EZA
Aku berusaha menyembunyikan senyumku yang terus saja mengembang. Perjalanan ini sedikit berbeda dengan adanya Sora bersamaku, meski tadi ada perdebatan kecil karena sepeda motor. Jelas saja aku menolak jika kita harus pergi dengan sepeda motor yang berbeda. Rencanaku akan sia-sia. Alhasil, kita pun setuju menggunakan sepeda motor milik Sora.
“Sebenarnya kita ini mau ke mana? Kenapa kau tidak mau menjawab pertanyaanku? Atau jangan-jangan kau benar ingin menculikku?” tuduhnya.
“Astaga! Kenapa kau masih berpikir seperti itu?” Aku semakin gemas dengan pribadi Sora yang membuatku ingin mencubitnya.
“Kau agak mencurigakan. Sejak tadi kau hanya berkata bukan setiap kali aku menebak,” keluh Sora.
“Aku hanya ingin memberimu kejutan. Itu saja,” ucapku berusaha menyakinkannya.
“Aku sudah bilang, jika aku tidak suka kejutan. Kalau begitu bawa aku pulang,” ucapnya.
“Jangan marah. Baiklah, kita hanya pergi ke tempat yang lebih dingin dari dataran. Lihatlah ke sebelah kiri arah jarum jam sepuluh. Itu tujuan kita.” Aku membocorkan sedikit tujuan kami agar Sora tidak merajuk kembali dan aku tidak mendengar tanggapannya. Jadi, aku bertanya kembali hanya sekedar mengajaknya mengobrol di sela perjalanan kami. “Apa kau pernah datang ke sana?”
Aku tidak kunjung mendapat jawaban. Bahkan seolah suaranya menghilang. Dahiku sedikit mengernyit karena rasa penasaran atas diamnya Sora. Dengan sengaja aku menggeser kaca spion sebelah kiri agar aku bisa melihat wajahnya. Tatapan mata Sora hanya mengarah pada apa yang tadi aku tunjukan. Mimik wajahnya tidak terbaca.
“Sora, ada apa?” Aku semakin penasaran dengan apa yang Sora pikirkan. Namun, dia masih diam. Jadi aku mencoba memanggilnya lagi. “Sora!”
“Hah? Iya, Eza. Ada apa?” Bahkan gadis ini menjadi tidak fokus padahal aku sudah berkali-kali mencoba berteriak melawan bising dan angin agar dia bisa mendengar suaraku.
“Apa kau baik-baik saja?” tanyaku.
“Iya. Tentu saja,” ucapnya dan setelah itu tidak ada lagi percakapan diantara kami.
Mungkin dia sedang menikmati pemandangannya. Pikirku. Jadi, aku biarkan saja.
Sekarang aku memilih fokus pada jalanan yang kini mulai menanjak sedikit demi sedikit. Sesekali aku melirik kaca spion yang mengarah ke wajahnya untuk memastikan keadaan Sora yang tepat di belakangku. Membutuhkan waktu sekitar kurang lebih lima puluh menit untuk sampai di tujuan kami dan ini sudah setengah perjalanan.
“Bisakah kau lebih merapat padaku?” Aku sudah mampu melihat di mana tanjakan yang cukup curam akan segera kami lewati, dengan kemiringan kurang lebih tiga puluh derajat.
“Untuk apa?”
“Agar bebannya bertumpu di satu sisi yang seharusnya. Kau tidak ingin motor ini terbalik ke belakang, bukan?”
“Tidak! Aku ingin pulang dengan selamat.”
“Kalau begitu lakukan. Jangan lupa pegangan! Jika kau tidak ingin tertinggal nanti.”
“Ish.” Sora memukul bahuku. “Awas saja jika kau berani melakukannya! Aku tidak akan menuruti ucapanmu lagi.”
Aku hanya terkekeh di balik helm yang sengaja kacanya aku buka. Tidak memiliki niat apa pun, hanya ingin kami aman dan selamat. Itu saja.
Setelah di rasa semuanya aman, aku pun bersiap mengarungi tanjakan curam ini. Namun, saat di pertengahan, motor ini seolah lelah. Kekuatannya melemah membuat Sora panik.
“Apa yang terjadi?” Terdengar sekali Sora ketakutan. Bahkan aku merasakan cengkramannya di jaketku cukup kuat.
“Tidak apa-apa, tenanglah!” Aku berusaha menenangkannya sekaligus mencari celah bagaimana mengendalikan motor Sora agar bisa menanjak dengan mulus, saat tangan ini dengan kuat menahan rem agar motor ini tidak berbalik arah karena gas motornya enggan naik.
“Kau yakin? Lebih baik kita minggir saja, aku bantu dorong.”
“Tidak perlu. Aku bisa mengatasinya.” Perhatianku terbagi dan aku melihat Sora telah berdiri di dekat motor dengan raut wajahnya yang panik. “Kenapa turun? Naiklah! Kita akan lanjutkan perjalanannya.”
“Aku tidak yakin ini berhasil, karena sebelumnya aku belum pernah membawa motor ini ke tanjakan curam seperti ini. Aku takut, Eza.”
Sepasang mata ini berusaha menatap Sora dengan penuh keyakinan. “Ada aku!”
“Atau kita pulang saja?”
“Kenapa pulang? Semuanya baik-baik saja.” Dan dia masih diam dengan mimik wajah yang dipenuhi oleh keraguan. “Sora, percayalah padaku! Aku akan menjagamu.”
“Bagaimana jika sesuatu terjadi?”
“Semua akan baik-baik saja sampai kita kembali.” Aku berusaha meyakinkan Sora sampai akhirnya dia mau melanjutkan perjalanan kami, meski sedikit sulit mendapatkan kepercayaannya.
Jalan ini terus menanjak karena tujuan kami menuju puncak dengan ketinggian tujuh ribu seratus tiga belas kaki. Aku mencoba mengatur kecepatan dengan sedikit teknik zig-zag untuk meringankan beban naik. Sepertinya sepeda motor Sora harus berusaha sedikit lebih keras agar bisa membawa kami ke tempat tujuan. Untung saja aku bukan orang awam terhadap situasi ini, karena aku pernah mempelajarinya semasa sekolah.
“Sepertinya akan turun hujan. Apa kau yakin kita akan meneruskan perjalanannya?”
Ucapan Sora membuatku mengalihkan fokus untuk melihat keadaan. Langit mulai menghitam kembali. Memang sulit memprediksi cuaca di musim penghujan seperti ini. “Mungkin hanya mendung. Semoga saja hari ini keberuntungan kita!”
“Semoga saja. Karena aku lupa mengecek bagasi motor.”
Aku mengerti akan maksudnya. “Aku tidak masalah tentang itu. Bagaimana denganmu?”
“Sayangnya besok bukan hari minggu.”
“Apa perlu kita kembali?”
“Apa kau bercanda? Bahkan sejak tadi kau begitu yakin.” Nada bicara Sora naik. Sepertinya dia kesal karena ucapanku.
“Aku hanya menawarkan,” jawabku santai.
“Bahkan sepertinya kita akan segera sampai.”
Memang benar dengan apa yang Sora ucapkan. Namun, ini masih membutuhkan waktu untuk benar-benar sampai di tempat yang aku maksud.
“Ini baru awal. Kau masih bisa mengubah pikiran.”
“Ternyata kau pintar memberikan pilihan yang tidak menguntungkanku.”
Aku terkekeh mendengar Sora mengomel. Mataku melirik kaca spion kiri dan mata kami bertemu. Aku pun tersenyum padanya. “Saat nanti kita sampai kau akan tahu keuntungan itu milik siapa.”
Perjalanan ini tidak sepenuhnya menanjak karena ini dibuat dari bagian punggungan, yang mana ada bagian datar meski keadaannya tidak benar-benar rata. Bagian kanan dan kiri dipenuhi oleh berbagai warna hijau, mulai dari pepohonan hingga semak-semak yang menutupi jurang.
Entah kenapa aku begitu ingin mengajaknya kemari ketimbang pergi menonton film atau menghabiskan waktu di kafe. Pertama yang terlintas di pikiranku yaitu ingin menunjukkan dunia luar pada Sora, di mana bumi ini memiliki alam yang sungguh menakjubkan. Sampai aku begitu tidak sabar menunggu.
Kebetulan hari ini cukup sepi. Tidak terlalu banyak pengunjung yang berdatangan. Mungkin karena hari ini adalah hari produktif bagi sebagian besar manusia.
Saat kami baru tiba di parkiran, aku melihat Sora menatap hamparan kota dari ketinggian ini. Pemandangan kota yang disoroti cahaya matahari. Apalagi langit di ketinggian ini sedikit berbeda dengan dataran bawah, di mana di sini lebih mendung.
Semua terlihat bak cahaya surga menyoroti bumi. Aku akui ini indah. Namun, saat aku memperhatikan wajah Sora, Raut wajahnya tidak terbaca. Bahkan diamnya Sora membuatku semakin bertanya-tanya, tapi aku memilih untuk tidak melakukannya.
“Ayo!” Ajakanku membuat Sora mengalihkan perhatiannya.
“Sebentar lagi, boleh?”
Sorot matanya menyiratkan seolah enggan melewatkan apa yang telah dia lihat. Sejenak, aku melihat sekitar. Rasanya cuaca saat ini terbilang aman.
“Aku rasa di atas sana akan lebih terlihat.” Aku menunjuk deretan tangga yang begitu tinggi dan banyak. Sora pun mengangguk setelah melihat apa yang aku maksud. Aku membiarkan dia berjalan lebih dulu agar aku bisa menjaganya, sesuai ucapanku.
Satu persatu tangga ini kami pijaki, dengan sesekali aku memantau sekitar apa pemandangan yang aku inginkan sudah terlihat atau belum. Dan tidak terasa sudah lebih dari dua ratus tangga telah kami lewati. Sora pun mulai sering berhenti. Sepertinya dia mulai lelah. Aku mencoba mensejajarkan langkah agar kami berdampingan. Semakin aku perhatikan, napas Sora mulai tersenggal.
“Apa kau baik-baik saja?” tanyaku memastikan.
“Aku hanya sedikit lelah.”
“Kita bisa istirahat dulu jika kau lelah.”
“Tidak apa-apa. Bahkan ini belum setengah perjalanan.”
Sora memaksakan kakinya tetap menaiki tangga, padahal aku tahu dia sepertinya sudah tidak sanggup. Aku memperingatkannya untuk berhenti beberapa kali, tapi dia tetap bergerak naik dengan kalimat yang sama sebagai jawabannya. Aku begitu ingin meraih tangan Sora agar dia mau mendengarkanku. Namun, aku tidak melakukannya. Aku lebih memilih mendahului langkah Sora lalu berdiri menghalangi jalannya dan itu sukses membuatnya berhenti. Bahkan dia mendongak untuk menatapku dengan wajah lelahnya. Aku baru menyadari jika Sora terlihat pucat saat ini.
“Ada apa?” tanya Sora.
“Kau kelelahan. Jangan dipaksa!” Aku mulai khawatir melihat keadaannya.
“Aku baik-baik saja, Eza. Bahkan kita belum sampai. Lihatlah! Tangganya masih amat banyak.” Sepertinya Sora kesulitan mengatur napasnya. Caranya bernapas seperti ikan terdampar di daratan. Ini mengerikan.
“Tenanglah ... jangan bernapas seperti itu, dadamu akan sakit nanti. Ikuti aku.” Aku mempraktekkan cara bernapas untuk relaksasi dan untungnya dia mau mendengarkanku. “Apa lebih baik?”
“Hm.” Sora mengangguk perlahan.
“Aku mengajakmu kemari bukan untuk menyiksamu. Aku ingin kita bersenang-senang. Aku pikir kau akan suka dengan kejutanku, tapi sekarang aku merasa buruk setelah melihatmu seperti ini. Harusnya aku mengikuti ucapanmu tadi untuk kembali.” Jujur saja, aku sedikit menyesal melihatnya menderita seperti sekarang.
“Kenapa kau berpikir seperti itu?” Sora menatapku dengan wajah pucatnya.
Aku hanya menggelengkan kepala pelan. Lalu, aku baru menyadari jika di hadapanku begitu menakjubkan. Hamparan kota itu terlihat lebih jelas dan luas sekarang. Aku pun menginterupsi Sora untuk melihat apa yang aku lihat. “Di belakangmu!”
Sora mengangkat sebelah alisnya dan aku menunjuk hal di belakangnya dengan daguku. Dia pun memutar tubuhnya sesuai arahan. Namun, tubuhnya sedikit sempoyongan. Dengan sigap tanganku meraih bahunya. “Hati-hati!”
“Ah, terima kasih.”
Aku membeku saat tangan kirinya yang bebas menyentuh punggung tanganku yang masih setia di bahunya. Entah kenapa rasanya sekarang aku gugup. Apa karena aku memiliki perasaan padanya sampai aku bertingkah di luar kebiasaan. Bahkan kini aku terus memandangi tangan kami yang masih di posisi yang sama.
Saat aku membalikkan tangan dengan niat ingin menggenggam tangan itu, tiba-tiba Sora menarik tangannya kembali. Aku mengatupkan bibir rapat-rapat, menahan rasa kecewa karena Sora melepaskan tanganku. Namun, aku berusaha tidak mengidahkannya. Kami pun mulai duduk bersebelahan di deretan tangga tersebut untuk beristirahat sejenak sambil melihat pemandangan kota dari ketinggian.
“Eza ...” panggilnya.
“Hm ....”
“Jangan berkecil hati karena keadaanku. Kau tidak perlu menyesal atas keputusanmu,” Sora menjeda ucapannya, “terima kasih untuk kejutannya. Aku suka.”
Kalimat itu sukses membuatku langsung menatap Sora. “Apa kau tengah berusaha menghiburku?”
“Aku tidak perlu menghiburmu, karena sesungguhnya kejutanmu ini luar biasa. Dan aku jujur dengan apa yang aku ucapkan. Sekali lagi terima kasih.”
Deretan kalimat itu begitu berharga bagiku. Dalam diam hati ini merasa bangga. Bahkan senyum tipis tercetak di wajahku. Namun, di detik kemudian, aku terkejut melihat sebulir air mata jatuh dari pelupuk mata Sora. Hal itu membuat rasa penasaranku semakin kentara. Pertanyaan dan prasangka memenuhi isi pikiranku sekarang.
Apa yang sebenarnya kau simpan?
“Sora ....”
“Hm ....”
“Apa kau baik-baik saja?” tanyaku dengan hati-hati.
“Seperti yang aku ucapkan sejak tadi.”
“Lalu, kenapa kau menangis?”
“Tidak apa-apa. Aku hanya terharu melihat keindahan ini.”
“Hanya itu?” Aku pun memastikan.
“Hm.” Sora mengangguk lemah.
Aku memperhatikan Sora dengan seksama. Rasanya dia masih menyimpan hal yang mungkin aku tidak boleh tahu. Aku melihat sosok Sora itu misterius. Ketika banyak gadis berusaha menarik perhatianku, Sora malah menyembunyikan segala hal dariku. Aku sadar, kedekatan kami memang baru beberapa minggu. Namun, dengan apa yang dia lakukan malah membuatku semakin ingin masuk ke dalam dunianya.
“Jika kau suka dengan kejutanku kali ini. Aku akan memberimu banyak kejutan setiap hari.” Kalimatku seolah membawa sosok Sora yang sebenarnya kembali.
“Tidak. Aku sudah bilang, aku tidak suka kejutan.”
“Kau sudah mengatakan suka tadi. Kenapa sekarang berubah pikiran?”
“Aku tidak pernah berubah pikiran. Kau saja yang memaksaku.”
“Berarti kejutanku kali ini gagal?”
“Bukan seperti itu. Ish ... kenapa tiba-tiba kau menyebalkan?” Tangan Sora mulai beraksi dan dia berusaha meraihku untuk melampiaskan kekesalannya. Aku terkekeh melihat ekspresinya seperti ini. Sebenarnya aku mengerti dengan apa yang dia maksud. Namun, aku hanya sekedar menggodanya. Aku tidak suka melihatnya bersedih seperti tadi.
“Oke, Sora, cukup. Baiklah, aku minta maaf.” Ucapanku berhasil membuat Sora berhenti menghukumku. “Tapi aku bersungguh-sungguh untuk ini. Aku akan menemanimu ke mana pun yang kau suka. Kita bisa pergi bersama-sama.”
“Sungguh?”
“Tentu saja. Kau tinggal katakan ke mana kau ingin pergi. Maka, kita akan pergi.”
“Setuju.”
Senyum manis Sora begitu indah, dan hal ini cukup membuat hatiku merasa hangat. Kisahku dengannya memang sederhana, tapi jalan cerita kami mahal.