Malam turun pelan di Ciamis, membawa angin lembap dari pohon jati di belakang rumah. Raka duduk di ruang kerja dengan kotak kayu tua di pangkuannya. Kotak itu sudah ia pegang ribuan kali, tapi baru malam ini benar-benar ingin ia buka—bukan sendirian.
Di depannya, Aditya duduk bersila. Ia mengenakan kaus putih dan celana panjang tidur, rambutnya masih setengah basah habis mandi. Matanya tak berkedip, menatap kotak yang seolah menyimpan dunia yang belum pernah ia kenal.
“Ini...” Raka membuka kunci kecil di sisi kotak, “…kotak yang paling lama aku jaga. Mungkin... terlalu lama.”
Aditya tidak bicara. Tapi tubuhnya sedikit condong ke depan, seperti ingin memastikan ia tidak melewatkan apa pun.
Raka mengangkat satu per satu isinya.
Sebuah pita merah.
“Ini dari Sekar. Dia pernah kehilangan pita ini di taman sekolah waktu SMA. Aku temukan, tapi tak pernah kukembalikan. Entah kenapa... aku ingin menyimpannya.”
Foto lama berdua.
Itu foto hitam putih, sedikit kabur, hasil fotobox. Sekar tersenyum tipis, dan Raka—yang berdiri di sampingnya—menahan senyum canggung.
“Kami jarang foto berdua. Tapi hari itu... dia maksa masuk ke bilik foto.”
Aditya tersenyum pelan. Matanya menyentuh foto itu seperti menyentuh wajah ibunya sendiri.
Lalu... secarik kertas. Puisi. Ditulis tangan.
> “Kau adalah tempat hujan jatuh
Tapi tak ada yang tumbuh di dadaku
Karena sebelum sempat kusapa,
Kau sudah jadi milik dunia yang bukan aku.”
Aditya membacanya perlahan. Lalu menatap Raka.
“Bapak yang nulis ini?”
Raka mengangguk. “Tapi tak pernah kukasih.”
Aditya menggigit bibirnya. Lalu berkata, nyaris berbisik:
“Ibu... tahu perasaan Bapak?”
Raka menunduk. Lama. “Mungkin. Tapi aku terlalu lama diam.”
Mereka kembali diam. Angin malam menari di sela jendela. Detak jam di dinding terdengar lebih keras dari biasanya.
Aditya mengangkat sehelai surat. Kertasnya mulai kusam. Di bagian atas tertulis: “Sekar – 1985”
Raka menahan napas. “Itu tulisan dia. Satu-satunya surat balasan yang... mungkin tak pernah untukku. Tapi aku simpan.”
Aditya tak membuka. Ia hanya menggenggamnya, lalu memeluknya pelan—bukan sebagai rahasia, tapi sebagai warisan.
---
Setelah semua dikeluarkan, kotak itu kosong. Tapi ruangan itu terasa lebih penuh dari sebelumnya.
Raka menyandarkan tubuhnya ke dinding. “Aku menyimpan semua ini karena aku takut lupa. Tapi ternyata... yang aku takutkan bukan lupa. Tapi kehilangan dua kali.”
Aditya menoleh. “Aku nggak akan biarkan Ibu hilang, Pak.”
Lalu ia menatap kotak kosong itu.
“Boleh aku taruh sesuatu di dalamnya?”
Raka mengangguk.
Aditya pergi ke kamarnya sebentar, lalu kembali membawa gambar kecil—gambar tiga orang di sebuah beranda. Dua duduk bersebelahan. Satu berdiri membawa nampan teh.
“Ini kita. Aku, Ibu... dan Bapak.”
Ia melipat kertas itu perlahan. Lalu meletakkannya paling bawah, di dasar kotak kayu.
Dan malam itu, kotak yang pernah terkunci... akhirnya jadi milik berdua.