Malam Minggu, rumah itu tenang. Hujan tidak turun. Angin tidak berembus. Hanya suara jangkrik dari luar jendela dan detak jam tua di ruang tamu yang setia menemani malam.
Raka sedang membersihkan laci tua di bawah lemari buku. Laci itu sudah lama tak dibuka. Di dalamnya—berlapis debu dan remah kertas—terselip sebuah radio kaset lawas, merek National, warnanya sudah memudar.
Ia mengelus permukaannya, dan entah apa yang mendorongnya, ia mengambil satu kaset dari kotak kecil di sudut. Labelnya ditulis tangan:
“Rekaman Perpisahan SMA 1983 – Aula Utama”
Jantungnya tiba-tiba berdetak lebih cepat.
Pelan-pelan, ia memasukkan kaset ke dalam radio. Memutar tombol volume. Menekan play.
Suara berderak.
Lalu… suara riuh tepuk tangan. Sorak-sorai remaja. Dan tak lama kemudian, sebuah suara perempuan terdengar dari mikrofon yang sedikit mendesis:
“Lagu ini... aku persembahkan untuk seseorang. Mungkin dia tahu. Mungkin juga tidak.”
Lalu musik mengalun.
Nada-nada awal dari lagu lawas: “Kasih Putih”.
Dan suara itu mulai menyanyi.
Suara Sekar.
Lembut. Tidak sempurna. Tapi penuh rasa. Setiap lirik dinyanyikan seperti bisikan. Seperti luka yang belum sempat ditutup.
---
Aditya berdiri di ambang pintu. Ia tak bicara. Tapi matanya membesar, menatap radio itu.
“Siapa itu?” bisiknya.
Raka menoleh, pelan. Pandangannya kosong, tapi basah.
“...Ibumu.”
Aditya mendekat. Duduk di lantai. Tangannya gemetar, tapi wajahnya diam. Ia menutup mata. Mendengarkan.
Suara Sekar terus bernyanyi, sampai lagu habis.
Lalu hening. Lalu tepuk tangan. Lalu suara remaja tertawa.
Lalu... suara Sekar sekali lagi, tanpa musik:
> “Untuk kamu yang diam di sudut ruangan... aku nggak tahu kenapa kamu tak pernah bicara. Tapi aku ingin kamu tahu... aku tahu. Dan aku berterima kasih. Meskipun hanya dalam diam.”
Kaset berhenti.
Raka menutup matanya. Kepalanya menunduk dalam-dalam.
Aditya menoleh padanya. “Itu buat Bapak?”
Raka mengangguk. Tak ada kata.
Lalu Aditya berkata pelan:
“Terima kasih sudah nyalain kaset itu. Sekarang... aku tahu suara Ibu.”
---
Malam itu, mereka duduk lama di lantai. Tak bicara lagi. Hanya menyalakan ulang kasetnya. Mendengarkan. Sekali. Lalu sekali lagi.
Karena malam itu, untuk pertama kalinya, Sekar hadir. Bukan lewat bayangan.
Tapi lewat suara—yang tinggal lebih lama dari tubuh, lebih tajam dari kenangan.
Dan rumah itu, untuk sesaat, tak sunyi.