Jantung Sasha berdebar tak karuan, pasalnya pria ini sebenarnya sudah lama mencuri perhatiannya. Pagi ini Dewi Fortuna berada di pihaknya, tak sia-sia dia lebih awal sampai di kelas. Suasana masih lengang, namun keduanya masih terdiam, tenggelam dengan fikirannya masing-masing.
" Eum... kalau boleh tau ada apa ya kak? "
" Aku bingung harus mulai dari mana "
Sasha menahan nafas gugup.
" Bi...bilang aja kak "
" Kamu... mau ngga... "
OMG please... Sasha mulai bergerak tak nyaman.
" Hhhhfffttttt.... seperti yang kamu tau, mungkin kalian berempat juga tau, kakak udah berusaha dekatin Vany, tapi hasilnya selalu nihil "
Gubrak. ingin rasanya Sasha lenyap dari muka bumi begitu saja. Astaga apa-apaan ini? dia berharap apa? jelas-jelas pria ini memang menyukai Vany? apa dia baru saja berharap bahwa dia akan di hadapkan oleh pernyataan cinta untuknya? pemikiran yang terlalu berani.
" Eh iya kak, lantas? "
" Kakak boleh minta bantuan kamu ngga buat deketin Vany? "
Membantu lelaki yang ia sukai untuk mendapatkan sahabatnya? permintaan gila semacam apa ini?
" Kak... Sasha ngga bisa bantu, maaf. Karena gimana pun, Sasha tau kalau Vany emang lagi menunggu seseorang "
" Dia udah punya pacar? "
" Secara detail nya Sasha gatau, tapi dia sudah menaruh hati dengan seseorang, seseorang yang selama ini dia tunggu, yang membuatnya menutup hati untuk siapapun "
" Ah baiklah, maaf sudah mengganggumu sepagi ini, kakak balik ke kelas dulu "
Sepagi ini hati pria itu hancur mendengar kenyataan pahit yang baru di telannya. 'Apa yang baru saja aku lakukan? apa ini pilihan yang benar? tapi Vany kan memang tidak menaruh perasaan apapun pada Kak Dewa' Sasha diam tak bergeming, ada rasa sakit, bingung dan khawatir atas apa yang baru saja ia perbuat.
Vany hari ini mengikuti olimpiade, Chaty merasa kesepian, pasalnya bangku di sebelahnya kosong. " Semoga Vany menang lagi ya di olimpiade ini " kedua sahabatnya kompak mengamini perkataan Chaty. " Mey... weekend ini, kita nginap di rumah lu ya " Sasha menarik cermin yang di pakai Meysa untuk touch up. " Boleh aja, ntar gua bilang Nyokap deh " Chaty yang paling peka diantara mereka langsung mengelus lengan Sasha lembut. " Ada apa? " tanyanya.
" Nyokap tiri gua weekend ini pindah rumah ke rumah gua " Meysa menatap sahabatnya itu dengan iba. " Lu bisa ke rumah gua kapanpun lu mau kok " Sasha mengucapkan terimakasih pada sahabatnya itu, dia hanya akan menginap satu malam di rumah Meysa, ya setidaknya mempersiapkan diri sebelum harus beradaptasi dengan kehadiran Mama barunya.
Suasana kelas hening, hari itu kembali di adakan ulangan, Chaty yang biasanya masih bisa curi-curi pandang pada lembar jawaban Vany, kini harus berfikir keras menjawab soal demi soal yang diajukan.
Jam pelajaran usai membuat siswa-siswi kembali bernafas lega. "Gila sama sekali ngga ada yang multiple choice loh" gerutu Meysa. "Iya kan, mana ngga ada Vany lagi, eh tapi mungkin dia lebih pusing lagi mikir jawaban olimpiade" Chaty menatap layar ponselnya, belum ada kabar dari Vany apakah ia memenangkan olimpiade itu atau tidak.
"Vany kok ngga ada ngabarin ya" Sasha juga ikut-ikutan mengecek layar selularnya. "Apa dia lagi merayakan kemenangan sama anak baru itu ya" Meysa terkekeh ringan. "Bisa jadi si" jawab Sasha sekenanya.
Sementara itu di tempat lain, Vany mendengarkan musik sendu dengan santai. Dia selalu percaya, membaca materi disaat ini hanya akan membuat konsentrasinya buyar, lebih baik dia menenangkan fikirannya sebelum menghadapi tahap akhir olimpiade.
"Ini minum dulu" Angga mengulurkan air mineral di depan Vany. Vany menerimanya. "Lu cukup menguasai dengan baik semua materinya tadi" Angga memujinya tulus. "Lu juga banyak bantu tadi, ah tapi kan emang pembagiannya gitu, lu lebih ke soal itung-itungan, Febry fokus di soal bahasa Inggris" ucap Vany mengingat-ingat pembagian tugas mereka.
"Feb... lu nggapapa? hidung lu berdarah!" Vany berseru panik. Febry yang sudah mengetahui hal ini akan terjadi mencari tissue yang sudah ia sediakan, mengusap pelan bagian hidungnya.
"Nggapapa kok, ini karena gua begadang semalam, kurang tidur, biasa ini mah" ujarnya santai.
"Lu yakin nggapapa? masih bisa bertahan sampai babak akhir ngga?" Vany menatap iba wajah Febry yang mulai tampak pucat.
"Sans Van, ini udah biasa"
Perhatian kecil dari Vany membuat Angga sedikit jealos, Febry memang baru kali ini menjadi kandidat dari sekolah mereka, pasalnya kandidat yang biasanya menjadi partner Vany memang sedang terlibat kasus di sekolah, akibat kecerobohannya ia tertangkap merokok di kantin sekolah.
Sedangkan Angga? ya tentu saja para guru yang mengetahui namanya yang tersohor di sekolah sebelumnya, memberikan ia kesempatan untuk ikut mengharumkan nama sekolah mereka. Mengingat Angga memang lebih cekatan menghitung dari kandidat sebelumnya.
Babak terakhir berjalan dengan mulus, SMAN CENDRAWASIH menyabet peringkat pertama pada olimpiade itu. Semua yang hadir memberikan tepuk tangan dan mengagumi ketiga murid yang menjadi perwakilan dari sekolah itu.
"Terimakasih kalian sudah bertahan sampai akhir dan memenangkan olimpiade ini" Buk Rina menjabat tangan mereka dengan wajah puas.
"Kalian bisa kembali ke rumah masing-masing, dan untuk Febry, saya akan membuat surat izin kamu kalau kamu besok tidak bisa hadir ke sekolah, kamu harus istirahat yang cukup" ketiganya mengangguk mengerti.
"Van, pulang bareng gua ya" Vany yang sudah membereskan alat tulisnya menimbang-nimbang sejenak, ia belum sempat mengabari supir pribadinya, dan akan memerlukan waktu lama untuk menunggu supirnya menjemputnya.
Angga merapalkan doa dalam hati berharap ajakannya kali ini tidak berujung sia-sia. "Yaudah ayuk" Yes! terpancar senyum kegembiraan di wajah Angga, ia merasakan dua kali kemenangan di hari ini, memenangkan olimpiade, dan memenangkan ajakannya.
"Van... weekend ini lu ada acara ngga?"
Angga bertanya dengan hati-hati.
"Ada"
Baru saja merasakan euforia kemenangannya, ia kembali tertolak. Tidak ada percakapan selanjutnya. Keduanya tenggelam dalam diam, Vany hanya sesekali memberikan arahan mengenai alamat rumahnya. Dan betapa terkejutnya Vany, ketiga sahabatnya itu sudah menunggu di sofa di teras rumahnya.
"Makasih ya udah mau repot-repot ngantar aku, aku masuk dulu" Vany tak membiarkan percakapan panjang diantara mereka, tersenyum singkat lantas meninggalkan Angga yang masih terpaku. 'Bahkan berbasa-basi mengajakku mampir ke rumahnya pun tidak' pikirnya. Dengan lesu ia kembali menyalakan mobilnya dan menuju pulang ke rumahnya.
"Cie.... pulang bareng cover boy sekolah ni yee" Meysa yang sudah tidak tahan untuk menggoda sahabat nya itu mulai berkicau saat Vany sudah memasuki pekarangan rumahnya.
"Nggausah mikir macem-macem, di jalan juga cuma diem aja, lagian dia murni mau nganterin gua mungkin kasian gua pulang sendirian, kalau gua nyuruh supir jemput, gua harus nunggu lama kan, makanya gua iyain ajakannya" sungut Vany kesal.
"Lagian kalau emang iya juga gapapa kok Van, justru kita malah senang" Sasha ikut berkomentar.
"Jadi lu pada kesini cuma buat ledekin gua?"
"Eh ngga dong, kita gausah nanya hasilnya apa, karena udah pasti menang, jadi kita kesini buat rayain kemenangan lu, kita belanja bareng hari ini, gua sama yang lain udah bawa baju ganti, tadi nyokap lu udah nyuruh masuk tapi kita emang niat ganti barengan aja, yuk" jelas Chaty panjang lebar.
Setelah meminta izin dari Mamanya, Vany dan yang lainnya pun menghabiskan waktu dengan berbelanja, mencicipi restoran yang menyajikan berbagai macam kuliner kaya kalori, lantas akhirnya berpisah dan kembali ke rumahnya masing-masing.
Chaty melangkah gontai memasuki rumahnya. Rumah dengan interior mewah dan dengan guci berbagai macam ukuran, yang tentunya harganya tidak murah, menghiasi setiap sudut rumahnya. Setiap melangkahkan kaki ke rumah ini, tidak ada yang dirasakannya selain hampa.
Kamarnya melewati sebuah kamar yang pintunya tidak tertutup rapat, samar ia bisa mendengar suara desahan yang tertahan. Aish! lagi dan lagi! kenapa kakak semata wayangnya itu harus pulang hari ini? ia sudah sangat muak dengan adegan erotis yang tak jarang mengganggunya, di karenakan kamarnya dan kamar milik abangnya ini bersebelahan.
Apa manusia sekarang tidak memiliki rasa malu??? sehingga bisa dengan leluasa melakukan adegan tak senonoh itu tanpa takut kedengaran orang lain. Ya meskipun seisi rumah tau selain papanya, tapi mendengar itu berulang-ulang bukan hal yang menyenangkan.
Baru saja ia membersihkan diri, menyalakan musik kesukaannya, dan hendak terbawa ke alam mimpi, kasur empuk itu tampak dinaiki oleh orang lain. Aroma ini, Chaty sudah sangat paham siapa yang mengusiknya. Masih enggan membuka matanya.
"Abis gelut lagi lu?"
"Hehehehe kedengaran ya?"
"Gimana ngga dengar kalau desahannya udah kayak suara toa masjid"
"Ya gimana, mungkin goyangan gua terlalu enak"
"Apa yang ada di otak lu si bang? masa iya nikmatin lubang yang bokap juga nikmatin?"
"Udahlah, gausah bahas norma, lu juga bisa bilang gitu karena belum ngerasain, eh gimana mau ngerasain ya, punya pacar aja kagak"
Ejekan itu sukses membuat Chaty menghajar abangnya itu habis-habisan dengan guling kesayangannya.
"Hahahaha udah-udah.... lu ga kangen apa sama gua? gua baru pulang, bukannya di sambut, di peluk kek, cium kek"
"Ogah, gua takut kalau lu kefikiran juga buat make gua"
"Heh nona kecil, gua juga punya tipe kali! liat tuh d**a lu rata banget udah kayak triplek, b****g juga rata, bagian mana sih yang buat gua ngaceng?"
"Buset ga ada otak lu ye"
Chaty menghajar lagi abangnya itu. Rasa kesalnya membuatnya ingin membunuh Abang semata wayangnya itu detik itu juga. Namun akhirnya ia menyerah setelah tenaga nya habis dan berbaring di samping abangnya itu.
"Lu main aman kan?"
"Ya kalau ngga juga kenapa? toh Papa bakal nyangka itu anaknya"
"Gila lu"
"Gua ngga pernah suka punya Mama baru, dari sebelum lu ada, gua yang nyaksiin sendiri kalau Mama itu setia banget sama Papa, and you know it, Papa selingkuh udah dari dulu, bukannya Mama baru mu itu juga udah sering cerita? bahkan sampai sekarang Papa juga ngga berhenti selingkuh kan?"
"Gua ngga ngerti apa yang di fikiran lelaki? apa hanya ada nafsu, nafsu dan nafsu?"
"Ngga juga, gua di luar negeri malah ngga ngelakuin ini sama sekali, Tante Rara itu wanita pertama dan baru dia sampai sekarang yang pernah ngelakuin itu sama gua"
"Kapan lu bakal panggil dia Mama? dan berhenti manggil dia Tante?"
"Ngga bakal lah, lagian ditambah tiga tahun ini kami udah sama-sama mencicipi, mana mungkin gua bisa manggil dia dengan sebutan Mama"
"Hfffft.... terserah lu"
"Tipe cowok lu kayak apa? kok gua ngga pernah liat lu diantar pulang cowok"
"Belum kefikiran gua, lagian ngeliat lu sama papa, gua jadi ngga pengen punya perasaan khusus sama pria"
"Suatu saat nanti lu pasti bakal ngerasain jatuh cinta, dan semoga lu jatuh cinta sama orang yang tepat, dan kalau disakitin, kasih tau gua, gua orang pertama yang ngasih tu orang pelajaran"
"Gua pegang kata-kata lu"
Chaty memandang abangnya yang mengacak pelan puncak kepalanya. Dua kakak beradik ini memang memiliki rasa sayang yang besar satu sama lain, hanya saja Chaty tidak suka dengan perbuatan abangnya itu yang justru memacari Mama tirinya. Meski begitu, apa yang bisa ia perbuat? bukannya keduanya sama-sama menginginkannya?
Vany menunggu dering yang kesekian kalinya. Berharap seseorang disana menjawab panggilannya. "Iya adikku sayang?" dalam hati Vany berteriak kegirangan. "Vany menang olimpiade bang" ujarnya bangga. "Wah selamat ya sayang, adik Kakak ini emang udah pintar dari lahir" Vany merasa sedikit tersanjung dengan pujian Kak Nano.
"Kakak kapan dong kesini? Vany kangen tau" sesaat kemudian ia kembali murung. "Kakak juga kangen kamu, ntar kalau waktu udah memungkinkan, kakak pasti kesana deh" Vany kembali menelan kekecewaan. "Kakak ngga lupa sama Vany kan? apa udah ngga sayang lagi sama Vany? dulu janjinya bakal selalu ada buat Vany, tapi apa? sekarang ngasih kabar aja ngga pernah lagi" Vany tak kuat lagi menahan isak tangisnya.
"Cup...cup... jangan nangis gitu dong, ntar cantiknya ilang loh"
"Yaa abisss... Vany kangen tau ngga"
Bukan malah berhenti, tangis Vany malah semakin menjadi. "Kan Vany tau... kakak disini juga bukan main-main, kakak disini untuk kerja dan ngejar karir, Vany fokus aja sekolahnya dulu ya, ntar ada waktunya kok kita ketemu lagi, udah ya kakak harus kerja lagi, dahhhh Vany-ku sayang..." panggilan itu di berhentikan secara sepihak.
Vany meremas ujung seprainya dengan kuat, rasanya rindu ini menusuk sekali. Apa ia terlalu banyak menuntut? Ah rasanya tidak, ia hanya ingin bertemu, sebentar saja untuk melepas rindu. Apa begitu sulit meluangkan waktu untuk menemuinya? bahkan ia sudah rela menunggu dua tahun untuk hanya sekedar mendengar suara lelakinya itu lagi.
Mengapa sekarang lelakinya berubah? Bukankah dulu pria itu yang selalu bisa menciptakan senyum di wajahnya? Yang memasang badan saat ada yang ingin melukainya? Yang senantiasa menyediakan bahu untuknya berkeluh kesah? Kemana lelakinya yang dulu?
"Buset... lu jualan apa gimana?" Chaty mengomentari kamar Meysa yang di penuhi pernak-pernik ala-ala Korea. "Bising deh Chat" hari ini mereka menginap di rumah Meysa. Sasha melupakan sejenak kepenatannya yang tak henti-hentinya berfikir bagaimana cara bersikap kepada Mama barunya.
"Ke Nyokap gua dulu yuk" Meysa mengantarkan mereka pada sebuah kamar yang tampak besar dan luas. Seorang wanita paruh baya menatap mereka tersenyum, mereka menyalami wanita itu dengan santun.
Wanita itu sudah berbaring disana selama belasan tahun, hanya sesekali dalam seminggu keluar, itupun di bawa oleh asisten rumah tangganya. Sekujur tubuhnya hampir lumpuh total. Sebenarnya jika mengingat ini, rumah Meysa bukan pilihan yang tepat untuk menginap, namun di karenakan orangtua Vany yang juga sedang menghadiri acara keluarga di luar kota, maka untuk menghibur Sasha agar tidak memikirkan Mama barunya, pilihan ini sudah cukup tepat.
Mereka melakukan segala aktivitas bersama, mulai dari luluran, maskeran, dan segala perawatan lainnya, hingga bermain game sudah mereka lakukan. Sampai akhirnya mereka terlelap di kasur empuk milik Meysa.
Meysa berulang kali menawarkan kamar lain untuk sahabatnya itu, namun mereka justru memilih tidur berbarengan di kasur yang sama, untung saja kasur miliknya bisa menampung tubuh mereka yang memang mungil-mungil.
"Kamu belum tidur?" Meysa hampir saja menjatuhkan gelasnya. Ia memang terbangun karena merasa tenggerokannya mendadak kering. Memutuskan untuk ke dapur mengambil segelas air. "Loh Daddy pulang? bukannya katanya ada urusan malam ini?" pria berumur 37 tahun itu menarik lengan Meysa ke kamarnya. Berusaha tidak menimbulkan suara yang membangunkan sahabat anaknya itu.
"Daddy udah ngelarin urusannya, kamu sendiri kenapa belum tidur?" pria itu membuka jas dan pakaiannya satu persatu. "Tadi udah tidur, tapi kebangun, haus, makanya ke dapur buat minum" setelah mendengar penuturan Meysa, Daddy-nya itu membersihkan diri, beberapa saat kemudian sudah keluar dengan handuk yang terlilit di pinggang.
Meysa memeluk Daddy-nya, tubuh pria itu sepertinya menolak tua, pasalnya tubuh itu jauh dari kesan seorang pria paruh baya, malah tampak seperti pria berusia 27 tahun.
"Udah lama Daddy ngga peluk Meysa"
"Daddy selalu peluk kamu kok, kamu kan dah tidur, pagi sebelum Daddy berangkat kerja juga Daddy cium kamu dulu, ya kamunya belum bangun"
"Iya belakangan ini Daddy sibuk banget sih"
"Daddy ngurusin kantor cabang baru di pusat kota, lagian kalau ngga kerja keras, nanti ngga bisa beli semua yang kamu mau kan"
"Tapi kan... kangen Dad..."
Daddy-nya itu menciumi puncak kepalanya, lantas membelai lembut wajahnya, menatap ia dari atas kepala hingga ujung kaki.
"Ngga nyangka kamu sekarang makin cantik dan makin seksi aja"
Pipi Meysa memanas, sudah lama sekali ia merindukan sentuhan Daddy-nya. Ia mendekat, mengikis jarak diantara mereka, menempelkan bibirnya pada bibir pria itu, mengulum dengan lembut, sesaat kemudian lidahnya sudah bergerilya, mengajak lidah pria itu menari bersama, desah nafasnya yang hangat menaikkan libido lelaki di hadapannya itu.
Perlahan namun pasti, Meysa merasa dadanya di remas dengan lembut, puncak payudaranya sudah timbul dan mengeras, ada sesuatu dalam dirinya yang menuntut minta dipuaskan.
"Engh... Dadd..." desahan itu lolos begitu saja dari bibir sensualnya, Daddy-nya sudah bergerilya di puncak payudaranya, mengulum dengan lembut disana, belum lagi tangan kokoh dan kekar itu mulai menyibak celana dalamnya, mengusap-usap miliknya dengan lembut, membuat tubuhnya bergetar, ini memang bukan pertama kali untuknya, namun setelah lama tidak merasakannya, merasakan itu kembali membuat seluruh tubuhnya menggelinjang merasakan nikmat tiada tara.
"Boleh kan di masukin sekarang?" nafas pria itu memburu, menahan geloranya, Meysa hanya mengangguk lemas, membiarkan sesuatu itu melesak memasuki intinya dengan sangat perlahan, seolah-olah miliknya adalah barang porselen berharga yang harus di perlakukan dengan baik.
"Eummhhhh..." desah Meysa lagi. Pinggul pria itu mulai bergerak perlahan, membuat Meysa semakin gelisah di bawah sana, menyaksikan raut wajah cantik Meysa yang sudah merah merona oleh gairah, menciptakan sensasi tersendiri untuknya. Ritme permainan itu semakin cepat, Meysa menggigit bibir berusaha menahan desahannya, nemun lenguhannya malah terdengar sangat memabukkan. Penyatuan dua insan itu memakan waktu yang cukup lama.
"Makasih ya sayang. Daddy sayang kamu"
"Meysa juga sayang Daddy"
Setelah merasa puas akan pertempuran tadi, Meysa lekas membersihkan diri dan kembali ke kamarnya, takut-takut sahabat nya itu terbangun atau lebih buruknya mengetahui apa yang baru saja ia lakukan.
Meysa mengamati sahabatnya itu satu persatu, tampak mereka masih sangat pulas. Ada semburat lega di wajahnya. Dalam hati ada sedikit rasa sesal di hatinya, di karenakan kehadiran sahabatnya itu, ia tidak bisa lebih lama memadu kasih dengan Daddy-nya.
"Morning semua... ayo dong bangun!"
"Apaan sih Chat, masih pagi udah bising aja"
"Yailah Van, ingat! kita harus jogging pagi ini"
"Emang udah jam berapa sih?"
"Jam 6 pagi Sasha sayang" jawab Chaty.
"Ah elu mah... masih jam segini"
Meysa hendak menarik selimutnya kembali, namun Chaty dengan cepat mencegahnya, membantunya agar duduk dengan sempurna. "Kita itu generasi muda, harus produktif, harus semangat, masa iya pagi-pagi gini molor lagi, kita jogging, sesuai rencana awal, bukannya kita juga udah pada bawa baju olahraga? nah buat apa dong kalau ngga di gunain?" ceramah Chaty panjang lebar.
Dengan di dorongkan oleh keinginan yang luhur, supaya berkebangsaan yang bebas, eh tunggu, kok lari kemana-mana ini, back to topic, karena Chaty udah berkoar-koar sepagi ini, jadilah mereka jogging berempat.
"Eh itu Dave bukan sih?" Meysa menyipitkan matanya, memandangi seorang pria sebaya mereka dengan kaus abu-abu yang tak jauh dari keberadaan mereka.
Dave si ketua basket yang di kenal Se-antero CENDRAWASIH memang terlihat begitu menawan, namun siapa itu di sampingnya?
"Mutia" kompak mereka menyebutkan nama wanita itu, tanpa mereka sadari agaknya suara mereka terlalu nyaring, sehingga wanita itu menoleh, terlihat gugup dan lantas menarik lengan Dave untuk menjauh dari mereka.
"Apapun alasannya, gua rasa kita punya pemikiran yang sama" Meysa memandang temannya itu satu persatu.
"Kalau emang yang kita fikirkan benar, tega bener ya Mutia" timpal Sasha.
"Janji ya, salah satu dari kita jangan sampe kayak gitu, jangan ada yang ngerebut, ngianatin sahabatnya sendiri" ujar Vany sungguh-sungguh.
Mereka serempak berjanji. Mutia? ah iya, dia adalah salah satu dari gang 'Fantastic Girl' atau akrab disebut gang 'FG', yang beranggotakan lima orang, gang yang terkenal dengan kepopulerannya dan di takuti oleh siswi-siswi lainnya. Tentunya bukan karena prestasi, melainkan ke-onaran yang sering mereka ciptakan. Siapa sangka bahwa kekasih dari ketua gang itu justru malah menghianati sang ketua dengan memacari sahabatnya sendiri. Bahkan diantara ke-lima anggota gang itu justru Mutia dan sang ketua gang, Yesya, dikabarkan sudah bersahabat sejak Sekolah Dasar.
Janji ya, salah satu dari kita jangan sampe kayak gitu, jangan ada yang ngerebut, ngianatin sahabatnya sendiri