"To love and win is the best thing. To love and lose, the next best." – William Makepeace Thackeray."
"Wah kamu bawa Acha juga" Vany mengelus pipi lembut Acha yang masih tertidur pulas dalam pelukan Sasha. "Tadinya mau gua tinggal, tapi gua takut dia nyariin" Sasha meletakkan peralatan bayinya.
"Gimana kuliah lu?" Sasha memperhatikan deretan buku tebal diujung meja cafetaria itu. "Dospem gua ada-ada aja tingkahnya, kalau kayak gini terus bisa-bisa di undur lagi wisuda gua" Vany menggerutu. "Emang judul yang terakhir ganti lagi?" Sasha mengingat-ingat percakapan terakhir mereka di telfon. "Iya disuruh ganti, katanya terlalu pasaran, di sangka gua nyari itu judul ngga sampe muter Ka'bah apa" bibir Vany mengerucut.
"Hahahaha ngga segitunya juga kali Van" Sasha meraih menu, memesan cemilan dan secangkir lemon tea. "Gua jadi penasaran sama dospem lu, lu bilang masih muda kan? jangan-jangan itu akal-akalan dia aja biar lebih lama bareng elu, atau emang lu yang sengaja ngajuin judul ngga bener biar bisa lama-lama sama tu dospem" Sasha terkikik geli.
Vany menepuk pelan kening Sasha dengan bolpoint nya. "Gausah ngada-ngada lu ya" meskipun dospem Vany terbilang cukup tampan, tapi kemungkinan Vany menyukainya pun hanya 0,0000001%, dengan tabiat yang buruk, yakni suka menindas mahasiswa seperti itu, mana mungkin membuat Vany jatuh hati.
Bicara tentang ketertarikan, sepertinya hal itu masih jauh dari pemikirannya, jurang yang dalam yang pernah dimasukinya terlalu tidak memungkinkan baginya memulai ketertarikan lagi. Kisah pelik itu sudah cukup membekas di hatinya, membuat 'tanaman' yang bernama cinta itu tak lagi mudah tumbuh disana.
"Hei... sorry gua telat" Chaty menduduki bangku di sebelah Vany. "Kalau ngga ada alasan yang bagus, jangan beraninya cengar-cengir kayak gitu" Sasha mendengus kesal. Pasalnya pesanannya saja sudah habis setengah, tapi sahabatnya itu dengan tampang tidak bersalah hanya memamerkan senyum manisnya.
"Ya lu tau sendiri kan, murid didik gua gimana" Cathy memberikan puppy eyes-nya yang terbaik. "Hadehhh... tanpa atau dengan alasan itu juga gua yakin lu bakal telat" Sasha masih merasa kesal. "Udah gapapa Sha, lagian kan emang jarak dari kos dia kesini juga rada jauh" Vany menengahi.
"Emang sahabatku yang paling cantik ini paling mengerti" Chaty menoel pipi Vany, yang ditoel hanya terkekeh saja. "Gua udah prepare buat dua minggu lagi. Lu berdua ngga ada alasan kan buat ngga dateng?" Sasha menatap tajam kedua sahabatnya. Chaty mengeluarkan ponsel melirik jadwalnya dengan cermat. Vany sudah mengangguk terlebih dahulu.
Melihat reaksi Chaty yang belum juga menyetujui kehadirannya, Sasha mencubit lengannya tanpa ampun. "Ngga perlu drama deh, sibuk ngga sibuk kalian wajib datang, gua ngga lagi tawar-menawar, kedatangan kalian itu hukumnya wajib" Sasha menarik jarinya dari lengan Chaty. "Duh sakit gila, iya gua datang, astaga gua kira lu galak pas hamil doang, udah dua tahun lahiran masih galak aja" Chaty mengelus lengannya yang memerah akibat perlakuan Sasha.
"Kalian tau sendiri setelah pesta ulangtahun Acha, kami bakal pindah ke luar kota. Suami gua pindah tugas" Sasha menatap sendu ke luar cafe yang memang berdinding kaca itu. "Aelah ngapain jadi mellow sih Sha, lagian sekarang udah canggih, cuma butuh sejam doang dah sampe ke kota baru lu, ngapain sedih kayak gitu" Chaty mengelus pipi Sasha.
"Iya Sha, atau kalau perlu setamat gua kuliah, gua cari kerja disana aja deh, biar bisa sekota lagi bareng lu" Vany mencoba menenangkan.
"Kalian sekota bareng gua aja, susah banget buat ketemu, apalagi beda kota" Sasha menghela nafas berat. "Lagian kan masih bisa telfonan, masih bisa video call, kita juga selalu ada kok kalau lu mau cerita" Vany menggenggam tangan Sasha, mencoba mengalirkan semangat pada sahabatnya itu.
"Acha anteng banget ya, ngga kayak Mommy-nya" ucap Chaty asal. Sasha yang dikatain begitu cuma bisa mendelik sebal. "Gendong Acha bentar Chat, gua mau ke toilet" Chaty baru saja hendak menerima Acha di pelukannya, Sasha justru melewatinya dan memberikan Acha pada Vany.
"Sama Aunty Vany aja ya sayang, Mommy-mu kok kayaknya ngga percaya kalau Aunty Chaty yang jaga" Shasa terkekeh ringan sebelum akhirnya berlalu dari hadapan sahabatnya itu. "Sialan" dengus Chaty. Vany menatap bayi dalam pelukannya itu, ada rasa berdesir dihatinya.
"Lu udah setegar ini, ngga masalah kalau masih belum bisa terima sepenuhnya, tapi berhenti nyalahin diri sendiri, kejadian dua tahun lalu jangan buat lu down terus-menerus, lu masih ada gua kan? ingat itu" Chaty mengelus lembut pundak Vany.
"Gua udah baik-baik aja kok Chat, lu juga harus mulai mikirin buat jalin hubungan kan? lebih baik pernah gagal daripada ngga sama sekali mencoba" Vany menyenggol lengan Chaty. "Jangan karena kecewa dengan keluarga lu, juga karena ngeliat kisah cinta gua yang miris kayak gini, lu jadi 'buta' dengan sekitar lu, gua yakin lu pasti menyadari beberapa orang yang suka sama lu, ga ada salahnya mencoba kan" Vany menatap manik mata Chaty.
"Jangan terlalu khawatir, gua cuma mau fokus kuliah plus karier dulu, masalah pasangan belakangan, toh kalau udah ditakdirkan ketemu, ngga ada yang bisa nolak kan" Chaty mengedipkan sebelah matanya.
"Kalian gosipin gua ya" Shasa kembali dan membawa Acha ke pelukannya. "Jiah kegeeran banget, oiya gua hampir lupa Sha, buat pertunjukan anak-anak minggu depan gua serahin tanggungjawab costum sama lu ya, kapan lagi ya kan bisa make merk terkenal" Chaty meloby Sasha.
"Iya gua udah siapin kok, lagian lu juga dah bilang dari jauh hari mau pertunjukan, tapi gua ngga mau ya, ngga dapat bangku VIP waktu pertunjukan lu sama anak-anak" Sasha teringat ketika ia dan Vany harus berdesakan dengan penonton lain untuk mengantri tiket dan hanya tersisa bangku belakang.
"Iya sayang iya..., lagian waktu itu kalian sosoan ngasih suprise sih datang ke pertunjukan gua, pake bilang di awal ngga bisa datang segala" Chaty terkekeh mengingat suprise kedua sahabatnya itu, yang bukan terkesan haru, justru malah membuat ia geli karena sahabatnya yang harus memanjangkan leher untuk melihat penampilannya.
"Eh dah jam segini, gua balik duluan ya, gua takut suami gua nyariin" Sasha merapikan barang-barang yang ia bawa lantas cipika-cipiki dengan kedua sahabatnya sebelum berlalu.
"Gua pesen ojek online dulu ya Chat" Vany mengeluarkan ponselnya. "Ngga perlu Van, gua bisa nganter lu pulang kok" Chaty menyeruput habis minumannya sebelum beranjak. "Maaf ya jadi ngerepotin lu" Vany memasang seat belt dan duduk dengan nyaman. "Elah kayak sama siapa aja lu. Lagian gua juga senggang gini, jarang-jarang kan seorang Chaty punya waktu senggang" Chaty tertawa kecil. Vany tergelak. Sahabatnya itu masih saja narsis seperti dulu.
Sejak pengakuan Chaty yang membuatnya tak habis fikir, Vany terkadang bingung bagaimana harus bersikap dengannya, namun jauh di lubuk hatinya seorang sahabat akan tetap jadi sahabat bagaimanapun kondisinya. Vany menatap ke luar kaca mobil, fikirannya mengawang pada masa yang indah maupun pelik yang telah ia lewati. Dia bukan Vany yang dulu, bukan remaja umur belasan yang masih terlalu naif dengan kehidupan, yang terlalu mudah untuk menaruh rasa percaya.
"Gua masih suka kangen sama Meysa, kangen sama ceriwisnya, kayak masih terlalu cepat ngga sih kehilangan dia" Chaty mendesah tertahan, ada getir yang terdengar jelas di nada suaranya. "Hhhuuffftt... gua juga terkadang mikir gitu, selama ini gua kira kita udah jadi orang yang paling tau segala hal tentang dia, ngga nyangka aja dia bisa mendam begitu banyak hal selama ini" Vany menatap foto-foto kenangan yang diambil beberapa tahun silam. "Lu juga bisa jadiin ini pelajaran, jangan pernah pendam masalah apapun itu sendirian, karena gua ngga mau kehilangan sahabat lagi" Chaty menatap sekilas ke arah Vany. "Iya Chat gua janji apapun masalah yang gua hadapi, gua bakal jadiin lu orang pertama yang tau masalah gua" Vany mengangguk mengerti
Ponsel Vany berdering nyaring, memecah kesunyian di dalam mobil. "Halo, selamat sore pak" Vany berusaha menjawab dengan nada seramah mungkin, ada rasa was-was dalam fikirannya tentang apa yang akan dikatakan oleh dospemnya ini, seperti mencium kesulitan yang akan ia hadapi setelah ini. "Langsung aja, saya mau kamu mengajukan judul dan abstraksi skripsi kamu malam ini, karena saya baru ingat besok saya akan sangat sibuk, jadi saya harap malam ini, saya sudah menerimanya melalui email, baik selamat sore, saya tunggu email kamu sebelum jam sepuluh" tutt... panggilan terputus.
"Astagaaa ini orang, semena-mena banget sih! apa katanya tadi? malam ini? sebelum jam sepuluh! beserta abstraksi! dia mau bunuh gua atau gimana sih, di kira mudah apa dengan waktu singkat kayak gitu nemuin judul beserta abstraksi, aarrghhhh" kesal Vany. "Yang sabar ya cantik... yuk bisa yuk" kekeh Chaty. "Bisa apa? bisa typus gua?" Vany gusar, Chaty justru terkekeh melihatnya.Vany sekuat mungkin memendam kekesalan kepada dospem bertangan dingin itu, menghela nafas berat, sekuat apapun hati dan fikirannya menolak, yang ia bisa lakukan hanya menerima intruksi yang telah diberikan.
"Langit... bisakah kau turunkan petir untuk menyambar dospem? aku ingin lepas dari kekejaman dospem" Chaty menyindir sahabatnya itu sambil terkekeh. Vany pun akhirnya tertawa mendengarnya. Sesampai di kos nanti dia tidak akan membuang waktu, dia harus memutar otak memikirkan judul dan abstraksi skripsinya. "Makasih ya udah nganterin gua, lu ngga mau singgah dulu?" tawar Vany. "Ngga deh, gua langsung balik aja, gua ngga mau ganggu kemesraan lu sama skripsian yang udah di kejar deadline" ejek Chaty. Vany hanya menanggapinya dengan tersenyum masam.
Tak perlu khawatir, ku hanya terluka
Terbiasa tuk pura-pura tertawa
Namun, bolehkah sekali saja ku menangis?
Sebelum kembali membohongi diri
Ketika kau lelah, berhentilah dulu
Beri ruang, beri waktu
Mereka bilang, syukurilah saja
Padahal rela tak semudah kata
*penggalan lirik lagu Runtuh - Feby Putri Feat. Fiersa Besari
Vany menikmati secangkir greentea hangat favouritenya, ditemani lagu yang selalu diputarnya saat ia sendiri. Ia merasa sudah siap untuk bertempur dengan tumpukan buku dan artikel yang menuntutnya harus membaca dan memilah dengan baik mana yang akan ia jadikan acuan untuk abstraksinya kali ini. Walaupun sebenarnya ia sadar, kemungkinan untuk di tolak akan sangat besar sekeras apapun usahanya malam ini. Persiapan yang matang dengan segala pendukung yang kuat saja masih mengalami penolakan, apalagi persiapan dadakan seperti ini.
Jam menunjukkan pukul 09.59 WIB. File terkirim dengan sempurna. Vany tersenyum puas. Walaupun waktunya tersisa semenit sebelum batas yang di tentukan berakhir, setidaknya masih bisa di bilang tepat waktu bukan? Vany terkikik senang. Ia kini bisa memanjakan diri dengan pemandangan di balkon kamarnya. Suasana malam ini tampak lebih hangat dari biasanya, mungkin karena sehabis bertemu kedua sahabatnya, atau mungkin juga karena file nya sudah diselesaikan dengan apik.
Di tempat lain Chaty duduk menatap kembali segala persiapan untuk pertunjukannya nanti, kopinya mulai dingin, ini sudah cangkir ketiga yang ia seduh. "Apa sudah lebih baik?"tanya kakaknya yang ternyata tengah mengamati di balik punggungnya sedari tadi. "Ayolah... kenapa kau suka sekali mengagetkanku?" gerutu Chaty. "Maaf adikku sayang, segitu fokusnya sampai kau tidak menyadari keberadaan kakakmu yang tampan ini" kekehnya. Chaty memutar bola matanya, enggan menanggapi.
"Kau seharusnya tidak perlu mengambil libur hanya untuk menyaksikan pertunjukanku"
"Aku juga ingin tersorot kamera dan ditanyai wartawan mengenai siklus karirmu"
"Berhenti menggodaku, CEO muda tampan dan pujaan wanita sepertimu, untuk apa mengambil momen seperti itu? tanpa mengaku sebagai kakak kandungku, kau pun sudah dikenal di seluruh penjuru kota ini"
"Jadi kau juga mengakui aku tampan?"
"Hufft..." Chaty memutar badan dan menatap tajam tepat di kedua bola mata kakaknya.
"Hei... jangan menatapku seperti itu, baiklah aku tidak akan meracau lagi"
"Di pertunjukan pertamaku aku sengaja tidak memberitahumu, dan aku menyesali mengapa kau sampai mengetahui pertunkukan kali ini. Tapi aku mohon jangan mengacau. Kau jangan terlalu mencolok nanti, aku tidak ngin ada aktor lain yang menggantikan peran utama di acara itu nantinya"
"Baik nona, saya pastikan saya tidak akan mengambil acara anda kali ini"
"Dan satu lagi... jangan datang dengan wanita itu, kalau kau tidak menginginkanku memerintah pengawas acara untuk mengusir kalian berdua"
"Hahahaha adikku sayang, masih menyimpan dendam kah, hem?" Ia tertawa hambar.
"Mungkin bukan dendam, karena dari awal pun aku tidak terlalu berkepentingan dengan kalian, hanya saja itu membuatku mual, bagaimana bisa kalian melakukan cara sekotor itu?
"Aku tidak menyalahkanmu jika masih tidak bisa memaafkan kami, juga tidak akan memaksamu untuk tidak membenci dia, tapi ada banyak hal yang mungkin belum kamu mengerti"
"Apa kau fikir aku gadis lugu berumur 18 tahun yang tidak cukup bisa melihat situasi? kau sudah buta kak, kau hanya mencari pembenaran, tapi ya sudah itu memang bukan urusanku sejak awal"
"Satu hal yang harus kau tau, seperti apapun sosok yang ada di hadapanmu ini, aku tetaplah kakak semata wayangmu, satu-satunya saudara kandung yang sangat menyayangimu"
"Ya baiklah aku tau, jika tidak berkepentingan lagi, aku rasa kau masih ingat letak pintu kamarku"
"Ah ya, aku tidak akan mengganggumu lagi, sampai jumpa di pertunjukanmu nanti"
Pria tampan itu mengecup kening Chaty lama, membagi rasa sesak di hatinya. Ia melangkah keluar membiarkan Chaty kembali sendirian. Pintu kamar sudah tertutup dengan sempurna. Chaty menghela nafas lega, setelah beberapa saat tadi ia sudah berusaha untuk tidak menangis. Kejadian beberapa tahun silam memisahkan keduanya, membuat dinding yang terbangun kokoh diantara mereka. Setetes air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya lolos begitu saja melewati pipi mulusnya.
Matahari pagi yang masih hangat-hangatnya menyapa menerobos celah kecil diantara kedua tirai kamar Sasha. Mata indah miliknya perlahan terbuka, berusaha mengumpulkan kesadaran, mengulet pelan sebelum memaksakan tubuh untuk beranjak bangun. Fikirannya langsung tertuju pada putri kecilnya, ia melihat putrinya masih tertidur pulas di dalam box. Ada rasa lega yang menyelimuti hatinya. Di pandanginya wajah mungil nan menggemaskan itu, seperti mengeti bahwa ia sedang diamati tangan kecilnya menggapai-gapai sebelum akhirnya kedua kelopak matanya terbuka, bibirnya mengecap berkali-kali seakan mengisyaratkan sesuatu.
Sasha meraih bayinya, memberikan asupan pada si bayi, ada rasa haru yang membuat beberapa bulir bening membasahi dua pipinya, bayinya ini seakan sangat memahaminya, sejak dalam kandungan ia tidak pernah mengalami kesulitan, pun sampai sekarang bayinya tidak rewel, acap kali justru tertawa ketika berinteraksi dengan ibunya. Benar-benar anak baik dan obat yang paling ampuh untuk menyembuhkan luka yang tertoreh di beberapa tahun silam.
"Sayang, mama janji sama kamu nak, mama akan usahakan yang terbaik untuk kamu, mama ngga akan biarkan siapapun bisa melukai buah hati mama" bayinya mengerjap seakan mengiyakan perkataannya. "Tidak masalah jika sampai kamu besar nanti, papamu akan tetap menyalahkanmu, tapi mama disi nak, mama akan mencurahkan kasih sayang dan cinta mama sepenuhnya, selagi masih ada mama di sisi kamu, tidak ada yang perlu kamu khawatirkan" samar-samar terlintas dalam benaknya, bagaimana cara suaminya memandangi bayi tak berdosa itu dengan tatapan ingin membunuh.
Kalau saja kejadian nya dulu tidak seperti itu, dia juga tidak akan ingin di posisi ini. Mengapa seakan dia begitu jahat? mengapa seakan dia pemeran antagonis di cerita ini? apa mereka pernah terfikir apa yang ia rasakan? sepertinya tidak. Mereka hanya akan menilai bahwa ia seorang wanita tak berperasaan, tanpa tau bahwa ia juga tidak bahagia. Bahkan meskipun ini sudah sekian tahun ia menikah dengan suaminya, ia tidak pernah merasakan kehangatan ranjang, ah jangankan kehangatan, bahkan merekapun tidur di ranjang dan kamar yang terpisah.
"Ma... apa kau melihat putrimu ini dari atas sana?" pahit, susah payah Sasha menelan salivanya. "Sasha kuat kan ma? apa mama bahagia karena melihat Sasha tumbuh jadi wanita kuat seperti mama dulu? mama jangan khawatir, luka sesakit apapun Sasha ngga akan menempuh jalan yang mama tempuh waktu itu, karena Sasha ngga akan tega membiarkan putri kecil Sasha, cucu mama satu-satunya ini, merasakan apa yang Sasha rasakan waktu itu, kalutnya Sasha waktu itu, cukup Sasha yang rasain ma" tubuh Sasha bergetar, ia kembali merasa kalah.
Ia tidak perlu memasang senyum palsu kali ini, ia tidak perlu menutupi apa yang ia rasakan kali ini, tak perlu berpura-pura menjadi istri yang bahagia, yang mempunyai suami baik lagi perhatian. Karena faktanya, lelaki itu tidak pernah mencintainya. Tapi tak apa lah, bukannya perasaan seperti ini bukan kali pertama ia rasakan, baginya dicintai lelaki manapun tak lagi menarik minatnya. Kini sudah ada yang lebih penting dari itu. "Acha sayang, bagi mama, kamu udah lebih dari cukup, cepat dewasa ya nak, mama sayang banget sama kamu" diciuminya puncak kepala putrinya itu dengan lembut.
"Pagi Cantik, sepagi ini udah manyun aja" Kay menjawil lengan Vany.
"Bete sumpah Kay" Vany masih menatap layar ponselnya.
Kay mengintip pesan di layar selular milik Vany. "Di tolak lagi?" tanyanya.
Vany mengangguk lesu.
"Kayaknya ada yang salah mungkin dengan cara lu, gimana kalau lu ajak aja tu dospem buat bincang-bincang di caffe, jangan temui di ruangannya mulu, siapa tau suasana hatinya bakal bagus kalau di tempat yang lebih santai"
"Ngga usah aneh-aneh deh Kay" Vany menanggapi dengan jengah.
"Ya kali aja kalau sambil dating gitu dia bakal sedikit melunak, lu siapin kado kecil gitu, abis itu minta tolong sama pelayan caffe buat hiasin sekitar meja pake lilin ala-ala gitu"
"Lu punya saran yang lebih gila lagi ngga?"
"Atau di judul yang bakal lu ajuin nanti lu selipin foto lu yang rada gimana gitu, jadi pas dia liat, dia terkesima tuh kan, langsung di ACC deh"
"Kay! bener-bener lu ya" Vany menjitak kening teman sekelasnya itu.
"Ya namanya gua ngasih saran Van, hehehe" Kay nyengir lebar.
"Gua curiga lu sarapan ban mobil, makanya ngaco' gini"
"Wkwk... enak aja lu, eh gua malah belum sarapan, udah yuk ke kantin aja ngisi perut biar ngga gila"
Meski kesal Vany ikut juga ke kantin. Suasana kantin masih tidak terlalu ramai, sangat berbeda dengan jam makan siang yang terkadang sampai membuat keduanya tidak kedapatan tempat duduk. Setelah mendapatkan makanan dan minuman yang mereka inginkan, keduanya mengambil tempat di pojokan. "Kapan main ke kos gua lagi?" tanya Kay. "Kayak lu ada waktu aja buat nyambut gua, pulang kuliah juga lu langsung berangkat kerja kan? pulang malem. Nah kalau gua datang waktu lu off, gua manusia macam apa? lu off tu cuma sekali dalam seminggu, pasti puasin diri buat istirahat kan?" Vany menyuapkan sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya.
Kay menyadari kebenaran dari perkataan Vany, ia memang tidak punya waktu untuk berleha-leha seperti di awal semester lalu. Keadaan ekonomi keluarganya kini mendesak ia unutk bekerja part time. "Gua kangen nge-mall bareng lu Van, kangen nongkrong" Kay menghela nafas. "Sabar ya cantik, kalau waktunya cocok nanti gua traktirin di caffe kemarin deh, lu bilang kan suka banget sushi di situ" mata Kay melebar senang begitu di janjikan Vany. "Terbaik emang" Kay memeluk Vany girang. "Udah itu abisin dulu makanan lu, abis ini juga hars balik kan? ntar keasikan cerita malah terlambat lu nya" Kay mengangguk segera, melanjutkan sarapannya yang sempat terjeda dengan euforia tadi.
Vany merogoh dompetnya dan membayar beberapa buku yang ia beli. Ini bukan kali pertamanya dia membeli buku hanya demi membuat judul yang akan diajukannya lagi nantinya. Kali ini tidak lagi optimis saat pertama dulu, ntah mengapa ia merasa apapun judul yang ia ajukan tidak akan pernah sesuai dengan dospem terkutuk itu. "Tunggu, itu bukannya..." Vany mencoba mengingat sosok yang tak asing di seberang jalan. Vany tertegun, mendadak kakinya terasa kaku untuk melangkah pergi, meskipun sebenarnya ia ingin berlari menjauh dan sangat ingin bumi menelan tubuhnya untuk beberapa saat, memastikan ia tidak akan terlihat.
Namun pandangan mata lelaki di seberang justru mengarah padanya. Oh tidak... Jangan! lelaki itu berjalan mendekat, Vany benar-benar berusaha sekuat tenaga untuk segera berlari, namun tubuhnya justru diam di tempat seakan mengkhianatinya. Pandangan mata pria itu penuh harap, terlihat jelas ada luka yang dalam disana.
"Hai. Bagaimana kabarmu sekarang?" sapaan itu terlalu canggung, untuk hubungan yang dulu begitu erat.
"Ba... Seperti yang kau lihat aku baik-baik saja"
"Aku..."
"Senang bisa bertemu denganmu, tapi sangat di sayangkan, aku benar-benar sedang buru-buru" Vany bersyukur kewarasannya masih tersisa, ia melewati saja tubuh itu.
"Sakura...aku benar-benar merindukanmu" suara itu lirih, namun terdengar jelas di telinga Vany.
Vany berjalan cepat, sedikit berlari. Tangannya terulur memberhentikan taksi, setelah memasukinya tangisnya pecah. Mengapa harus bertemu lagi? ya meskipun Vany sadar cepat atau lambat ia pasti akan bertemu dengan lelaki itu lagi. Tak disangka ia masih menangisi lelaki itu, meski sudah berkali-kali meyakini diri bahwa ia tidak seharusnya menangis, namun perasaannya sudah terlalu letih untuk berbohong.
Hai, dia bukan milikmu lagi, dia bahkan tidak di takdirkan unutukmu.