EZA
Aku terus berteriak memanggil namanya, tapi dia terus berlalu sambil melambaikan tangan. Aku berniat menyusulnya, tapi aku kehilangan jejak. Jadi aku memilih untuk pulang ke rumah juga.
Aku berharap sepanjang jalan agar hujan mereda, karena aku tidak memakai jas hujan sekarang. Sesampainya di halaman rumah, aku langsung menepi di ujung teras sambil membuka sepatu, tas kosong dan juga kemeja yang sudah basah kuyup karena guyuran hujan yang sangat deras.
“Astaga! Kenapa basah begini?” mama datang menghampiriku yang masih sibuk dengan barang dan pakaian basah.
“Aku kehujanan. Mama lihat, hujannya sangat deras,” jawabku.
“Apa kamu tidak membawa jas hujan?” mama sedikit teriak karena suaranya kalah dengan suara hujan.
“Aku lupa membawanya tadi pagi,” ucapku yang langsung menampilkan deretan gigiku pada mama karena aku tahu mama akan mengomel sebentar lagi.
“Kenapa kamu selalu melupakan hal penting?” ucap mama yang masuk kembali ke dalam rumah.
“Tidak selalu. Hujannya juga tidak setiap hari, jadi aku sedikit sulit memprediksi,” aku hanya mencoba beralasan.
Mama menghampiriku lagi dengan membawa handuk milikku di salah satu tangannya, “Alasan! Padahal sejak pagi langit sudah mendung. Kamu saja yang malas. Lain kali kamu harus membawanya, sepertinya sekarang sudah masuk musim penghujan.”
Benar, kan?
“Iya, Ma,” aku pun memakai handuk yang berikan mama sambil mendengar mama yang masih saja mengomel, padahal aku sudah begitu merindukan kehangatan selimut di kamar.
“Iya-iya saja kamu,” ketus mama.
“Terus, aku harus bagaimana? Kan sekarang sudah sampai rumah,” ucapku sedikit gemas.
“Ya sudah, sana bersih-bersih. Mama sudah siapkan makanan, kalau sudah beres langsung makan,” ucap mama.
Aku hanya berdehem sambil menganggukkan kepala. Mama lebih dulu masuk ke dalam rumah sambil membawa kemejaku yang basah. Aku pun menyusulnya sambil meneteng sepatu dan tas yang basah, lalu pergi ke kamar mandi karena tubuhku sudah menggigil.
Aku merasa tubuhku lebih baik sekarang ditambah perutku juga sudah terisi. Sekarang aku memilih berdiam diri di kamar sambil memainkan ponsel. Aku membuka aplikasi permainan untuk mengisi rasa bosan. Ternyata hujan masih mengguyur tanah sampai larut malam. Udaranya juga semakin dingin, lebih dingin dari malam-malam sebelumnya. Tadinya aku berencana akan pergi keluar hanya sekedar berkumpul dengan teman di kafe, tapi sepertinya ranjang dan selimut tebal lebih menggoda untuk malam ini. Aku merasa keputusanku semakin tepat.
Aku mengedarkan pandangan ke seluruh kamar setelah menyudahi permainan itu. Rasa kantuk tak kunjung datang malah berubah menjadi jenuh. Aku pun mencoba memejamkan lagi mataku, berharap bisa tertidur walau mungkin ini masih terbilang dini. Aku terbiasa tidur di atas pukul sebelas malam dan ini masih pukul delapan tiga puluh. Aku pun meraih ponsel kembali yang diletakkan di samping tubuhku. Aku hanya membuka beranda media sosial, lalu menggulir sekenanya. Tiba-tiba aku ingat sesuatu.
Sora.
Sudut bibirku terangkat begitu saja hanya mengingat nama itu. Dia sungguh menarik dan juga menyenangkan setelah aku sedikit lebih banyak mengenalnya. Aku sudah berburuk sangka padanya. Namun, aku suka dengan kepribadian yang baru saja aku ketahui. Aku merasa tidak sia-sia telah mengumpulkan kepercayaan diriku untuk menyapanya lebih dulu.
“Ah, sial!” aku baru ingat kalau aku belum mempunyai nomor ponselnya.
Aku pun mencari nomor Jey untuk meminta bantuan. Panggilan pertama dia tidak mengangkat teleponnya. Namun, untung saja di panggilan kedua telepon pun tersambung.
“Ada apa?” ucap Jey terdengar malas seperti orang yang baru saja tidurnya diganggu.
“Apa kau memiliki kenalan di jurusan manajemen?” tanyaku.
“Hm, ada apa kau bertanya tentang itu?” ucap Jey.
“Aku sedang mencari nomor seseorang dari jurusan manajemen. Apa kau bisa membantuku?”
“Sejujurnya tidak, karena aku ingin tidur sekarang,” aku mendengar dia menguap di seberang telepon.
“Oh, ayolah Jey, bantu aku!”
“Apa itu sangat penting?”
“Kenapa kau banyak bertanya?”
“Jelas aku ingin tahu, karena kau meminta bantuanku.”
Aku menghela nafas pelan, “Penting bagiku.”
“Terus?”
“Aku butuh nomor Sora, dia dari jurusan manajemen.”
“Ah, begitu rupanya. Aku mengerti sekarang.”
“Apa yang kau mengerti?”
“Tidak ada. Baiklah, aku akan segera mendapatkannya,” aku mendengar dia terkekeh yang membuatku curiga.
“Aku tunggu kabar baik.”
Sambungan telepon pun terputus. Aku cukup berharap Jey berhasil mendapatkan apa yang aku inginkan. Sebenarnya aku hanya bersikap tidak peduli dengan apa yang dia pikirkan tentangku yang menginginkan nomor Sora. Aku akan mengatasi Jey nanti setelah dia mendapatkan nomornya.
Cukup lama aku menunggu, akhirnya ponselku bergetar menandakan pesan masuk dan itu dari Jey. Dia mengirimkan nomor Sora dan kata-kata yang membuatku ingin memukulinya.
Ck, awas saja kau, tapi aku juga harus berterima kasih padanya. Hm….
Aku pun mulai mengetikkan sesuatu di ponsel ke nomor yang baru saja aku dapat.
Aku : Hai Sora! Selamat malam. Ini aku, Eza. Kuharap pesanku tidak mengganggumu.
Kukirimkan pesan basa-basi itu dan berharap Sora mau membalas pesan dariku. Beberapa menit berlalu tak ada jawaban. Ponselku hening, seolah dia tak berguna. Aku mengecek beberapa kali siapa tahu tiba-tiba ada pesan masuk, tapi tetap tidak ada.
Aku menghembuskan nafas kasar menatap layar ponsel yang menyedihkan. Mengatupkan bibirku rapat-rapat, sampai aku memutuskan untuk menonton film saja di salah satu aplikasi yang ada di ponsel.
Aku menggerakkan tubuh mencari posisi nyaman, dengan tangan kiri menyangga kepala agar lebih tinggi dan tangan kanan memegang ponsel sambil memainkan jari untuk mengatur layar, volume dan kualitasnya.
Mataku tidak bisa fokus, karena pikiranku terus menunggu kabar dari Sora. Sesekali jariku menggulir untuk melihat baris notifikasi, yang ternyata Sora belum membalas pesannya. Aku mulai yakin kalau Sora akan mengacuhkanku.
Apa aku memang mengganggunya? Ah, sudahlah. Biarkan saja. Aku bisa menemuinya besok.
Aku pun memilih untuk melanjutkan kembali filmnya yang bergenre aksi. Aku tidak tahu ini film tentang apa, karena aku hanya asal menonton. Namun, sepertinya mereka sedang melakukan petualangan. Mataku mulai mengantuk dan semakin tidak peduli dengan film ini.
Mataku sudah begitu nyaman terpejam, tapi tiba-tiba aku merasakan ponselku bergetar di ranjang. Rasanya aku ingin marah-marah pada seseorang yang membuat mataku terbuka kembali. Dia sungguh mengganggu nikmat kantuk yang aku rasakan. Dengan terpaksa, aku mengecek ponsel. Kesal di hatiku menghilang tiba-tiba dan mataku melebar seketika saat melihat siapa yang memberiku notifikasi.
Sora : Malam, Eza. Tentu tidak. Maaf, aku baru membalasnya. Aku tidak tahu jika ada pesan masuk.
Mataku langsung segar kembali membaca deretan kalimat yang dikirim Sora. Aku menarik kata-kataku tadi. Sungguh, aku menyesal telah mengatakannya.
Aku mengubah posisi menjadi duduk dengan bersandar ke kepala ranjang. Jariku dengan lincah menari di atas layar ponsel. Aku tidak tahu kenapa aku begitu bersemangat seolah aku tidak ingin membiarkan dia menunggu.
Aku : Tidak apa, aku senang kau mau membalasnya. Ngomong-ngomong, kau sedang apa?
Sora : Syukurlah. Aku tadi sedang membaca novel.
Sora membalasnya cukup cepat sekarang.
Aku : Ah, begitu rupanya.
Sora : Oh, iya. Kau mendapatkan nomor ponselku dari mana? Aku merasa kau tidak memintanya tadi siang.
Aku mengatupkan bibirku rapat-rapat.
Aku : Aku mendapat nomormu dari temanku yang bernama Jey.
Sora : Oh, dia. Pantas Avi meminta izin untuk memberikan nomorku pada Jey.
Aku : Apa kau keberatankan?
Sora : Tidak. Jika ya, aku tidak akan terus membalas pesanmu seperti sekarang.
Aku : Ah, iya. Kau benar.
Sora : Apa ada hal penting yang ingin kau sampaikan?
Aku : Sebenarnya tidak ada. Anggap saja aku sedang bosan sekarang.
Sora : Begitu rupanya. Aku akan menawarkan untuk menemani jika kau mau.
Senyumku merekah membaca deretan kata yang begitu aku inginkan.
Aku : Tentu saja aku mau.
Sora : Semangat sekali rupanya.
Aku : Aku sedang tidak mau peka dengan sindiran sekarang.
Sora : Haha, kau tahu itu.
Aku : Tentu saja.
Aku dan Sora terus berbalas pesan sampai tidak terasa malam semakin larut. Ini terlalu menyenangkan sampai tidak terasa aku terus tersenyum sejak Sora membalas pesanku. Sesekali aku tertawa karena rasa humor antara kami yang mungkin bagi orang lain tidaklah lucu. Namun, aku sungguh menikmati percakapan ringan ini. Hatiku terasa hangat walau malam ini udara semakin dingin karena curah hujan malah semakin lebat. Aku merasa memiliki dunia baru. Dunia yang akan memiliki cerita baru yang lebih manarik.