Hujan masih saja membasahi pelataran rumah Vany, hari ini hari pertama libur panjang setelah usai ujian semester. Planning yang sudah di siapkan dari jauh hari hanya sekedar wacana, nyatanya gadis manis ini hanya berdiam diri tanpa melakukan apapun. Bangun lebih siang, dan belum juga membersihkan diri, hanya memegang secangkir cokelat hangat di genggamannya.
"Ternyata libur itu ngga enak, biasanya siang gini pasti ngantin, kalau ngga gosip sama Meysa, anak-anak pada kemana sih, mentang libur, grup sepi kayak kuburan" Vany mengeluh.
Mama Vany datang dengan menenteng setumpuk dokumen. "Kalau kamu bosen, minta supir buat anterin kamu ke rumah temen kamu" Mamanya itu memang sudah menangkap kegundahan putrinya. "Ngga ah Ma, lagian ini hari pertama libur, mereka juga pasti lagi sama keluarga" Vany mendekap Mamanya, bermanja-manja seperti ini lama sudah tidak ia rasakan.
" Kakek udah ngga megang perusahaan ya Ma?" Vany melirik dokumen itu sekilas. "Iya semua tanggungjawab beralih ke Mama, karena kan emang Kakek kamu ngga mungkin sembarangan ngasih kepercayaan sama orang lain" dengan lembut ia membelai kepala Vany.
"Sebenarnya paman Hendra kemana Ma? seingat Vany, terakhir kali liat paman itu waktu SD ngga sih?" Vany mengetuk-ngetuk dagunya mencoba mengingat. Namun Vany melihat perubahan ekspresi Mamanya yang kini tampak mendung.
"Kamu belum cukup dewasa untuk memahami masalah ini sayang" ucapnya akhirnya. "Ma, kenapa Vany selalu di anggap anak kecil? Vany udah cukup dewasa untuk tau apa yang terjadi di keluarga kita" Vany mendesak.
"Paman kamu menikahi wanita yang tidak di restui Kakek, paman lebih memilih meninggalkan keluarga dan menjalani hidup dengan wanita pilihannya" Vany kini mengerti mengapa ia tak lagi melihat pamannya itu setelah sekian lama.
"Apa Mama juga dulu di jodohkan sama Papa?" Vany bertanya dengan hati-hati. "Yahh begitulah, karena bagi Mama saat itu, restu orangtua itu yang terpenting" Vany melihat Mamanya yang memaksakan senyum.
"Ma jawab Vany jujur ya, apa mama bahagia?" ada luka yang terlihat di kedua mata indah Mamanya itu. Vany berfikir keras, apa lagi yang di sembunyikan keluarganya ini darinya. Apa sebenarnya Mamanya tidak bahagia di keluarga ini?
"Mama tentunya bahagia sayang, Mama di karuniai seorang anak perempuan yang pintar dan cantik seperti kamu, dan juga seorang anak laki-laki yang mandiri seperti Kak Nano" Vany menelan salivanya yang terasa pahit.
"Tapi kan Kak Nano bukan anak kandung Mama" Vany mengeratkan pelukannya, mencoba menguatkan Mamanya, juga dirinya. "Ya walaupun Kak Nano bukan dari darah daging Mama, tapi kamu tau sendiri kan, akte kelahiran Nano juga sudah diatasnamakan Mama dan Papa sebagai orangtuanya" Jantung Vany terasa berdesir.
"Mengapa harus begitu Ma? mengapa tidak di sebutkan saja kalau Kak Nano anak angkat keluarga ini?" Vany masih berusaha memuaskan dirinya dengan jawaban Mamanya.
"Untuk apa sayang? untuk mengingatkan dia kalau dia sekarang tidak punya orangtua? Lagi pula kan, kamu juga tau, semenjak Nano ke rumah ini, dia sudah jadi bagian utuh dari keluarga ini" Mama mengecup kening Vany.
Hujan di luar sudah mereda, Mama teringat harus mengantar dokumen itu segera. "Mama pergi dulu ya sayang, kalau kamu mau main ke rumah temen kamu, minta supir aja buat ngantar kamu, tapi ingat, pulangnya jangan malam-malam" Mama bangkit dari duduknya dan sekali lagi mengecup kening Vany.
FLASH BACK ON.....
"Kak nano... jangan ihhh" Vany mengejar Nano yang kini berlarian setelah merebut boneka Vany. "Ambil sini kalau bisa" Nano tertawa-tawa melihat Vany yang kesal dan tak kunjung bisa mendapatkan bonekanya kembali.
"Kakak usil banget siiii.... kan aku mau main" Vany berhenti mengejar, nafasnya sudah tersengal, matahari sudah naik hampir tepat diatas kepala. "Yeeee masa gitu aja nyerah" Nano masih mengamati Vany yang kini mulai berbalik arah, menjauhi pekarangan itu dan justru masuk ke dalam rumah.
Vany meraih sebotol air dari dalam kulkas, dan menaiki tangga. Lebih baik tidur, pikirnya. Nano yang merasa Vany melancarkan aksi andalannya, yakni ngambek, akhirnya memutuskan mengejarnya.
"Van... buka dong pintu nya" Nano memelas.
"Ngga mau ah, bonekanya buat Kakak aja, Vany mau tidur siang" Vany sudah menutupi tubuhnya dengan selimut. Kebiasaannya memang begitu, ntah itu panas atau hujan dia terbiasa tidur dengan selimut menutupi tubuhnya.
"Yahh jangan tidur dong, siapa yang nemenin Kakak main kalau kamu tidur" Nano mencoba membujuk kembali.
"Berisik ih Kak, main aja sendiri, di bilang Vany mau tidur jugaaa" Vany menutup telinganya dengan bantal.
"Lagian kamu kok tiba-tiba tidur, emang kamu ngantuk? perasaan tadi masih kejar-kejaran deh, ngga mungkin tiba-tiba ngantuk" Nano tampak tak berputus asa.
"Ya emang tidur harus ngantuk gitu? capek tau ngejar Kakak, mending aku tidur, udah ih jangan berisik, Kakak kan bisa main sendiri, jangan ganggu aku lagi, pokok nya aku mau tidur!" kini Vany sedikit membentak.
Nano akhirnya mencoba mengalah, memutar otak apa yang harus dilakukan nya demi mengatasi kejenuhan yang kini ia rasakan. Ia pun memutari rumah itu dengan memperhatikan tiap ruangnya.
Netranya terpaku pada gudang di belakang rumah itu. Gudang yang sudah sangat lama berada disana, tapi ia tak pernah sekali pun memasuki ruangan itu.
Dengan langkah hati-hati bak seorang pencuri yang mengendap perlahan, ia membuka gudang itu yang ternyata tidak terkunci. Gudang itu di penuhi barang-barang usang namun tidak berdebu, sepertinya keluarga itu menyuruh salah satu dari asisten rumah tangganya untuk rutin membersihkannya.
Tangannya menyenggol sebuah box berukuran sedang, Nano membuka box itu perlahan. Ada album kecil, buku diary, dan kotak liontin. Menyadari bahwa posisinya saat ini akan sangat mudah di lihat oleh asisten rumah tangganya, Nano mengangkat box itu dan keluar dari gudang.
Setelah memastikan tidak ada satupun yang melihat nya membawa box itu, ia me mengunci pintu kamarnya dengan rapat. Membuka box yang sedari tadi mengusik rasa penasarannya.
Ternyata album itu berisi foto-foto ketika ia masih dalam buaian Mamanya. Terlihat lucu dan menggemaskan, lembar-lembar foto itu seakan menguatkan kembali ingatannya akan Mamanya yang sempat terpudarkan oleh kehangatan keluarga barunya.
Namun ada beberapa foto yang menampilkan Mama nya berdampingan dengan sosok lelaki yang ia rasa tak asing. Mencoba berfikir keras dan mengingat kembali siapa gerangan lelaki di foto itu.
Karena tak kunjung mendapat jawaban, ia memutuskan membuka buku diary berukuran imut namun sangat tebal itu. Lembarannya nampak usang, namun tulisan diatasnya masih dapat terbaca dengan jelas.
Kini ia menyadari bahwa itu diary Mamanya dari semasa muda dulu, coretan-coretan itu beberapa kali menyinggung seorang pria di masa muda Mamanya.
Nano sudah membaca hingga pertengahan buku itu, hingga akhirnya nama pemuda itu disebutkan, Nano membelalakkan matanya tak percaya, tenggerokannya tercekat.
Berulangkali Nano membaca nama itu, berharap netranya menghianati nya, namun nama yang tertera tetaplah sama. Air mata bergulir di kedua pipinya. Jatuh dengan mulus, sejatuh perasaannya saat ini. Ia terluka, ingin marah, ingin membanting apa saja di sekitarnya, namun tidak, itu tidak mungkin dilakukan saat ini.
Ia harus membaca tuntas buku ini, ia harus tau apa yang sebenarnya terjadi. Sebingkai foto diambilnya dari album itu, menatap lelaki di foto itu dengan penuh kebencian, apapun yang menjadikan Mamanya itu menderita, ia bertekad membalaskannya pada lelaki itu. Lelaki licik yang tidak punya hati.
FLASH BACK OFF...
"Chat gua cape banget di rumah" keluh Sasha.
"Lah lu abis ngapain?" tanya Chaty di seberang.
"Gua ngga ganggu lu kan?" Sasha balik bertanya.
"Ya walaupun gua bingung kenapa lu harus nelfon gua jam 2 pagi, tapi buat lu mah ga mungkin gua ngerasa terganggu lah, cerita ke gua, ada apa?" Chaty memasang indera pendengarannya dengan baik, bersiap menerima keluh-kesah sahabatnya itu.
"Ngga ada apa-apa sih sebenarnya, ngga tau kenapa gua ngga bisa tidur Chat, dan kemungkinan yang belum tidur jam segini itu cuma elu"
"Yaelah, gua juga sebenarnya udah tidur kali, cuma gua pikir ya lu kenapa gitu, sampe nelfon gua jam segini"
"Chat, gua ngerasa hampa banget, gua juga ngga tau mau ngapain jam segini"
"Gini deh, lu coba ke balkon kamar lu, terus duduk disana liatin langit"
Walaupun merasa heran dengan saran dari Chaty, namun ia tetap beranjak dari tempat tidurnya, membuka lebar jendelanya dan duduk di sofa empuk di balkon kamarnya.
Perlahan suara petikan gitar di iringi dengan alunan lagu yang indah dari gadis tomboy itu, Sasha merasa nyaman. Sasha mengalihkan panggilan itu menjadi panggilan video, dan seperti dugaannya, Chaty juga berada di balkon kamarnya. Mendongak menatap langit yang sama.
Awalnya lagu yang dinyanyikan oleh Chaty mengandung lirik tentang jatuh cinta, namun setelah dua lagu berlangsung, lagu berikutnya tentang patah hati, Sasha menatap sahabatnya itu dalam, mencari makna di balik tatapan sendu Chaty yang masih mendongak menatap langit dan sesekali mengalihkan pandangannya pada senar gitar miliknya.
Sasha ingin sekali mencari tahu, apakah di balik sikap tomboy Chaty, ia sedang memendam perasaan pada seseorang? Lantas apa sahabatnya itu juga mengalami patah hati sepertinya? Seperti cintanya yang tak pernah terbalaskan.
Chaty menyelesaikan lagu terakhirnya dengan sempurna, ia menatap Sasha yang tertidur dengan terduduk, bergelung di sofa empuk itu dengan nyaman.
"Sha... Sasha....."
Suara itu lamat-lamat membangunkan Sasha.
"Tidur di kamar gih, nanti lu masuk angin tidur disitu, belum lagi ntar kulit mulus lu dicicipin nyamuk nakal"
"Makasih ya Chat udah mau ngibur gua, gua lanjut bobo dulu"
"Sama-sama cantik, yaudah bobo gih"
Sasha mengucapkan terimakasih sekali lagi, lantas mengakhiri panggilan video itu. Entah alunan suara Chaty yang memang terdengar sangat merdu. Entah karena sedari tadi ia memikirkan apa yang di sembunyikan sahabatnya itu, hingga membuatnya tertidur. Sasha mematikan lampu kamarnya lantas melanjutkan penyelaman nya ke alam bawah sadar.
DI TEMPAT LAIN...
Meysa menatap layar ponselnya, memperhatikan galery-nya yang kini di penuhi dengan foto-foto kemesraan dirinya dan Angga. Apakah begini rasanya dicintai? ia tak henti-hentinya tersenyum. Satu notifikasi muncul di layar ponselnya.
"Cantiknya aku kenapa belum tidur?"
Meysa tersenyum sebelum akhirnya membalas "Ngga tau nih belum bisa tidur"
"Jangan mikirin aku terus makanya"
Senyum Meysa semakin merekah.
"Kamu sendiri kenapa belum tidur?"
"Firasat aku berkata kamu lagi rindu"
Meysa tertawa membacanya.
"Selain manis, kamu juga pintar gombal ternyata"
Pesan terbaca, beberapa detik kemudian mendapat balasan "Hehehe udah yuk cantik, bobo, besok pagi aku jemput, kita jalan lagi ya" Meysa menyanggupinya.
"Sayang mau kemana hari ini?" Angga memasuki mobilnya setelah membukakan pintu terlebih dahulu untuk tuan putrinya.
"Terserah kamu aja sih, kayak biasa, aku ngikut aja"
"Oke deh kita ke Villa ya"
"Eh ngapain?" Meysa melotot kaget.
"Disana udaranya sejuk, makanya aku ngajak kamu sepagi ini, biar ga macet"
"Eummmm..."
"Kalau kamu keberatan kita bisa ke tempat lain kok"
"Ng..nggak kok, yaudah ke Villa aja"
Angga tersenyum senang. Rencananya kali ini pasti akan berhasil.
"Kamu pasti gerah kan? yaudah mandi aja dulu, itu aku siapin pakaian ganti sama dalaman juga, aku mau keluar dulu beli makanan"
"Ah iya yaudah kalau gitu"
Setelah kepergian Angga, Meysa menimbang-nimbang harus menceritakan ini atau tidak pada sahabatnya. Merasa bodoh karena ia begitu saja menyetujui Angga yang membawanya ke villa, apa kata para sahabatnya itu nanti? Meysa memutuskan tidak memberitahu mereka.
Namun jika Angga bertindak hal yang tidak senonoh bagaimana? Ah lagian kalaupun Angga melakukannya, lantas kenapa? bukannya ia pun sudah 'melepas' terlebih dahulu dengan Daddy-nya? Meysa menghela nafas berat, ia memutuskan untuk membersihkan diri sebelum Angga kembali menuju kamar itu.
Setelah menikmati sarapannya, Angga mengajak Meysa untuk berkeliling menikmati pemandangan sekitar yang menyejukkan.
"Kamu sering ke sini?" Tanya Meysa penasaran.
"Ngga sering juga sih, terakhir kali dua bulan lalu" jawab Angga.
Kini mereka menselonjorkan kaki dan duduk bersisian di bawah pohon yang rindang. Angga menyodorkan air kelapa yang di belinya sebelum mereka rehat. "Minum dulu sayang, pasti haus kan, abis keliling" Meysa menerimanya dan meminum air kelapa yang sangat segar membasahi tenggorokannya.
"Kamu kok ngga minum?"Meysa akhirnya menyadari bahwa Angga hanya menatapnya sedari tadi.
"Aku minta ya" tanpa menunggu persetujuan, Angga mendekat menempelkan bibirnya pada bibir gadis itu. Meysa yang tak siap dengan pergerakan yang tiba-tiba itu sedikit tercengang dan mebuat bibirnya sedikit terbuka. Angga menghisap air kelapa yang seharusnya sudah masuk ke dalam tenggerokan Meysa.
Angga mengusap celah bibir Meysa setelah puas menyesap lidah dan kedua bibir seksi Meysa.
"Ya ampun sayang sampe bengong gitu" Meysa terhenyak, seakan tersadar bahwa ia masih bernyawa. "Kamu bisa ngga jangan ulangi hal serupa, untung aja nyawa aku ngga lupa balik ke raga" Meysa mengalihkan pandangannya, pipinya memanas.
"Tadi aku sengaja bilang ke Abang penjual nya ngga usah di kasih gula, karena aku tau, minum dari bibir kamu pasti lebih manis" Meysa blushing kembali. Debaran yang tadi saja belum reda, Angga masih saja melontarkan kata yang membuatnya sulit bernafas.
Angga menarik tubuh Meysa, hingga tangannya sukses melingkar di leher Angga. Angga mengangkat tubuh mungil itu, menggendongnya memasuki kamar.
"Istirahat ya cantik, udah mau sore juga, sejam lagi kita balik ya, aku ngga mau di cap buruk sama om dan tante kalau sampai mulangin kamu larut malam" Angga memeluk mesra Meysa setelah menyetel alarm agar berbunyi sejam kemudian. Ia juga butuh istirahat sebelum mengantarkan pacarnya itu pulang.
Meysa memeluk kedua kakinya, tak henti-hentinya tersenyum mengingat kembali momen kebersamaannya dengan Angga. Ini bukan pertama kalinya ia merasakan bibirnya di lumat penuh kelembutan, Daddy-nya juga sering berlaku sama, tapi mengapa rasanya berbeda?
Angga tidak pernah menyentuhnya secara berlebihan, bahkan terkesan sangat menjaganya. Bagaimana kalau Meysa jatuh hati sepenuhnya pada Angga?
"Kamu mikirin apa sayang?" suara dehaman membuyarkan lamunannya. "Daddy..." Meysa menghambur memeluk Daddy-nya manja. Ia merindukan sosok itu, pasalnya sudah beberapa minggu ini lelaki itu ke luar kota.
"Daddy kangen banget sama kamu, dengar-dengar dari Mbak Dasri, kamu sering keluar bareng cowok, itu siapa? pacar kamu?" Daddy-nya melepaskan pelukan dan menatap Meysa dengan tatapan penuh intimidasi.
"Ah ngga kok, mana ada yang bisa gantiin Daddy di hati aku" Meysa tertawa hambar.
"Kamu ngga usah bohong sayang, Daddy paham kamu masih dalam masa puber, apalagi belakangan ini Daddy sibuk banget ngurusin kantor cabang, tapi yang satu itu masih punya Daddy seutuhnya kan?"
Kening Meysa berkerut. Mencoba memahami maksud dari perkataan Daddy-nya.
"Yang ini sayang..." Lelaki itu meraba bagian inti Meysa dari balik gaun tidur miliknya.
Meysa menggelinjang, merasa geli dan nikmat bersamaan. "Itu milik Daddy seutuhnya" jawabnya dengan susah payah.
"Meski begitu kamu harus dihukum sayang, karena berani bermain api di belakang Daddy" ada getar emosi dan gairah di balik nada bicaranya.
Tangan yang semula meraba dari balik gaun, kini menerobos masuk melalui celah celana dalam milik Meysa.
Gerakan itu halus meraba, memutar bagian sensitifnya. Tak lupa pula bibir yang mencecap seluruh bagian yang bisa di jangkau oleh lelaki itu. Menciptakan bunyi cecapan yang membuat Meysa terbakar gairah.
Meysa membuka kemeja Daddy-nya dengan kasar. "Aku mau sekarang Daddy" namun seolah tak mendengarkan, pria itu justru masih berkutat dengan dua puncak mungil yang kini sudah menegang dengan sempurna, memainkan dua pusat kenikmatan dengan lihainya, membuat bibir Meysa tak hentinya mendesah penuh kenikmatan.
"Daddy mohon... sekarang" Meysa memelas meminta agar segera di puaskan. Namun yang ia terima justru cecapan lembut di bagian intinya, cecapan yang diikuti dengan dorongan kecil dari jari tengah pria itu.
Penyiksaan ini sengaja dilakukan pria itu, karena ini dianggap sebagai hukuman bagi Meysa yang menaruh pria lain di hatinya.
"Arrrgghhhh Daddy ngga tahan... dimulai sekarang aja..." rengeknya. Lidah itu semakin liar dan keluar masuk dengan dahsyat-nya. Badan Meysa bergetar, suaranya desahannya lirih seiring cairan pelepasan nya.
"Gimana sayang?" pria itu berbisik sensual.
"Aku kapok Daddy, jangan di hukum kayak gini lagi" Meysa beranjak, membuka celana Daddy-nya dengan tidak sabaran. Hendak membalas skor menjadi 1-1, maka ia melakukan performance terbaiknya.
Lelaki itu meracau dengan penuh kenikmatan, kuluman, hisapan, serta permainan yang di ciptakan Meysa berhasil membuatnya meraih pelepasan.
Namun euforia itu tidak berselang lama, ia kembali mengambil alih permainan, membuat Meysa keheranan akan gairah yang belum pernah ia lihat dari lelaki yang sudah sering menggempurnya ini.
Meysa tak dapat menghitung berapa kali ia telah mendapat pelepasan, dan selalu saja Daddy-nya itu memasukinya lagi dan lagi.
Sampai keduanya benar-benar kehabisan tenaga untuk melakukannya. Meysa memeluk Daddy-nya dengan nafas tersengal. "Putusin dia ya sayang, cepat atau lambat tolong tinggalin dia, Daddy ngga bisa nahan cemburu melihat kedekatan kalian" ucap pria itu tulus.
"Maafin Meysa ya Daddy, Meysa ngga tau kalau Daddy bakal semarah ini" Meysa mengecup sayang lelaki di sampingnya itu.
Kini berbagai perasaan bergejolak di hatinya. Meninggalkan Angga? apakah benih yang baru saja bersemi di hatinya harus di basmi begitu saja? namun jika ia memilih Angga, bagaimana nasibnya ke depannya?
Namun satu hal yang di sadari nya, bersama Angga, deburan keras di hatinya bukan perkara keinginan berpeluh bersama, melainkan deburan murni yang indah.
Pria di pelukannya ini, apa benar-benar sudah lupa bahwa wanita yang terbaring lemah belasan tahun itu, yang bahkan tidak bisa mengucapkan sepatah katapun itu, tetaplah istrinya?
Hati Meysa gamang. Kepalanya disesaki oleh kebimbangan-kebimbangan yang tak berujung dan tanpa jawaban.
Namun satu kenyataan pahit menamparnya. Baik ia memilih Angga maupun Daddy-nya, bukankah itu sama saja? Meysa masih mengingat jelas bagaimana Daddy-nya pernah bercerita bahwa ia dulu begitu mendamba wanita yang terbaring lemah itu, menunggu hingga belasan tahun untuk akhirnya bisa mempersunting wanita pujaan hatinya itu.
Lantas mengapa begitu Meysa menginjak remaja, ia begitu mudahnya berpaling? Apakah cinta tidak begitu cukup untuk membuat pria itu tidak melirik wanita lain? Begitu juga dengan Angga, yang jelas-jelas mendekati Vany di awal.
Kepala Meysa mendadak pusing memikirkan apa yang sebenarnya harus ia lakukan. Angga tidak mungkin begitu saja berpaling tanpa ada alasan yang kuat bukan?
Namun sebelah hatinya berbisik, selama ia berdekatan dengan Angga, mencoba membaca kebohongan atau semacamnya dari manik mata indah lelaki itu, ia tidak pernah menemukan celahnya.
Kembali ia tatap wajah Daddy-nya yang tampak teduh saat terlelap, menciumi pipinya dengan sayang. Perasaan bodoh semacam apa ini? bagaimana bisa dalam satu hati mencintai dua pria? sebenarnya lelaki mana yang benar-benar menguasai hatinya?
Matahari mencoba menerobos di balik tirai kamar Meysa, Meysa membuka kelopak matanya yang masih terasa berat. "Tidur yang nyenyak tadi malam Honey?" Meysa tertegun melihat sosok Dady-nya yang bertelanjang d**a namun tampak sudah mandi dan membawa nampan berisi sarapan.
"Daddy ngga kerja?" Meysa mencoba duduk, dan membiarkan tubuh nya terekspos begitu saja, sebab pergumulan tadi malam memang membuatnya tidak bertenaga untuk memakai pakaiannya kembali.
"Daddy ambil cuti seminggu, setelah Daddy fikir-fikir, mungkin memang kita butuh liburan bareng, supaya kamu ngga nyari kenyamanan dengan pria lain" keluhnya.
Meysa merasa bersalah kembali. "Meysa minta maaf Daddy, Meysa bakal mutusin Angga sesegera mungkin, Daddy ngga perlu sampe cuti begini, jadwal Daddy udah padat, ngga mungkin karena masalah ini jadi ambil cuti kan?" pria itu menyuapi Meysa dengan sayang.
"Kamu lebih penting dari semua itu, bahkan kalau harus menjual semuanya untuk kamu, Daddy bakal lakuin sayang" wajahnya kini tampak murung.
Meysa tak ingin memperburuk keadaan, ia mengambil alih, menyuapi Daddy-nya dengan sayang, mengelus permukaan wajah pria itu yang kini tampak sendu.
"Meysa cuma cinta sama Daddy, dan akan terus begitu" seolah kalimat itu memang tulus atau hanya kalimat penenang, namun itu cukup membuat Daddy-nya kembali tersenyum.
Benarkah wanita dapat mencintai dua pria dalam satu hati?