih menjadi energik. Ia memeluk Camelia dengan erat dan berkata "bunda sayang sekali dengan Amel, apapun yang terjadi, akan ada doa bunda selalu"
"Makasih ya bunda, sudah selalu nemenin Amel" Camelia membalas pelukan bunda-nya dengan erat. Momen yang menyatukan antara ibu dan anak.
[Camelia's POV]
Aku merasakan ada yang menggerakan kakiku, membangunkan aku dari tidurku.
*Wah! Aku kan ada pemotretan nanti malam* aku bergegas langsung berdiri dari ranjang, menjauhi bunda yang ternyata dari tadi mencoba membangunkan aku.
Aku memasukkan semua peralatan yang biasa digunakan, make-up, dress, catokan, semuanya. Oke, lengkap. Aku siap berangkat.
Aku merasakan tepukan dari belakangku, suara bunda yang tenang mengingatkan aku atas apa yang sebelumnya terjadi
"Amel, bisa lihat bunda, sayang?"
Aku langsung refleks tertawa, senang sekali bahwa penglihatanku kembali seperti semula.
Memang, Aku berusaha melupakan kejadian itu dan kekhawatiranku sebelum tidur agar aku lebih lelap. Ternyata, alam bawah sadarku berhasil melupakan rasa takut tidak bisa melihat lagi, terbukti saat aku terbangun aku langsung bergegas merapikan peralatan untuk aku berangkat pemotretan.
Bunda langsung memelukku dengan erat, aku merasa terharu dan nyaman karena aku bisa melalui momen yang sangat sulit menurutku bersama bunda. Sehari-hari, aku selalu merasa sendirian di rumah, Bunda pasti disibukkan dengan hal-hal terkait yayasannya. Walaupun momen ini sangat berat untukku, paling tidak itu membawa bunda lebih dekat denganku. Bunda memelukku dan mengatakan bahwa ia akan selalu mendoakan aku, membuat aku lebih tenang.
Aku mulai terpikir dimana ayah, akan sangat senang jika ayah ada disini dan berada menghiburku. Aku juga sedikit heran, bagaimana seorang ayah yang sangat sibuk bisa tahu kalau mantra dan ramuan tersebut adalah obat dari yang aku alami.
"Bunda, Amel tetap boleh ke pemotretan kan bunda?" Aku bertanya sembari melepaskan diri dari pelukan itu
"Amel sudah baikan? Boleh sayang, nanti bunda panggilin Pak Prabu" Bunda meraih handphone yang sekian lama terletak di atas kasur.
Aku bisa melihat banyak sekali missed call dari pegawai yayasan, tercatat 3 nomor yang berbeda sudah berusaha menghubungi bunda, namun tidak diangkat. Wajar saja, bunda sedang sibuk penggalangan dana untuk bencana alam di Sumatera, dan banyak sekali perusahaan yang ingin ikut bergabung membantu lewat yayasan bunda.
“Bunda, bunda mau nggak nemenin Amel pemotretan?” Aku sedikit memohon.
Sebenarnya aku egois, aku tahu kalau pemotretan itu hanya akan menyenangkan bagi yang bekerja didalamnya, kalau bunda hanya menunggu, pasti akan sangat membosankan.
Aku takut terjadi lagi, tiba-tiba aku kehilangan penglihatan saat sedang berpose di scene pemotretan. Aku membayangkan jika hal itu terjadi lagi dan tidak ada bunda di sana, bisa jadi bahan gosip majalah Gozgo, dan crew iklan pasti tidak tahu cara mengatasinya.
*Something about you… makes me feel good* suara ringtone hp bunda.
Bunda melihat handphone dan makin bimbang untuk menjawab pertanyaanku, dan merasa bersalah karena sepertinya kali ini, ia harus menjawab telepon ini dan kembali mengurus yayasan.
“Amel..sebentar ya sayang” Bunda menatapku seperti meminta izin
“Bunda, nggak apa-apa. Amel berangkat dulu ya bunda sama Pak Prabu” Aku meraih tangan bunda, menciumnya dan berpamitan.
Aku membawa tas berisi peralatan pemotretan nanti, dan berjalan menjauhi bunda yang sedang sibuk berbicara di telepon. Aku mengirim chat singkat kepada make-up artist ku untuk bersiap karena aku akan segera berangkat.
“Pak Prabuuu! berangkat yuuuk” Aku berteriak dengan semangat, melangkahkan kaki menuju mobil
“Non Amel, Non udah lebih baik non? Alhamdulillah” ujar Pak Prabu, sambil mengelap kaca mobil dan mengambil tas di tanganku.
“Udah dong, Yuk berangkat pak! kita ke Cafe Vianue di Tendean ya pak” aku bergerak menuju kursi penumpang, menunggu Pak Prabu yang sedang memasukkan tas ke bagasi.
Nyaman sekali. Ayah memang sangat mendukung apa yang aku senangi, termasuk modelling. Aku baru saja mendapatkan hadiah mobil Alphard ini, saat aku berulang tahun ke 23 di November kemarin. Ayah berkorban banyak sekali untuk kenyamanan keluargaku, aku menyadari hidup di kawasan elit di Menteng memerlukan banyak usaha. Atas segala kenikmatan ini, aku harus banyak berterima kasih, walaupun ayahku jarang sekali pulang ke rumah.
“Non, ada yang ketinggalan nggak non?” Pak Prabu bersiap tancap gas, aku menggelengkan kepala.
“Nggak pak, lewat Kuningan ya pak” aku membuka Maps dan merebahkan diriku di kursi penumpang dengan nyaman.
“Oke Non..gas pol”
Mobil mulai berjalan dan melewati daerah Kuningan, Jakarta Pusat. Aku bisa melihat hiruk pikuk orang berlalu-lalang, ada yang sibuk berjualan di pinggir jalan, ataupun baru keluar gedung-gedung yang amat tinggi. Aku jadi teringat Ayah, mungkin ayah juga merasakan apa yang dirasakan orang-orang ini, dan aku harus lebih mengerti.
Ingatan tentang ayah membawaku kepada peristiwa kemarin, saat bunda berusaha menghubungi ayah. Bagaimana bisa ayah tahu segala ramuan dan mantra untuk menyembuhkan aku? Sangat Aneh dan tidak biasa. Itu sangat dekat dengan dunia magis dan supranatural, yang jauh dengan dunia pekerjaan ayah
*Apa Ayah punya temen dukun?*
*Atau jangan-jangan kesuksesan Ayah karena ada bantuan dukun?*
*Apa aku jadi tumbal pemujaan setan*
Hatiku mulai bertanya yang tidak-tidak.
*Huh, Camelia, jaman sekarang mana ada sih kayak begituan!*
Aku mulai mendengar hatiku dan pikiranku saling bertentangan atas cerita yang aku buat sendiri di dalam benakku. Aku mulai kembali ke dunia nyata dan tidak mendengarkan pikiran yang tidak perlu.
Kulihat jam sudah menunjukkan waktu jam 5 sore, aku sudah beberapa kilometer lebih dekat ke Tendean. Kuambil kaca dan mulai memoles wajahku dengan lip tint dan sedikit blush on merk Dior. Okay, sudah cukup terlihat seperti orang yang baru saja mandi. Aku mulai menggunakan high heels dan merapikan diri, sesaat lagi aku akan sampai.
“Cafe Vianue”
Aku sudah mulai melihat signage cafe tujuanku, nuansa interior yang serba kuning dan segar dipandang mata. Aku ambil handphone dan mulai menulis chat kepada make-up artist ku, aku sudah sampai.
“Non, Pak prabu parkir, non turun duluan aja ya, tas nya mau dibawain atau langsung sendiri aja?” Pak Prabu menengok ke arahku.
“Aku duluan deh pak, aku bawa tas di depan, Pak Prabu masukin aja tas yang di bagasi nanti ya” balasku.
Saat aku mulai bersiap turun, aku mulai merasakan lemas tiba-tiba. Lemas ini hampir mirip dengan yang aku rasakan kemarin saat aku tiba-tiba kehilangan penglihatanku. Aku memberikan tanda tidak jadi turun kepada Pak Prabu.
“Pak, nanti aja aku turunnya, Pak Prabu parkir dulu ya” aku bersikap seolah tidak ada apa-apa.
Aku berusaha menenangkan diri, dan menarik nafas panjang. Aku sudah sampai scene pemotretan, pasti akan jadi pemberitaan kalau aku tiba-tiba kehilangan penglihatanku disini.
Tapi, semua sudah baik-baik saja kan tadi. Gawat ini, bagaimana kalau aku tiba-tiba tidak bisa lihat lagi?