'' Akan ada waktu dimana aku melihatmu
seperti dimalam itu"
POV. Vany
" Kakak janji kan balik lagi? "
" Kamu percaya sama kakak kan? "
" Yaudah iya, lekas kembali kak "
" Kakak ngga pernah ingkar janji kan? "
Aku tersenyum, menatap nanar punggung lelaki yang sudah merengkuh penuh cintaku.
" Van! WOI! " Aku terlonjak kaget, minuman kaleng yang tinggal setengahnya terlepas begitu saja, berdebam jatuh ke lantai menimbulkan sedikit kebisingan, dengan misuh-misuh ku ambil pengepel lantai, membersihkan noda minuman yang tampak jelas di lantai keramik yang tadinya putih itu.
" Ya lagian, gua masuk, ngucap salam, sampai kayang juga depan lu tetep aja lu acuhin, mikirin apa lagi? pangeran bayangan? "
" Sotau lu "
" Ngga cape apa Van? Udah dua tahun lu nunggu, toh ngga datang juga kan? Dan mirisnya, di dunia serba canggih gini, bisa bener-bener lost contact gitu, ga masuk akal tau ngga sih? "
" Ntah kekuatan darimana yang buat gua yakin Chat, dia bakal datang kok, ya mungkin belum waktunya aja "
" Sampai ntar malam pergantian tahun dia ngga datang, udah deh Van, satu saran dari gua 'Move On!' "
"Dia pasti datang kok Chaty sayang, tenang yah, sahabatmu ini ngga lagi halu, dan dia bukan pangeran bayangan kayak yang kamu bilang"
Dia pasti datang... Ya, pasti, tapi... Ntah kapan
Kembali ku buka album lama yang sudah mulai membuatku hafal di setiap halaman nya, karena setiap aku merindukan sosoknya, aku selalu melihat wajah manisnya yang tersenyum, mengingat kembali tawanya, seperti masih hangat dalam ingatan.
Hei... apakah kamu mulai ragu bahwa dia akan datang? Atau dia memang sebenarnya tidak akan datang : - )
SEBUAH KEJUJURAN
" Van, mau di bawa kemana ini? " Dewa mengambil tumpukan buku yang tampak di bawa oleh Vani dengan susah payah. " Ke ruangan Buk Rina kak " Vany mengambil setengah tumpukan buku itu, merasa tidak enak pada Dewa yang harus susah payah membantunya.
Vany masih menyibukkan diri dengan pikirannya, meletakkan tumpukan buku itu pada meja guru kesayangan nya, lantas mengucapkan terimakasih pada Dewa. Berjalan mendahuluinya, tanpa menoleh sedikitpun padanya. Dewa menghela nafas kasar, mengapa sulit sekali mendekati gadis itu?
" Chat, lu dah pernah liat foto 'pangeran' yang di tunggu si Vany belum? " Ujar Sasha mengusik Chaty yang sedang asik dengan selularnya. " Belum, bukannya diantara kita juga belum ada yang pernah liat fotonya ya, album usang itu disimpan dia rapat-rapat, kita juga ngga mungkin maksa dia kan buat ngasih liat " Sasha mengangguk. " Gua penasaran Chat, seganteng apasih pangerannya itu, sampai bisa nyuekin Kak Dewa, kan tau sendiri Kak Dewa cowo terlaris Se-antero SMA CENDRAWASIH " Sasha nampak berfikir.
" Kayaknya bukan cuma perkara tampang deh Sha, gua pernah denger kalau pangerannya itu cinta pertama dia, wajar kali ya kalau sampe susah lupa gitu " Chaty melirik bangku disebelahnya, bangku milik Vany yang kosong.
" Bangke emang tuh orang " Meysa masuk kelas dengan nafas tersengal. " Buset... kenapa lu? " Chaty terkekeh melihat penampilan rambut Meysa yang tampak awut-awutan, mungkin dikarenakan abis berlari. " Lu tau kan kakak kelas yang anak chearleader itu? dia m***m di ruang ganti, and you know? waktu gua mergokin dia, dia bukannya malu atau berhenti gitu, dia cuma ngelirik gua sebentar, terus di lanjutin, bego parah ngga sih? " Sasha tertawa mendengar gerutuan Meysa. " Elah lu dah tau lah, anak jaman sekarang " Ucap Chaty cuek.
" Kayak lu pernah kayak gitu aja, kalau lu yang liat pemandangan kayak gitu juga pasti ngedumel kayak gua " Meysa mengambil tempat duduk di samping Sasha. Pasalnya ke-empat gadis ini memang melajang seumur hidupnya, jauh dari romansa, hanya Vany yang mungkin pernah menjalani kisah cinta, yang meskipun tidak pernah membiarkan para sahabatnya itu mengetahui secara detail nya.
Vany memasuki kelas dengan menenteng dua buah novel. " Loh kalian ngga jadi ke kantin? " dia memandangi satu persatu sahabatnya. " Jadi kok, ini kita beliin lu sama Meysa cemilan, ambil nih, ntar lagi jam pelajaran Buk Marni kan " Chaty menjulurkan beberapa cemilan pada sahabatnya, memberikan botol minum miliknya juga.
" Novel baru lagi Van? baca novel romansa gitu ngga buat lu iri ya? udah embat aja Kak Dewa, kapan lagi ya kan? lu kan bisa nunggu pangeran lu itu sambil icip-icip, nah pas pangeran lu datang, lu bisa kelarin deh Kak Dewa " Ucap Meysa. Vany melengos, malas menanggapi sahabatnya itu. Sasha dan Chaty yang mendengar ide gila Meysa malah terkekeh namun menyetujui apa yang di sarankan Meysa.
" Udah deh, daripada lu pada sibuk ngurusin percintaan gua, mending pada cari juga gih, standard lu pada ketinggian sih, setiap ada yang deketin juga kalian cuekin kan? " Vany yang jengah mendengar sahabatnya yang masih menertawakannya mulai bersungut-sungut.
" Lah kalau gua ngga disuruh Nyokap buat ngejar beasiswa di luar negeri, gua juga minat cinta-cintaan " Sasha menyaut. " Stop Sha, jangan bahas dulu, mana kita udah kelas XI, gua belum siap buat pisah sama lu " Meysa merengut kesal. " Iya Sha, gua juga masih pengen di buatin puding sama Mommy " Chaty menenggak salivanya membayangkan puding buatan Mommy-nya Sasha yang memang sampai saat ini belum ada dua-nya.
" Ya... elu mahh.... makanan mulu " Sasha menoyor pelan bahu Chaty ringan. Chaty tergelak. " Eh bedewe.... ntar pulang ke rumah gua yuk, Mommy nyuruh kalian datang " Chaty langsung mengangguk menyetujui. " Gua bilang Nyokap dulu ya ntar " Vany melirik selularnya sekilas, menimbang-nimbang meminta izin saat ini atau nanti ketika jam pelajaran usai.
Bel berdering dengan nyaring, kelas-kelas mulai gaduh karena siswa-siswi berduyun-duyun meninggalkan kelas. Vany dan ketiga sahabatnya menuju kediaman Sasha, mereka disambut dengan berbagai macam hidangan, Mommy-nya Shasa begitu senang melihat kedatangan sahabat-sahabat putrinya, menemani mereka berbincang sebentar, lantas membiarkan mereka menikmati hidangan nya.
" Punya mama tiri itu enak ngga sih? " Sasha bergumam, lebih terdengar bertanya pada dirinya sendiri.
" Enak sih, karena aku ngga pernah rasain mama kandung " Jawab Chaty sekenanya.
" Lagian pertanyaan lu random banget sih Sha " Vany masih asik menguyah buah sebagai makanan penutup.
" Karena bentar lagi gua punya mama tiri "
Kompak sahabatnya menghentikan kegiatannya masing-masing, menatap Sasha minta penjelasan. Atau mungkin mengira mereka salah dengar.
" Bercandaan nya ngga lucu ahhhhhh " Meysa yang gemas karena yang di mintai kejelasan hanya sibuk menyendokkan buah suapan demi suapan.
" Ngga mungkin gua bercanda untuk hal seserius ini " Sasha tersenyum lalu melanjutkan. " Gua bakalan punya mama tiri, besok bokap nikah sama wanita yang waktu itu gua ceritain sama lu pada, wanita itu pemilik caffe yang kita datengin kemarin, pantes gua sering mergokin bokap disitu, bokap ngga punya cara lain katanya
perusahaan bokap terancam bangkrut, tante itu cinta pertama nya bokap, dan dia mau bantu kalau dia di persunting, gua udah saranin buat minta bantuan ke kolega, atau ke orangtua kalian, tapi bokap bilang kalau terlalu malu, dan lebih memilih menikahi wanita itu
hmmm... lebih ke akal-akalan bokap sih, sebulan lalu bokap baru tau kalau gua bukan anak kandungnya, gua anak mommy dengan lelaki sebelumnya, lelaki yang mommy cintai, bukan lelaki perjodohan seperti bokap,
gua ngerasa beda emang akhir-akhir ini, dan semua terjawab dua hari lalu, saat Mommy cerita yang sebenarnya " Sasha menatap nanar ke sekitarnya.
Vany mendekap dirinya, mengelus lembut punggungnya, berusaha memberikan ketenangan. " Lu masih punya kita kok " ujarnya. " Iya Sha, apapun yang terjadi, kita bakal tetap ada buat lu, dan kalau lu ga sanggup buat lanjutin, udah nggausah di bahas lagi, semangat ya cantik, kamu kuat " Chaty menyeka air mata Sahsa yang menggenang di kedua pipi mulus sahabatnya itu.
Kunjungan kali ini sangat berbeda dengan kunjungan sebelumnya. Siapa sangka hubungan orangtuanya yang sebelumnya begitu harmonis, bahkan menjadi iconic cinta bagi mereka, justru malah mengalami pasang surut seperti ini.
Hfffft.... Vany menghempaskan tubuhnya ke atas kasur empuk miliknya. Pengakuan Sasha mengenai kondisi keluarganya membuat beribu pertanyaan berseliweran di benaknya. Pertanyaan yang hanya akan jadi pertanyaan tanpa jawaban untuknya.
Apa jika saja dia waktu itu mengandung anak dari sang kekasih hati, maka di tidak akan pergi meninggalkannya? atau justru di akan menjadi lebih sengsara? karena harus menghidupi anaknya dengan usianya yang masih muda belia.
'Hai lelakiku... Bagaimana kabarmu? Apakah harimu menyenangkan? Aku masih menunggu. Kau tak pernah ingkar janji kan? Ah iya aku mempercayai mu, tapi bisakah kau sedikit mempercepat waktunya? Lekas menemui ku dan membuktikan janjimu? sebab... aku... RINDU '
ANAK BARU
" Eh udah denger kabar belum? " Meysa memutar bangkunya 180 derajat, melirik ekspresi temannya satu persatu. " Tudep aja deh Mey, apaan? kita ngga bakal tau gosip Se-antero SMAN CENDRAWASIH ini kalau bukan dari lu " Chaty yang malas bertele-tele langsung menyaut. Vany masih asik dengan novelnya, Shasa masih membaca materi yang baru dibagikan.
" Ya makanya kalian itu kalau diajak ngomong liat orangnya dong " sungut Meysa. Setelah berhasil mengalihkan perhatian ketiga sahabatnya, iapun merogoh sakunya dan mengeluarkan selular nya.
" Ada anak baru di kelas sebelah, katanya juara kelas bertahan di sekolah yang lama, ganteng kan? " sekilas ketiga sahabatnya itu melirik ponsel milik Meysa.
" Iya terus mau ngapain? toh bakal di dahuluin sama gang sebelah, yang paling ngga bisa liat barang bening dikit, toh kita juga ngga akan ada deh yang bakal menarik perhatian itu cowok " Chaty melengos. Vany mengangguk membenarkan. " Gua rasa gua jatuh cinta deh sama dia " Meysa senyum-senyum memandangi foto anak baru itu.
" Chat, ini udah ke berapa? " tanya Vany. "Cowok ke-79 yang ditaksir Meysa. Yang jelas bentar lagi juga ada yang buat dia lupa sama itu anak baru" Vany terkekeh. Chaty memang paling jago nge-roasting sahabatnya itu.
" Yee... gua kan berpegang teguh pada kalimat 'cinta tak harus memiliki', setidaknya suka sama lawan jenis itu wajar " ujar Meysa membela diri. " Mey... gua yakin itu bukan cinta, lu cuma suka aja " Sasha terkekeh ringan. " Heleh... emang Shasa yang cantik nan bahenol ini pernah jatuh cinta? " Deg. Sasha skakmat. Dan berujung menoyor lengan Meysa. Mereka pun terkekeh. Pasalnya memang belum pernah satu pun dari mereka yang merasakannya. Ya mungkin selain Vany tentunya. Atau mungkin diantara mereka masih ada yang menutupinya.
Drrrttt.... Vany melirik ponselnya, asik membahas ulangan yang baru saja usai, Vany sampai lupa bahwa sudah di beritahu oleh supir pribadinya yang sudah beberapa menit lalu menunggunya. " Eh gua duluan ya... gua udah di jemput soalnya " sebelum mendengar protes dari para sahabatnya ia bergegas berlari-lari kecil.
Brukk... badan mungilnya hampir terpental, beberapa buku berserakan di lantai, Vany baru saja menabrak seseorang, dengan panik ia memunguti buku-buku itu. " Aduh maaf banget yaaa... aku ngga sengaja, aku buru-buru soalnya " Vany merasa bersalah, membungkukkan badannya meminta maaf untuk kesekian kali nya, lantas berlalu meninggalkan sosok lelaki yang masih mematung menerima uluran buku-buku yang diberikan gadis itu.
Di benaknya masih terlintas berulang kali, bayangan sosok mungil dengan ikatan rambut yang tidak lagi rapih, membiarkan beberapa helai rambutnya menghiasi wajahnya. Bukan tidak ingin membantu gadis itu memunguti bukunya, namun ia begitu terpana, wajah mungil nan manis itu seakan menyihirnya, membuatnya mematung dan hanya bisa menatap punggung gadis itu yang menjauh. 'Aih.... siapa dia, mengapa sosok indah itu harus berlalu begitu cepat ' ia bertekad akan mencari tau nama gadis itu besoknya.
" Selamat kalian yang ada disini akan mewakili olimpiade mewakili SMAN CENDRAWASIH " Ujar Buk Rina yang memamerkan senyumnya. Guru killer itu sangat jarang tersenyum, namun wajar saja, di depannya adalah siswa-siswi berprestasi, bukan siswa yang biasanya hanya membuat onar di sekolah.
Sepanjang penuturan Buk Rina, Angga hanya memperhatikan sosok yang menabraknya kemarin, yang tampak memperhatikan arahan dengan mimik muka yang serius. Namun melihat wajah imut itu begitu, nampak begitu menggemaskan, dan membuatnya tak rela melepaskan pandangannya.
Semua di perbolehkan meninggalkan ruangan, terkecuali Angga. Angga bertanya-tanya dalam hati, apa gerangan Buk Rina menyuruhnya untuk menetap. Buk Rina menatapnya dan menghela nafas.
" Ibuk tau, di usia kamu ini lagi gencar-gencarnya menaruh perhatian pada lawan jenis, tapi Ibuk minta, ke depannya, kalau Ibuk sedang memberikan arahan, tolong kamu dengarkan baik-baik, mungkin saja berapa arahannya berbeda dengan sekolah kamu yang sebelumnya, meskipun disana kamu berprestasi, dan sudah terbiasa memenangkan olimpiade, tapi tolong kamu lebih respect lagi pada arahan yang ibuk berikan "
Angga menenggak salivanya dengan susah payah, berkali-kali mengakui kesalahannya dan meminta maaf, sebelum akhirnya pamit meninggalkan ruangan Buk Rina.
" Astaga apa yang baru aja gua lakuin? Angga.... seharusnya kamu tidak bertindak diluar control seperti tadi " Angga tak henti-hentinya merutuki kelalaiannya. Tapi untuk beberapa saat kemudian ia tersenyum, setidaknya dia akhirnya mengetahui nama gadis itu. Vany Andara.
" Cieee... gua yakin nih, bentarrr lagi nih....bentarrrrr lagi, bakal ada kisah cinta seusai olimpiade " ujar Meysa melihat Vany yang baru saja memasuki kelas.
" Apaan sih Mey, gua malah ngga merhatiin itu anak sama sekali, kalau ngga karena lu yang heboh sebelum gua masuk ruang Buk Rina, mungkin gua ngga akan tau kalau Raditya Anggara itu nama itu anak baru " sungut Vany.
" Kenapa ngga gua aja ya yang mewakili SMAN CENDRAWASIH " Meysa mengucapkan samar, namun masih dapat di dengar oleh Chaty. " Makanya kalau malam itu belajar, jangan ngedrakor mulu, pinter kagak, kang halu iya lu " Chaty menyentil kening Meysa.
" Setidaknya cuci mata kali Chat.... ngeliat cowok ganteng itu nambah imun tau ngga " Sasha yang mendengar pembelaan diri dari Meysa terkekeh ringan. " Daripada kamu Chat, hari-hari liatin komik, anime, ngga nyata juga kan? malah bentukannya bukan manusia " Meysa mencibir.
" Udah-udah.... semua punya hobby dan kesukaannya masing-masing kan? intinya kita harus bisa di kelas yang sama lagi untuk semester depan, tau sendiri kelas unggulan begitu di minati, gua ngga mau sampe salah satu dari kita terpencar, atau malah terpencar semuanya " Shasa menengahi.
Mendengar itu, mereka mulai mencemaskan ujian semester yang memang tidak lama lagi diadakan.
" Van...." panggil Angga setengah berteriak, gadis yang di tingginya akhirnya muncul. " Gua? " Vany menoleh. Ketiga sahabatnya kaget ketika melihat anak baru yang tadi mereka gosipi sudah berdiri tepat di depan mereka. " Bareng yuk pulangnya, sekalian mau nanya tentang olimpiade " Angga meminta penuh harap.
" Ah kayaknya ngga bisa deh, gua udah di jemput soalnya " Ujar Vany, merasa tak enak hati menolak, namun kenyataannya supir pribadinya sudah menunggu.
" Eh gitu ya? yaudah nggapapa mungkin bisa lain kali, yaudah gua duluan ya " Sesal Angga. Tampak raut muka Angga yang kecewa mendengar penolakan Vany.
Meysa menyikut lengan Vany, "Elah... cowo ganteng gitu main di tolak aja " ujarnya cekikikan. " Kayaknya dia suka sama lu deh Van " Sasha yang melihat Angga yang berjalan dengan lesu menuju parkir menatap iba.
" Nawarin pulang bareng bukan berarti suka kali, bisa aja emang mau nanya tentang olimpiade, kan dia juga anak baru disini " sahut Vany ringan.
" Tapi kan dia bisa nanya ke Febry, kenapa coba harus ke elu? jelas banget niatnya emang mau ngajakin pulang bareng aja " Chaty mengetuk-ngetuk dagunya seperti menganalisa. Vany yang jengah karena ketiga sahabatnya itu gemar sekali menggodanya, akhirnya memutuskan untuk pamit pulang, lagian supir pribadinya memang sudah menunggunya. 'Menyebalkan' sungutnya dalam hati.
"Ma.... Mama...." ruangan tampak lengang, Vany berusaha mencari keberadaan mamanya. " Nyonya lagi di kamar atas Non " Bik Ijah yang mendengar suaranya menyahuti dengan tergopoh-gopoh.
" Mama diatas? ngapain? " Vany mengerutkan keningnya. Bik Ijah tak mengetahui pasti, hanya melihat Nyonya-nya itu tadi sempat membawa kardus dari lantai atas, sempat menawarkan ingin membantu, namun Nyonya-nya menolak.
Karena penasaran dan tidak mendapatkan jawaban yang jelas, Vany segera menyusul melihat langsung apa yang dilakukan Mamanya itu. Vany tidak melihat keberadaan Mamanya di kamarnya, kalau tidak disini... berarti Mama di.... ia bergegas melangkah menuju kamar yang tak jauh dari letak kamarnya, dan benar saja Mamanya lagi disibukkan dengan mengepak beberapa barang, sampai tidak mengetahui putri nya itu sedang menatapnya keheranan.
" Ma... mau di apakan barang-barang ini? "
" Eh.. kamu sudah pulang? "
" Sudah ma... Vany terpilih menjadi salah satu siswi yang mewakili sekolah untuk olimpiade tahun ini "
Mommy nya tampak menghentikan aktivitas nya mengepak barang, lantas memeluk senang putrinya, " Selamat ya sayang.... Mama bangga sama kamu, semoga sukses ya nanti olimpiade-nya" d**a Vany mengembang, senyum serta ucapan tulus dari Mamanya sedikit mengembangkan hatinya. Sejenak ia teringat kembali akan barang milik Kak Nano yang sudah terkemas rapi.
" Ma... ini barang Kak Nano mau di apain? "
" Ah ini.... tadi dia ngabarin Mama kalau dia udah pindah ke tempat yang baru, jadi ingin barang-barangnya ini di kirim"
" Loh... kenapa Kak Nano ngga datang aja? lagian kok di kemas semuanya? emang ngga balik lagi? "
" Iya tadi minta nya gitu, di kemas semua, lagian kamu kan tau, sebentar lagi Kak Nano lulus kuliah, pasti mau cari kerja yang baru, udah waktunya juga kan Kak Nano hidup mandiri "
" Eh tadi Mama bilang Kak Nano ngabarin Mama? Vany minta nomornya Kak Nano ya "
Mama memberikan ponselnya, setelah menerima nomor Kak Nano, Vany pamit ke kamarnya.
Menekan tombol dial dengan berdegup, hingga dering ke empat belum ada jawaban.Vany menunggu dengan gelisah.
" Iya halo? dengan siapa? "
Vany ingin berteriak rasanya.
" Ini Vany kak "
"Ah adek Kakak rupanya.... gimana kabarnya?"
Air mata itu menetes begitu saja
" Ba...baik kak "
" Loh loh... jangan nangis "
Vany menghapus cepat air matanya.
" Kok ngga pernah ngabarin Vany? "
" Ah iya maaf ya adek Kakak yang cantik... Kakak fokus pendidikan, juga kan disini sambil kerja "
" Vany kangen... kapan kesini lagi? "
" Nanti bakal kesana kok, kakak lanjut kerja dulu ya, kirim salam sama Mama Papa, kakak juga kangen kalian "
Sambungan terputus. Vany menahan sesak yang menohok dadanya. Ah betapa ia merindukan Kak Nano. Tapi sepersekian detik kemudian dia tersenyum, mengingat baru saja ia kembali mendengar suaranya, dan senangnya lagi, mulai sekarang ia bisa menghubungi Kak Nano.
Beginikah? Rasanya sakit yang candu?
FLASH BACK
Papa Vany membawa seorang anak laki-laki yang usianya tampak terpaut tiga tahun dengan Vany. Anak lelaki itu hanya menunduk sedih, bayang-bayang kepergian ibunya masih segar dalam ingatannya. Sesekali anak itu menyeka air matanya, menangis dalam diam. Vany menatap iba bocah lelaki berumur 7 tahun itu.
" Mulai sekarang kamu bisa panggil paman dengan sebutan Papa, dan Tante ini dengan sebutan Mama, dan yang itu, adik kamu, Vany " bocah itu tetap menunduk tanpa memberikan respon apa-apa. Vany yang masih berusia 4 tahun itu tidak terlalu mengerti. Hari demi hari Vany berusaha menghibur bocah lelaki yang semenjak hari itu resmi menjadi Abang angkatnya.
Tahun berganti, bulan berjalan, keduanya mulai akrab dan bocah lelaki itu sudah berdamai dengan dirinya, berdamai dengan keadaan dan kenyataan bahwa ia sudah memiliki keluarga yang baru, keluarga yang hangat dan menerimanya.
Kedua orangtua barunya memperlakukannya seperti anak kandung, begitu pula dengan adiknya yang ceria yang selalu bisa menghiburnya dengan tingkah gemas nan lucu.
" Kakak...." panggil Vany yang tengah di usili oleh teman sekelasnya. Nano yang berlari menghampiri mereka, tak membiarkan adik kecilnya itu di usik. Memberikan beberapa pukulan kepada anak-anak nakal yang mengganggu Vany.
Vany yang mungil dengan baju SMP yang tampak kebesaran itu masih saja menangis, memeluk erat tubuh Nano yang sudah menyelamatkannya dari gangguan temannya yang nakal.
" Cup....cup... udah ya jangan nangis, mereka ngga bakal berani ganggu kamu lagi kok " ujar Nano menenangkan, mengusap punggung Vany dengan lembut.
" Makasih ya kak udah nolongin Vany"
" Ngga usah makasih, kewajiban kakak untuk selalu jaga kamu, lain kali ada apa-apa kamu kasih tau kakak ya, biar kakak bantu "
" Kakak janji akan selalu ada buat Vany? " mata gadis itu meminta penuh harap.
" Iya kakak janji. Yuk pulang, kakak beliin kamu es cream ntar di depan " Nano mengecup kening adik kecilnya itu.