Hayoo.... gimana ceritanya? Seru ngga? disini penulis minta banget sama kalian, buat ramein kolom komentar, ayo dong, bantu penulis biar semangat nerusin ceritanya.
Tuangkan aja segala tebakan kalian di kolom komentar, kali aja ada yang bisa menebak rahasia demi rahasia dalam cerita ini.
Tiap harinya penulis bakal usahain buat nambahin episode nya, tapi kalau kalian ngga antusias, penulis juga jadi kehilangan mood buat nuangin alur-alur yang pastinya tidak tertebak sebelumnya.
So... komentar kalian menambah imun dan semangat penulis buat ngehasilin cerita yang menarik nantinya.
Di tunggu komentarnya
"Ruang ujian kita samaaa!" Meysa memekik senang. Tampak binar bahagia dari mereka. Pantas saja setelah mendengar bel berdering tadi Meysa berhambur keluar kelas, membuat ketiga sahabatnya bingung, belum sempat mengemasi barang, Meysa sudah kembali lagi dengan tergopoh-gopoh. Akhirnya terjawab sudah kenapa ia sangat terburu-buru tadi.
"Gua udah buat rangkuman, ntar PDF nya gua kirimin ke kalian deh, gua udah nge-rangkum buat semua mata pelajaran, bisa di bilang kalau kalian kuasain itu, nilai 90 ngga lepas di tangan" Sasha berujar, sedikit menyombongkan diri.
"Wah emang paling pengertian" Chaty menyubit gemas pipi sahabatnya itu.
"Gua juga siap kok, kapan aja kalian mau nanya bagian yang ngga paham, bisa langsung nanya ke gua" Vany menimpali.
"Gua doang kayaknya yang ngga guna" Chaty menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.
"Hushh... ngga boleh ngomong gitu, lagian kita paham kok, lu emang kurang bisa buat ngejelasin, tapi toh juga gampang paham anaknya" Vany menyentil kening Chaty pelan.
"Semoga aja ujian kali ini kita bisa lewatin bareng-bareng, dan bisa dapat hasil yang memuaskan bareng-bareng" ujar Sasha. "Amin paling serius ini mah" timpal Meysa.
"Sha... minjem catatan dong" pinta Chaty.
"Bab 7 ya? yang waktu itu lu milih tidur kan?" Sasha terkekeh.
"Ya lu tau sendiri kan kalau gua abis ngebucin sama anime gua malam nya, makanya pagi mata gua berat banget"
"Wkekek yaudah tuh ambil aja di kelas"
Chaty menarik nafas lega, dia sudah menemukan buku yang ingin di pinjamnya, namun matanya menangkap sebuah buku mungil berwarna biru muda, Chaty menimbang-nimbang sejenak, mengingat itu barang privacy milik Sasha, namun rasa keingintahuannya membuat ia nekat mengambil buku mungil itu.
'Apa ya kira-kira yang dia tulis di dalamnya' dengan d**a berdegup kencang dan jari-jemari yang sedikit bergetar, Chaty membuka lembar buku mungil itu halaman demi halaman.
Hanya berisi beberapa note singkat, Chaty menghela nafas, ternyata buku mungil ini tidak begitu menyimpan privacy, namun sebelum dia hendak menutup buku itu, sebuah foto menyembul dari balik halaman.
Chaty terkesiap, ini foto kakak kelas yang kerap kali mendekati Vany. Kak Dewa. 'Apa jangan-jangan...?' Chaty membuka lembar itu dengan cepat.
'Banyak hal yang tak ingin kusadari, yang meskipun aku tau bahwa sekuat apa aku berharap, semakin sakit yang harus ku tuai.
Bukankah kita tidak bisa memilih akan jatuh hati pada siapa? Van... boleh bertukar posisi kah? ingin rasanya merasakan cinta dari seseorang yang juga ku cintai, percayalah begitu sakit memendam rasa pada seseorang yang mencintai sahabat mu sendiri'
Chaty menelan salivanya, terasa seakan tercekik oleh kenyataan yang baru di terimanya. Jadi selama ini? astagaa kenapa tidak ada satupun dari mereka yang menyadari ini? begitu sahabatnya ini pandai menyembunyikan perasaannya.
Secepat mungkin ia kembalikan buku itu ke tempat nya, mencoba menghela nafas menghilangkan kegugupan nya. Lantas bergabung kembali dengan mereka di lapangan.
"Van... ini buat kamu" Seseorang berhenti tepat di depan Vany, menyodorkan sebungkus coklat" Vany tak bergeming. Chaty tak bisa mencegah ekor matanya yang mengamati mimik wajah Sasha.
"Terima aja, kalau lu ngga mau bisa kasih ke kita-kita, daripada tu anak berdiri mulu di depan kita, mata gua sepet liatnya" bisik Chaty.
Vany mengangguk, ada benernya juga kata sahabatnya itu, ia menerima cokelat itu dan tersenyum sekilas. "Thanks ya kak, tapi lain kali ngga perlu kasih lagi" namun bukannya berlalu lelaki itu justru bergerak salah tingkah dan nampak sekali tidak ingin menyudahi percakapan itu begitu saja.
"Kamu ngga suka cokelat ya? atau kamu mau yang lain? aku bisa bawain untuk kamu, ahbiya itu juga cokelat nya buat penyemangat kamu, semoga sukses ntar ujiannya" Dewa menantikan respon balik dari Vany, namun Vany hanya mengangguk sekedarnya, lantas mengajak yang lainnya untuk kembali ke kelas. Vany meletakkan cokelat itu di laci mejanya, membiarkan cokelat itu begitu saja.
"Halo"
"Kak... Vany ngga ganggu kan?"
"Aduh sebenarnya kakak mau keluar ini, ada urusan mendadak, ada apa Van?"
"Kakak ngga pernah ngabarin Vany, chat Vany semua cuma di baca, apa sesibuk itu ya?"
"Aduh maaf ya sayang, memang akhir-akhir ini kakak lebih sibuk dari kemarin"
Krekk... suara pinta terbuka.
"Aku udah siap ni... ayo dong... siapa sih yang nelfon" suara seorang wanita menggerutu.
"Kakak hubungi kami lain waktu ya"
Tut...tut.... sambungan terputus.
'aku udah siap?' mendadak hatinya terasa perih. Sekeras mungkin ia mencoba berfikir positif, namun semakin ia mencoba berfikir positif, ia semakin merasa nyeri di ulu hatinya.
LITTLE HAPPINESS
"Haiiiiii..... gimana soal ujian di hari pertama?" Chaty yang duduk di bangku paling depan menghampiri sahabatnya itu, mereka memang di kelas yang sama, namun dengan posisi meja yang tidak berdekatan.
"Lumayan lah, untung yang gua pelajari tadi malam masuk semua" Meysa merapikan alat tulisnya.
"Gua kira soal yang essay ngga sesulit yang gua bayangin, masih bisa diatasi lah" ujar Sasha.
"Wah kalau si ratu olimpiade jangan ditanya lah kan, udah tau sendiri soal udah kayak burger, di lalap habis gitu aja sama dia" ledek Chaty.
"Ngga juga Chat, yang bagian C nomor lima tadi gua ngarang dikit sih jawabnya" Vany kembali mengingat soal ujian yang dibagikan tadi.
"Well... apapun hasilnya, kita udah berusaha yang terbaik, yuk ke kantin" ajak Meysa.
Kantin penuh sesak oleh siswa-siswi. Mereka memilih duduk di meja pojok dengan cemilan yang sudah di beli masing-masing.
"Kak Van..." seorang gadis cantik dengan pipi chubby menghampiri meja mereka.
"Iya... maaf siapa ya?"
"Kenalin aku Manda, junior di ekskul PMR"
Vany menjabat tangan gadis cantik itu.
"Gimana ujian kakak hari ini?"
Vany tidak langsung menjawab, merasa tidak nyaman dengan tatapan sahabatnya yang menuntut kejelasan akan junior yang baru memperkenalkan diri di hadapannya ini.
"Alhamdulilah lancar kok, ada apa ya?" Vany berharap gadis ini to the point saja.
"Sebenarnya ngga ada hal yang spesial sih, karena di rapat PMR terakhir kan, pemilihan pengurus, dan aku di tunjuk jadi wakil kakak di sekretaris PMR, semoga kedepannya bisa saling kerja sama ya kak"
"Ah iya, selamat atas terpilihnya kamu jadi wakil sekretaris, sebenarnya kakak malah udah bilang ke ketua, kakak ngga mencalonkan diri di pengurus, sebagai anggota saja sudah cukup"
"Suara kakak menang telak, dan semuanya sepakat kalau ngga ada kandidat yang lebih baik dari kakak"
"Ya kalau sudah terpilih begini, ya semoga saja kedepannya bisa amanah mengemban kepercayaan"
"Kalau gitu aku pamit dulu ya kak"
"Iya silahkan"
"Wah.... gua ngerasa makin insecure nih, Vany itu pacarable banget nggasi? sekretaris di ekskul sana-sini, juara kelas, ratu olimpiade, gua yang cuma butiran debu jadi minder" ujar Meysa.
"Apalagi gua yang cuma tau bucin ke anime gua, mending juga Sasha tuh, Miss Language nya sekolah" Chaty memeluk Meysa, merasa mereka senasib.
"Hey Chat, jangan lupa sama piagam, medali, yang berjejer di kamar lu, diantara kita juga cuma lu yang bisa bela diri" Sasha menjentik kening Chaty.
"Dan jangan lupa juga sama Meysa, si artis selebgram yang punya sejuta followers, yang ngga pernah sepi endorse" tambah Vany, "Kita bersinar di bakat masing-masing" lanjutnya.
"Bedewe... sore ini lu jadi ke acara kemarin Mey?" Vany teringat akan kontes ratu kecantikan yang diikuti Meysa. "Ngga penting banget nggasih? toh ini juga lagi masa ujian, gua juga ngga terlalu yakin, saingan nya itu loh, yang udah biasa wakilin sekolah-sekolah mereka buat acara sejenisnya" Meysa mengeluh mengingat kembali kontes itu.
"Eh ngga boleh gitu, jangan kalau sebelum berperang" Sasha merangkul pundak Meysa, mencoba menguatkan kembali sahabatnya itu.
"Lagian kalau menang pun, gua harus senang karena apa? karena gua cantik gitu? se-nggak yakin itu kah gua sama diri sendiri, sampai harus ikut kontes kecantikan biar sadar gua cantik?" Meysa memekik geli, Chaty yang awalnya simpati memutar bola matanya kesal.
"Heh dodol, kan yang di nilai disitu bukan cuma cantik lu doang, tapi isi otak juga" kesal Chaty.
"Nah lu tau sendiri, gua kadang suka ngga ngotak" timpal Meysa seenaknya.
Mereka terkekeh geli.
"Ngga mau tau pokoknya kita bakal nyeret elu buat selesaiin apa yang udah lu mulai" putus Vany.
Dan jadilah sore ini mereka menjadi tim hore-hore untuk Meysa. Selain untuk menyemangati Meysa, mereka juga memiliki kesempatan untuk melihat cowok-cowok cover boy yang berseliweran di depan mereka.
"Itu Angga bukan sih?" agaknya suara Chaty sedikit nyaring yang membuat sang pemilik nama melirik, mimik mukanya tampak kaget dan berusaha mengenali cewek tomboy yang menyebut namanya.
"Lu kalau nggibah jangan pake toa bisa nggasih" ujar Vany kesal. Seperti yang sudah di duga, Angga mendatangi mereka. "Kalian ikutan juga?" sapa nya ramah. "Ngga kok, cuma Meysa yang ikutan" jawab Sasha, mencari-cari sosok Meysa yang tadi meninggalkan mereka untuk ke ruang ganti.
"Lu ikutan lomba juga?" Chaty menatap penampilan Angga yang memukau dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Iya kebetulan papa gua sponsor acara ini, jadi di suruh ikutan, ya iseng aja sih" jawabnya.
"Good luck ya" ujar Vany tulus.
"Lima menit lagi gua nampil, gua tinggal dulu ya" Angga pun berpamitan.
Acara itu berlangsung hingga pukul sembilan malam, semulanya mereka tidak menyangka bahwa ada sesi berpasangan, dan pasangan Meysa untuk kali itu, tak lain dan tak bukan pria yang tadi menyapa mereka sebelum acara itu di mulai.
"Kalian keren banget sih tadi" ujar Meysa. mereka kini berada di dalam mobil milik Angga.
"Kalau kalian ngga maksa aku, aku juga sebenarnya udah hopeless tau ngga, untung aja hasilnya ngga begitu buruk" ujar Meysa.
"Jadi juara dua itu ngga buruk Mey, setidaknya lu kalah dari satu orang doang, dari berapa puluh orang terbaik" puji Angga.
"Dan kalian tadi juga terpilih jadi best couple" imbuh Chaty.
"Kayaknya besok gua harus bangun subuh deh, ngga terkejar lagi kalau belajar malam ini, kaki gua pegel banget sumpah, mana heelsnya tinggi banget" keluh Meysa.
"Yeeee.... di sangka ada yang niat belajar udah jam segini, kita juga tadi berdiri sampe kaki mau copot tau" Sasha memijat pergelangan kakinya.
"Hehehheheheh... makasih ya kalian udah mau nemenin gua sampai kelar acara, udah nyemangatin gua buat ikut kontes beginian" Meysa memeluk sahabatnya itu.
Bangku belakang yang memang berkapasitas tiga orang itu di huni mereka berempat yang memang bertubuh mungil.
Meysa mengucapkan terimakasih pada Angga yang sudah berbaik hati mengantar ketiga sahabatnya, dan mengantarnya sebagai penumpang terakhir.
Namun tak di sangka, bukan nya segera pulang, Angga justru turun dari mobilnya. "Kaki kamu udah nggapapa?" tanyanya penuh simpati. "Nanti aku pijit, aku rendam pakai air hangat juga, biar besok udah enakan" jawabnya gugup, pasalnya dengan jarak yang sedekat ini, Meysa bisa mencium aroma parfum Angga yang membuatnya mencegah diri untuk tidak semakin mengikis jarak diantara mereka.
"Yaudah tidurnya jangan kemalaman, semoga besok subuh bisa belajar dengan tenang, bisa tetap lancar ngadepin ujian, aku pulang dulu ya Mey" Angga memeluk tubuh Meysa. Meysa merasa kaku di sekujur tubuhnya, kali ketiga perasaan aneh ini hadir, sebelumnya waktu sesi pemotretan, dua kali mereka berpose sangat dekat dan membuat detak jantung Meysa tak karuan.
Angga mengecup kening Meysa lantas berpamitan sekali lagi, dan sebelum mobil itu meninggalkan pelataran rumahnya. Ia dapat melihat senyum manis nan memabukkan itu menghiasi wajah Angga.
Damn! he so hot!
Siang ini terasa begitu gerah, Meysa beberapa kali melamun dan ini memancing perhatian ketiga sahabatnya. "Lu kenapa dah? bengong mulu kayak ayam mau di sembelih" Chaty mendaratkan punggung tangannya di kening Meysa, memastikan bahwa suhu sahabatnya itu masih normal.
"Apaan sih Chat, gua nggapapa" tanggapnya.
"Wah... lu kemarin abis kita pada turun, ngga diapa-apain kan sama Angga?" Chaty kembali mencecokinya dengan pertanyaan. Matanya menyipit memandang wajah Meysa lamat-lamat. "Tell us Mey.... lu ngga diapa-apain kan? lu masih perawan kan?" cecarnya.
Uhuk... uhuk... Vany terbatuk, air yang hampir saja masuk ke tenggorokan nya, muncrat berhamburan. "Heh.... gila dah bercandaan nya gitu amat lu" ujar Vany menepuk pundak Chaty. Chaty tertawa lepas, begitupun Sasha yang menganggap bahwa Chaty memang berniat menggoda Meysa.
"Gua nggatau, gua ngga bisa berhenti mikirin Angga yang sebelum pulang itu ngecup kening gua, meluk gua juga, abis itu pamit pulang, ngga mungkin kan Angga suka sama gua?" Meysa mengutarakan isi hatinya.
Chaty berseru kaget "OMG! gilaaaaaaa...... pasti romantis banget ngga sih, nyesel gua kenapa ngga liat adegan seru itu" suasana kelas sudah lengang, namun sesosok yang dibicarakan akhirnya muncul.
Sasha yang hendak berkomentar mengurungkan niatnya melihat Angga sudah menghampiri mereka. "Lu masih bisa liat lagi kok" ujarnya. Angga meraih tubuh Meysa agar berdiri di hadapannya, memeluknya sekilas lantas mengecup keningnya. "Yuk pulang bareng aku" Meysa belum sempat mengiyakan, namun lengannya sudah di tarik begitu saja.
"Lu hutang cerita ke kita besok!" Chaty meneriaki Meysa yang sudah lenyap di bawa sesosok lelaki bertubuh proporsional itu.
Kini di kelas itu hanya tersisa tiga orang. Sasha dan Chaty masih tersenyum senang melihat kepergian Meysa, sementara muka Vany tertekuk. Chaty akhirnya menyadarinya.
"Van, jangan bilang sebenarnya lu ada rasa sama Angga" Chaty menebak telak.
"Jujur sejujurnya gua emang ngga ada rasa sama Angga, tapi ngelihat dia tiba-tiba deketin Meysa, kalian ngerasa aneh ngga sih?" Vany menatap kosong ke papan tulis.
"No... ini bukan tentang gua yang ngerasa ngga rela orang yang suka sama gua akhirnya suka sama orang lain, tapi lebih ke perasaan takut, takut Meysa cuma jadi pelarian, but kalian nggausah bilang ini ke Meysa, selama dia nyaman, dia senang, dan dia di perlakukan baik sama Angga, kita juga pastinya ikut senang dengan kebahagiaan dia" jelas Vany.
"Van boleh gua jujur?" Sasha buka suara.
"Iya Sha?"
"Gua bersyukur bisa mendam perasaan gua ini, gua bersyukur ngga ngambil langkah gila dengan dekatin seseorang yang hatinya bukan buat gua, terlepas dari perkara Meysa dan Angga, ini tentang gua sendiri,
minggu lalu seperti yang kita tau Kak Dewa pindah sekolah, banyak rumor yang bilang dia pindah karena orangtuanya pindah tugas, tapi ternyata itu sama sekali ngga bener, senior gua di ekskul cerita, teman dekat dia dihamilin Kak Dewa, dan dia ngga bertanggungjawab dengan perbuatannya itu, dengan alasan, dia masih ngga bisa lupain seseorang yang ada di hatinya"
Vany terhenyak, memeluk Shasa, sementara badan gadis itu mulai bergetar menahan tangis. Chaty mengagumi keberanian Sasha yang akhirnya jujur mengenai perasaannya.
"Maafin gua Sha" ujar Vany.
"Lu ngga salah Van, dan perasaan itu ngga berhak di salahkan, gua yang minta maaf karena baru berani jujur sama lu" Sasha melepaskan pelukannya, Vany menghapus sisa air mata di pipi lembut Sasha.
"Untung aja gua ngga gegabah, kalau sampai di waktu itu gua yang jadi pelarian Kak Dewa, gua ngga bisa bayangin gua hamil di luar nikah dan Kak Dewa ngga mau nikahin gua" Sasha menghirup nafas dalam-dalam. Mensyukuri keadaannya sekarang.
"Terus gimana sekarang perasaan lu ke Kak Dewa?" tanya Chaty hati-hati.
"Udah mati. Lelaki ngga bertanggungjawab kayak gitu ngga layak dicintai" jawab Sasha tegas.
"Syukurlah" ujar Chaty lega.
"Semoga Angga ngga ada niat buruk ke Meysa" Vany kembali teringat akan sahabatnya itu.
"Kita harus ngulik Meysa tiap harinya, kita ngga akan bisa tinggal diam kalau Meysa jadi pelarian atau semacamnya, dan semoga Angga bukan orang jahat kayak gitu" ujar Vany.
Di tempat lain...
"Makasih udah belanjain gua ini, udah traktir makan siang juga, tapi sebenarnya niat lu apa?" tanya Meysa hati-hati.
"Kenapa? gua ngga boleh lakuin ini? iya di awal gua emang tertarik sama Vany, tapi ternyata kita sama-sama tau kan, Vany ngga punya perasaan apa-apa ke gua, jadi ngga ada salahnya dong, gua lirik wanita lain"
"Iya tapi lu kan tau gua sama Vany sahabatan"
"Ya terus kenapa Mey? gua tertarik sama lu di sesi pemotretan kemarin, ya mungkin ngga ada salahnya kita pendekatan terlebih dulu kan?"
"Hhhhfffttttt... Angga lu ngga lagi ngigau kan?"
"Mey... hanya karena gua pernah suka sama sahabat lu bukan berarti gua ngga boleh suka sama lu kan?"
"Cuma terkesan upnormal aja kalau perasaan lu berubah gitu aja"
"Kasih gua waktu buat buktiin okay?"
Meysa menghela nafas berat, seakan ada jutaan ton beban yang menjejali pundaknya.
"Oke gua kasih lu kesempatan" ujarnya pada akhirnya. Angga tersenyum senang, mengacak puncak kepala Meysa dengan gemas.
"Lu unik, lu cantik, dan lu baik, ngga ada minus di elu yang buat lelaki manapun ngga bisa jatuh cinta" Angga mencium kening Meysa. Merasa tidak ada penolakan, ia memeluk Meysa yang kini mau membalas pelukannya.
"Apapun yang terjadi ke depannya, gua tetap yakin lu orang baik, dan gua ngga akan nyalahin lu, karena toh gua sendiri yang ngasih lu kesempatan" Meysa menghela nafas. Kini membiarkan apa yang terjadi setelahnya, tidak lagi mencoba menerka-nerka.
"Aku suka kamu" Angga membisikkan kata-kata itu dengan lembut, membuat sekujur tubuh Meysa kembali luruh. Meysa merutuki dirinya yang tak henti-hentinya tersihir oleh kalimat manis yang di lontarkan Angga.
"Just trust me. And let me make you mine, my little princess" kecupan kecil mendarat dengan mulus di bibir sensual milik Meysa.
Meysa menghempaskan tubuhnya. Deretan pesan di grup chat sudah menantinya. Tanpa ragu Meysa menjelaskan semuanya, menceritakan semua hal yang baru saja menimpanya.
Setelah usai menanggapi sahabatnya, yang tak henti-hentinya takjub dengan ceritanya. Bahkan telinganya hampir rusak mendengar teriakan histeris dari Chaty, beda dengan Sasha dan Vany yang lebih kalem menanggapi nya, dan mereka memberi Meysa warning agar tidak berlaku lebih jauh lagi, agar tetap menjaga mahkotanya.
Wajar saja persahabatan mereka wara-wiri dengan cerita yang di sajikan Meysa, pasalnya baru kali ini diantara mereka benar-benar ada yang dalam tahap 'pendekatan'. Meysa sendiri lebih memilih menenangkan fikirannya, lantas menikmati tidur siang dengan nyenyak.
"Lu yakin cara lu ini ngga berlebihan?" Vans mengambil sebatang rokok lantas membakarnya.
"Helooo... kita berteman dari lama, lu tau gua ngga pernah main-main dengan ambisi gua, gua ngga akan biarkan keinginan gua terlupakan begitu aja" Angga yang sedari tadi berlatih gitar, berhenti memainkan nya, mengambil segelas minuman yang sudah di tuangkan sahabatnya untuknya.
"Bro, ngga seharusnya lu melibatkan seseorang yang ngga bersalah"
"Wkwk gua ngga salah dengar kan? lu mau ngebacotin gua tentang moral?"
"Whatever lah, gua kemari juga mau jenguk lu doang, anak tongkrongan pada kangen sama lu, untung aja kuliah gua lagi senggang, makanya bisa datang kesini"
"Jadi yang kangen gua elu atau mereka?"
"Kita semua kangen sama lu, lu ikut balapan juga disini?"
"Sssuuuuttt... itu bibir di kondisikan, kalau ada yang dengar bisa berabe ntar"
" Halahhhh.... kalaupun ada yang dengar paling juga pembokat lu, emang mereka berani ngaduin tuan nya ini?"
"Iya juga sih, ngga disini, ngga disana, sama aja kan, gua selalu sendiri di rumah, males balik rumah jadinya, disini tongkrongan gua juga ngadain balap liar sih, gua aja yang belum mau ikutan, nanti lah, abis ujian"
"Helehhh lu ngga belajar juga udah pinter"
"Gua mau ngalahin yang punya peringkat satu di sekolah"
"Pasti cewe yang lu taksir itu kan"
"Yo'i"
"Hadehhh gua angkat tangan deh, cuma mau ngingatin lu, kalau karma berlaku, jangan main api kalau lu ngga mau terbakar"
"Bacot tau ngga, lagian kalau ntar dia ngga reaksi apa-apa dengan gua pacaran sama sahabatnya, gua bakal pake cara lain, pokoknya dia harus jadi milik gua"
Vans menggelengkan kepala, Angga tersenyum smirk. Dia selalu menghalalkan berbagai cara untuk mendapatkan keinginannya.
Dia sedang bermain api, api tentu akan membakar targetnya, tapi ia lupa, api juga bisa membakarnya :-)