SORA
Aku hanya terus memandangi wajahnya yang tetap tersenyum walau aku hanya diam.
“Namamu Sora kan?” ucapnya percaya diri, seolah dia benar-benar mengenalku.
Bagaimana dia bisa tahu namaku?
“Iya, siapa kamu?”
“Aku Eza,” dia mengulurkan tangan ke araku.
Aku melirik tangan yang terulur dan wajahnya secara bergantian. Awalnya aku sedikit ragu, tapi akhirnya aku pun menyambut uluran tangannya yang menggantung cukup lama di depanku. Aku merasa aneh dengan perkenalan ini. Aku bukanlah salah satu dari banyaknya orang yang populer di kalangan mahasiswa kampus.
“Sedang mencari buku apa?” tanyanya.
“Buku manajemen,” singkatku.
“Kau sudah mendapatkannya?”
Aku sedikit mengacungkan buku yang sedang aku pegang tanpa mengatakan apa pun.
“Tadinya aku mau membantumu untuk mencarikannya,” dia mengedikkan bahu.
“Hm, aku sudah mendapatkannya. Kalau begitu aku ke sana, permisi!” aku menganggukkan sedikit kepala tanda pamit dan berlalu meninggalkannya.
Aku pun duduk kembali di kursiku sebelumnya. Aku membuka halaman demi halaman buku ini, mencari dan membacanya bait perbait sampai aku menemukan paragraf yang cocok untuk melengkapi tugas. Aku mendengar ada yang berjalan ke arahku. Kursi di samping kiriku berderit.
“Sedang mengerjakan tugas?” tanya seseorang.
Aku pun menoleh untuk menatap seseorang di sana dan itu ternyata masih orang yang sama, dia Eza. Aku pikir dia tidak mengikutiku.
“Iya,” singkatku.
Aku beralih pada buku dan juga tablet. Aku mulai kembali memindahkan kalimat demi kalimat yang menurutkku perlu di sini.
“Boleh aku membantumu? Atau mungkin aku bisa menemanimu?” ucapnya.
“Hah?” aku langsung memalingkan wajahku ke arah Eza dengan alis yang mengernyit.
“Kenapa kau kaget begitu? Bagaimana, boleh?” tanyanya sambil bertopang dagu dan menatapku.
“Aku hanya merasa aneh. Aku tidak mengenalmu, tapi kau seolah-olah kita adalah teman dekat dan aku tidak butuh bantuan siapa pun untuk tugasku. Ini tidak terlalu rumit kurasa.”
“Ah, baiklah, aku minta maaf. Aku hanya terlalu senang akhirnya bisa mengobrol denganmu,” Eza tersenyum lagi dan itu sangat manis.
“Akhirnya?” ulangku.
Aku menangkap sesuatu dari kalimat yang dia ucapkan. Akhirnya?
“Hm,” Eza menganggukan kepala, “Boleh aku mengatakan sesuatu?”
“Silahkan!” aku pun mengangguk padanya.
“Sebenarnya aku cukup lama memperhatikanmu dan aku hanya tahu namamu Sora dari jurusan manajemen,” terangnya.
Alisku mengernyit, “Kau sedikit menyeramkan.”
“Aku suka kejujuranmu.”
“Aneh!” aku sedikit menggelengkan kepala.
“Dulu aku terlalu banyak berpikir karena kamu sepertinya tidak akan suka jika aku mendekatimu,” ucapnya.
“Lalu sekarang?”
“Sekarang aku cukup percaya diri untuk bertatap muka denganmu. Aku harap kau tidak keberatan.”
“Jika aku keberatan?”
“Usahakan jangan,” Eza tertawa yang mengundang aku untuk tersenyum.
“Terdengar agak memaksa ya,” aku terkekeh melihat kepercayaan dirinya.
Obrolan-obrolan kecil ini membuatku sedikit nyaman sampai aku agak lupa dengan apa yang seharusnya aku lakukan. Aku rasa dia memiliki pribadi yang hangat walau dari segi penampilan sedikit tidak mencerminkan. Pakaiannya bukan sederhana, tapi terkesan berantakan. Wajahnya yang tidak bersahabat jutek, kasar, keras, tapi saat dia tersenyum kesan itu seolah menguap begitu saja.
“Apa tugasnya masih banyak? Mau aku bantu?” tawarnya lagi.
“Tidak perlu, aku bisa sendiri. Lalu kau sendiri sedang apa di sini? Aku lihat sepertinya kau tidak melakukan apa pun.”
“Siapa bilang aku tidak melakukan apa pun? Aku melakukan sesuatu sesuai keinginanku,” ucapnya seperti tidak terima.
“Apa?” ucapku dengan nada penasaran.
“Menemanimu,” singkatnya.
“Tidak lucu,” ucapku yang tidak kalah singkat.
“Aku sedang tidak bercanda,” kilahnya.
“Terserah kau saja.”
Eza hanya terus tersenyum. Sepertinya dia termasuk orang yang mudah bergaul. Tidak sepertiku. Aku beralih lagi pada tablet dan buku yang beberapa saat lalu aku tidak hiraukan. Aku pun berusaha membereskan seluruh tugasku karena aku sedang malas membawa tugas pulang ke rumah. Aku sudah berencana ingin melakukan me time setelah pulang dari kampus. Aku tidak mendengar Eza bicara lagi. Suasana perpustakaan ini sangatlah hening. Aku mulai kembali ke dunia nyata setelah seluruh tugasku selesai. Aku menengadah lalu memalingkan wajah ke samping di mana tadi Eza duduk dan aku menemukannya tengah melirik tablet yang sedang aku pegang.
Dia benar-benar menemaniku.
“Kau tidak bosan hanya duduk seperti itu dan menungguku?” tanyaku memecah keheningan.
Eza mulai mengalihkan pandangannya untuk menatapku, “Tidak, aku tidak memiliki tugas lain selain menemanimu.”
“Ternyata kau benar-benar menemaniku dan tidak melakukan apa pun.”
“Aku hanya melakukan apa yang aku ucapkan tadi.”
“Baiklah, kalau begitu aku pergi,” aku memasukan tablet ke dalam tas dan mulai merapikan buku yang tadi aku pinjam untuk ku kembalikan pada tempat asalnya.
“Kenapa pergi?”
“Tugasku sudah selesai dan terima kasih sudah mau menemaniku,” aku pun berdiri lalu menyampirkan tas punggungku di bahu kanan dan tanganku membawa beberapa buku.
Eza pun ikut berdiri sambil mengekor padaku, “Lalu, kau mau ke mana sekarang?”
“Mungkin kantin karena untuk pulang tidak mungkin, sepertinya hujan turun lagi.”
Eza mengambil alih buku yang aku pegang dan membantuku mengembalikannya pada tempat yang aku tunjuk.
“Kalau begitu, ayo!”
Aku langsung menatap Eza dan mencari kebenaran dari ajakannya, “Kau serius?”
“Tentu saja, Sora. Ayo!”
“Baiklah,” akhirnya aku setuju.
Aku dan Eza berjalan beriringan menuju kantin yang jaraknya lumayan membuat kaki berolah raga. Sepanjang jalan banyak pasang mata menatap ke arah aku dan Eza. Aku tidak tahu apa yang menjadi alasan mereka menatap kami seperti itu. Tatapan orang yang akan mulai menjabarkan sebuah tema menjadi cerita. Aku cukup tahu itu.
“Duduk di sana saja,” aku menunjuk bangku kedua dari ujung.
“Ayo!”
Kebetulan sekarang kantin tidak terlalu ramai, mungkin sebagian orang sudah pulang ke rumah masing-masing atau mereka sekadar pindah tempat untuk menongkrong asyik bersama teman. Kantin ini bertema outdoor karena tidak ada dinding sebagai pembatas. Hanya ada atap agar bisa berteduh dan juga tiang-tiang beton yang menjulang sebagai penyangga. Yang tertutup hanya bagian stand booth-nya saja, mungkin agar makanan dan minuman tetap terjaga dari cuaca. Jika hujan berangin, ini cukup membuat sisi bangunan basah. Meja dan kursi di pinggir pun akan terkena cipratan air hujan. Namun, untung saja saat ini hujannya tidak berangin walau cuacanya cukup dingin.
“Kau ingin pesan sesuatu?” tanya Eza.
“Aku ingin mie rebus dengan cabe rawit yang banyak di tambah teh tawar panas.”
“Baiklah, tunggu sebentar.”
Eza menaruh tas punggungnya di sampingku lalu berjalan menuju stand booth makanan. Aku mengalihkan pandangan ke tempat lain di mana yang kupandang hamparan rumput hijau yang terlihat segar karena dalam kondisi basah. Pemandangan ini sangat menyejukkan mata. Aku suka nuansa alam. Entah kenapa, aku merasa hidupku bebas dengan beban yang tiba-tiba menghilang begitu saja.
Andai saja aku bisa merasakan itu lagi. Sepertinya aku mulai rindu.
“Kenapa melamun?”
Aku langsung mengalihkan pandangan pada sumber suara. Itu cukup mengejutkan yang membuatku tersadar dari angan.
“Ah, sudah selesai?” tanyaku basa-basi.
“Hm, sedang disiapkan. Mungkin sebentar lagi pesanannya datang.”
“Hm, baiklah.”
“Hey! Kenapa kau melamun tadi?”
“Tidak apa-apa. Aku hanya suka melihat rumput hijau itu, mereka terlihat segar dengan diguyur hujan. Rasanya hatiku juga ikut sejuk.”
“Ah, begitu.”
Tidak lama kemudian ada yang mengantar pesanan ke meja kami. Aku pun mengucapkan terima kasih pada bibi kantin yang telah bersedia mengantarkan pesanan dan beliau membalasnya dengan tersenyum ramah.
“Kenapa orang-orang menatap kita seperti itu?” aku melirik segerombolan mahasiswi yang sekedar lewat di sekitar kantin yang menatap ke arah aku dan Eza.
“Siapa?” Eza mengedarkan pandangannya ke seluruh area kantin.
“Mereka,” aku menunjuknya dengan dagu sambil menyendokkan mie rebus ke dalam mulut.
“Oh, mungkin karena kamu cantik dan mereka iri,” ucap Eza.
Aku menatap sinis ke arah Eza yang tengah melahap mie rebus juga, “Aku sedang tidak menerima rayuan asal kau tahu.”
“Dan aku sedang tidak merayu siapa pun,” ucapnya ringan yang sesekali melirik padaku yang masih menatapnya dengan sinis.
“Lalu barusan apa?”
“Fakta.”
Aku mendelikkan mata dan menyendokkan lagi mie rebusnya, “Hm, laki-laki.”
“Aku memang laki-laki.”
“Terserah.”
Aku segera menghabiskan mie rebusnya karena takut dia cepat dingin. Kalau sudah dingin rasa nikmatnya menghilang dan jadi aneh. Aku pun meminum sedikit demi sedikit the panasnya. Sungguh, ini sangat enak walau terbilang sederhana yang penting perutku kenyang dan aku bahagia.
“Awalnya aku pikir kau pendiam dan berpikir kau pasti enggan mengobrol denganku,” ucap Eza.
“Terpaksa,” singkatku.
“Kau tega sekali,” terdengar menyedihkan, tapi aku tahu dia hanya membuatnya terlalu drama.
Aku hanya terkekeh menanggapi ucapannya karena aku juga tidak terlalu serius dengan ucapanku. Aku terus mendengarkan dia bicara sambil sesekali menyesap the panasku yang tinggal sedikit. Aku tidak ingin menyisakannya, ini terlalu enak untuk dibiarkan menjadi dingin.
“Aku selalu melihatmu sendiri kemana pun,” ucap Eza.
“Jadi kau saat ini sedang kasihan padaku?” aku menatap Eza dengan alis yang terangkat satu.
“Bukan begitu, aku hanya tidak bisa mengorek informasi tentangmu lebih jauh karena aku tidak tahu teman dekatmu.”
“Aku memang tidak memiliki teman dekat, mereka semua hanya teman tidak lebih, dan untuk apa kau ingin tahu tentangku?”
“Untuk menjadi dekat?”
“Hm, dasar.”
“Apakah kita bisa menjadi teman dekat?” ucapnya tiba-tiba.
“Teman?” ulangku.
“Hm…” Eza menganggukkan kepala.
“Jika aku tidak mau?”
“Tidak apa-apa, aku bisa berusaha.”
“Kau sangat frontal.”
“Aku tidak suka basa-basi sebenarnya. Bahkan tadi pun aku cukup kesulitan.”
“Tapi aku tidak melihat kau kesulitan tadi.”
“Baguslah! Aku senang mendengarnya.”
Aku dan Eza hanya ngobrol ringan. Mengisi waktu luang yang tersita hujan. Aku tidak terlalu suka jika harus menjadi penasaran atas asal usul seseorang. Semoga saja Eza bukan tipikal orang toxic karena aku sangat tidak suka dengan orang macam seperti itu dengan alasan apa pun.
Hujan terus mengguyur bumi tanpa henti. Rasanya udara semakin dingin padahal ini masih sore hari. Aku terjebak di sini, di dekat ruang kosong yang bersebelahan dengan parkiran yang cukup luas. Aku pernah mendengar desas-desus dari seniorku di kampus kalau ruangan ini sedikit berbeda. Ada yang tinggal di sini, tapi bukan manusia. Ada beberapa orang yang pernah menemui penghuni ini. Mereka menjelaskan sedikit banyak tentangnya. Aku tidak tahu aku harus percaya atau tidak, karena sebenarnya aku pun sedikit takut berada di sini tanpa siapa pun.
Satu persatu mahasiswa sudah meninggalkan kampus ini dan sekarang di sini cukup sepi. Tinggal beberapa motor lagi yang masih setia terparkir, tapi aku sendirian sekarang. Mungkin aku salah menunggu, atau terlalu banyak berpikir untuk kembali ke rumah dengan cepat. Tiba-tiba bulu kudukku meremang. Aku berusaha untuk tidak mengidahkannya. Namun, perasaan ini tidak kunjung hilang, malah semakin kentara.
Aku melihat sekitar yang tak nampak siapa pun. Hatiku mulai tidak tenang ditambah kakiku sedikit kedinginan. Aku mengeluarkan ponsel dari saku celana dan mencoba memainkannya untuk menghilangkan rasa bosan dan rasa yang tiba-tiba hinggap membuatku sedikit waspada. Saat aku menundukkan kepala melihat layar ponsel, perasaanku selalu berkata ada yang sedang melihat ke arahku. Sampai beberapa kali aku mendongakkan kepala untuk mencari kebenaran atas dugaan dan ternyata tidak ada siapa pun.
Aku semakin gelisah. Menunggu hujan yang tak kunjung reda dan suasana di sini sedikit mencekam karena hari mulai gelap. Aku pun memutuskan untuk menerjang hujan kembali seperti tadi pagi. Namun, saat aku melangkahkan kaki menuju sepeda motor tiba-tiba ada hembusan angin menerpa tengkukku. Nafasku tercekat, aku menjadi kaku dan sedikit syok. Aku mencoba berjalan lebih cepat dan tidak ingin melihat apa pun yang ada di belakangku. Sampai ada yang menyentuh tanganku dan menariknya cukup kencang hingga membuatku berbalik ke arah belakang. Lalu dia menarikku ke tempat teduh di mana awal aku berdiri. Jantungku berdegup dengan kencang dan kakiku terasa lemas.
“Hey! Apa aku mengejutkanmu?” ucapnya dengan sedikit terkekeh.
Ah, Eza ternyata.
“Sora! Kau mendengarku?” tanyanya lagi karena aku tidak kunjung mengeluarkan suara.
Aku hanya mampu mengangguk tanpa sepatah kata pun. Aku masih mematung karena terlalu syok.
“Kau agak pucat, apa kau sakit? Atau kedinginan?” Eza memburuku dengan banyak pertanyaan.
Aku melihat Eza mulai khawatir padaku yang di mana aku sendiri tidak tahu sepucat apa wajahku sampai bisa terlihat jelas di mata Eza. Aku melirik sekitar untuk memastikan kembali kalau perasaanku salah. Aku menatap Eza kembali dan berusaha bersikap tenang agar aku bisa mengeluarkan suaraku.
“Aku tidak apa-apa,” dengan susah payah akhirnya suaraku keluar.
“Tapi aku melihatmu seperti tidak baik-baik saja.”
“Mungkin aku hanya sekadar kedinginan karena hujan sedari tadi terus turun, tapi sejauh ini aku baik-baik saja.”
“Apa perlu aku mengantarmu?” tawar Eza.
“Ah, tidak perlu. Aku tidak ingin merepotkanmu.”
“Ini sungguh tidak merepotkan.”
Aku berusaha mencari topik lain agar Eza tidak terus menerus menawarkan diri untuk mengantarku pulang.
“Aku pikir kau sudah pulang sejak tadi,” ucapku.
“Tiba-tiba saja ada mata kuliah tambahan. Aku rasa kau tahu bagaimana rasanya,” ucapnya berubah lesu.
“Tentu,” singkatku.
Aku sungguh tahu rasanya saat aku sudah merasa bebas hari ini karena kelas sudah berakhir dan tiba-tiba jadwal tambahan mengubah suasana hati.
“Kau pulang naik apa?”
Aku menunjuk sepeda motorku yang terparkir di bawah rintik hujan.
“Memangnya kau bawa jas hujan? Aku rasa ini akan semakin deras untuk diterjang.”
“Justru itu aku lupa membawanya,” sesalku.
“Kebetulan aku juga tidak membawanya. Kalau begitu mau menunggu sebentar lagi? Setidaknya sampai tidak terlalu deras.”
Aku menimang-nimang keputusan yang sebetulnya tidak terlalu sulit. Hanya saja aku sudah tidak ingin berlama-lama di sini. Sungguh, aku ingin segera pulang.
“Kalau di tempat lain saja bagaimana?” ucapku.
“Di mana? Tetap saja kita akan terkena hujan.”
“Jika tidak, aku bisa pulang sekarang. Tidak masalah jika aku kehujanan. Aku rasa aku akan baik-baik saja jika sudah sampai rumah.”
“Kau sedikit keras kepala ternyata.”
“Kau baru tahu aku.”
“Kalau kau tetap memaksa, aku juga ikut. Aku akan mengantarmu pulang. Kebetulan aku juga membawa sepeda motor,” Eza menunjuk salah satu sepeda motor yang jaraknya tidak cukup jauh dari sepeda motorku.
“Tidak perlu. Sudah aku pulang. Sampai ketemu besok!” teriakku sambil berlari ke arah sepeda motor.
Aku bergegas menaiki sepeda motorku dan memakai helm yang sedikit basah di bagian lehernya. Ini membuatku semakin merasakan dingin. Aku pun menjalankan motorku meninggalkan Eza yang berteriak memanggil namaku. Aku melambaikan tangan kiriku sambil berlalu.
Apa aku salah mendengar tadi? Kuharap begitu.